Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
130. Aku Mencintaimu Juga


__ADS_3

Aku Mencintaimu Juga


Erlan melihat ke arah Winsi dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mendengus dan tersenyum kecil, menanggapi apa yang dilihatnya kali ini. Itu pemandangan menggemaskan di mana seorang gadis berdiri, sambil berkacak pinggang secara, tidak sadar apabila keadaannya sekarang sangat menggoda.


Bagaimana tidak menggoda karena dia hanya mengenakan bathrobe dan sudah dipastikan tidak memakai apa-apa lagi di dalamnya. Namun anehnya perempuan itu tidak merasa bahwa dirinya itu sudah menyiksa laki-laki yang ada di depannya.


Laki-laki itu dengan cepat berbalik dan keluar dari kamarnya, untuk segera mengambil air wudhu untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, berjamaah dengan istrinya.


Winsi diam saja saat Erlan kembali ke kamarnya, secara kebetulan dia pun sudah berpakaian dan siap untuk melaksanakan sholat. Dia pun tidak menolak saat suaminya mengajak untuk salat berjamaah dan mengikuti di belakangnya dengan lapang dada.


Setelah selesai sholat dan berdoa, Erlan membalikkan badannya, lalu, memegang kening Winsi dan mendoakannya agar menjadi wanita dan istri yang Sholih serta taat kepadanya.


Winsi hanya terpejam saat Erlan berdoa dan dia membuka matanya kembali saat merasakan ciuman di bibirnya. Dia melihat Erlan dengan jarak yang begitu dekat dan sedang melakukan apa yang dia ingin lakukan.


Erlan memegangi bagian belakang kepala Winsi hingga gadis itu tidak bisa menolak dan pada akhirnya dia membiarkan. Namun, tidak lama pria itu melepaskan ciumannya, dia justru membuka mukena istrinya secara perlahan, melihat wajah polos itu dengan saksama lalu, kembali menciumi seluruh wajah tanpa ada bagian yang terlewat.


Mendapatkan penerimaan seperti itu dari istrinya, Erlan melakukannya sampai puas hingga napasnya memburu. Dia membelai rambut Winsi yang masih acak-acakan dengan lembut, saat menyudahi ciuman dan menatap gadis itu lekat-lekat tepat di bola matanya.


“Win, aku mencintaimu apa adanya, aku nggak menuntut kamu jadi wanita sempurna yang memiliki segalanya, nggak! Jadi, jangan takut aku akan menemanimu tidur, mulai sekaran,” kata Erlan tanpa menghentikan belaian tangannya.


Winsi mengangguk.


“Kamu istriku sekarang, aku tahu masa lalumu jadi jangan kuatir kan apa pun, karena aku nggak akan mengungkit dan mengungkapkan hal itu pada siapa pun. Ini rahasia kita, oke?”


Winsi bangkit sambil tersenyum, lalu dia mengangguk lagi sambil melepaskan mukena dan melipatnya. Dia membiarkan Erlan memeluknya dari belakang dan menghirup aroma tubuhnya, dia bersyukur tadi langsung mandi hingga tidak malu saat Erlan memeluknya lagi.

__ADS_1


Winsi berbalik dan membalas pelukan Erlan, dia harus membiasakan diri dengan pria ini, termasuk aroma tubuhnya. Pria yang kini sudah menjadi suaminya itu memakai parfum yang berbeda, dengan Arkan karena mereka memang pria yang berbeda dan memiliki kesukaan yang berbeda pula.


“Erlan Alhidayah Wijaya, aku mencintaimu juga.” Winsi berkata setelah mendaratkan ciuman singkat di pipi Erlan.


Erlan menatap Winsi penuh minat dan dengan segera dia membawanya ke tempat tidur, pria itu terus melancarkan ciuman hingga gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Dia berkata, “Apa kau sudah mengunci pintunya?”


“Apa itu harus?” tanya Erlan.


Winsi mengangguk sebab Runa—ibunya, sering masuk sembarangan ke kamarnya.


Erlan bangkit dan mengunci pintu, dan dia membuka pakaiannya saat kembali ke tempat tidur.


Mereka bersiap untuk melakukan hubungan yang biasa dilakukan suami istri untuk pertama kalinya diiringi ucapan maaf yang terdengar dari mulut Winsi beberapa kali, hingg saat Erlan tiba-tiba menghentikan gerakannya saat gadis di bawahnya merintih.


Erlan diam tak menanggapi, menjeda sejenak sambil berpikir. Namun dia kembali meneruskan sampai selesai. Walaupun Winsi sempat menangis.


“Maaf, kalau aku menyakitimu,” kata Erlan sambil menciumi kepala istrinya beberapa kali.


Winsi mengangguk dan menghapus sisa air matanya. Dalam otaknya masih berpikir mengapa bisa demikian, apa yang sudah Erlan lakukan padanya, menandakan dirinya masih suci. Lalu, yang terjadi padanya dahulu seperti sesuatu yang sangat mubazir untuk disesali.


Waktu peristiwa itu terjadi dia masih belum mendapatkan menstruasi, walaupun, memang ada bagian dari dirinya terasa perih, tapi, artinya pria besar itu belum sempat melakukan apa yang dia pikir, sudah merenggut kesucian seorang wanita! Dia tahu bagaimana hubungan yang terjadi pada seorang perawan untuk pertama kali dan, dia mengalaminya.


Winsi tersenyum sendiri dan menarik selimut yang diberikan Erlan lebih tinggi hingga hampir menutupi seluruh kepalanya. Dia terlihat malu-malu saat menyadari sesuatu, lalu, menoleh pada pria yang juga tengah tersenyum padanya sambil menaikkan alisnya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Erlan penuh dengan kelembutan. Sementara tangannya masih bergerak lincah di balik selimut.


“Jangan diingat lagi peristiwa waktu itu, tidak ada yang terjadi padamu!” Erlan berkata sambil menarik kembali tubuh Winsi dalam pelukannya, hingga tidak ada jarak di antara mereka, lalu kembali berkata, “Ya, memang termasuk kekerasan, tapi, itu artinya kamu masih bersih dan tidak ada alasan untuk minder atau takut seperti dulu. Allah memang mempersiapkan dirimu untukku dan aku untukmu.”


Winsi mengangguk sambil terus berharap agar traumanya tidak terjadi lagi dan dia bisa tidur nyenyak mulai malam ini.


“Berjanjilah kau akan di dekatku kalau aku mimpi buruk lagi.” Winsi berkata sambil mendongak menatap Erlan yang terlihat mengerutkan alisnya. Pria itu berpikir apakah mungkin dia mampu memenuhi permintaan istrinya kali ini, dia benar-benar tidak bisa berjanji.


Namun, Erlan tetap mengangguk, walaupun dia tidak berkata apa-apa untuk menanggapi janjinya tapi, anggukan itu sudah menjadi isyarat bahwa, laki-laki itu akan ada saat dia membutuhkannya.


*****


Runa memaklumi dan tidak menanyakan pada Erlan atau Winsi saat kedua anak itu tidak keluar untuk sarapan. Mereka juga tidak muncul satu jam setelah waktu sarapan lewat begitu saja. Dua manusia yang baru saja menjadi pengantin itu keluar dari kamar saat hampir jam sepuluh karena mereka merasa lapar.


Setelah melakukan percintaan untuk pertama kalinya itu, mereka kembali tertidur dan, kembali terbangun saat suara perut mereka berbunyi minta diisi. Lalu, mereka pergi ke meja makan setelah membersihkan diri dan memakai pakaiannya kembali.


“Erlan, kamu hari ini, libur, kan?” tanya Runa, saat melihat menantunya itu makan bersama anak perempuannya.


Erlan mengangguk.


Mereka nikmati makanan dengan diam seolah tidak ada apa pun yang terjadi sebelumnya. Bahkan, Runa pun tidak mencandai anaknya. Walaupun, dia sempat heran mengapa mereka keluar dari kamar Winsi dan bukan kamar Erlan.


“Soalnya, Ibu dengar hp-mu bunyi terus dari tadi di kamar. Ibu kita kamu ada di dalam.” Runa berkata lagi sambil berjalan keluar menggendong Jiddan.


Erlan dengan cepat menyelesaikan sarapan dan melangkah ke kamarnya sendiri, untuk mengambil telepon genggam yang ada di kamarnya. Dia melihat banyak pesan dan panggilan dari Hanifa. Setelah mengganti pakaian, pria itu segera berpamitan pada istrinya dan Runa, dia mengatakan akan pulang malam untuk mengurus sebuah urusan.

__ADS_1


Bersambun


__ADS_2