Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
87. Membalas Budi


__ADS_3

Membalas Budi


 


“Win, Bapak ...!” ucapan Basri terputus oleh sanggahan Winsi.


“Sudah, Pak! Aku nggak mau terlambat, Ibuk sakit, dia mau aku pulang.”


“Kenapa? Ibumu sakit?” Basri terlihat kuatir.


“Ya. Ibuk masih hamil, tapi, bukan urusan Bapak lagi sekarang.”


“Oh, dia hamil ya? Pasti karena laki-laki itu, kan?”


“Siapa laki-laki yang Bapak maksud? Ayah? Ya iya, lah. Kan Ayah suami Ibuk sekarang, bukan Bapak!”


“Oh berarti ---“


“Sudah, Pak! Sudah, nanti saya telat atau aku turun saja sekarang, ongkosnya udah dibayarkan sama Mas Adi?”


Basri kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Apa hubungan kamu sama laki-laki itu? Apa kamu juga sudah menikah sama seperti Ibumu. Kenapa kamu nggak bilang Bapak, kan, Bapak harus jadi walimu?” Kembali Basri bicara saat dia tengah mengemudi dengan konsentrasi pandangan tetap lurus ke depan.


“Kalau aku mau nikah, untuk apa bilang sama Bapak? Percuma kalau Bapak tetap menganggap aku anak haram! Berarti aku bukan anak Bapak, kan? Jadi, untuk apa mau jadi wali segala?”


Mendengar ucapan Winsi, Basri tidak berbicara dan tetap melajukan mobilnya dalam diam sampai akhirnya sampai di depan bandara, sementara waktu sudah menunjukkan waktu keberangkatan pesawat menuju Jakarta akan segera dilakukan.


Tanpa melihat lagi pada Bapaknya, Winsi langsung membuka pintu mobil dan dan turun dengan cepat, seolah enggan kembali berinteraksi dengan Basri. Dia berlari menuju departure dan melakukan check in.


Selama di dalam pesawat, Winsi masih terus memikirkan tentang kebetulan yang terjadi padanya hari ini, bagaimana mungkin bapaknya bisa ada di tempat yang sama?


Dia berniat untuk melanjutkan kehidupan dan masa depannya di tempat itu. Melanjutkan kuliah dan mempunyai usaha yang bisa menopang kehidupannya sendiri. Dengan demikian dia bisa mandiri dan meninggalkan semua masa lalunya di tempat yang berbeda. Lalu, bagaimana bila mereka akan sering bertemu karena berada di kota yang sama? Winsi benar-benar belum bisa mempercayainya.


Kesedihan ketika mengingat masa lalu tentang bapak dan semua perbuatan laki-laki itu, masih menyelimuti hatinya. Walaupun, sudah  berlalu selama enam tahun lamanya. Dengan susah payah dia berusaha melupakannya, dengan melakukan segala kegiatan dan belajar, serta  mengisi hari-harinya dengan penuh kesibukan.

__ADS_1


Namun, takdir seperti belum puas dengan mempertemukan mereka kembali, menguji anak yang baru saja beranjak dewasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mungkin Allah belum akan berhenti untuk menguji karena masih ingin melihat kekuatan hatinya.


Winsi tadi sempat menilai, saat melihat laki-laki yang fisiknya memang agak berubah, Basri terlihat lebih kurus dan semakin tua. Ada rasa kasihan muncul dari sisi kemanusiaannya tapi, jika soal sikapnya masih tetap keras dan kasar. Gadis itu tidak bisa membayangkan apabila dia masih bersamanya.


‘Ya, Allah ... Aku akan tinggal di kota yang sama dengan Bapak, aku tidak ingin bertemu lagi dengannya, apakah itu mungkin? Tapi, aku ingin melanjutkan usaha dan kuliahku di sini, di tanahku sendiri’ batin Winsi memohon, dengan berurai air mata.


Kesedihan terlihat jelas diraut wajahnya hingga beberapa penumpang yang ada di sekitar memperhatikan tapi, dia tidak peduli karena air yang meleleh di pipinya tidak bisa dihentikan.


Setelah beberapa saat, dia mulai bisa mengatasi kesedihan dan air matanya sudah berhenti mengalir.


Gadis itu mulai berpikir jernih bahwa, semua usahanya hari ini dengan menemukan tanah Runa yang akan menjadi miliknya, maka, dia tidak akan mundur apa pun rintangan yang akan dihadapi kedepannya.


Dia memang bertekad untuk menjalani hidupnya di sana karena di tempat itu tidak ada orang yang tahu bagaimana masa lalunya. Di sana pula dia bisa menjalani hidup, menjadi dirinya sendiri dan tidak akan memikirkan kehidupan orang lain, apalagi berpikir untuk menikah. Tidak. Dia tidak akan melakukan hal yang satu itu karena dia berpikir bahwa, tidak ada orang yang akan mengerti dengan dirinya.


Dia hanya benar-benar perlu membangun sebuah usaha untuk meneruskan dan bertahan hidup, itu saja. Keinginannya sederhana, tidak ingin merepotkan orang lain termasuk Arkan—ayahnya.


Bagi Winsi Arkan sudah terlalu baik, dengan membiayai sekolahnya selama enam tahun,  mengurus ibunya dengan penuh kasih sayang, itu sudah cukup dan dia sangat bersyukur.


Dia tidak ingin merepotkan laki-laki itu sebagai wujud rasa cintainya yang tulus sebagai anak. Bukankah berbakti kepada orang tua itu wajib? Arkan dan Runa adalah orang tuanya saat ini.


Berbeda dengan Arkan, Winsi akan mencoba membalas kebaikan pria itu dengan apa pun yang dia bisa termasuk tidak membebaninya lagi dengan biaya kuliah.


Arkan adalah laki-laki pertama yang dia cintai dengan tulus sebagai seorang ayah, pria itulah yang bisa membuatnya mengalihkan perhatian dari luka akibat perbuatan Basri. Dari dialah, Winsi bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang sebenarnya.


Winsi tidak pernah berpikir sama sekali tentang mengharapkan kasih sayang Erlan atau menyukai laki-laki itu seperti yang dikatakan Waila. Tidak sama sekali.


Wanita itu berpikir apabila dia menyukai Erlan maka, dia sama saja menghianati Arkan.


‘Ayah bisa mendapatkan menantu yang lebih baik dari diriku untuk dijadikan istri atau wanita yang layak dicintai oleh Erlan. Aku cuma anak buluk yang sudah ternoda dan tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan Ayah' batin Winsi sambil tersenyum untuk dirinya sendiri.


Apalagi Erlan mengetahui betapa buruk masa lalu yang dilaluinya. Jadi, bagaimana mungkin laki-laki itu bisa menyukai orang seperti dia yang penuh dengan kekurangan? Tidak bukan?


 


*****

__ADS_1


 


Sesampainya di Jakarta, Winsi langsung menuju Rumah sakit tempat di mana ibunya dan Badri dirawat, dia sudah mengetahui bangsal perawatan Badri sehingga bisa lebih cepat menuju ke kamar perawatan ibunya yang bersebelahan dengan sang Kakek.


“Wiwin ....” kata Runa begitu gadis itu masuk dan berdiri di depan pintu.


“Kenapa Ibuk sakit segala sih?” kata Winsi sambil berjalan mendekat ke sisi tempat tidur dan duduk di sana.


Dalam ruangan itu kosong hanya ibunya yang tergolek sendirian, tidak ada Arkan atau siapa pun karena ayah angkatnya itu baru saja keluar dan kini sedang berada di kamar Badri, pria itu tidak tahu bila Winsi sudah datang menemani istrinya.


Sementara di luar senja sudah mulai menjelang memberi tanda bahwa waktu jenguk pasien rumah sakit juga hampir habis. Beberapa orang yang menjenguk para kerabat mereka yang sakit sudah meninggalkan kamar pasien. Bangsal-bangsal rumah sakit yang biasanya ramai dipenuhi orang yang menengok pun, kini sudah mulai sepi karena biasanya hanya ada seorang saja yang ditugaskan untuk menunggu dan menemani para pasien itu.


“Nak, kalau saja bisa menolak ujian dan juga penyakit maka itu akan ditolak oleh manusia ... tapi, apa yang terjadi padanya, kan, tidak bisa ditolak kalau memang Allah sudah menghendaki?” kata Runa sambil duduk, lalu, bersandar di bagian atas tempat tidur.


“Makanya, Ibu juga harus mikirin diri sendiri ... kalau mau ngurusin orang sakit ya, harus sehat! Sekarang coba, kalau ibu sakit siapa yang mau merawat Kakek? Jadi, kalau mau merawat orang sakit itu harus sehat! Apalagi ibu juga lagi hamil, nggak perlu maksain diri ngerawat kakek setiap hari, di rumah sakit itu tempatnya orang sakit, banyak penyakit, Bu.”


“Iya ... Iya, sekarang cerita sama Ibu, gimana kamu di sana? Apa sudah punya tempat kost?”


Sepertinya Runa mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia tidak ingin terus disalahkan oleh anaknya sebab dia termasuk orang yang cerewet. Winsi hanya cerewet pada dirinya sementara pada orang dia lebih banyak diam.


‘Apa aku perlu ngomong saja sekarang sama Ibu kalau aku ketemu sama bapak?’ batin Winsi sambil menatap ibunya lekat dan meraih tangannya lalu menggenggam dan memijat secara perlahan di bagian telapak tangan wanita itu.


“Ya, aku sudah punya rumah?” kata Winsi sambil tersenyum penuh kebanggaan pada Runa.


“Rumah? Rumah siapa?” Tanya Runa yang menjadi penasaran.


“Eh, bukan rumah tapi ... tanah.”


“Tanah siapa?”


“Tanah kita Bu. Warisan dari Kakek.”


“Kakek Badri?”


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2