
Geng Anak Lemah
Winsi baru saja mencuci tangan setelah selesai menghabiskan makan siangnya hari ini. Dia tengah berada di toilet wanita bersama beberapa teman lainnya. Tanpa sengaja dia mendengar sebuah jeritan kecil dari arah belakang gedung tepatnya tak jauh dari tempat Winsi membersihkan kedua telapak tangannya.
“Apa kamu dengar itu?” Tanya Winsi pada seorang anak yang sama-sama sedang mencuci tangan. Temannya itu hanya mengerutkan alisnya lalu, menggeleng.
Tidak berapa lama, Winsi kembali mendengar suara jeritan kecil yang tertahan itu hingga dia bergegas ke halaman belakang sekolah.
Benar saja, dia melihat hal yang mencurigakan, seorang anak bertubuh gendut, berambut pendek sebahu dan berkaca mata tebal tengah duduk bersimpuh di atas rumput, dikelilingi beberapa anak perempuan lain yang terlihat lebih sempurna dan menarik.
Ada beberapa anak lain yang mengintip dan menyaksikan kejadian perundungkan ini tapi, mereka hampir tidak melakukan apa pun selain mengamati.
“Apa yang kalian lakukan, di sini?” tanya Winsi, sambil berjalan memasuki lingkaran anak-anak itu. Dia melihat gadis bertubuh gemuk itu menangis dengan pakaian yang basah dan wajah penuh coretan spidol serta rambut yang acak-acakan.
Pandangan Winsi terhenti pada Meri sahabatnya yang kini menatapnya dengan acuh tak acuh. Dia tidak menyangka bahwa teman yang selalu setia dan menemaninya ketika masih sekolah dasar, bisa berubah menjadi wanita bengis seperti ini.
‘Apa dia benar-benar Merry, benarkah dia teman dan sekaligus tetanggaku yang selalu bermain bersamaku dulu? Mengapa dia sangat berbeda sekarang, apakah karena pergaulan dan anak-anak orang kaya ini yang sudah mempengaruhinya hingga lupa tentang jati diri yang sebenarnya’ batin Winsi sambil memalingkan pandangan ke arah anak lainnya, yang memiliki pandangan tak kalah acuhnya.
“Apa urusanmu? Pergi sana, ini urusan kami, kelas tujuh C!”
Kata salah satu anak yang tampak seperti ketuanya. Mereka memang satu geng atau kelompok yang terkenal dengan kecantikan dan kekayaan mereka, semua benda yang dipakai ditubuh mereka dari merk terkenal dan tentunya punya harga yang mahal.
“Jadi urusanku kalau soal beginian. Apa kalian sudah merasa hebat sampai bisa menyiksa anak lain seperti ini?” kata Winsi, matanya nanar menatap ke arah Merry sedangkan yang ditatap tidak peduli seolah-olah tidak mendengar apa yang Winsi katakan.
“Gak sok suci kamu!” kata anak perempuan yang tadi bicara, sementara anak yang lainnya hanya diam menyimak pembicaraan kedua teman mereka yang saling menekan.
“Aku nggak merasa suci, tapi, Aku paling nggak tahan lihat orang kayak gini. Hai kamu, bangun!” kata Winsi sambil menggamit tangan anak gemuk dan mengajaknya berdiri.
Tapi anak lain menahannya, “siapa yang nyuruh kamu bangun? Hah!” kata anak lainnya.
__ADS_1
“Aku!” sahut Winsi, mencoba melindungi anak gemuk.
“Jangan ikut campur!” kata Meri.
“Tapi, aku mau ikut campur, ini penindasan namanya, apa kalian nggak pernah belajar etika atau sopan santu? Ini teman kita juga!” kata Winsi.
Mendengar ucapan itu mereka tertawa, sambil menggelengkan kepala, menganggap ucapan Winsi hanya angin lalu dari anak kemarin sore yang sok jadi pahlawan kesiangan .
“Baik, kalau mau ikut campur, jangan di sini. Kita selesaikan nanti pulang sekolah!” kata Meri lagi, dia sepertinya mulai berani bicara di antara teman yang lainnya, padahal selama ini, Meri selalu diam saja.
Rombongan anak-anak itu menyebut diri mereka geng kece. Bukan hanya anak kelas satu yang tergabung di sana tapi, ada anak kelas dua dan juga kelas tiga. Mereka hanya iseng meminta bekal makanan yang dibawa si anak gendut dan memintanya mengerjakan PR mereka tetapi anak gendut itu menolak.
Dia hanya memberikan makanan separuhnya saja karena memang sudah habis, membuat mereka meradang sehingga menjadikan anak gendut itu sebagai bahan cemoohan dan bahan tertawaan.
Mereka menyiram pakaian anak gendut dengan air mineral, mengacak-acak rambutnya dan menggambari wajahnya. Tentu saja si anak gendut tidak berdaya dan rombongan itu dengan leluasa melakukan kesenangannya karena mereka secara bersama-sama, tentu saja menang karena jumlah mereka lebih banyak.
Merasakan sepakat untuk menyelesaikan masalah sepulang sekolah di tempat yang sama di halaman belakang, dekat toilet wanita.
Mereka berkenalan dan sepakat untuk menjadi sahabat, anak gendut itu bernama Nia. Dia merasa belum pernah melihat Winsi sejak dia bersekolah di sana. Tentu saja belum pernah karena Winsi anak pindahan yang baru masuk beberapa minggu saja.
“Jangan mau diperlakukan seperti ini lagi, kita punya harga diri, jadi lawan mereka ... jangan pasrah saja kecuali, kalau kamu sudah melawan dan tidak berhasil, kita bisa apa?”
“Kamu baik, selama ini aku udah sering dikerjain sama mereka tapi nggak ada yang berani membelaku, kecuali kamu.”
“Dulu aku pernah kok, di kerjain begitu tapi, bukan di sekolah ini, makanya waktu aku melihat kamu, aku inget waktu aku di-bully dulu.”
“Jadi, karena ini kamu berani melawan mereka?”
“Ya!”
Sejak saat itu Winsi terkenal menjadi seorang kepala Geng Lemah mereka menjuluki Winsi, dengan sebutan itu, bukan tanpa alasan. Beberapa anak menilai gadis itu selalu membela dan secara kebetulan selalu melihat anak-anak yang dibully dan diejek oleh teman-teman lainnya.
__ADS_1
Bila hal itu terjadi, maka Winsi tidak segan-segan untuk membelanya. Walaupun, dia harus beberapa kali menghadap guru konseling dan kepala sekolah. Dia hanya tidak ingin hal yang terjadi padanya terjadi pula pada teman-temannya yang lain, itu saja!
Seperti saat kejadian di mana dia menepati janji bertemu di halaman belakang gedung sekolah. Di sana dia benar-benar berani melawan beberapa anggota Geng Kece yang terdiri dari delapan orang.
Dia berpikir kemungkinan kedelapan anak itu tidak akan berani maju secara bersamaan melawannya. Sebelumnya mereka sempat beradu mulut, kemudian kepala geng itu memerintahkan tiga di antara mereka untuk maju melawan. Tentu saja tiga orang itu termasuk anak-anak yang pandai berkelahi tapi, ternyata anak itu kemudian bisa dikalahkan oleh Winsi dengan mudah hingga akhirnya anak-anak yang lain pun mundur. Melihat temannya yang lain sudah mengeluarkan darah di sudut mulut dan hidungnya, membuat yang lain tidak berani melawannya.
Merry ikut bergabung walaupun, dia tidak ingin melawan Winsi sebab, dia tahu sahabat lamanya itu jago bela diri sejak kelas lima SD sehingga dia hanya diam saja menonton. Setelah pertengkaran usai, dia kemudian menjelaskan pada teman-teman lainnya bahwa Winsi punya nyali karena mempunyai kakak angkat yang ada di SMA, dia adalah Erlan. Negitu mendengar nama Erlan, beberapa anak lain tercengang lalu, mereka sepakat untuk meninggalkan Winsi dan tidak lagi berurusan dengannya.
Apa yang dilakukan Winsi itu, tentu saja dilihat oleh Nia, bahkan dia membuat rekaman video, hanya untuk berjaga-jaga bila ada fitnah yang tersebar, maka, dia sudah memiliki bukti yang sebenarnya.
Maka dari itu, beberapa teman lain yang tergolong lemah baik secara penampilan, fisik juga kekayaan, yang pernah merasakan bagaimana dibully oleh para anggota Geng Kece, mereka mendukung Winsi.
Mereka juga menyanjungnya sebagai penolong dan pahlawan. Oleh sebab itu, mereka tidak lagi menolak ketika rombongan mereka dijuluki sebagai Geng Lemah karena memang mereka terdiri dari orang-orang lemah yang selalu saja mendapat Bulian dari anggota Geng Kece.
Winsi memang pernah dipanggil kepala sekolah dan juga Guru bimbingan konseling karena ketahuan hampir berkelahi hanya karena membela beberapa temannya yang di bully. Akan tetapi dia selalu menang dan mendapatkan pembelaan karena apa yang dilakukan itu karena terpaksa untuk membela diri.
Nia selalu ada di sisi Winsi walaupun, dia tidak berada dalam satu kelas. Akan tetapi, setiap Winsi mengalami insiden penghinaan, maka Nia akan siap sedia merekamnya sebagai barang bukti ketidakbersalahannya.
“Kita ke GOR Senayan, Ayah!” kata Erlan pada suatu ketika saat mereka pulang sekolah dan sedang berada dalam mobilnya.
“Buat apa kita ke sana?” Winsi bertanya heran.
“Ada yang mau nantangin ketua geng. Aku juga mau lihat, sekuat apa sih ketua geng yang terkenal itu?”
Bersambung
__ADS_1