Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
18. Saat Dia Pulang


__ADS_3

Saat Dia Pulang


“Winsi ... percaya pada Ibumu ini, kalau kamu adalah anak Bapakmu.” Runa berkata sambil mendudukkan badannya dari berbaring lalu, menatap anak gadisnya dengan serius.


‘Tapi, aku mau pria lain yang jadi Ayahku’


“Jadi kamu tidak perlu mencari tahu laki-laki yang bernama Anas!” Kata Runa sambil merebahkan badannya kembali.


“Aku tahu orang yang namanya Anas. Dia tukang kebun Erlan, kan?”


“Siapa Erlan?”


“Anak om-om yang suka borong nasi uduk Ibu.”


Ucapan Winsi, membuat Runa tertegun. Bagaimana dia bisa lupa soal anak itu? Dia pertama bertemu seorang anak lelaki yang lucu bernama Erlan, sekitar sepuluh tahun yang lalu.


Saat itu dia melihatnya belajar naik sepeda barsama seorang pengasuhnya. Dia tidak tahu bahwa anak itu adalah putra dari Arkan, tetapi yang dia lihat adalah kemiripan di antara mereka. Melihat wajahnya bagai melihat potret Arkan saat dia masih remaja.


Siapa bisa mencegah berlalunya waktu tanpa bisa mengejarnya, begitu tersadar maka jarak yang tercipta antara waktu dan manusia ternyata terpaut sangat jauh. Waktu terus melangkah walau langkahnya satu-satu, tapi tidak pernah berhenti hanya untuk menunggu manusia yang sering merasa kelelahan dan letih berjalan.


Begitulah Runa saat ini seperti berhenti dalam kisaran waktu yang telah membawanya jauh ke belakang, hingga dia kemudian tersadar bahwa, apa yang terjadi di hadapannya merupakan jalan takdir lainnya. Selama yang dia tahu, bahwa rumah besar diujung jalan sudah lama kosong. Setahun kemudian direnovasi besar-besaran, menjadi lebih indah dan megah, semua orang di sekitar tempat tinggalnya pun terkagum-kagum.


Runa tidak menyangka bahwa Arkan adalah salah satu penghuni rumah itu, atau bahkan dialah pemiliknya. Dia sering mandar-mandir melalui jalan di sana, tapi belum pernah melihat ibu Erlan, atau pun wanita penghuninya, selain para asisten mereka. Sejarang-jarangnya mereka bertemu dan bergaul sebagai tetangga, dia tahu kalau anak itu tidak memiliki seorang ibu. Terbukti selama ini dia tidak pernah melihat Erlan bersama wanita yang, terlihat pantas berstatus istri seorang Arkan.

__ADS_1


‘Jadi, ke mana ibunya Erlan, apa mereka bercerai atau mereka dipisahkan oleh kematian?’ batin Runa. Dia memang sering bertemu dengan Arkan akhir-akhir ini, tapi dia tidak merasa berhak untuk bertanya tentang kehidupan pribadinya. Hubungan mereka hanyalah sebagai penjual dan pembeli saja.


“Sudah, sudah, tidak usah memikirkan soal Anas, ibu juga nggak tahu siapa orang itu. Kalau saja bisa bertemu, ingin sekali Ibu mengucapkan terima kasih padanya.”


“Jadi, bukan Anas tukang kebun Erlan?”


“Kamu ini ngomong apa, sih? Orang yang namanya Anas bukan Cuma satu.”


Obrolan antara ibu dan anak berakhir begitu saja, meskipun masih banyak rasa penasaran di benak Winsi Nasriya, tapi ibunya tetap tidak mau menjelaskannya. Ah, dan alasannya pun sederhana, sudah malam dan dia harus tidur agar tidak kesiangan.


Ketika malam semakin larut, Runa sudah memasuki dunia mimpinya ketika dia merasakan tubuhnya melayang, seperti terbang diudara. Dia mencoba membuka matanya sedikit demi sedikit hingga dia benar-benar bisa terbangun dan menyadari bahwa dirinya kini berada dalam gendongan suaminya.


“Mau dibawa ke mana aku, Pak. Aku nggak mau tidur sama kamu!” kata Runa sambil meronta, agar terlepas dari dekapan tubuh suaminya.


Setelah itu dia melepaskan pakaiannya satu persatu sambil berkata, “aku suamimu, apa kamu mau dilaknat malaikat karena menolakku?”


“Aku masih marah padamu. Awas!” Runa berusaha bangkit, dengan mendorong Basri yang ada di atasnya, tapi Basri menahan dengan mengungkung Runa dibawah kendalinya sambil menciumi lehernya.


Runa tidak bisa menolak, biar bagaimanapun melayani suami adalah kewajibannya dan dia sebenarnya takut akan laknat Allah pada seorang istri yang tidak menaati suaminya. Dia kesal dan tidak bernafsu, sehingga melayani suaminya dengan diam bagai seonggok kayu. Pasrah dalam gairah malam yang justru membuatnya enggan ikut larut dalam desahannya. Tiba-tiba saja bayangan wanita muda itu muncul, bermain-main dalam otaknya, membuatnya jijik.


Runa menahan mual selama melayani, sampai Basri selesai dan merebahkan dirinya di samping karena kelelahan. Tanpa permisi, wanita itu langsung berlari ke kamar mandi dan muntah. Semu gara-gara bayangan wanita muda yang bisa jadi selingkuhan suaminya. Akan tetapi dia heran, setiap kali ada di rumah, pria itu terus menggaulinya penuh kerinduan.


‘Bukankah bila pria punya wanita lain dia tidak bernafsu lagi pada istrinya di rumah?’ batin Runa sambil membenahi pakaiannya lalu, dia kembali tidur dengan anaknya.

__ADS_1


Dia tahu kehidupan sopir yang terkenal liar karena sebagian besar waktunya dihabiskan di jalanan. Oleh karena itu setiap kali berhubungan dengan suaminya, dia merasa was-was, dengan dugaannya sendiri tentang penyakit menular yang menakutkan. Oleh karena itu, dia sering memeriksakan diri ke rumah sakit secara rutin setiap tahunnya dan, dia bersih. Tidak ada virus dari penyakit mematikan dalam darahnya, menandakan Basri juga bersih.


‘Apa itu artinya dia nggak ngelakuin pergaulan bebas atau dia memakai pengaman? Astagfirullah. Aku malah suuzon pada suamiku sendiri, tapi yang aku lihat beberapa hari yang lalu, sangat menjijikkan!’ gumamnya dalam hati.


*****


Pagi yang sangat cerah, matahari bagai tersenyum melewati jalannya sendiri untuk, mengitari bumi. Benda itu terlihat begitu cantik di pagi dan sore hari, bahkan banyak manusia merindukan saat-saat di mana ia muncul dan tenggelam. Sinar dan bias timbul sangat menghanyutkan, seolah mistis cakrawala dan menghisap kesyahduan melenakan mata. Anehnya tidak ada yang melihatnya ketika ia benar-benar bertakhta pada singgasana di tengah-tengah langit dan menunjukkan kehebatan cahaya panasnya.


Winsi berangkat ke sekolah karena hari ini pembagian ijazah dan merupakan hari terakhirnya ke sana. Dia sudah berpakaian rapi dan menjabat tangan ibu dan bapaknya yang baru saja memulai sarapan.


Setelah sholat subuh tadi Runa dan Winsi sibuk di dapur membuat sarapan dan makanan ringan. Kebiasaan mereka saat ada Basri di rumah dan mereka tidak menjual makanan. Sementara laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga, memutuskan tidur lagi setelah menunaikan kewajiban pada penciptanya. Dia bangun ketika Winsi hendak berangkat dan langsung menikmati makanannya.


Runa begitu bersyukur bahwa suaminya tidak pernah meninggalkan kewajiban itu walaupun dia punya perangai yang buruk. Dia begitu percaya pada Basri sebenarnya laki-laki yang baik dan tidak akan mengkhianati cintanya. Akan tetapi saat dia melihat suaminya bersama dengan wanita muda itu, hatinya seperti dicabik-cabik. Kepercayaan ternoda dan, gejolak fitrah sebagai seorang istri pun sirna begitu saja.


‘Apakah seperti ini semua perasaan wanita yang diselingkuhi suami mereka?’ batin Runa saat mengambilkan beberapa makanan di piring untuk suaminya.


“Kenapa ... kenapa kamu diam saja?” tanya Basri dengan suara serak dan pelan. Dia terkadang berubah begitu ramah dan manis bila, Winsi tidak ada di antara mereka. Runa tidak menjawab pertanyaan itu, tapi justru pergi untuk, melakukan pekerjaan lainnya.


Tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi dan dia menghentikan menikmati makanan untuk mengangkat telepon genggam dari saku bajunya.


“Halo.”


Bersambung

__ADS_1


“Jangan lupa like, komen, fav, give atau vote. Terima kasih atas dukungannya.


__ADS_2