Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
86. Bapak


__ADS_3

Bapak


Winsi melihat raut wajah Waila yang antusias sambil menarik napas panjang lalu, dia berkata sambil melangkah keluar kamarnya.


“Kamu mau tahu?”


Waila mengangguk.


“Kenapa kamu nggak telepon saja dia kalau kamu memang mau tahu dia di rumah atau di mana-mana?”


“Win ...” Kata Nafadi saat Winsi mendekati ke arah pintu di mana dia tengah berdiri di sana.


“Mas, saya pulang dulu, Ibuku sakit. Nanti saya ke sini lagi kalau sudah mulai aktif kuliah.”


Nafadi hanya mengangguk lalu mempersilakan Winsi pulang. Sementara Waila terus merengek minta ikut.


 Winsi sudah terbiasa melepas alas kaki setiap kali hendak masuk rumah, oleh karena itu saat dia masih mengikat sepatutnya dan mendengar rengekan Waila, dia menoleh Nafadi dan berkata.


“Kalau kamu mau ikut, boleh saja tapi, aku Cuma pesan satu tiket. Kalau kamu pesan sekarang, belum tentu bisa bareng. Terus, belum tentu Erlan ada di rumah ... kalo nggak salah, dia masih ujian.  Jadi, kayaknya gak bisa pulang.”


Winsi sudah memesan tiket secara online, sejak dia selesai menerima panggilan. Dia hanya diam selama perjalanan pulang dari restoran menuju ke Rumah Nafadi sedangkan tangannya, sibuk berselancar di internet mencari pesawat menuju ke Jakarta yang bisa membawanya terbang saat itu juga.


 Untung saja dia sudah makan siang, hingga bisa pergi secepatnya.


“Oh, ya sudah, kenapa sih kamu nggak mau ngomong dari tadi?” tanya Waila sambil mendekat ke arah Winsi.


“Aku lagi males ngomong soalnya.” Winsi berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Dasar! Jangan mimpi kalau Erlan suka sama kamu.” Waila berkata sambil berjalan ke kamarnya. Sebenarnya dia cukup lelah karena baru saja pulang dari piknik ke sebuah taman wisata bersama teman-temannya. Ketika sampai di rumah harus dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan, membuatnya semakin kesal.


“Lala!” panggil pria itu pada Waila, itu adalah panggilan kesayangannya. Pria itu berpikir sikap anaknya yang demikian mungkin, karena memang dia sendiri yang selalu memanjakannya.


Saat ibunya masih ada maka, wanita itu yang akan memajakan Waila dan, ketika ibunya sudah tiada satu tahun yang lalu, Nafadi pun berperilaku sama. Akhir-akhir ini dia baru menyadari kesalahannya karena selalu memanjakan anaknya.


Sementara itu, Winsi termenung sejenak memikirkan ucapan Waila padanya. Dia bertanya-tanya dalam hati, benarkah dia boleh bermimpi, jika ada seorang laki-laki yang benar-benar menyukainya? Apa dia memang pantas dinilai demikian rendah oleh seorang wanita, lalu, bagaimana seorang pria kemudian menilainya, jika tahu tentang masa lalunya?

__ADS_1


Dia menoleh pada Nafadi yang tidak bisa berbuat apa-apa.


“Aku pergi dulu, Mas!”


“Maafkan, Waila ya?”


“Gak apa, Mas.”


Winsi pergi ke Bandara seorang diri, karena Waila lebih membutuhkan kehadiran ayahnya dari pada Winsi. Nafadi hanya memesankan taxi dan membayarkan ongkosnya untuk Winsi.


“Ke Bandara ya, Mbak?” tanya sopir taxi saat Winsi sudah duduk di dalamnya. Dengan suara dan logat bahasa daerahnya sangat kental.


“Ya!” Winsi menjawab singkat, lalu dia menoleh ke arah sopir taxi di depannya.


“Cepat, ya Pak. Takut terlambat soalnya.


“Baik, Mbak!”


Winsi sebenarnya kesal dengan sopir itu yang memanggilnya mbak, seolah-olah Dia adalah wanita yang sudah cukup dewasa sehingga pantas dipanggil begitu. Akan tetapi dia memaklumi karena dia, hanyalah seorang penumpang yang hanya sekali lewat.


‘Kenapa, di mana-mana orang selalu mengingatkan aku pada laki-laki itu? Menyebalkan!’ batin Winsi seraya mengembuskan napas kasar.


“Apa kamu mau pulang?” tanya sopir itu di tengah-tengah perjalanan mereka, sedangkan mobil tengah melaju kencang.


Winsi menatap pria yang ada di depannya dan sedang mengemudi itu lekat-lekat. Rasanya aneh apabila seorang sopir mencampuri urusan pribadi penumpangnya, apalagi kali ini laki-laki itu menggunakan kata kamu, yang terkesan akrab bahkan seolah-olah mereka saling mengenal.


“Maaf, Pak! Apa kita pernah kenal sebelumnya?”


Setelah Winsi selesai bicara, pria itu membuka topi bulat yang menutupi kepalanya, seketika Winsi tercengang.


“Bapak?”


Pria itu menatap Winsi dari balik kaca spion, lalu melihat wajah anak perempuan itu memucat bahkan ada genangan air di matanya.


“Alhamdulillah, kamu masih ingat Bapak.”

__ADS_1


Pria itu adalah Basri, dia tidak menyangka akan bertemu dengan anak perempuannya yang pernah dia sia-siakan sebelo di tempat ini. Dia mengingat semua perbuatan buruknya pada perempuan itu.


Setelah perceraian resminya dengan Runa saat itu, dia tidak pernah tenang dan susah tidur. Bahkan, dia tidak berniat mencari istri lain lagi. Semua dikarenakan oleh rasa bersalah yang demikian besar.


Dia terus saja berpikir, bagaimana mungkin seorang yang mengaku beriman seperti dirinya, yang melakukan ibadah sholat dan puasa tapi, selalu saja berbuat buruk pada manusia lainnya?


Jika dia memang tidak mempercaya  Winsi benar-benar anak kandungnya, bukankah dia bisa memberinya kasih sayang sebagai sesama manusia. Bukankan sesama muslim itu ibarat saudara dan satu tubuh, jika sebagian anggota badan sakit, maka seluruh badan akan ikut merasakannya.


Akan tetapi, yang dia lakukan, sangat tidak manusiawi. Itulah yang paling dia sesali. Dia terlalu mudah mengikuti langkah setan yang menggodanya, untuk menghina Winsi, bahkan dia pernah berusaha mencekiknya hanya karena Nira, perempuan yang tidak jelas asalnya.


Basri telah meninggalkan kampung halamannya di Jakarta dan mengikuti ajakan temannya untuk menjadi sopir taxi di Yogyakarta. Dia menjual rumah yang berada di satu kawasan dengan rumah Arkan, dan dulu pernah mereka tempati bersama.


Setelah rumah itu terjual, dia menggunakan uangnya untuk membeli rumah kecil di sana dan menggunakan sisanya, untuk kebutuhan sehari-hari, sebelum dia mendapatkan gaji bulanan.


Seperti itulah keadaan Basri saat ini, menjadi sopir taxi. Mobil truknya yang dulu, usianya sudah tua, sering mogok dan membutuhkan biaya perawatan yang sangat mahal jika, terus menerus dipakai untuk mengangkut barang. Jadi, sekarang truk itu hanya teronggok begitu saja di depan rumah kecilnya yang sekarang.


Basri menghentikan mobilnya dan menepi, di pinggir jalan lalu, dia membalikkan badannya untuk melihat wajah anaknya dari dekat dan pria itu meneteskan air mata.


Winsi pun menangis, air matanya sudah lebih deras mengaliri pipinya. Dia menghapus pipinya kasar dan membalas tatapan pria dewasa itu dengan tajam. Dia juga tidak menyangka jika akan bertemu Bapak yang tidak pernah mengakuinya sebagai anak.


Masih jelas dalam ingatan  gadis itu, semua Basri padanya walaupun, mereka tidak bertemu cukup lama, yaitu sudah lebih dari enam tahun yang lalu, saat terakhir mereka bertemu. Bahkan orang yang dipanggilnya bapak, hampir membunuhnya sebelum dia dan ibunya dipenjara.


“Apa kamu mau pulang?” Tanya pria itu lagi sambil menghapus air matanya.


Winsi mengangguk. Kesedihan masih jelas terbayang di wajahnya.


“Maafkan Bapak, ya Nak?”


“Buat apa minta maaf, Pak? Aku kan Cuma anak haram?”


Deg. Saat itu jantung Basri seolah kehilangan satu detakan.


 


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2