Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
57. Hanifa


__ADS_3

Hanifa Dia Gadis Yang Cantik


Winsi tidak menggubris kata-kata ibunya dia terus saja memukuli laki-laki itu sementara Arkan membiarkannya.


“Ampun Tuan Putri ...” Kata laki-laki itu, sambil berlutut sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Penampilan yang kumuh dan acak-acakan membuat Runa mengangguk, mengerti bahwa orang yang dia ajak bicara hanyalah orang gila yang numpang berteduh atau tidur di samping rumah lamanya.


“Ayo!” Ajak Arkan setelah keadaan tenang, dia melangkah lebih dulu mendahului Winsi dan Runa menuju ke mobilnya. Akan tetapi seseorang menghampiri mereka lalu, dia tersenyum dengan ramah dan mengangguk sopan.


Runa mengenalinya sebagai tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumahnya, dia kemudian menanyakan bagaimana keadaan rumah itu dan siapa yang tinggal di sana. Wanita itu tidak melihat tanda bahwa rumah itu ditinggali. Basri masih ada di sana atau tidak pun dia tidak tahu. Tetangga itu kemudian menjelaskan bahwa rumah itu sudah lama kosong bahkan ada kejadian yang membuat Runa serta Winsi tidak percaya.


Akan tetapi apa yang didengarnya kemungkinan adalah buah dari perbuatan Nira. Secara jelas tetangganya Itu menjelaskan bahwa, beberapa bulan yang lalu terlihat beberapa orang menggerebek rumah Basri. Para qarga mendapati Nira sedang bersama seorang lelaki yang tidak dikenal oleh mereka sehingga dia pun diadili dan dinikahkan saat itu juga. Saat ini Mira pun pergi bersama laki-laki yang sudah dinikahan secara paksa saat itu juga.


Sementara soal Basri, tetangganya itu tidak tahu di mana laki-laki itu berada. Terakhir mereka bertemu pria itu mengatakan bahwa tidak akan lagi menempati rumah yang sudah pernah digunakan untuk berzina karena kemungkinan dosanya masih ada di sana. Bahkan akibat dari perbuatan keji itu, merugikan 40 warga baik di depan di belakang maupun di sampingnya.


Setelah mendengar semua penjelasan dan mengetahui keadaan yang sebenarnya mereka pun kembali pulang.


“Tenang saja, aku akan mencarinya.” Arkan berkata mencoba menenangkan Runa, saat itu mereka telah berada dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.


“Ayah mau mencarinya di mana?” tanya Winsi.


“Ya di mana saja namanya mencari.” Arkan berkata optimistis.


Sementara Runa berpikir hal itu mustahil dilakukan karena Basri selalu berpindah-pindah tempat. Sebagai sopir, yang bisa diibaratkan orang yang tidak pernah berada dalam satu lokasi pada satu waktu, dia akan pergi ke mana pun sesuai pesanan dan muatan yang di bawanya.


Pencarian hari ini selesai dilakukan ketika sudah menjelang siang, Arkan mengajak mereka untuk makan siang di restoran. Hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya membuat Winsi sangat gembira, dia memesan makanan yang belum pernah dia coba dan tentu saja yang menurutnya enak. Gadis itu begitu berterima kasih kepada Arkan atas kesempatan langka yang didapatkan. Mereka seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia lengkap antara orang tua dan anaknya.


*****


Winsi memasukkan koper dan tas terakhirnya di bagasi mobil yang biasa digunakan untuk mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Dan saat itu, Erlan datang dengan mengendarai motor besarnya. Gadis itu meliriknya sekilas lalu, membuka pintu mobil bagian belakang, untuk ibundanya yang ikut mengantar ke pesantren.

__ADS_1


Sebenarnya Winsi tidak ingin diperlakukan seperti ini, dia bisa berangkat sendiri dengan bis atau ikut bersama rombongan temannya Si Gendut Nia, yang akan berangkat di waktu yang sama. Akan tetapi Arkan memaksanya, agar berangkat dengan Hasnu yang mengantarkan mereka ke pesantrennya.


“Mau berangkat sekarang?” tanya Erlan, masih duduk di atas motor, sambil melepas helmnya.


“Sudah tahu, tanya?”


“Gak salah juga, kan ... memang kenapa kalau tanya. Masa mau dicuekin juga, sih?”


“Memangnya, kenapa? Mau ikut?” tanya Winsi mencandai Erlan, dia pikir mana mungkin pria ini mau ikut ke tempat seperti itu.


“Ya, makanya aku ke sini.”


“Ha?”


“Ya, sudah berangkat sana, masuk! Dasar anak buluk!”


“Eelan! Sekali lagi kamu panggil aku buluk—“


“Aku nggak mau ngomong sama kamu!” Winsi berkata sambil cemberut lalu, masuk ke mobil, dia memilih duduk di samping Hasnu, sementara Runa duduk di jok belakang sendirian. Tanpa dia sangka ternyata benar, Erlan mengikuti mereka dari belakang menggunakan motor besarnya.


“Kenapa Erlan manggil Om Hasnu, Ayah?” tanya Winsi ketika masih dalam perjalanan. Jarak dan waktu yang harus mereka tempuh sangat jauh sehingga terjadi kejenuhan padanya hingga dia mengajak sopir itu untuk mengobrol bersama.


“Dulu, waktu Den Erlan mulai masuk sekolah, Tuan Besar dan Tuan Arkan pergi ke luar negeri ....”


Hasnu mulai menceritakan satu persatu kejadian bagaimana Erlan bisa menjadi anak yang tidak memiliki seorang ibu. Selama ini baik Runa maupun Winsi walaupun, mereka pernah berada di rumah besar dalam waktu lama tapi, tidak pernah menanyakan hal pribadi itu kepada siapa pun. Baru saat ini mereka mengetahuinya.


Ternyata jalan hidup Erlan sangat menyedihkan, sejak kecil di tinggal sang ibu, lalu, pindah rumah karena ayahnya ingin melupakan masa lalu. Akan tetapi, setelah berada di lingkungan baru, justru di tinggal pergi ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama.


Waktu awal-awal sekolah pun, sang ayah tidak menemaninya hingga dia kemudian memanggil Hasnu dan Neni, sepasang suami istri pengasuhnya itu, dengan sebutan ayah dan ibu dan, menjadi kebiasaan sampai saat ini.


Hasnu sebenarnya sudah menolak karena tidak enak dengan para tuan rumah yang sebenarnya tapi, Erlan bersikukuh dengan panggilan itu sebab, bila pertemuan dengan guru di sekolah saat taman kanak-kanak atau di sekolah dasarnya, tidak ada yang mewakili orang tua selain Hasnu atau Neni. Tentu saja Arkan dan Badru pun mengetahui hal ini, tapi, kedua pria itu tidak keberatan.

__ADS_1


“Saya pikir dulu, Om Hasnu ini ayah Erlan!” kata Winsi sambil tertawa, mengingat kejadian saat dia pertama kali masuk ke mobil tanpa permisi untuk sembunyi, waktu itu Runa menyuruhnya lari demi menghindari amukan kemarahan Basri.


“Semua orang juga berpikir begitu, Nona. Makanya saya dan istri saya dulu menolak, tapi, Den Erlan tetap saja memanggil saya begitu.”


“Jadi, Erlan punya bapaknya banyak, ya?”


“Haha. Iya.”


Selama perjalanan mereka selalu bersenda gurau dan membicarakan banyak hal, Runa yang duduk di belakang hanya menimpali sesekali saja karena wanita itu lebih banyak tertidur dan juga menikmati keindahan pemandangan alam yang mereka lewati dan ternyata cukup indah.


Sesekali Winsi melihat ke belakang melalui kaca spion mobil dan dengan jelas dia melihat Erlan yang setia mengikuti mereka sampai akhirnya mereka tiba di tujuan. Itu perjalanan lebih dari tiga jam dan Erlan tanpa kenal lelah berkendara selama itu menggunakan motornya, membuat Winsi terharu.


“Jadi, di sini sekolahmu?” tanya Erlan sambil melepas helmnya lalu, turun dari motor dan membantu membawa perlengkapan sekolah Winsi dari bagasi.


“Kalau aku sudah tahu begini, kan, , kalau mau nengok kamu di sini.”


Ucapan Erlan sontak saja membuat Winsi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pria di samping lalu, menggelengkan kepalanya tidak percaya kalau pria itu akan mengunjungi suatu saat nanti.


“Kamu Cuma boleh pulang tiap akhir semester, kan?” tanya Erlan lagi.


Winsi hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Sementara Runa menyeret satu koper dan masuk ke tempat penerimaan siswa. Rombongan kecil itu menyusul dan berdiri menunggu wanita yang tengah melakukan registrasi ulang siswa. Hal itu harus dilakukan walaupun, siswa sudah terdaftar sebelumnya.


Tiba-tiba dari arah belakang mereka, seorang wanita menyeruak dan menepuk bahu Erlan dengan lembut. Seketika pria itu menoleh dan terkejut melihat gadis manis yang tersenyum ramah kepadanya.


“Eh, bener ini kamu, Lan. Aku pikir salah orang tadi.” Seorang gadis berwajah sangat cantik dengan tinggi tubuh hampir sama dengan Erlan, kulitnya putih dan dia menatap Erlan dengan sorot mata berbinar.


“Eh, kamu Han. Kok kamu ada di sini?” tanya Erlan memanggil nama gadis itu yang ternyata dia adalah wanita yang dikabarkan dekat dengan Erlan di sekolah mereka.


‘Erlan? Hani? Mereka ... Oh, jadi orang ini yang pernah diceritakan Meri, dia Hanifa itu ya, hmm ... dia cantik juga’ batin Winsi sambil mengangguk.


“Ya, ini aku. Ngapain kamu di sini?” tanya gadis cantik itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2