
Memanfaatkannya Demi Uang
Winsi mendongak dan menanggapi pertanyaan Runa, dengan mengerucutkan bibir lalu, dia berkata, “Ih, aku nggak mau, Bu ... Kan, sekolah dia mahal. Katanya kalo sekolah di sana harus pintar, harus banyak uang.”
“Kamu juga pintar, anak ibu itu banyak uang, coba saja, kemarin kamu karya wisata sekolah saja pake uang tabunganmu sendiri. Itu artinya kamu kaya!”
Mendengar perkataan Runa, Winsi mengingat kembali kejadian di mana dia merasa sangat heran, saat bertemu Erlan. Pria itu menuduhnya telah menggunakan uang pemberiannya, dengan sembrono dan menyatakan bahwa atas jasanyalah sehingga, dia bisa berangkat karya wisata.
“Coba kamu ingat lagi, kejadian sebelumnya, apa memang Erlan ngasih kamu uang?”
“Nggak tuh, Bu!” Winsi berkata dengan yakin bila dia memang tidak pernah menerima sepeser pun uang dari Erlan.
Tanpa ragu, Winsi mengatakan pada Runa tentang dugaan bahwa Basri yang telah memanfaatkan dirinya demi uang. Memalukan sekali kalau apa yang dilakukan bapaknya, ternyata benar. Dia menebak semua itu karena ingatannya pada kejadian dua pekan yang lalu.
Saat Basri memergokinya di depan rumah, pria itu langsung mengatakan bahwa dia membutuhkan uang, pada Erlan yang kebetulan sedang bersamanya dan meminta agar meminjamkan uang tersebut. Lelaki remaja itu pun menyanggupi lalu, pergi untuk mengambilnya. Akan tetapi, setelah memasuki rumah, dia tidak melihat Erlan kembali.
Setelah mendengar semua penuturan anaknya, Runa menghela napas panjang sambil mengelus dada, betapa semua kejadian demi kejadian semakin membuatnya lelah untuk terus bertahan. Dia sudah mencintai Basri sedemikian besar sehingga, apa pun yang di lakukan pria itu selalu mampu dia terima dengan lapang dada. Apakah ada cinta yang sebesar cintanya? Mungkin ada dan bahkan banyak, tapi, tidak semua kisah hidup mereka sama seperti yang dialaminya.
Hidup bersama dalam satu naungan kasih sayang, satu pemahaman, tujuan hidup, harapan dan menua bersama adalah cita-cita luhur setiap manusia dengan pasangannya. Hanya saja terkadang ujian yang harus dilewati tidak semudah perkiraan lalu, mengakibatkan putusnya hubungan di tengah persimpangan jalan.
Setelah Winsi tertidur, Runa membelai kepala anak gadisnya dengan lembut. Dia hanya membisikan kata-kata yang menyejukkan hati bahwa, mungkin ada kesalahpahaman dan bila Erlan tidak mempermasalahkan uang itu atau memintanya kembali, maka dia tidak perlu merisaukannya.
Runa kembali ke kamarnya sendiri dan melihat tempat tidur yang kosong. Biasanya Basri akan selalu berada di rumah saat pulang dan hanya pergi sebentar untuk membeli keperluannya sendiri. Akan tetapi, ini pertama kalinya suaminya itu pergi sampai larut malam. Dia gelisah dengan memikirkan begitu banyak dugaan negatif tentang apa yang terjadi saat ini.
Dia tidak punya niat untuk menghubungi suaminya, karena sudah menebak bahwa laki-laki itu pasti masih bersenang-senang dengan Nira. Hatinya terasa bagai dicubiti dengan keras dan, air mata pun mengalir tanpa diminta.
Ternyata sesakit ini rupanya melihat orang yang dicintai lebih memilih dan menghargai wanita lain padahal, sebagai istri, dia selama ini sudah melakukan banyak hal bersama. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang, selain menerima.
Tanpa terasa, akhirnya Runa pun tertidur di kamarnya sendirian tanpa menutup pintu, bahkan lampu kamar pun dibiarkannya menyala.
Akibat kondisi hati membuat kelelahan fisiknya bertambah dua kali lipat, dia pun menjadi tak peduli termasuk pada dirinya sendiri, berada pada level terserah yang paling parah.
*****
Keesokan harinya, seperti biasa Runa bangun menjelang subuh, bersiap untuk menunaikan ibadah sunah dan wajib sampai batas waktu sholat, bersama Winsi. Dia melihat Basri masih tertidur walau dia sudah membangunkannya berulang kali. Pria itu pulang sudah lewat tengah malam sehingga ketika subuh menjelang, menjadi sulit untuk dibangunkan.
‘Apa yang kamu lakukan di luar sana dengan Nira di luar rumah, Pak? Aku nggak akan Sudi disentuh laki-laki penzina. Dosa yang ditanggung oleh mereka yang melakukan perbuatan terkutuk itu, membawa keburukan bagi empat puluh tetangganya ke samping kanan, kiri, depan, belakang, apalagi pada istrinya!’ batin Runa sambil memalingkan muka lalu, beranjak keluar kamar untuk mempersiapkan sarapan, serta mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
__ADS_1
Winsi dengan senang hati membantu Runa mempersiapkan bekal makanan untuk Basri apabila akan kembali bekerja. Biasanya tidak lebih dari dua hari saja dia ada di rumah dan, setiap kali itu pula dia akan membawa bekal yang dibuatkan oleh istrinya.
Runa sudah hampir selesai mempersiapkan bekal makanan dan sarapan, ketika Basri keluar dari kamar sudah dalam keadaan bersih dan rapi tapi, Nira masih belum menampakan batang hidungnya. Ketika melihat suaminya, dia pun melirik sekilas pada pintu kamar di mana Nira tertidur itu yang masih tertutup.
Basri duduk di kursi meja makan dan Runa mengambilkan sarapan buatannya. Wanita itu menemaninya makan dengan mengambil posisi duduk saling berhadapan.
Sementara Winsi melanjutkan membuat makanan di dapur sendirian. Dia tidak pernah ikut makan dalam satu meja dengan Basri sejak kecil, saat dia sudah mulai mengerti dan mengambil kesimpulan bahwa kemarahan Basri hanya terjadi apabila melihat dirinya. Dia tahu kalau laki-laki itu sangat membencinya. Jadi, dia memilih menghindar saja.
“Sudah sholat subuh, Pak? Tadi ibu bangunin malah nggak bangun-bangun ... kesiangan, kan?” kata Runa, setelah sisa nasi di piring suaminya hanya tinggal sedikit. Dia mencoba memulai obrolan setelah keheningan yang lama ada di antara mereka.
“Hmm ....” Basri menjawab sambil mengangguk, tanpa melihat ke arah istrinya.
“Mau berangkat kerja hari ini?”
“Ya.”
“Semalam ke mana si, Pak?”
“Kamu nggak perlu tahu semua urusanku, jangan mikir yang macem-macem, aku Cuma ke rumah Bos Damar, kok!”
Kini mereka sudah selesai makan dan Basri sibuk dengan ponselnya. Runa membersikan piring bekas makan lalu, kembali duduk di sebelah suaminya.
“Pak, tahu anak yang namanya Erlan, kan? Anak Pak Arkan?” tanya Runa kembali memancing obrolan.
“Nggak.”
“Masa sih, nggak tahu? Dia yang tinggal di rumah besar dekat belokan jalan ke kota?”
“Kalau aku bilang enggak tahu ya enggak tahu ... siapa Erlan, siapa Arkan? Perasaan nggak ada nama orang seperti itu di kampung ini?”
“Pernah nggak, merasa minjam uang ke anak itu, Pak?”
“Kamu ini ngomong apa? jangankan minjam uang kenal aja enggak.”
Mendengar ucapan Basri, Runa menarik napas dalam dan kemungkinan besar laki-laki itu tidak peduli dan tidak pula memberikan jawaban yang memuaskan. Jadi, dia memilih untuk diam.
‘Bisa jadi Erlan sudah mengikhlaskan uangnya, gimana seandainya anak itu menagih uang satu juta pada Winsi, dari mana dia bisa membayar uang yang sama sekali tidak dinikmati. Ya Allah, aku hanya berprasangka baik pada takdirku' batin Runa.
__ADS_1
Putus asa, sedih dan diabaikan, itulah perasaan yang mendominasi benak Runa saat ini.
“Pasti kamu pergi semalam sama Nira, kan?” tanya Runa ketus, ada kecemburuan dari gaya bicaranya.
“Iya, dia mau cari kerjaan, siapa tahu dia nanti bisa bayar kuliahnya sendiri, tidak ngerepotin aku. Baik banget kan dia?”
Hati Runa bagai terbakar mendengar Basri memuji wanita lain sangat baik, di hadapannya. Lalu apa arti pengorbanannya selama ini yang juga turut membiayai kehidupan rumah tangga mereka dengan hasil keringatnya sendiri bahkan untuk kebutuhan listrik dan air selama bertahun-tahun pun pernah Tidak pernah memintanya pada Basri.
Perasaan marah dan cemburu bergejolak dalam dada, membuat Runa segera beranjak sambil menghentakkan kakinya. Sekilas dia menatap suaminya, sambil mendengus kasar lalu, pergi ke dapur untuk mengemas makanan yang sudah disiapkan oleh Winsi.
Walaupun, kesal setengah mati mendengar wanita lain dipuji, Runa tetap mengemas makanan itu dengan rapi dan kemudian memberikannya pada Basri.
Dia mendekati suaminya sambil berkata, “Sekarang, apa perempuan itu akan terus tidur? Kapan dia mulai sekolah? Kamu gak harus membiayai kuliahnya, kan, Pak?”
Basri menarik nafas dalam sambil melihat Runa sekilas lalu, dia berkata, “Biarin dia tidur jangan diganggu, pasti capek pulang malam banget nungguin aku.”
Ucapan Basri membuat Runa mengerutkan kedua alisnya begitu dalam. Dia heran.
Setelah berkata demikian Basri beranjak dari tempat duduk sambil membawa kotak makanan yang sudah disiapkan istrinya. Tanpa berbasa-basi lagi dia membawa mobil truk itu keluar dari halaman rumah dan pergi.
Runa tidak mencium punggung tangan Basri seperti biasa karena dia masih kesal. Walaupun, instingnya merasa jika suaminya pun mempunyai perasaan kesal yang sama, tapi dia mengabaikannya.
Sementara Winsi sudah berdiri di belakang punggung ibunya, sambil menatap kepergian mobil Basri dengan tatapan kosong. Menyadari keberadaan anaknya, Runa menoleh lalu, meraih bahu anak gadis itu dan membawanya ke meja makan.
“Ayo, sekarang kamu makan,” katanya sambil duduk di sebelah Winsi lalu, melanjutkan bicara, “kapan kamu mulai sekolah?”
“Pekan depan, Bu.”
“Oh iya, Ustadzah Aisi kemarin ngasih baju seragam SMP bekas anaknya dulu, masih bagus kok bajunya dan pasti cukup sama kamu. Jadi, ibu gak harus beli seragam baru. Uangnya bisa buat nambahin tabungan kita, biar bisa cepat pindah dari sini.”
“Ekhem!”
Tiba-tiba terdengar deheman keras dari belakang punggung mereka.
Bersambung
“Jangan lupa, like, komen, give dan votenya. Terima kasih atas dukungannya”
__ADS_1