
Pria Yang Dahulu
Basri dan Anas saling bertatapan, dua pria itu pernah berseteru di masa lalu tapi, sekarang semua sudah berubah, mereka sudah berusia lebih tua dan tidak pernah bertemu sejak hari itu.
Namun, Basri dan Anas masih mengingat wajah itu, wajah orang yang pernah memiliki prasangka buruk bahkan mengakibatkan kesalahpahaman di antara mereka.
“Pak Basri?” tanya Anas. Pria itu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menyalami laki-laki yang pernah memukulinya tanpa ampun padahal tidak ada kesalahan yang sudah dia lakukan padanya.
Basri menerima uluran tangan itu dengan ragu. Namun Anas tersenyum begitu ramah.
“Apa kabar, Pak? Dunia ini sempit rupanya, nggak nyangka saya bisa ketemu lagi di sini.”
“Baik,” jawab Basri singkat, dia duduk bersebelahan dengan Winsi dan melirik anaknya serta Nia yang melihat ke arah mereka dengan tatapan heran.
Nia kenal dengan Anas karena Winsi pernah bercerita tentang pria itu padanya, bahkan dia sering melihat Anas berdua dengan Waila di cafe dan juga sering menjemputnya. Dia menebak jika Anas memiliki hubungan serius dengan Waila, wanita yang lebih pantas menjadi anaknya ketimbang pacar.
“Apa kamu kenal dengan Winsi?” tanya Basri heran.
“Ya. Ini kebetulan, kan? Saya bersyukur bertemu dengan anak Mbak Runa. Sekarang saya bisa bertemu juga dengan Pak Basri. Jadi, saya bisa menjelaskan kesalahpahaman yang dulu pernah terjadi.” Kata Anas dengan tenang.
“Hah! Kesalahpahaman apa maksudmu? Apa kamu mau membuka aibmu sendiri di depan anak-anak ini? Ya, silakan saja!”
“Sebenarnya tidak ada aib apa pun yang harus saya sembunyikan, saya Cuma mau meluruskan masalah. Kebetulan dulu, sudah lama juga, sih ... Winsi ini pernah tanya sama saya soal ibunya.”
“Gimana kamu bisa tahu kalau Wiwin anak Runa. Kamu pasti punya telepati yang kuat ya, sebagai Ayah?”
“Apa?”
__ADS_1
Tentu saja Anas heran dengan pemikiran Basri yang tidak berubah padahal sudah bertahun-tahun lamanya, pria itu masih saja menuduhnya berselingkuh dengan Runa.
“Tunggu, dulu ....” kata Anas terlihat mengerutkan keningnya karena berpikir. “Apa jangan-jangan Pak Basri menuduh Winsi ini anak saya?”
“Ya, sudah jelas, kan? Kamu ini sudah ketahuan dua kali sekamar sama istriku!”
Mendengar ucapan Basri, Anas tertawa keras bahkan sambil memegang perutnya, lalu, dia melihat jam tangannya seolah dia punya sesuatu yang harus dilakukan, sesuai waktu.
“Saya mau meluruskan dulu sebentar, ya, Pak. Saya nggak punya banyak waktu.”
Tanpa menunggu Basri menjawab, Anas menceritakan kronologi kejadian di mana dia bisa menolong Runa, tepat waktu hingga wanita itu bisa selamat dari kehilangan bayi yang ada dalam kandungan ibunya. Semua terjadi secara tidak sengaja. Lalu, tiba-tiba Basri yang datang terlambat langsung memukulinya, tanpa terlebih dahulu bertanya kejadiannya seperti apa.
Basri saat itu begitu lelah di tambah emosi yang memuncak sehingga membuat otaknya buntu untuk berpikir jernih, tak heran jika pria di mana pun berada bila sedang tersulut emosi maka, akan dengan mudahnya melakukan kekerasan.
Nia yang sebelumnya tidak mengetahui apa-apa, di buat tercengang dengan semua yang di dengarnya barusan. Dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan dari mulut Anas hingga melihat Winsi yang sudah berurai air mata, barulah dia percaya. Lalu, dia pun memahami betapa beratnya cobaan hidup yang dialami temannya itu.
Bagaimana tidak berat jika selama hidupnya ternyata sang ayah tidak pernah mengakui dirinya sebagai anak, apalagi setelah tahu jika ternyata semua hanya salah paham belaka.
Basri mendengarkan semua ucapan Anas dengan terpaksa sebab dia tidak mungkin marah atau melabrak laki-laki itu di hadapan anak-anak yang juga berada di tempat yang sama.
Dia belum bisa meredam emosi saat tadi melihat Anas untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya. Dia tidak bisa melupakan wajah itu, wajah yang menjadi penyebab hidupnya tidak tenang setiap kali melihat Winsi.
Sungguh sangat bahagia melihat anaknya yang dulu sering mendapatkan kekerasan darinya kini telah dewasa. Ada rasa bersalah yang terselip di hati walaupun rasa tidak percayanya lebih besar lagi.
Setelah Anas selesai bicara dan mengakhiri cerita, Winsi beranjak berdiri sambil mengusap air matanya.
Dia berkata, “Pak! Kalau memang Bapak nggak pernah percaya atau memang nggak mau menganggap Wiwin anak Bapak, nggak masalah, Pak.”
__ADS_1
Air mata tiba-tiba kembali mengalir deras di pipinya tapi, dia tetap melanjutkan ucapannya.
“Wiwin masih punya Ayah yang lebih sayang, masih ada Mas Adi yang sangat perhatian, masih ada Om Anas yang sangat baik juga banyak bagi-bagi ilmu soal jualan.”
Winsi kembali menjeda ucapannya hanya sekedar memberi kesempatan pada paru-parunya bernapas.
“Jadi, Wiwin nggak punya Bapak juga nggak apa! Allah juga sayang. Semua laki-laki yang sayang sama Wiwin itu bukti kalau Allah lebih sayang!”
Setelah berkata seperti itu, Winsi berjalan ke kamarnya sebentar dan kembali ke ruangan sebelumya sambil membawa sebuah amplop besar berisi sebuah bukti.
Benda yang dibawa Winsi adalah data hasil tes DNA yang dia dapatkan dari Erlan lebih dari setahun yang lalu. Dia belum sempat mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu sebab setiap kali mereka bertemu atau menyapa lewat telepon, mereka selalu saja seperti tidak akrab.
Namun sekarang, kesempatan untuk menggunakan hasil tes DNA untuk membuktikan kebenaran sudah tiba waktunya. Winsi mengulurkan tangannya dan memastikan jika Basri membaca dan melihatnya.
Basri mendongak, menatap Winsi penuh tanda tanya dengan apa yang diberikan kepadanya.
“Apa ini?” tanya Basri, sambil membuka amplop besar berwarna putih itu.
“Itu hasil tes DNA, Pak. Itu bukti kalau Ibu bukan wanita pezina, Ibu wanita baik-baik, Pak! Dan aku ini bukan anak haram.” Winsi berkata dengan semangat menjelaskan tentang kebenaran, bukan hanya demi sebuah pengakuan, tapi karena ingin meluruskan sebuah kesalahpahaman yang sangat merugikan diri dan ibunya.
Basri melihat Winsi sekilas, lalu dia membuka amplop besar itu dan melihat isinya, membacanya dengan saksama hingga dia melihat sebuah kebenaran. Seketika laki-laki itu menitikkan air mata dan kembali menatap anak perempuannya dengan tatapan mata penuh penyesalan.
“Winsi Nisriya ....” suara Basri bergetar memanggil Winsi, gadis itu masih sibuk menghapus air matanya yang tidak mau berhenti juga.
“Wiwin, tuh Bapakmu manggil,” Kata Nia sambil mengusap lembut punggung temannya, dia ikut menangis juga.
Sementara Winsi seperti terhanyut dalam dunia lain yang berbeda saat mendengar suara Basri. Dia seolah tak percaya dipanggil dengan suara selembut itu oleh orang yang selama ini tidak pernah sekalipun memanggil namanya!
__ADS_1
"Winsi ...!" Basri mengulangi panggilan pada anaknya.
Bersambung