Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
69. Salah Menilainya


__ADS_3

Salah Menilainya


Runa diam terpaku, begitu dalam dia menatap Saina sambil mengerutkan kening karena berpikir, pengalaman dengan rumah tangganya yang hancur disebabkan oleh seorang wanita dan juga hal buruk lainnya, membuat Runa seperti memagari diri agar tidak kembali terjadi.


“Coba ulangi ucapanmu tadi?” Tanya Runa sedikit mengirimkan kepala sambil memicingkan matanya.


“Ya. Siapa tahu Arkam mau menduakanmu kali ini!” Kata Saina begitu percaya diri.


Plak!


Tanpa ragu Runa menampar pipi wanita itu, membuat Saina terkejut dan dengan segera dia memegang pipi yang memerah dengan telapak tangannya.


“Kau?” tanya Saina dengan katakan membara. Dia hendak menampar Runa sebagai balasan, tapi, wanita yang tengah hamil itu berhasil menahan tangannya di udara.


“Ya. Apa Kau pikir aku selemah itu dan membiarkanmu merusak rumah tanggaku?” kata Runa sambil menghentakkan tangan Saina keras.


“Hah! Memangnya kau pikir dirimu itu siapa? Jangan sok! Mentang-mentang jadi istri Arkan, siapa tahu suamimu itu akan tergoda!”


“Lalu, kamu penggodanya, begitu? Jangan harap bisa!”


Setelah berkata demikian Runa pun beranjak pergi meninggalkan Saina yang terdiam sendiri sambil mengepalkan kedua tangan seolah-olah buku ke jarinya akan menusuk kulitnya begitu dalam. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang dia nilai rendah dan tidak berpendidikan itu, berani melawannya. Sejenak dia melihat pada dirinya sendiri, memastikan benar penampilannya. Namun, Dia sedikit ragu, apakah penampilannya begitu buruk sehingga wanita serendah Runa bisa menghinanya.


Sementara itu Runa menghampiri suaminya di kamar, pria itu sudah selesai membersihkan diri dan berpakaian santai tapi tetap rapi. Aroma tubuhnya wangi perpaduan dari sabun dan sampo menguar memenuhi ruangan begitu dia masuk.


Akan tetapi bukan pujian yang di dapatkan Arkan kali ini melainkan, rasa mual hingga membuat wanita itu berlari ke wastafel dan menumpahkan isi perutnya. Padahal biasanya, saat dia selesai mandi, maka Runa akan menghambur dalam pelukan sambil memuji.


Rasa mualnya bertambah akhir-akhir ini, padahal vitamin dan obat dari dokter sudah ia konsumsi setiap hari. Akan tetapi, saat mencium aroma apa pun maka, dia akan muntah. Dia tidak heran karena dulu, ketika hamil anak pertamanya pun seperti ini.


Arkan hanya diam sambil membantu meringankan rasa mual dengan memijit tengkuk istrinya, lalu, mengoleskan minyak kayu putih, hanya itu yang bisa dia lakukan, sementara dia tidak bisa menggantikan posisinya. Cuma aroma dari minyak kayu putih itu yang tidak membuat Runa mual.


Runa menepiskan tangan suaminya dengan kasar sambil melihatnya dengan cemberut. Sejenak pria itu mengernyitkan dahi. Merasa ada yang tidak beres kali ini, mengingat Runa tidak pernah berekspresi berlebihan seperti cemberut.

__ADS_1


“Kenapa, cemberut begitu?” tanya Arkan tenang


“Ada orang yang mau merebutmu dariku!”


“Siapa?” bertanya masih dengan suara yang tenang.


“Ya. Siapa lagi memangnya, jangan pura-pura nggak tahu?”


Arkan mengerti siapa yang dimaksud oleh Runa, laki-laki itu dengan tepat menebak bahwa, Sania sudah mengatakan sesuatu yang tidak pantas pada istrinya sehingga membuatnya kesal.


Arkan membawa Runa duduk di sisi tempat tidur sambil memeluk bahunya, lalu meminta agar menceritakan apa yang sudah terjadi. Tanpa ragu, wanita itu menceritakan semuanya. Namun, reaksi laki-laki itu biasa saja, dia begitu tenang mendengarkan sambil mengangguk-angguk seolah-olah dia sudah menduga sebelumnya.


Saat Arkan melihat Saina pertama kali di ruang tamunya tadi, dia sudah menebak dalam hati bahwa akan jadi masalah seperti ini, jika wanita itu lebih lama berada di rumahnya. Lalu, dia ingin sekali segera mengusirnya pergi sebelum menyakiti istrinya. Akan tetapi, saat mendengar kejadian yang dialami oleh kedua orang tuanya dan bagaimana nasib Saina saat ini, dia pun mengurungkan niatnya hingga berpikir untuk menolong perempuan itu semampunya.


Tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, dia belum tahu karena perlu membicarakannya dengan Badri. Namun, kesehatan ayahnya saat ini memburuk, dan tidak mungkin untuk membicarakan bisnis terlalu berat dengannya.


Arkan ingin mengutarakannya pada Erlan—anaknya yang kini sudah sedikit lihai dalam berbisnis restoran, properti juga perumahan seperti yang dia lakukan akhir-akhir ini. Selain itu memutuskan sebuah langkah penting juga akan melatih Erlan, untuk menjadi lebih baik di masa depan.


“Ya. Sekarang lebih baik kamu di kamar saja, biar nggak usah ketemu lagi sama dia, oke?” kata Arkan setelah Runa selesai bercerita dia hanya berusaha menenangkan istrinya.


Sejenak Arkan menunduk melihat ekspresi wajah Runa, lalu tertawa keras, membuat Runa semakin kesal.


Runa menyalah artikan ketenangan sikap Arkan menghadapi masalahnya, sebab baginya masalah itu terlalu besar. Dia dulu pernah serumah dengan seorang wanita, yang mengaku sebagai adik angkat suaminya lalu, terjadilah hal buruk. Perempuan itu menuduh pencuri pada diri dan anaknya. Lalu, saat ini jelas-jelas perempuan itu mengaku akan merebut suaminya bagaimana dia bisa tenang menghadapinya?


Ini mirip Dejavu sebuah mimpi bagi Runa yang terjadi lagi dan lagi. Tidak bisa! Ini terlalu berat, apalagi saat ini dia selalu mengalami mual yang lebih parah dari hari ke hari.


“Bukan begitu ....” kata Arkan setelah berhenti tertawa. “Aku akan mencari cara biar dia segera keluar dari rumah ini,”


“Benarkah?”


“Huum ....” gumam Arkan sambil mengangguk lalu, beranjak pergi ke luar kamar dan menutup pintunya.

__ADS_1


Di masa yang lalu orang tua Saina sempat berjasa pada perusahaan yang dibangun Badri di luar negeri. Jadi, mereka tidak bisa membiarkan masalah begitu saja karena saat ini wanita itu membutuhkan pertolongan. Arkan merasa harus berbicara dengan Erlan karena membahas bisnis dengan pria tua itu tidak mungkin. Badri akan tambah sakit, jika mengetahui keadaan seorang sahabat yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


Arkan memanggil anaknya untuk pergi ke ruang kerja di mana dia biasa membicarakan bisnis dengan Badri di sana. Erlan pun menurut, dia berjalan menuju ke tempat ayahnya berada dengan kaki terpincang-bincang saat berjalan.


Sebelum Erlan mencapai pintu ruang kerja, dia bertemu dengan Saina membuatnya terkejut. Secara spontan dia menghentikan langkah lalu perempuan itu pun tanpa ragu-ragu mendekat dan memeluk, lalu mencium keningnya. Apa yang dilakukan wanita itu membuatnya gugup dan refleks dia menggerakkan badan untuk menghindar hingga kedua tangan Saina yang melingkar di pundaknya terlepas.


Pemandangan itu pun tanpa sengaja tertangkap oleh Runa, membuat wanita itu menggelengkan kepala namun reaksi yang dilihatnya pada Erlan berbeda, saat Arkan menyambutnya membuat hatinya sedikit lega, dan tahu bahwa laki-laki remaja itu berbeda.


“Tante? Kapan Tante datang?” tanya Erlan seraya mengusap kening di mana Saina tadi menciumnya. Dia tidak tahu kedatangan Saina karena tadi, dia tengah membersihkan diri dan berganti pakaian saat ini, dia mengenakan celana pendek dan juga baju tanpa lengan. Sehingga luka besar di kaki dan tangan kanannya terlihat jelas.


“Sudah lumayan lama juga!” sahut Saina sambil tersenyum miring melihat kelakuan Erlan yang berbeda.


“Oh,” sahut Erlan singkat, seraya meninggalkan Saina begitu saja, lalu, pergi ke kamar kerja, di mana ayahnya berada.


“Kamu kenapa, Er?” tanya Saina seraya melihat Erlan dari ujung kepala hingga kakinya.


“Saya baru jatuh, dari motor Tante.”


“Oh,” sahut Saina pendek, seolah biasa atau memang dia tidak perduli. Lalu, pergi ke kamarnya begitu saja.


Wanita itu sudah sangat terbiasa berada di rumah besar itu walaupun, sudah beberapa tahun dia tidak ke sana, tapi, baik pelayan dan para pekerja lainnya sudah sangat kenal padanya, membuat wanita itu seolah berada di rumahnya sendiri. Dia bebas ke sana kemari, bahkan mengganti pakaian yang ada di kamar tamu yang biasa dia tempati.


Sesampainya di tempat Arkan, Erlan duduk di kursi yang menghadap ke meja kerja. Di sana terlihat ayahnya yang masih membaca sebuah dokumen.


“Ada hal penting apa, Ayah?” tanya Erlan langsung pada intinya karena tidak biasanya Arkan—ayahnya, memanggil secara serius ke ruangan itu.


“Apa kau tahu yang terjadi pada Saina?” tanya Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang dia baca.


“Belum.” Erlan menjawab sambil menggelengkan kepala tidak melepaskan tatapannya dari sang ayah.


“Sepertinya dia membutuhkan pertolongan kita,” kata Arkan sambil menyimpan dokumen itu di meja lalu menatap lurus ke arah Erlan.

__ADS_1


“Apa maksud, Ayah?”


Bersambung


__ADS_2