
Kecemburuan 1
Akal dan otak manusia adalah anugerah yang luar biasa bagi manusia, dari Allah sebagai bekal kehidupannya. Dengan otak dan akalnya manusia bisa tahu mana yang baik dan buruk untuk dirinya. Namun, apabila di tengah jalan hidup manusia tidak bisa menggunakan akal dan otak untuk hal yang bermanfaat maka segala akibatnya akan ditanggung oleh manusia itu sendiri.
Ada banyak manusia seakan tak berotak karena perbuatannya terkadang diluar nalar atau kejam melebihi yang biasa dilakukan binatang. Terkadang banyak pula manusia yang menggunakan akal dan otaknya untuk sesuatu yang tidak benar seperti menipu atau merugikan orang lain.
Namun, bagaimana dengan manusia yang kehilangan akal sehatnya karena sebuah ketidaksengajaan? Seperti Hanifa misalnya, dia kehilangan akal sehat karena musibah yang terjadi secara tidak sengaja, kalau saja saat dia terjatuh tidak ada benda tajam yang mengenai kepalanya, mungkin otaknya tidak akan terganggu.
Dia tidak gila, hanya trauma dan sedikit terganggu kesadarannya. Gila hanyalah istilah untuk orang yang sakit pada bagian syaraf di otaknya.
Di sanalah Erlan kini berada, melihat Hanifa kembali pada kondisinya yang seolah dirinya anak kecil yang tak berdosa. Dia asyik bermain di kamarnya, ditemani seorang perawat pria yang tengah menyuapi gadis itu penuh kasih sayang.
Hanifa dan Fadli, nama perawat itu, duduk berdampingan. Seperti layaknya seorang ayah dan anak, Hanifa begitu menempel padanya. Berulang kali Erlan berusaha mengalihkannya, tapi gadis itu justru menangis keras sambil memukul Erlan secara membabi-buta.
“Sejak kapan kamu ada di sini?” tanya Erlan pada laki-laki itu. Dia memiliki berperawakan bagus dan berkulit putih, cukup manis dan ramah, dialah yang lagi-lagi menggantikan perawat senior wanita kepercayaan Erlan.
“Dari tadi subuh, Pak. Bu Ani sekarang terpaksa harus merawat ibunya, jadi dia mempercayakan Hanifa pada saya. Katanya dia sudah menghubungi Pak Erlan!” kata Perawat pria itu.
Bu Ani adalah nama perawat yang sudah terlebih dahulu merawat Hanifa. Wajar kalau Erlan menyalahkan wanita yang tidak konsekuen dengan perjanjian sudah disepakati dan akan merawat Hanifa sampai dia pulih. Namun, mengingat keadaan ibu perempuan itu, Erlan memakluminya. Dia hanya tidak setuju jika Hanifa di rawat seorang pria.
“Kamu sudah biasa merawat orang seperti ini?” tanya Erlan lagi, ada rasa sesal karena dia tidak segera mengangkat ponsel saat ada panggilan dari perawatnya.
Fadli mengangguk mantap. Dia memang terlihat profesional. Kini Hanifa tampak menurut saat pria itu memintanya untuk tidur siang.
Kini dua lelaki itu duduk sambil bercakap-cakap di ruang sebelah tempat tidur Hanifa.
“Kenapa dia bisa begini lagi? Kemarin dia sudah normal, kok!”
__ADS_1
“Saya tidak tahu, Pak. Kemungkinan biasa seperti sebelumnya, karena kaget atau dia jatuh lagi.”
“Terus, kenapa bisa manggil kamu Ayah? Biasanya Cuma sama aku dia manggil begitu?”
“Saya juga tidak tahu, Pak. Waktu saya datang, Bu Ani masih panik jadi tidak cerita sama saya, terus Bu Ani Cuma bilang kalau Ayahnya sudah datang, ya Hanifa langsung tenang.”
Erlan kini terdiam. Dia meninggalkan kekasih yang baru saja dia nikahi dan datang ke rumah ini hanya untuk melihat Hanifa di pelukan laki-laki lain, membuatnya ingin segera kembali pada Winsi dan memeluknya lagi. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun atas kejadian ini kecuali dirinya sendiri.
“Aku minta, kamu tidak usah peluk-peluk dia lagi!” kata Erlan seraya meraup wajahnya kasar.
“Baik, Pak! Tapi, kenapa Bapak tidak tinggal di sini saja? Kan, Hanifa istri Pak Erlan?”
“Itu, urusanku! Lagi pula aku sudah membayar kalian!”
“Maaf.”
Akan tetapi, bila dia tetap berada di sana, maka semua pekerjaan dan juga urusannya akan lebih merepotkan, termasuk urusan Winsi. Dia tidak ingin istrinya itu tahu dan dia tidak akan melibatkan wanita itu dalam urusan yang menguras otak serta tenaganya itu. Tidak.
Mengingat perjalanan hidup Winsi, hingga Erlan tidak ingin jika istrinya kembali trauma atau bahkan menyakiti hatinya, karena pada kenyataannya dia telah menduakan cinta tanpa sepengetahuan keluarga, kecuali Ayahnya yang sudah tbesar. Namun, melihat peristiwa pada Hanifa siang ini, hatinya benar-benar dilanda kebimbangan.
Sementara itu, di rumah besar, Winsi memberanikan diri memasuki kamar Erlan yang tidak terkunci. Pria itu pergi terburu-buru tadi, seperti ada sesuatu yang mendesak padahal dia bilang kalau dirinya libur dan tidak akan bekerja. Lalu, urusan apa yang sedang dilakukan pria itu di luar sana?” demikian pikiran Winsi terus menggelar berbagai pertbekerj. Namun, sebanyak apa pun pertanyaannya tidak akan terjawab kecuali dia menghubungi suaminya itu.
Dia begitu dekat dengan Erlan selama ini, tapi, ternyata masih banyak yang belum dia ketahui tentang pria itu, selain anak ayahnya yang dulu pernah kuliah di luar negeri dan telah memaksakan diri menikahinya di usia muda hanya karena tidak ingin dirinya pergi.
Winsi memasuki kamar itu sambil mengedarkan pandangannya, menghirup aroma khas dari parfum yang dikenakannya dan memenuhi ruangan. Ini aroma yang berbeda dengan kamar ayah dulu. Gadis itu menyentuh dan meraba semua perabotan yang ada di sana dan mulai menikmati perannya sebagai seorang istri.
Siapa yang sudah mengatur isi ruangan itu, apa pria itu sendiri, apanya yang menarik di sini, apa yang menawan dari laki-laki itu? Pikirnya di kepala, beberapa pertanyaan yang mengusik jiwanya. Sampai-sampai begitu inginnya dia melihat sisi lain dari seorang Erlan yang selama ini dia penasaran. Rasa yang tidak pernah muncul sebelumnya selain rasa acuh tak acuh.
__ADS_1
Dia tidak menyangka akan menikah semuda in bahkan dia masih kuliah. Sungguh dia tidak menduga perjalanan hidupnya berpasangan dengan pria yang sama sekali tidak diharapkannya untuk menjadi pendamping hidup sampai tutup usia.
Winsi melihat jendela kamar yang masih tertutup hingga dia melangkahkan kakinya ke sana untuk membuka. Mungkin para asisten rumah tangga mereka merasa sungkan untuk masuk ke kamar, yang direncanakan akan menjadi tempat mereka melakukan malam pertama.
Setelah puas melihat-lihat isi kamar, yang masih rapi dengan seprei yang merah jambu dan taburan bunga di tengahnya, lalu, Winsi melangkah ke arah pintu, tapi, sebelum keluar, dia melihat beberapa buku yang tersusun rapi di atas rak kecil di dekat tempat tidur, mungkin itu adalah buku-buku yang belum selesai di baca oleh suaminya.
Ada satu buku yang mengusik hatinya yaitu yang menjabarkan tentang penyakit kejiwaan, ada juga buku mengenai syaraf pada otak manusia serta beberapa kerusakan padanya.
“Memangnya, siapa yang gila, Sih? Ini kan, nggak ada hubungannya sama bisnis atau saham perusahaan, kok dia aneh, baca buku tentang orang gila segala, buat apa?” Winsi berkata sendiri dengan lirih dan pastinya tidak ada yang mendengar.
Tiba-tiba Winsi mendapatkan panggilan dari telepon, dia mengangkat ponsel sambil keluar dari kamar dan menutup pintunya. Mery yang menghubunginya.
“Halo, Mer? Apa kabar?” sapa Winsi setelah telepon genggam menempel di telinga.
Di seberang telepon, terdengar suara Mery berkata, “Aki baik, tapi ada kabar yang heboh, Win!”
“Apa itu?”
“Kamu ingat nggak sama Hanifa, teman sekolah Erlan yang jadi ketua Rohis SMA?”
“Emm... Oh, dia? Ya, aku ingat!”
“Sekarang, katanya dia gila!”
“Masa? Kok, bisa?”
Bersambung
__ADS_1