
Dia Yang Pergi Dan Dia Yang Datang
Winsi yang semula melihat ke arah Arkan, menoleh kepada Badri dan dia melihat mata laki-laki tua itu terpejam kembali.
Gadis itu heran dan berpikir bila Badri berusaha keras untuk terbangun hanya karena ingin berpesan pada dirinya agar waspada terhadap Basri, dialah pria yang sudah menyebabkan penderitaan padanya sejak kecil.
“Ayah! Ada dengan Kakek?” Winsi berkata dengan gelisah karena merasakan keanehan yang terjadi pada Badri.
Pria itu baru saja terbangun dan membisikkan sesuatu, sambil menggenggam tangannya tapi, sekarang matanya sudah terpejam lagi. Tentu saja anak remaja yang tidak tahu apa-apa itu menjadi kuatir dan, dia langsung melepaskan tangan Badri begitu saja. Dia menjauh dari tempat tidur, sementara seluruh tubuhnya tiba-tiba berkeringat dan gemetar.
“Kenapa?” Arkan bertanya penuh hati-hati dia juga justru lebih khawatir pada Winsi.
“Apa Kakek tidak apa-apa? Tadi Dia pegang tanganku tapi, sekarang tidak lagi.”
Arkan tersenyum dan memaklumi kekhawatiran Winsi. Tentu saja orang yang sakit tidak akan bisa bertahan untuk melakukan sesuatu cukup lama, termasuk saat menggenggam tangannya.
“Sudah, temani ibumu, sana! Dia kangen sama kamu.” Arkan berkata sambil duduk kembali ke kursi yang tadi diduduki oleh Winsi.
“Ayah, tidak mungkin ibu kangen ... baru saja dua hari Wiwin pergi. Bukannya Ibu sudah biasa aku tinggal berbulan-bulan waktu di pesantren?”
“Sekarang, kan, beda ... ibumu sedang hamil adikmu, mungkin yang kangen itu adikmu yang ada di dalam perut.”
Winsi mengerutkan bibirnya karena ucapan Arkan yang terdengar lucu karena anak di dalam perut tidak mungkin mempunyai rasa rindu.
Rasa rindu hanya untuk orang-orang, wanita atau pria yang sudah dewasa serta mengenal sebuah rasa yang namanya kasih sayang dan cinta. Jadi, mana mungkin bayi di dalam perut dan belum bernyawa bisa merasakan rindu, padahal, saling melihat saja belum pernah? Pikirnya.
Winsi tahu sesuai agama yang dipelajarinya jika bayi yang ada di dalam kandungan, akan diberikan nyawa oleh Tuhannya dan dia hanya akan diminta persaksikan bahwa Allah—lah, yang telah menciptakan.
Setelah itu, ditentukan bagaimana kehidupan, rezeki, perjodohan dan bagaimana kematiannya terjadi, apabila dia menyanggupi, maka, bayi itu akan terus hidup sampai akhir hayat sesuai batas umur yang telah ditentukan pula, dalam perjanjian itu.
Di dalam kitab suci pun mengatakan demikian, akan tetapi tidak ada penjelasan tentang bayi yang merindukan atau menginginkan sesuatu di dalam perut, hingga kebanyakan orang mengistilahkan dengan ngidam.
__ADS_1
Pada dasarnya, istilah ngidam muncul karena adanya keinginan hati seorang ibu hamil yang memang membutuhkan perhatian lebih dari orang-orang terdekatnya. Jadi, wajar saja jika terkadang keinginannya sedikit aneh.
Pada kondisi seperti itu, wanita hamil akan mengalami banyak sekali perubahan hormon, yang mengakibatkan perasaannya menjadi sensitif dan akan mudah sedih atau tersinggung apabila keinginannya tidak dipenuhi.
Tiba-tiba Winsi merasa geli dan merasa bahwa Arkan bercanda untuk menghiburnya agar tidak terlalu takut dengan perubahan yang terjadi pada Badri.
Setelah itu dia kembali ke kamar ibunya dan melihat Runa yang tengah tertidur. Dia duduk di sisi pembaringan lalu, membelai tangan yang terselip jarum infus di sana hingga dia merasa kasihan. Wanita itu sudah banyak berkorban untuk semua orang terutama dirinya.
Hari itu seolah berjalan begitu lambat seperti jalannya seekor siput, binatang tidak berkaki yang hanya menggunakan perut dan lendir agar bisa berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Winsi membangunkan Runa untuk sholat magrib, setelah dia selesai bersuci di kamar mandi. Runa melakukan ibadah itu di tempat tidur, sedangkan Winsi salat sendiri di atas sajadahnya di sebelah bangsal ibunya. Namun, gadis tertidur, setelah selesai melakukannya Dia terlihat begitu lelah hingga wajar saja bila langsung tertidur begitu menemukan tempat yang enak walaupun di atas selembar sajadah.
Runa membiarkan Winsi yang tidur di sana, sedangkan dia sendiri melanjutkan berzikir, setelah itu berniat untuk makan malam dengan makanan yang sudah tersedia di sisi tempat tidurnya.
Dua wanita itu sibuk dengan dirinya sendiri hingga mereka tidak melihat beberapa orang dokter melangkah dengan terburu-buru memasuki kamar Badri.
Beberapa lama setelah itu, Arkan memasuki kamar perawatan istrinya dengan tergesa-gesa.
“Ya,” jawab Runa seketika menghentikan makan sebab, dia tengah menyelesaikan makan malam, sebelum minum obat.
“Doakan Ayah, dia sudah pergi!” kata pria itu dengan suara sedikit bergetar. Walaupun masih tenang seperti biasa tapi, dari suara itu menyiratkan jika dia begitu dalam kesedihan di hatinya. Dia menyimpan perasaan dengan sangat baik hingga tidak menampakkannya sedikit pun.
Tentu dua wanita yang ada di dalam kamar itu terkejut, Winsi langsung berdiri seraya melepas mukena. Sementara itu, Runa langsung mencabut jarum infus di tangannya dan berjalan dengan perlahan keluar kamar menyusul suaminya.
Begitu juga Winsi, dia menyusul dan berjalan di belakang mereka berdua.
“Apa yang kau lakukan, kenapa kau mencabut jarum infusmu? Tidak usah khawatirkan ayah sudah ada aku yang mengurusnya, lebih baik kau istirahat saja!” kata Arkan begitu melihat Runa yang berjalan di sisinya, dengan wajah pucat dan air mata yang berlinang di pipinya.
“Biarkan, aku ....” sahut Runa.
“Apa? Aku tidak memintamu untuk melihat Ayah dan mengurus jenazahnya, aku hanya memintamu untuk berdoa! Apa susahnya?”
“Ayah! Biarkan Ibu, jangan memarahinya!” sahut Winsi.
__ADS_1
Arkan diam dan menarik napas dalam sambil menggelengkan kepalanya. Membiarkan dua wanita itu berada di sekitarnya.
Saat itu mereka berada di luar kamar Badri yang terbuka, menyaksikan para dokter menangani tubuh yang sudah kaku dan dingin, untuk mengulangi pemeriksaan dan memastikan bahwa, pria tua itu benar-benar sudah tidak bernyawa lagi, lalu, mereka menulis data membuat laporan dan melepaskan semua alat yang menempel di tubuhnya.
Winsi begitu tercengang melihat kematian Badri yang tiba-tiba. Rasanya tidak percaya jika Allah sudah mengambil kehidupan sang Kakek tua sebab, baru saja dia bicara. Gadis itu sempat merasa ada yang aneh pada pesan Badri padanya, seolah-olah sebuah isyarat sebagai kata-kata terakhir untuknya.
Kejadian yang baru saja dia alami, menghadapi sebuah kematian dalam anggota keluarga, adalah hal yang pertama kali bagi Winsi. Dia cukup merasa kehilangan.
Kehilangan adalah hilang ia tidak akan pernah kembali, apabila kembali itu mungkin ia hanya pergi. Dan jika pergi pasti akan pulang tapi, kepulangan tidak akan pernah terikat waktu. Pulang itu bisa kapan saja sesuai dengan masa dan kesempatan.
Setiap kehilangan akan menyiratkan sebuah perubahan, kehilangan rasa mungkin akan berubah menjadi hambar, kehilangan warna mungkin akan menjadi suram dan kehilangan orang mungkin akan menjadi sepi.
Akan tetapi, jangan sampai kehilangan semuanya tanpa iman sebab kehidupan akan berubah menjadi gelap.
Saat itu, Winsi merasa jika apa yang dikatakan Badri adalah sebuah wasiat dari orang yang akan meninggal. Lalu, dia berpikir apakah harus melakukan wasiat itu dan bagaimana bila suatu saat Basri benar-benar membutuhkan pertolongannya? Apakah berdosa apabila dia melanggar pesan dari Badri?
“Win!” panggil Arkan membuyarkan lamunan Winsi, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari kamar Badri ke wajah ayahnya.
“Ya, Ayah!”
“Apa yang Kakek bilang padamu waktu itu?” tanya Arkan membuat Winsi termenung lagi, dia ingat bila saat itu Badri tidak mengatakan apa pun, terhadap Arkan karena pegangan tangannya melemah dan matanya langsung terpejam kembali.
Winsi mengatakan semua yang sudah didengarnya dari Badri, tanpa meninggalkan satu kata pun karena ucapan pria tua itu begitu berkesan dan dia mengingatnya dengan sangat jelas.
“Jadi, semua cuma soal kamu bahkan di saat terakhirnya? Aku tidak menyangka kalau ayah begitu menyayangimu.” Arkan berkata sambil tersenyum tipis.
“Apa maksudnya, Ayah?”
Bersambung
__ADS_1