Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
159. Aku Kecewa 2


__ADS_3

Aku Kecewa 2


Erlan masuk secara paksa karena selama karantina, pasien tidak boleh ditemui oleh satu pun dari anggota keluarganya setidaknya lebih dari satu bulan. Begitu sampai di tempat Hanifa berada, Erlan langsung menarik lengan Fadli menjauh dari istrinya.


“Apa yang kau lakukan, pada istriku? Hah!” kata Erlan sambil mendorong tubuh Fadli yang hampir sama dengan ukuran tubuhnya itu ke dinding.


“Maaf, Pak!” kata Fadli, sambil memegang tangan Erlan yang mencengkram kerah bajunya dengan kuat.


“Maaf? Enak saja kamu bilang maaf, apa ini maksudmu meminta izin dariku? Hah!” kata Erlan lagi, sambil melayangkan sebuah tinju ke arah Fadli. Seketika pria itu menjadi miring karena menahan sakit dari bogem mentah Erlan di rahangnya. Dia memgang pipinya yang menjadi merah sambil meringis.


“Maaf, Pak!”


“Kamu!”


Erlan hampir kembali melayangkan tinju tapi, beberapa perawat lain mencegah dan memisahkan mereka. Hal kekerasan seperti ini di laranga di mana pun berada.


“Maag, Pak! Kalau Bapak mau berkalahi, silakan keluar dan selesaikan masalah kalian, tapi jangan di sini, Pak!” kata salah satu perawat yang memisahkan dua orang yang bersitegang.


“Apa kalian bekerja seperti ini, dengan para pasien kalian?” tanya Erlan sambil melepaskan diri dan merapikan kembali kemeja putihnya.


Semua pegawai yang ada di sana saling berpandangan dan salah satu di antara mereka menjawab, “Kami semua bekerja secara profesional, dan melakukan metode sesuai kondisi kejiwaan pasien, dan kami tahu jenis pendekatan seperti apa yang sebaiknya diberikan!”


“Oh, begitu. Jadi, kamu sedang melakukan pendekatan sesuai kondisi, gitu, Fadli?” tanya Erlan lagi sambil menyeringai.


“Semua yang bekerja di sini juga interaksi sosial dengan pasien sesuai pilihan metode dan kesepakatan yang ada, dan kami melakukannya secara terbuka. Jadi, jangan kuatir akan terjadi pelanggaran karena semua dalam pengawasan!” lagi-lagi orang yang sama yang bicara.


“Jadi, apa yang dilakukan laki-laki itu juga termasuk prosedur kalian dalam memperlakukan pasien?”


“Cara pendekatan bisa bermacam-macam. Tergantung cara yang di pilih oleh tim juga perawat yang bertanggung jawab sesuai jadwal mereka.”

__ADS_1


Erlan mendengus kasar begitu orang itu selasai bicara, dia melihat ke arah Hanifa yang masih bengong menatap ke arah. Dia pun pergi setelah melihat tidak ada reaksi apa pun pada istrinya.


Saat itu pikiran Hanifa dalam masa peralihan antara bayangan masa lalu dan kenyataan, antara dirinya sebagai anak dan dirinya sebagai manusia dewasa, antara kenal dan tidak kenal dengan Erlan sebagai suaminya.


Saat sudah sampai di mobilnya, Erlan mengusap kasar hidung dengan punggung tangan dan mengacak rambutnya. Setelah itu dia mengirim pesan pada Fadli, berupa pertanyaan.


“Jawab dengan jujur, apa kamu menyukai istriku?”


Lama pesan itu tidak berbalas. Bahkan, sampai dia mulai menjalankan mobil di jalanan, dengan kecepatan tinggi, hingga tiba di rumah sudah larut malam. Dia langsung memasuki kamar begitu tiba di rumah yang sudah dalam keadaan sepi.


Erlan baru saja merebahkan diri hendak memejamkan mata, saat pesannya pada Fadli mendapatkan balasan.


“Maaf, Pak. Saya memang jatuh cinta pada istri Bapak.”


Begitu membaca pesan itu, Erlan membanting handphone-nya ke tempat tidur dan mengepalkan tangannya. Pikirannya melayang ke saat-saat dia dengan terpaksa meninggalkan istrinya, hanya berdua dengan laki-laki itu. Hatinya seolah patah dan dia terluka karena patahan itu.


Dia tidak suka karena harga dirinya sebagai suami yang sah terjatuh. Dia menikahi wanita itu karena ingin menjaga diri dari perbuatan dosa tapi, sekuat apa pun dia menghindari, dosa itu tetap dilakukan dengan sadar. Dia kecewa pada dirinya sendiri. Bukankah ini sia-sia?


Berulang kali Erlan mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan, sambil beristighfar.


Sebelum dia tertidur, dia membuka sebuah aplikasi yang menjual tiket pesawat secara online.


*****


Erlan berdiri di sebuah bangunan berbentuk ruko dengan model gaya baru yang cukup bagus, semua rolingnya.door-nya masih tertutup, sedangkan jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Memang masih tergolong pagi untuk membuka toko oleh-oleh dan juga kafe.


Pria itu datang ke rumah Winsi yang cukup besar kalau hanya dihuni oleh seorang wanita. Dia terbang dengan menggunakan pesawat pertama hari ini.


Dia datang dengan memakai mobil Nafadi seperti biasa jika dia berkunjung ke Yogyakarta. Lalu, dengan sabar menunggu sampai toko itu dibuka, sebab menurut Nafadi, biasanya Winsi akan mebukanya jam segitu. Namun, kalau anak-anak ada kuliah, maka toko akan tutup sampai sore harinya. Kecuali, akhir pekan, toko itu akan buka seharian dan lebih ramai karena ada tambahan kafe di halamannya yang luas itu.

__ADS_1


“Awas kau gadis pembolos! Sudah berapa hari nggak kuliah? Ah! Yang bener aja!” kata Erlan dengan dirinya sendiri.


Erlan sebentar-sebentar menoleh ke samping melihat pada jendela kamar yang terbuka, menandakan si pemilik sudah bangun dan melakukan aktivitas di sana. Dia memainkan kunci mobil, sambil menyandarkan punggung di samping mobil sport yang berbeda dari yang dulu pernah di pakainya.


Rasa rindu sebenarnya sudah berada di ujung tanduk dan sudah semalaman dia menanti, saat-saat pertemuannya dengan Winsi, sampai tidak bisa tidur. Dia sengaja memberi kejutan sekaligus sebagai pengalihan perasaan kecewanya saat ini.


Pria itu tidak memakai pakaian celana maxi cheom atau pakaian formil lain seperti biasanya. Kali ini dia memakai celana jeans biru gelap dengan sweater turlenk dengan warna yang sama. Dia terlihat gusar sambil menyisir rambutnya yang mulai gondrong dengan jari tangan.


Tiba-tiba rolling door di depannya terbuka dan Winsi yang mendorong pintu besi itu pun seketika menghentikan kegiatannya. Dia diam beristri terpaku melihat Erlan, dengan mata yang berkaca-kaca.


Apa dia akan mempertahankan gengsinya atau melebur rasa egois itu dan berlari ke arah pria itu lalu memeluknya.


Bohong kalau dia tidak senang dan tidak rindu.


“Ah ...! Kenapa lama sekali sih, bukanya!” kata Erlan sambil melangkah tegap ke arah wanita yang masih berdiri dengan kaku.


“Sudah, tutup lagi aja, ya?” kata Erlan kini sudah berada tepat di hadapan Winsi dan mengelurkan tangan, guna menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.


Dia terus memeluk lebih erat dan erat lagi seolah ingin menyatukan tubuh mereka. Lalu membenamkan wajahnya di lekukan leher istrinya yang tertutup kerudung, menghirup aroma tubuh Winsi yang menyebarkan wangi sabun mandi.


Winsi tidak berkutik, karena begitu terkejutnya hingga dia tidak merespon, dia benar-benar tidak menduga jika pria ini akan meninggalkan Hanifa demi dirinya.


“Mana kamarmu?” tanya Erlan setelah puas memeluk tubuh wanita yang sama sekali tidak bergerak.


Winsi tidak menjawab, dia justru mendongak dan menatap Erlan dalam-dalam.


CK!


Dia berdecak. Tatapan saling mengunci, lalu, Erlan menunduk untuk menghujani wajah yang dirindukan itu dengan ciuman hangat.

__ADS_1


“Wiwin! Siapa dia?”


Bersambung


__ADS_2