Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
55. Kelulusan


__ADS_3

Kelulusan Winsi


Winsi menoleh dan melihat Meri yang tengah berjalan ke arahnya, sambil tersenyum ramah dan menghampiri sahabat masa SDnya.


“Kamu mau lanjutin sekolah di mana?” Tanya Meri sambil menggamit tangan Winsi. Ini sikap yang aneh dan tiba-tiba, sebab selama ini mereka tidak dekat. Bila bertemu pun tidak saling menyapa dan hanya sekedar senyum saja. Terkadang Winsi yang menyapa terlebih dahulu, tapi Meri hanya menjawab dengan senyum atau berkata seperlunya saja.


Sebagai seorang sahabat Winsi menjaga sopan santunnya dan dia juga menginginkan agar Meri tetap dekat dengannya akan tetapi pergaulan Gadis itu yang menyebabkan dia berubah sehingga tidak menganggap Winsi bukan sebagai sahabatnya lagi.


Sebenarnya tidak masalah sikap acuh Meri, bagi Winsi, selama mereka tidak bermusuhan, tidak bertengkar ataupun adu kekerasan seperti sebelumnya. Masih jelas dalam ingatan mereka saat mereka terakhir kali saling bicara, adalah setika mereka bertengkar untuk membela temannya masing-masing.


Dan sikap Meri kali ini benar-benar berubah, dia mengajak Winsi untuk pergi berdua dan meninggalkan teman lainnya, mereka pergi ke kantin untuk makan bersama kemudian berbicara setelah duduk saling berhadapan.


“Benar kamu mau ikut sama teman kamu yang gendut itu siapa namanya?”


“Nia? Iya, kami mau ke pesantren.”


“Iya, itu dia kan, mau sekolah seperti itu kan harus tinggal di asrama, emangnya kamu kuat, bakal jauh dari orang tua terus, kamu nggak boleh pulang selama satu semester?”


“Memangnya apa masalahnya kalau sekolah di asrama toh aku sudah terbiasa nggak ada Bapak di rumah.”


“Iya, aku tahu, tapi, gimana ibumu?”


“Ibuku nanti yang akan nengok aku ke sekolah. Oh ya, kamu lihat nggak rumah Bapak terakhir kali gimana?”


“Rumah itu sepi, aku nggak pernah lihat siapa-siapa di sana.” Meri berkata sambil mengangkat bahunya.


“Masa, mungkin ada sesekali mobil truk Bapak, berarti dia pulang?”

__ADS_1


“Nggak pernah lihat.”


“Oh ...” Mereka diam sejenak, lalu, Winsi kembali berkata, “ kamu nggak marah lagi, kan, sama aku?” tanya Winsi sambil menaikkan alisnya mengharapkan kesungguhan dari Meri.


“Maaf, aku terpaksa, soalnya teman-teman aku begitu, tapi sekarang kan, udah mau pisah kita, jadi nggak masalah aku ngobrol sama kamu.”


“Kalian mau pisah SMA? Aku kira kalian masih mau lanjut di sini saja.”


“Tidak, kami nggak akan di sini lagi. Eh, Win, kamu tahu nggak Erlan lanjutin kuliah di mana?”


“Di Inggris atau di Amsterdam, katanya. Kenapa, apa kamu mau ikut ke sana?”


“Oh, nggak, lah ... aku pikir malah kamu yang mau ikut,” kata Meri salah tingkah.


“Ih, buat apa jauh-jauh ke sana, sekolah yang bagus di negara kita juga banyak! Tapi, kalau aku mau ikut, Ayah sama Erlan pasti senang.”


“Ayah Erlan, dia aku anggap Ayahku juga, makanya dulu Erlan bilang aku adiknya, karena Ayah bilang aku dianggap anaknya.”


“Oh, jadi ternyata kalian selama ini dekat hanya karena Erlan menganggap kamu adik?”


“Ya.”


Meri mengangguk-angguk, merasa menyesal selama tiga tahun hampir membiarkan rasa benci, menguasai diri karena salah sangka pada Winsi yang dia pikir menyukai Erlan. Dia sedikit penasaran dari dulu, tapi, karena sedah terlanjur berbuat buruk pada sahabatnya itu, membuatnya bingung.


Meri juga tahu bila Erlan selama di SMA, diisukan dekat dengan Hanifa, gadis berjilbab yang cantik dan terkenal aktif sebagai ketua rohis di sekolah. Winsi kalah jauh cantiknya di bandingkan dengan gadis itu. Dia pun berpikir mana mungkin Erlan menganggap Winsi sebagai kekasih? Apalagi prinsipnya selama ini yang tidak akan berpacaran selama masih sekolah. Menyesal memang tak berguna.


Meri pun menanyakan tentang desas-sesuai ini, bahwa si jago bola basket dekat dengan ketua kegiatan Rohani Islam sekolah atau yang sering disingkat Rohis tapi, Winsi justru tidak tahu menahu soal mereka. Ya, soal Erlan dan Hanifa yang sering terlihat bersama dan itu juga membuat Meri cemburu tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Kedua sahabat itu akhirnya kembali bersahabat setelah kelulusan mereka. Sejak saat itu, dua wanita yang kini mulai berubah dan beranjak menjadi remaja yang lebih matang itu sering pergi ke mana pun bersama walaupun, kini jarak rumah keduanya sangat jauh, tapi tidak menjadi halangan kalau hendak jalan-jalan.


Seperti hari ini, saat mereka sedang menikmati es krim di sebuah taman kota, mereka secara tidak sengaja melihat dengan jelas interaksi yang terjadi antara Erlan dan Hanifa. Kedua remaja yang kini beranjak dewasa itu terlihat bersama mengobrol dengan akrab di depan sebuah toko buku, dengan membawa buku bacaan masing-masing.


Winsi dan Meri tidak bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan dengan jarak sejauh ini. Mereka berada di taman, sedang Erlan dan Hanifa berada di seberang jalan. Dua wanita remaja itu hanya saling menduga apa yang tengah terjadi antara sepasang kekasih itu sambil bercanda dan menikmati es krim mereka.


Mereka menebak jika, saat itu Hanifa dan Erlan tengah menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatan Erlan ke negeri seberang menuntut ilmu di negeri orang. Pria remaja itu memilih melanjutkan sekolah ke sana karena kebetulan ada bisnis kakeknya yang sudah maju di dua negara itu dan hal itu pula yang dilakukan ayahnya dulu sehingga dia akan mengikuti jejaknya.


Malam harinya, tanpa di duga, Erlan dan Arkan datang berkunjung, memberi Winsi hadiah kelulusan, berupa semua peralatan sekolah lengkap, beberapa pakaian santai dan sebuah koper besar yang manis untuk digunakan Winsi bila berangkat ke pesantrennya. Kedua pria itu tahu keinginan Winsi setelah menerima kabar dari Runa melalui sebuah pesan singkat.


Arkan dan Runa masih sering berkirim pesan tapi, wanita itu masih saja seperti dulu, menjaga diri dan membalas pesan hanya seperlunya saja. Dia tetap bersikukuh dengan pendiriannya tidak akan menikah untuk yang kedua kali walaupun talak sudah dijatuhkan suaminya.


Arkan sudah menyatakan rasa cintanya yang sempat tertunda karena harus pergi ke luar negeri dan, saat kembali dia sudah menemukan rumah orang tua Runa yang dulu sudah rata dengan tanah.


Dia menawarkan Runa untuk menjadi ibu bagi Erlan beberapa bulan yang lalu, tapi wanita itu tidak menanggapi, dengan alasan dia masih sah secara hukum menjadi istri Basri. Arkan berjanji akan mengurusnya, walau mantan istri Runa itu enggan menandatangani surat cerainya di pengadilan. Akan tetapi Runa tetap menolaknya.


“Kamu benaran, Win, mau sekolah di pesantren?” tanya Erlan saat mereka sudah duduk bersama di antara ayah dan ibu. Kini mereka semua dudduk di kursi kayu ruang tamu rumah sewa Runa yang sempit.


“Ya.” Runa menjawab dengan mantap. Dia ingin tinggal jauh dari semua yang selama ini dia hadapi, ingin pengalaman baru dan juga ilmu yang lebih baik.


“Karena kamu mau ke asrama, makanya Erlan mau ke luar negeri. Kalau kamu sekolah di sini, mungkin Erlan kuliah di sini juga.” Arkan menyahut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Ayah ....” sahut Erlan.


“Eh, kenapa?” tanya Winsi .


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2