
Sebuah Tragedi (Lagi)
Runa melihat pada Basri dan juga Arkan secara bergantian tapi, tidak juga menjawab pertanyaan mantan suaminya itu, tapi dia berbalik hendak melangkah keluar restoran.
“Runa! Jawab pertanyaanku!” Basri bertanya sambil menarik tangan Runa agar wanita yang sudah memalingkan badannya itu kembali menghadapnya. Seketika Runa mengernyitkan dahi dan menatap Basri tidak suka.
“Jawab, Runa, apa kamu mau menikah dengan lelaki itu, apa kamu pikir dia akan jauh lebih baik dariku, dia sudah punya anaknya sendiri!”
“Pak, kita nggak bisa menilai orang hanya dari statusnya atau penampilan. Kita sendiri juga, belum tentu baik bagi orang lain. Sudah, mulai sekarang kita nggak punya hubungan apa-apa lagi, Pak. Jangan campuri urusanku!”
Basri melihat Runa menjauh dia tetap menatap punggungnya sampai sosok wanita itu masuk ke mobil Arkan dan membawanya pergi dari sisinya, apakah untuk selamanya?
Tiba-tiba Basri merasakan separuh hatinya kosong, terisi oleh kehampaan. Hampa yang dulu pernah ada, tapi kini terasa lebih nyata. Wanita yang dia cintai kini benar-benar pergi, kepergian yang dengan sekuat tenaga dia cegah.
Sudah sering dia meminta Runa kembali tapi, Wanita itu selalu memberi syarat agar mau mengakui Winsi sebagai anaknya sendiri. Akan tetapi hati kecilnya selalu menolak sebab, setiap kali melihat gadis kecil itu, dia selalu mengingat bayangan seorang pria tampan yang menyelimuti istrinya dengan penuh kasih sayang.
Dia seorang pria dewasa yang tahu bagaimana tatapan pria saat jatuh cinta pada seorang wanita, dan Basri menangkap semua itu dari sorot mata Anas pada istrinya. Dia tidak tahu entah di mana laki-laki itu sekarang.
Dia sudah berusaha menghindar dari orang-orang yang terus mencarinya selama ini, di tempat yang sering dia kunjungi karena dia tahu maksud mereka mencarinya hanya demi selembar surat perceraian dengan Runa. Dia tidak rela! Akan tetapi siapa yang menduga justru Arkan sendirilah yang berhasil menemukannya, setelah hampir tiga bulan lamanya dia terus bersembunyi.
Kesialan baginya bertemu pria itu di proyek barunya hingga dia tidak bisa lagi melarikan diri lalu, terjadilah apa yang terjadi hari ini. Dia menyesal ... sangat, padahal, apa susahnya mengakui seorang anak?
‘Ah ... aku lupa bertanya tadi, di mana anak itu sekarang?’ batin Basri penuh penyesalan, sambil pergi dari restoran itu dengan gamang.
Terkadang manusia tidak pernah tahu jalan takdir akan seperti apa, bisa jadi jika apa yang diharapkan tidak pernah muncul, yang di tunggu tidak kembali dan, semua yang ada dalam genggaman pun pergi.
Sementara itu di mobil, Runa duduk di samping Arkan yang tengah mengemudi, sambil melihat ke luar jendela dengan perasaan yang galau, air mata menetes dari pipinya imbas dari kesedihan karena pernikahannya benar-benar berakhir saat ini.
Dahulu dia berpikir bahwa pernikahan akan bertahan dan utuh selamanya. Dia mempunyai sebuah prinsip bahwa, menikah hanya sekali seumur hidup.
Saat itu Runa benar-benar jatuh cinta pada Basri bukan karena kebaikannya saja, tetapi, di antara sopir lainnya Basri mempunyai wajah yang paling menarik dan teduh daripada teman-teman se-profesinya.
__ADS_1
Akan tetapi semuanya kandas kali ini seolah-olah perjuangannya selama 12 tahun hidup bersama menjadi istrinya tidak berbekas sama sekali. Dia tidak tahu apa komentar Winsi jika mengetahui hal ini, apakah anak itu akan senang atau tidak mengetahuinya.
Mereka sudah lama tidak bersama tetapi, tetap saja dia tidak bisa menghilangkan perasaan sedihnya. Rumah tangga yang dia bangun dengan susah payah dan bertahan dalam suka duka kini hancur begitu saja.
“Kamu mau langsung pulang atau ada tempat lain yang ingin kamu datangi?”
Ada, mungkin ada seandainya dekat, dia akan mendatangi makam kedua orang tuanya. Dahulu ketika jasad kedua orang tuanya yang terbakar bisa ditemukan dan dikuburkan dalam lubang yang sama. Seandainya dia bisa mendatanginya saat ini. Akan tetapi, Runa hanya menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada, antarkan aku pulang saja,” jawab Runa dengan lemah bahkan tidak menetap pria di sampingnya.
“Maaf, boleh aku tanya sesuatu?”
“Soal apa?”
“Anas, dia tukang kebun di rumahku. Apa kamu punya hubungan dengan orang itu?”
“Tidak, justru aku baru tahu kalau dia jadi tukang kebun di rumahmu waktu itu. Aku memang kenal, sama dia tapi, aku pikir dia bukan tukang kebun.”
“Jangan hiraukan dia, dia hanya asal ngomong, aku juga nggak tahu orang yang namanya Anas yang dia maksud itu ada di mana?”
“Oh. Apa benar kamu di sini nggak punya keluarga?”
“Nggak, dulu Basri yang membawaku ke sini setelah kami menikah, aku sebatang kara, Ar! Bisa kan, kita pulang sekarang?”
Runa tidak memiliki siapa pun di sekitarnya atau orang yang bisa memberinya saran juga tempat untuk berkeluh kesah, dia sendirian. Tidak ada anak, orang tua, teman dan saudara.
Tanpa menyahut Arkan mempercepat laju mobilnya hingga bisa segera tiba di rumah Runa dan membiarkan wanita itu beristirahat, untuk menenangkan diri setelah dia berusaha lepas dari beban berat yang dipikulnya.
Untuk urusan lamarannya sampai mendapatkan jawaban Arkan masih berusaha bersabar karena dia tahu tidak bisa memaksakan kehendaknya bila tidak ingin Runa semakin menjauhinya. Dia tahu, Runa butuh sandaran, atau pelampiasan tapi, wanita itu tampak begitu tegar menanggung bebannya.
Sudah ... Arkan sudah tidak akan bertanya lagi tentang sebuah keputusan dari seorang yang dia sayang. Mereka sudah sangat dewasa untuk memikirkan sesuatu demi masa depan terbaik tanpa paksaan. Dia sudah pasrah dengan takdir Tuhan, apa pun yang akan dia dapatkan. Bukankah setiap manusia tidak pernah sama dalam merancang sebuah tujuan? Banyak orang yang berjalan tanpa kepastian, sedangkan dirinya hanya ingin sama-sama mewujudkan hal indah yang berakhir kebahagiaan.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya Runa membuka warung seperti biasanya, dia begitu bersemangat hari ini karena besok akan menjenguk Winsi--anaknya. Tak terasa sudah satu bulan mereka tidak saling bertemu, anaknya tidak diizinkan membawa telepon genggam hingga dia tidak bisa menghubungi setiap waktu. Mungkin besok dia akan seharian menutup warungnya dan saat ini dia membuat banyak makanan yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh dan, sebagian lagi untuk dijual.
Dia melayani beberapa pembeli yang sudah menjadi langganannya, pagi ini. Namun, tanpa dia duga ada masalah menghampiri di saat pembeli mulai sepi. Ada tiga orang laki-laki datang ke warungnya memesan kopi dan juga minta dilayani untuk sarapan nasi uduk buatan Runa. Ketiga pria bertubuh kekar itu belum pernah muncul di sana sebelumnya.
Runa melayani mereka dengan baik seperti pelayan lain pada umumnya. Akan tetapi, tiga orang ini bersikap kurang ajar, dengan mencolek beberapa bagian anggota badannya seperti dagu dan bahu. Baru kali ini dia mengalami tindakan kasar seperti itu. Salah satu orang menyentuh tangan dengan jarinya dan seorang lain melontarkan kata-kata yang tidak pantas bila dilontarkan oleh seorang pelanggan pada pemilik warung.
“Aku baru tahu, ada janda cantik juga banyak uang di sini! Kayaknya enak nih kalau kita garap rame-rame!” kata salah satu di antara mereka.
“Boleh juga, tuh!” kata salah satu temannya.
Tanpa menunggu, secara Refleks Runa menyambar telepon genggam yang ada di meja warung tempat dia menyimpan uang hasil jualan sehari-harinya. Lalu, dia menekan tombol darurat yang ada di ponsel itu dan hanya ada satu tombol darurat yaitu nomor Arkan.
Dia tidak mau melakukan panggilan dia hanya memencet nomor itu saja lalu berlari menuju kamarnya yang tidak jauh dari sana, lalu menguncinya rapat-rapat. Tanpa dia duga tiga orang itu pun mengikutinya masuk. Wanita itu ketakutan dan mengurung diri di kamar dia tidak peduli dengan dagangan juga uang yang dia tinggalkan begitu saja.
“Bagus ya sayang! Kamu pintar ya, masuk kamar, biar kita bisa menikmatinya dengan mudah!” terdengar ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak.
“Ayo! Kita dobrak saja pintunya sekarang juga!” kata yang lain.
“Baik! Siapa takut!”
Bersambung
__ADS_1