Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
28. Tangan Yang Patah Bukan Hatinya


__ADS_3

Tangan Yang Patah Bukan Hatinya


Sesampainya di ruang pembimbing konseling, Winsi di persilakan duduk di hadapan seorang wanita cantik bertubuh montok yang kulitnya putih dengan pakaian rapi berwarna lembut.


Di sampingnya, ada Kansya yang duduk dengan wajah sedih, matanya sembab seperti habis menangis dan tangan kirinya memakai arm Sling atau alat penyangga tangan.


Ada juga beberapa teman Hansya yang berdiri di belakangnya.


Winsi menatapnya heran, alisnya berkerut karena dia merasa sudah membuat tangan kanan gadis itu terpelintir ke belakang kemarin, lalu kenapa dengan tangan kirinya?


“Kamu yang bernama Winsi Nisriya?” tanya wanita bertubuh gemuk itu, di dadanya tersemat sebuah name tag ‘Nadisa’ itulah namanya.


“Iya, Bu ... Nadisa?” sahut Winsi sambil berusaha menyebut nama guru itu dengan benar. Nadisa tersenyum tipis, wajahnya tampak serius menghadapi masalah di hari pertama sekolah, sungguh sangat luar biasa baginya, apalagi yang ada di hadapannya adalah seorang murid baru.


“Ya, saya guru pembimbing kalian, nama saya Nadisa Farah,” kata Nadisa memperkenalkan diri, dia memaklumi anak baru yang tentunya belum mengenal guru bimbingan konseling mereka.


“Win, kamu tahu kenapa kamu di panggil kemari?” tanya Nadisa.


“Tidak, Bu,” sahut Winsi tenang dan sopan.


“Dasar nggak peka. Masa sudah lihat aku begini, masih nggak tahu juga, sih?” tanya Hansya.


Winsi menoleh pada wanita di sampingnya tanpa rasa khawatir dan tersenyum tipis. Sudah tidak ada yang bisa mengalahkan rasa takutnya selain terkena sabetan dari ikat pinggang Basri. Menghadapi hal semacam ini, tidak ada apa-apanya bagi Winsi. Dia sudah mengalami banyak siksaan dan hinaan yang paling menghancurkan harga diri hingga cemoohan dari Hansya tadi, bahkan tidak terasa dalam hati.


“Jadi, begini Winsi ... akibat dari perbuatanmu kemarin, sudah membuat tangan Hansya patah, kekerasan tidak bisa di maafkan dalam sekolah ini.”


“Kekerasan seperti apa maksud Ibu? Saya tidak melakukan apa pun dengan tangan kirinya.” Winsi menyanggah tuduhan terhadap dirinya dengan tegas.


“Dia bohong, Bu. Maling mana ada yang mau ngaku!” tandas Hansya.


“Saya juga bukan maling, Bu!” elak Winsi sambil memalingkan pandangan.


“Jelas-jelas kamu kemarin matahin tangan aku sampai kayak gini kan, kamu masih nggak mau ngaku? Banyak saksinya, Bu ...” kata Hansya penuh pengharapan bahkan dia hampir menangis.


‘Nggak nyangka anak ini cengeng! Cuma kayak gitu aja nangis’ batin Winsi sambil mencebik. Di sekolah dasarnya dahulu, tidak ada guru bimbingan konseling seperti itu. Jadi, ini adalah pengalaman pertamanya.

__ADS_1


Sebelum Winsi dipanggil menghadap ke ruang guru bimbingan konseling itu, rupanya Hansya sudah memberi pernyataan yang berbeda dari kejadian sebelumnya. Sedangkan semua teman-temannya yang melihat kejadian kemarin, bersedia menjadi saksi dan mereka membenarkan apa yang dikatakan Hansya kepada Nadisa.


Winsi berpikir bila dia juga bisa memanggil Fika sebagai saksinya tapi, kemudian benaknya berkata percuma, sebab apabila dia hanya berdua, sementara Hansya bersama rombongannya tentu, menjadi persaksian yang tidak seimbang dan yang lebih banyak lah yang akan menang.


“Apa saya boleh memanggil teman saya sebagai, saksi juga, Bu?”


“Siapa yang mau kamu panggil?”


“Fika. Dia teman saya yang awalnya di—“ ucapan Winsi terputus saat Hansya berteriak sambil menangis.


“Ahk ...! Sakit sekali, Bu! Dia mencoba mengelak, Bu. Saya Cuma gak sengaja menyenggol kakinya ... Eh, justru saya yang di pukul, sampai tangan saya patah,” teriak Hansya sambil tangan kanan memegangi tangan kirinya yang terbungkus. Air mata mengalir di pipi melengkapi penderitaannya.


Setelah Hansya selesai berkata, semua temannya yang ada di sekitar mereka membenarkan ucapannya, mengangguk-angguk begitu saja.


‘Hai, kalian! Penipu semua. Apa sih salah saya sama kalian?’ batin Winsi miris. Sepertinya dia kenyang dengan berbagai tuduhan!


“Winsi, kamu tidak punya bukti, Hansya kakak kelasmu ... Bagaimana bisa kamu berbuat tidak sopan seperti itu? Ini ada surat dari rumah sakit hasil visum dokter yang menjelaskan adanya keretakan tulang pada bagian siku tangan kirinya.” Nadisa berhenti sejenak, untuk menghela napas.


Dia kembali melanjutkan ucapannya yang menyatakan bahwa Winsi bisa di skors karena terbukti sudah melakukan tindak kekerasan pada temannya sendiri.


Winsi tersenyum mengejek diri sendiri, menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukannya selain menerima jika dia akan dilarang sekolah selama tiga hari ke depan. Apa ruginya? Dia bisa membantu Runa berjualan untuk menambah tabungan mereka, selama pihak sekolah tidak tahu maka dia akan aman berjualan.


Skorsing adalah hukuman dari pihak sekolah yang melarang pelakunya melakukan kegiatan di luar rumah selama masa tertentu. Ini semacam tahanan rumah dari pihak pengadilan negara, bagi para pelaku kriminal dan kejahatan lainnya.


“Baik, Bu. Saya terima hukuman untuk saya. Tapi, bolehkan saya menyelesaikan sekolah sampai selesai untuk hari ini saja?” Winsi meminta keringanan, sebab dia tidak tahu apa alasan yang bisa diberikan pada ibunya, jika pulang lebih cepat. Dia tidak akan mengatakan dengan jujur tentang perbuatannya, walau itu benar bahkan tidak melanggar hukum. Runa pasti tidak menyukainya.


*****


Winsi menunggu angkutan umum seperti kemarin seorang diri, tapi memilih tempat yang berbeda. Lebih jauh dari gerbang sekolahnya, demi menghindari gerombolan Hansya.


Fika ingin menemani Winsi tapi teman sebangku itu melarangnya karena tidak ingin dia terlibat, seandainya terjadi lagi insiden yang tidak mengenakan.


Fika merasa prihatin dan bersalah karena dirinyalah Winsi mengalami hukuman dari pihak sekolah. Gadis itu telah berkata jujur karena dia harus tahu bahwa selama tiga hari ke depan, dia tidak akan duduk bersamanya di kelas.


Winsi sedang merapikan kerudungnya dan berteduh di bawah sebatang pohon, saat mobil sedan hitam mengilat berhenti tepat di depannya. Setelah itu Hansya keluar bersama teman-temannya lalu mengerumuninya.

__ADS_1


“Nah, sekarang kamu tahu kan apa akibatnya kalau menggangguku? Hah!” kata Hansya sambil melepaskan arm Sling di tangan kirinya.


“Ya. Aku tahu kalian penipu!” tandas Winsi sambil memasukkan tangan ke saku roknya.


“Kamu pikir kamu siapa?” tanya Hansya lagi penuh permusuhan.


“Aku manusia dan makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Sama seperti kalian juga. Dan, yang membedakan kita hanyalah taqwa!” Winsi berkata penuh percaya diri, sebab semua yang dia katakan adalah benar.


Manusia adalah insan Kamil yang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Baik susunan otak, kulit, tulang, daging, kromosom, sel dan DNA-nya, sangat luar biasa. Bahkan hanya dari satu helai rambutnya pun mengisyaratkan banyak sekali kekuasaan dan kepandaian Allah dalam penciptaan manusia. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatan-Nya dalam hal mencipta.


Semua yang diciptakan oleh manusia memang banyak yang luar biasa, seperti kapal pesiar, pesawat tempur, mobil sport, komputer dengan kecerdasan buatannya, akan tetapi semua itu tetap bersumber dari alam. Contohnya mobil, salah satu unsurnya terbuat dari besi dan bijih besi di ambil dari alam yang berasal dari ciptaan Allah juga ....


Mendengar ucapan Winsi, sebagian anak ada yang tertawa mengejek, tapi, ada pula yang tertegun.


“Sombong sekali kamu. Nggak usah sok ceramah di sini. Cih!” Hansya menjawab sambil meludah tepat di hadapan Winsi membuat gadis itu mundur ke belakang untuk menghindar.


“Aku nggak ceramah, itu aku jawab pertanyaanmu. Benar kok aku ini makhluk Tuhan, kamu juga. Kita sama-sama harus ibadah pada-Nya dan tidak boleh saling merendahkan, seperti yang kamu lakukan sekarang!” kata Winsi sambil mengangkat bahunya.


“Apa kamu gak takut dipanggil guru BK lagi?” tanya Hansya.


“Nggak! Buat apa takut, dia bukan Allah. Bukan Tuhan ... Eh iya, apa dia Tantemu?” Winsi mencoba menebak.


“Ya. Dari mana kamu tahu?”


‘Ahk ... Yang benar saja. Ternyata dugaanku benar kalau mereka bersaudara’ batin Winsi seolah menertawakan dirinya sendiri.


“Mungkin Allah yang membisikkan kebenaran padaku! Masih untung tangan yang patah dari pada hatimu!" sahut Winsi penuh percaya diri.


“Kamu?” saat Hasya berkata, tangannya sudah hampir melayang kembali ke arah wajah Winsi, saat tiba-tiba tangan itu tertahan di udara.


“Cukup!”


Bersambung


“Jangan lupa like, komen, give, fav dan Vote. Terima kasih atas dukungannya”

__ADS_1


__ADS_2