Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
126. Dalam Kekalutan


__ADS_3

Dalam Kekalutan Dan Pernikahan


Dalam keterpurukan, Erlan pun merasa tak berdaya, lalu, dengan perlahan dia melepaskan pelukan Hanifah, memintanya untuk duduk tenang di tempat tidur. Dia berniat untuk berserah pada Allah akan semua yang telah dia alami hari ini. Pria itu mengambil air wudhu dan salat dengan begitu khusyuk, di akhir salat dia memohon dengan penuh harapan pada sang pemegang Kekuasaan tertinggi, tentang keputusan yang akan diambil sepenuhnya. Dia hanya bisa berserah jika dengan keputusannya itu maka, tidak menjadikan berbagai pihak mereka dirugikan.


Setelah selesai, Erlan kembali mendekati Hanifah yang masih menatapnya dengan wajah tanpa dosa, dia meraih tangan Hanifa dan menepuknya dengan perlahan.


Erlan tersenyum sambil berkata, “Hanifa, aku senang kamu sadar, kamu kenal siapa dirimu sendiri dan siapa aku. Tetaplah seperti ini, jangan lagi menyusahkanku, aku sedih kamu seperti dulu, kamu koma selama setahun, dan sekarang kamu nggak ingat siapa aku dan itu juga sudah lebih dari setahun!”


Hanifa masih tersenyum menatap Erlan, tanpa menjawab sedikit pun perkataannya.


“Jadi, sembuh, ya ... jangan sakiti dirimu sendiri! Jangan sakiti kita, kita tidak bisa dikatakan suami istri yang sempurna karena selama ini hanya aku yang memberikan hak untuk kesehatanmu!”


Hanifa kembali mengangguk.


“Kalau kamu sehat, kita bisa berjalan beriringan dan bersama dalam kesenangan dan juga ujian hidup, jadi, bukan Cuma aku. Aku capek kalau kamu terus seperti ini!”


Setelah berkata demikian, Erlan meminta perawat untuk meninggalkan dirinya dan Hanifa di kamar, lalu dia mengajak gadis itu untuk tidur, untuk mengistirahatkan diri. Dia baru sampai di rumah tadi lalu, melanjutkan pekerjaannya, dan sekarang harus berhadapan dengan orang yang sakit jiwa.


Dia merebahkan tubuhnya di samping Hanifa yang sudah memejamkan mata dalam pelukan Erlan. Pria itu mencium pucuk kepala Hanifa yang tidak pernah berambut lebat sejak kepalanya dioperasi dengan jumlah jahitan yang cukup banyak. Rambutnya sering rontok dan berwarna kemerahan, bahkan bekas jahitan di kepalanya pun masih terlihat.


Sampai larut malam, pria itu tidak bisa tidur dia terus memikirkan keputusan yang diambilnya, apakah salah? Apakah dia mampu menjalaninya kelak?


“Ya Allah, bantu aku mengambil keputusan dan jangan biarkan aku salah dalam menjalani keputusan yang sudah kubuat.” Erlan bergumam sambil terpejam.


*****


Runa memilih gaun pengantin bermodel kebaya berwarna putih dengan model terbaru untuk Winsi, beberapa hari sebelum hari pernikahan anaknya itu tiba. Dia ingin anaknya tampil cantik walaupun, pernikahan mereka hanya akan diadakan secara sederhana. Mengingat prinsip setiap wanita adalah, bahwa menikah itu idealnya hanya sekali seumur hidup.


Akad nikah pun akan Erlan lakukan di kantor sipil urusan agama setempat. Di depan penghulu dan petugas pencatat nikah secara langsung dan tidak mengundang mereka ke pesta pernikahannya. Sebenarnya hal itu membuat Winsi dan Runa sedikit heran, tapi, mereka bisa mengerti dengan alasan yang dikemukakan oleh laki-laki itu.


Erlan mengatakan bahwa, tidak baik jika menggelar pesta meriah, mengingat mereka baru saja dilanda duka atas kematian ayahnya. Apalagi Winsi masih kuliah, jadi, akan lebih baik kalau teman-temannya di kampus, tidak mengetahui statusnya yang sebenarnya.


Sementara Winsi seorang wanita yang masih sangat muda dan, minim pengalaman dalam hal pernikahan hingga dia menyerahkan semua urusan soal pakaian dan pesta, kepada ibunya dan juga Nena, pelayan yang sudah terbiasa mengurus hal demikian di rumah besar itu.


Pada saat yang bersamaan, Erlan tidak melupakan Basri yang akan menjadi wali nikah anak perempuan satu-satunya. Ini sudah menjadi ketentuan dan juga jauh lebih baik, jika seorang anak gadis dinikahkan langsung oleh ayah kandungnya.

__ADS_1


Pria itu bersyukur karena anaknya sudah menemukan jodohnya sendiri, seorang lelaki seperti Erlan, yang memiliki sifat baik sejak masih kecil.


Saat Basri datang, dia membawa seorang wanita berusia sekitar 45 tahun, yang lebih tua dari Runa. Wanita itu diperkenalkan sebagai istrinya, seorang janda beranak satu yang senang diajak ke Jakarta dan naik pesawat atas biaya dari Erlan seluruhnya.


“Alhamdulillah akhirnya kamu nikah juga, Nak!” kata Basri saat datang ke kantor KUA, dia sudah tahu tempat itu karena dulu Basri pernah tinggal dan menjadi penduduk asli di sana.


“Iya, Pak. Alhamdulillah Bapak juga akhirnya punya teman di rumah,” sahut Winsi datar, perasaannya biasa saja.


“Ya. Ini juga berkat kamu, Nak. Karena semua yang kamu katakan dulu, benar, Bapak nggak bisa tinggal sendiri. Terima kasih, ya, kamu sudah mau menerima Bapak kembali, walaupun, Bapak punya banyak salah!”


“Semua manusia punya salah, Pak, tapi, yang penting itu kita nggak mengulangi lagi kesalahan yang sama pada orang yang sama. Itu artinya nggak takut dosa!”


“Iya, maafkan Bapak, Nak.”


Obrolan antara Bapak dan anak itu tidak berlangsung lama karena akad nikah akan segera di laksanakan.


Di sinilah mereka sekarang berada, Baik Erlan, Winsi, Runa, Basri dan istrinya, serta Hasnu dan Neni, juga paman pertama, menghadiri acara akad nikah, dengan pakaian terbaik mereka.


Di kantor KUA itulah, Erlan mengucapkan akan nikah dengan lancar tanpa kesalahan, karena dia secara tidak langsung sering mengulang-ulang pelafalan ucapan akad itu sejak lama. Pria itu memberi Winsi sebuah mas kawin berupa jam tangan yang terbuat dari emas dan sebuah anting-anting mutiara yang dia pesan saat berada di Amsterdam, dia memesan dua benda ini sejak lama, sejak dia sudah mulai bertekad akan menikahnya suatu saat nanti.


“Terserah!” jawab Winsi sekenanya karena dia memang tidak memikirkan apa pun soal pernikahannya.


“Ya, sudah. Kalau gitu, apa saja mau, ya, yang penting kan, sah!”


“Ya, ya, apa saja!” sahut gadis itu lagi. Jadi, saat Erlan menyebutkan nama mas kawin itu, Winsi begitu tercengang.


Sebuah jam tangan bukan hanya untuk keindahan dan juga bisa bernilai uang, tapi, juga sebagai pengingat waktu, yang berharga mengingat Winsi adalah wanita yang berharga pula.


Winsi ikut hadir dan menandatangani surat dan akta nikahnya, langsung saat itu juga dengan senang hati, padahal, sepekan yang lalu, dia masih menyesali jawaban dari pertanyaan Erlan yang tidak sengaja dia kirimkan.


Dia tidak benar-benar ingin menikah dengan pria itu, karena dia masih belum yakin pada pilihannya, dia masih ingin sendiri dan mengejar cita-cita! Apalagi dia tidak tahu apakah dia benar-benar menjadi orang terbaik bagi Erlan dan sebaliknya, apakah laki-laki itu adalah orang yang tepat untuk menjadi suaminya.


Winsi mendengar Erlan melafalkan namanya dalam akad, membuat debaran jantung yang dulu selalu hadir saat pria itu memanggilnya, kembali berdetak keras, seolah mengingatkan jika pria itulah yang selalu mendampinginya selama ini. Dia menunduk tapi, lirikan matanya tertuju pada wajah suaminya itu.


Saat Erlan menyerahkan mas kawin itu pada Winsi, gadis itu menerimanya dengan tangan gemetar dan air mata yang berlinang, mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam. Tali silaturahmi antara Arkan bersambung melalui mereka berdua. Gadis itu memberanikan diri menatapnya dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


“Itu buat kamu, jadi, nggak perlu berterima kasih,” kata Erlan singkat, dengan senyum mengembang penuh kebahagiaan, sambil mencium kening Winsi dan gadis itu mencium punggung tangannya. Gayanya yang santai dan tenang tidak sedikit pun memperlihatkan jika ada sesuatu yang dia sembunyikan.


Setelah semua proses pengesahan hubungan selesai, Runa dan Winsi berpelukan erat dalam tangis, sebuah tangis kebahagiaan dan rasa syukur, sudah menjalani separuh dari agama mereka.


Pernikahan adalah menjalankan separuh agama, dengan demikian baik Erlan dan Winsi, sudah melaksanakan separuh agama dan separuhnya lagi adalah ibadah yang harus mereka lalui dalam menjalankan perkawinan tersebut.


Suasana haru dan saling mengucapkan selamat pun berakhir, mereka kembali ke rumah dengan kendaraannya masing-masing untuk melaksanakan pesta sederhana sebagai bentuk rasa syukur. Beberapa kerabat dan saudara dari pihak Erlan banyak yang hadir, begitu juga tetangga dan teman-teman Erlan di masa sekolah.


Meri, teman sekolah Winsi di masa kecil pun hadir, dia tidak menyangka jika akhirnya Sahabat masa kecilnya itu akan berjodoh dengan Erlan. Meskipun demikian, dia tidak mempermasalahkan semua karena dia sendiri sudah memiliki calon suami.


Saat mereka tengah berbincang-bincang sambil menikmati hidangan pesta, Erlan mendapatkan panggilan telepon dari seseorang dan dia pun meminta izin pada Mery dan juga istrinya untuk menerima panggilan itu.


“Win, kenapa Erlan pergi kalau Cuma mau nelepon, sih?” kata Meri, gadis itu kini tampil cantik dengan menggunakan hijab, sama seperti Winsi.


“Yah, mana aku tahu, kenal juga baru kemaren, waktu dia ngelamar!” jawab Winsi dengan bercanda.


“Dih, kamu Win, kenal dari orok juga bilang baru kemaren!”


“Maksudku, aku kenal dia jadi seorang laki-laki dewasa, kalo dulu sampai dia ngelamar aku, dia itu selalu jadi anak-anak di otakku!”


“Masa? Padahal, kan, kamu tinggal lama serumah sama dia?”


“Emang, tapi bagiku dia masih anak kecil, yang sombongnya setengah hidup, terus suka manggil aku Buluk?”


“Nah, tapi mau aja kamu di kawin sama tuh lakik!”


“Hus, nikah, bukan kawin ....”


“Sama aja kali, eh, pesenku, ya, hati-hati kalo laki-laki terima telepon tapi menghindar dari kamu, artinya dia punya sebuah rahasia yang nggak pengin kamu tahu?”


“Iya, kah?” Winsi menjawab sambil menoleh pada Erlan yang berada jauh di sudut halaman saat berbicara dengan telepon genggam di telinga.


“Ya, sudah. Tunggu, ya! Aku mau ke sana, mau dengerin dia ngomong apa!”


Setelah itu, Winsi berlalu dari hadapan Mery dan mendekati Erlan sambil berjingkat mengangkat rok putihnya dengan hati-hati.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2