Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
97. Mengolah Sebuah Rasa


__ADS_3

Mengolah Sebuah Rasa


 


“Sama Om Anas, kamu suka Waila, kan? Makanya kamu nggak suka dia dekat sama laki-laki lain.” Winsi berkata sambil  tersenyum seolah mengejek dirinya sendiri.


“Aku nggak ngerti maksud kamu apa? Aku cemburu? Ah ... yang benar saja. Waila itu aku anggap adik sendiri, tahu? Dia itu manja banget, kalo aku pacaran sama dia, bisa-bisa aku jadi ketularan, hii ... nggak deh!”


Winsi masih tidak percaya mendengar jawaban Erlan yang seolah tidak mengerti kata cemburu yang dia maksudkan. Dia mengaku jika Waila dianggapnya sebagai adik? Rasanya tidak mungkin.


Pendapat Winsi tentang hubungan Waila dan Anas adalah tidak setuju, sebab menurutnya, kedua orang itu tidak layak menjalin hubungan sebagai kekasih. Selain jarak usia mereka terlalu jauh karena Anas lebih pantas jadi ayahnya, status pria itu pun belum jelas apakah dia memiliki pasangan atau tidak. Terlepas dari semua itu, kalau mereka memang berjodoh, maka semua orang tentu tidak berhak mengusiknya. Tidak ada yang bisa melarang perasaan mereka bukan?


Ya, mungkin karna istilah cinta mematahkan logika itu benar, padahal, bagaimana mungkin logika itu akan patah karena ia sama sekali tidak memiliki bentuk, tidak memiliki rupa seperti panjang atau kotak. Jadi, tidak mungkin patah, kecuali oleh gelora hati yang tak sesuai dengan akal sehat.


“Sepertinya, mereka tidak punya hubungan apa-apa.” Winsi berkata setelah sekian lama diam, dia mencoba untuk berprasangka baik. Biar bagaimanapun mereka hanyalah remaja yang baru beranjak dewasa, di mana pikiran dan pengalaman mereka belum sebanyak orang-orang yang lebih matang usianya.


“Kamu pikir mereka nggak punya hubungan apa-apa? Lihat saja mereka mesra banget.”


“Kalau kamu memang menganggap Waila itu adik, ya dukung saja hubungan mereka, kalau memang Anas itu jomblo atau nggak mempunyai istri. Iya, kan? Yang penting, hubungan mereka tidak mengganggu orang lain.”


“Anas itu terlalu tua, buat suami Waila!”


Mendengar ucapan Erlan, Winsi tertawa karena baginya itu lucu. Soal umur bukan masalah yang berarti selama kedua insan saling mencintai. Bahkan dalam agama pun tidak di bahas masalah perbedaan usia dalam pernikahan, sebab setiap manusia berhak memilih pasangannya masing-masing.  


Usia tidak penting dalam memilih pasangan sebab yang terpenting dalam memilih wanita untuk dinikahi adalah agamanya atau keimanan, keturunan yang baik, kehormatan diri, sedangkan soal memiliki penghasilan dan bentuk fisik adalah tambahannya.


‘Sebenarnya aku sependapat sih kalo soal umur, tapi, kalau mereka memang suka, ya, nggak masalah’ batin Winsi sambil melemparkan pandangan ke luar jendela.


“Sebenarnya, kamu nggak perlu malu kalau kamu cemburu! Belum tentu juga mereka mau nikah, kan?” Winsi kembali terkekeh.


Erlan menghentikan mobilnya secara mendadak, bermaksud agar Winsi berhenti bercanda. Akan tetapi, gadis itu tetap tertawa.


“Win! Hentikan, ini nggak lucu!”


“Lan, kamu yang lucu, tahu?”


“Lucu apanya? Aku bukan pelawak!”


Winsi tertawa lagi.


“Ya, ya, maaf ....” Winsi berkata setelah menghentikan tawanya.


Erlan kembali melajukan mobilnya sambil berkata, “Aku tidak punya pacar, tidak punya kekasih, tapi aku punya seseorang yang selalu membuat aku pusing.”

__ADS_1


“Siapa, apa aku boleh tahu?”


“Dia si peri kecil.”


“Heh. Memang ada nama orang begitu? Ck!”


“Ada!”


Winsi tidak menanggapi ucapan Erlan, karena dia menganggap orang yang dimaksud pria itu hanya candanya belaka.


 


****


 


Erlan duduk di teras rumah Nafadi sambil menikmati kopi yang mereka seduh sendiri. Malam itu, dua laki-laki  membicarakan tentang Basri, seseorang yang diminta oleh Arkan untuk diselidiki keberadaannya.


Arkan tidak menceritakan secara mendetail tentang pria yang memiliki hubungan masa lalu dengan Winsi. Akan tetapi, Nafadi tetap bersikap kooperatif dengan melakukan permintaan sahabatnya itu. Dia pun menceritakan penemuannya selama ini pada Erlan.


Erlan tidak mengetahui tentang pertemuan Winsi dengan bapaknya. Arkan memang tidak mengatakan apa pun soal itu. Akan tetapi dari penuturan Nafadi ini, dia tahu jika ayahnya secara diam-diam memperhatikan dan menjaga anak angkatnya itu dari jauh. Akhirnya dia pun mengatakan banyak hal tentang Basri pada Nafadi.


“Oh, kalau begitu wajar kakekmu berwasiat seperti itu, bukan soal keselamatan Wiwin tapi, dia juga tidak mau kalau pria itu  mengganggu ayahmu. Itulah sebabnya, kenapa kakekmu begitu kuatir, pada dasarnya yang dia pikirkan Cuma soal keluarga saja.”


Mendengar ucapan Erlan Nafadi tertawa lalu, mengangguk sambil berkata, “Hei ... Ternyata kamu sudah berpikir sejauh itu?”


“Om! Jangan nakut-nakutin aku, lah!”


“Eh, siapa juga yang nakutin kamu? Kita, kan, cuman berbicara realitas atau kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kenapa?”


“Nggak ... nggak apa-apa, Om!”


“Kamu suka sama dia?”


“Apa, sih, Om. Dia sama aja kayak Waila?” ucapan Erlan seperti mengelak.


“Cuma sebagai adik?”


“Ya.”


Nafadi kembali tertawa mendengar sanggahan dari Erlan yang canggung, suaranya terdengar mantap tetapi, raut wajahnya memperlihatkan bahwa dia khawatir,  gelagatnya pun terlihat berbeda. Namun, dia tidak berhak untuk menanyakan tentang perasaan Erlan lebih jauh, sebab itu juga merupakan sesuatu yang tidak penting dibahas saat ini.


“Jadi, kapan kamu mau pulang, kuliahmu hampir selesai, kan?”

__ADS_1


“Ya, Om. Tahun depan.”


Hanya beberapa bulan lagi menuju tahun depan dan Erlan sudah mantap untuk kembali ke tanah air, setelah tugas-tugasnya selesai. Dia akan meneruskan usaha yang tidak bisa dilakukan oleh Arkan sendirian. Hanya sesekali mungkin dia tetap harus mengontrol bisnis peninggalan sang kakek yang ada di luar negeri seperti yang dilakukan Arkan saat ini.


Keberadaan Erlan yang bisa fokus menjalankan bisnis ketika sudah mendapatkan gelar sarjananya, maka, Arkan bisa membagi tugas dengan anaknya. Erlan akan menjadi pemegang tongkat estafet bisnis keluarga selanjutnya, secara turun temurun seperti yang dilakukan oleh banyak pengusaha sukses lainnya.


Tiba-tiba Erlan teringat tentang seseorang yang bernama Anas, dia adalah pria yang  menanyakan tentang Runa pada Winsi. Gadis itu juga pernah menanyakan nama laki-laki ini di saat mereka masih kanak-kanak dahulu.


Sebelumnya dia memang sempat terpikir untuk menanyakannya, akan tetapi sikap Waila yang mengganggu, membuatnya mengabaikan rasa ingin tahu soal pria itu.


“Om tahu kalau Waila punya hubungan dengan pria yang jauh lebih tua, namanya Anas!”


“Anas? Anas Zabid, maksudmu? Laki-laki yang punya Cafe dekat kampus Waila?”


“Ya, mungkin. Aku Cuma tahu namanya Anas. Tadi dia pulang nganterin Waila pulang.”


“Oh.”


Dari tanggapan Navadi menunjukkan bila pria itu tidak khawatir dengan sikap yang berlebihan dari anaknya pada Anas, karena pria itu adalah temannya juga. Dia tahu kalau Anas memang terlalu memanjakan Waila.  


 Anas memiliki rasa sayang yang berlebihan pada Waila karena gadis itu merupakan teman dari anaknya yang sudah tiada dan dia menganggap sikap manjanya menggemaskan, sama seperti anaknya juga.


Erlan mengatakan kekhawatiran dugaannya pada Nafadi, sebab, tidak menutup kemungkinan apabila lama-kelamaan timbul cinta di antara mereka, mengingat keduanya sama-sama sudah dewasa. Bukankah gejolak menyimpang yang muncul dalam hati itu timbul dari kebiasaan dan sikap-sikap kecil yang diabaikan sebelumnya tapi, justru menjadi masalah di kemudian hari.


“Baiklah, aku nanti coba ngomong sama Anas, tapi setahu Om sih dia memang nggak masalah sih sama Waila.”


“itu urusan, Om, sih, aku cuma ngingetin aja.”


“Hmm ... terus, ada hubungan apa Anas sama Wiwin, apa mereka pernah kenal sebelumnya?” tanya Nafadi kemudian setelah mengusap wajah dengan telapak tangan.


“Dia kenalnya sama ibunya Wiwin.”


“Maksudmu, Anas itu teman ibu tirimu?”


“Bukan, aku juga belum tahu soal itu, cuma tadi si Anas itu tanya tentang ibunya Wiwin.”


“Apa yang Anas tanya ke Wiwin soal ibunya?”


“Katanya mereka mirip.”


“Apa?”


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2