Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
34. Sebuah Ketakutan


__ADS_3

Sebuah Ketakutan


 


Winsi tidak mau menuruti perintah orang itu dan terus memeluk Runa dengan rasa takut yang seolah berdenyut-denyut dijantungnya. Pria itu menyeramkan! Lagi pula dia pergi ke tempat itu dengan tujuan ingin dekat dengan ibunya lalu, kenapa dia harus keluar dari sana? Toh sama saja baginya mau di dalam atau di luar. Jadi dia memilih menolak dan melawan laki-laki itu.


“Kalau kamu tetap di dalam, itu artinya kamu melanggar hukum, tahu?” kata pria bertato sambil berkacak pinggang dan melotot ke arah Winsi. Dia terlihat marah karena keinginan di tolak.


“Kamu mau di sini terus sama ibumu dan jadi narapidana sekalian! Mau?” kata pria bertato itu lagi.


Winsi menggelengkan kepalanya, seraya berkata, “Nggak!”


“Ya, makanya, kamu harus tunggu ibumu di luar saja!”


Sementara itu seorang temannya yang duduk di kursi, hanya tersenyum saja, sedangkan beberapa polisi lain yang tengah berjaga, tidak memedulikannya.


Winsi terpaksa keluar setelah ibunya meyakinkan kalau dia akan baik-baik saja. Pria itu berhasil membuat Winsi menurut dengan alasan diminta untuk membuatkannya kopi, setelah itu dia boleh menemui ibunya kembali.


Kedua pria bertubuh besar itu menunjukkan di mana letak dapur atau pantry dan Winsi tertegun sejenak, dia takut berada di tempat yang asing, hingga tubuhnya gemetaran, gerakkannya kaku dan gugup terlihat dari mukena yang di gunakan saat dia sholat tadi.


Di ruangan itu, dia melihat ada aneka macam kopi dalam sebuah wadah di atas meja, dia memilih salah satunya. Ada juga setumpuk gelas dan piring kotor yang belum di cuci di wastafel. Dia menduga mungkin ada petugas lain yang akan membersihkan semuanya.


Winsi mulai melakukan tugas yang diberikan padanya ... membuat dua gelas kopi.


Semula ruangan itu gelap tapi pria itu menyalakan lampunya dan dia tetap berada di sana, memperhatikan gerak gerik Winsi dari dekat. Tak jauh dari dapur kecil itu, ada sebuah ruang yang tidak terpakai dan menjadi gudang penyimpanan barang bukti untuk sementara.


Tiba-tiba.Winsi merasakan mulutnya di bekap, dan tubuhnya di dekap kuat dari belakang. Dia begitu lemah karena tidak makan sejak kemarin siang, membuatnya tak mampu melawan. Dia di seret secara paksa ke dalam ruangan yang menjadi gudang itu dengan gerakan yang sangat cepat.


Sesampainya dalam ruangan yang gelap, orang itu menutup pintu, membanting tubuh Winsi ke lantai begitu saja. Punggung gadis itu menyentuh lantai yang dingin dengan keras. Seketika tulang, kulit dan daging di badannya seakan disayat ribuan pedang, ditambah lagi tubuh besar yang menindihnya, seolah sengaja agar kekuatan wanita lemah di bawahnya sirna tanpa sisa.

__ADS_1


 Benar saja, Winsi tidak mampu meronta, apalagi tangannya yang terbelit kain mukena, membuatnya tidak bebas untuk memukul orang tidak bisa dilihat wajahnya. Hanya suara Geraman dan napas menderu orang itu di telinga Winsi membuat gadis itu merinding ngeri dan mulai berkeringat serta napasnya juga saling memburu.


Sesaat kemudian, Winsi merasakan mulutnya disumpal dan tangannya mulai diikat oleh selembar kain.


Tidak hanya itu, Winsi merasakan wajah, bibir, dadanya, perutnya dan juga *********** diciumi. Menjijikkan sekali karena dia pun mencium aroma tembakau, alkohol serta bau yang tidak enak lainnya dari tubuh orang itu.


Winsi hanya bisa menendang-nendang ke segala arah sebagai bentuk perlawanan karena hanya kakinya yang tidak terikat.


“Diam kau kalau masih ingin hidup!” bisik orang itu dengan dirinya suara rendah telinga Winsi.


Gadis itu tetap bersuara tapi hanya di tenggokan dan tidak keluar ... ‘Iblis kau setan terkutuk! sebenarnya siapa orang ini!' umpatnya dalam hati.


'Apa yang akan terjadi padaku kali ini? Aku sudah cukup menderita karena Bapak!' batinnya lagi.


Winsi malu, sangat malu, walau ruangan itu gelap, tapi dia seolah sedang dibuka seluruh auratnya di depan umum. Jika saja lampu di atasnya menyala, maka semua orang bisa melihat apa yang terjadi padanya.


‘Auzu bikalimatillaahi tammaati mingsyarri maa kholaq’ batin Winsi berulang kali, sambil menggumamkan doa di tenggorokan mengucapkan kalimat yang sama.


‘Aku berlindung kepada Allah, dengan kalimat-Nya yang sempurna, dari kejahatan makhluk-Nya’ batin Winsi sebanyak yang dia bisa.


Pada saat yang bersamaan, terdengar suara-suara ribut di luar gudang, dia berteriak sekuatnya dengan mulut yang tersumpal, berharap ada yang mendengar. Dia memukulkan satu kakinya yang ada di dekat dinding. Semua cara dia lakukan agar dia terbebas dari Kungkungan orang itu.


Tiba-tiba ada gerakan dari pegangan pintu, sepertinya ada orang yang mencoba membuka dengan paksa dari luar tapi tidak bisa. Seketika orang itu mengehentikan gerakannya dan rasa perih itu pun berkurang.


Brak!


Akhirnya seseorang membuka pintunya secara paksa lalu, menyalakan lampunya!


Semua yang terjadi kini bisa terlihat dengan jelas baik oleh Winsi, dan orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


Secara reflek, Winsi bangkit dengan kekuatan dari rasa malu yang begitu besar dalam hatinya untuk segera menutupi aurat walau dengan tangan masih terikat.


Dia begitu syok melihat orang bertato yang tadi menyuruhnya untuk membuatkan kopi, ternyata dialah yang tengah mengungkungnya. Terlebih dia melihat laki-laki itu, dengan keadaan yang belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya, membuatnya merasa muak dan jijik.


“Kurang ajar, kamu Ran!” teriak orang yang tadi mendobrak pintu, sambil meninju wajah Si Pria Bertato yang dipanggil Ran.


Ada seorang wanita tua di belakangnya dan segera menolong Winsi berdiri, melepaskan ikatan di tangnnya dan membuang kain dari mulutnya. Tangisan keras pun kini terdengar.


Dua lelaki itu masih berkelahi, sementara Winsi dipapah wanita tua itu agar bisa berjalan menuju ruang yang biasa digunakan untuk istirahat dan bersantai para polisi. Sang ibu yang tadi membantu menyuruh Winsi duduk di sofa dan memberinya segelas air minum.


Winsi menerimanya dan menenggak air mineral itu sampai habis


“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya wanita tua itu, tapi bukan jawaban yang dia terima melainkan hujan air mata. Walaupun begitu, dalam hati Winsi sangat berterima kasih kepadanya.


Sementara itu, dari balik jeruji besi Runa mendengar suara tangisan anaknya, seketika perempuan itu berteriak memanggilnya.


Tanpa menunggu panggilan untuk yang kedua kali, Winsi berlari sambil menangis memanggil ibunya. Begitu melihat anaknya, Runa mengulurkan tangan dan tercengang karena pakaian anak gadis itu acak-acakan.


“Apa yang terjadi padamu, Nak?” tanya Runa, mereka berpelukan sambil berlutut di lantai. Winsi menangis keras sebagai jawaban.


Di saat yang bersamaan, seorang pria berdiri di dekat ibu dan anak itu. Runa mendongak untuk melihat siapa yang tengah menatap diri dan anaknya dengan tatapan penuh penyesalan.


“Kamu? Untuk apa kamu kemari?”


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2