Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
41. Kepolosan Anak-anak


__ADS_3

Kepolosan Anak-anak


Winsi memegang bahu Meri dan menghadap padanya, dia menatap lekat sahabatnya, mencoba mencerna dan ingin tahu apa yang sebenarnya dimaksudkan olehnya, dengan berkata sedemikian keras sehingga menimbulkan kecurigaan orang lain kepada mereka.


Sementara orang yang tadi bertanya pun mendekat, ternyata dia adalah salah satu temannya juga yang berada di satu sekolah dan juga mengenal Merry.


“Iya, Mer. Apa maksudmu, sih?” Winsi berkata lirih, menurunkan suaranya agar orang lain tidak mendengar.


Kini mereka bertiga saling berhadapan dan berbincang bicang.


“Eh, kamu, sekolah di sini juga rupanya?” tanya Meri pada kenalannya yang kini berdiri di samping dirinya dan Winsi.


“Iya, aku si sini. Benar yang kamu bilang tadi, dia pernah di penjara?” tanya anak itu.


“Ya!” jawab Meri. Membuat Winsi terperangah, dia tidak percaya Merry begitu blak-blakan mengatakan hal ini padahal, setengah mati dia berusaha menutupinya, bahkan berharap semua temannya tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Winsi kemudian berpikir bahwa mungkin inilah satu ciri kepolosan anak-anak.


Winsi kembali menyalahkan diri sendiri atas nasib bahwa, tidak ada yang mau berteman dengan seorang narapidana, apalagi dia pernah mengalami hal buruk di penjara yang membuatnya ternoda pasti orang merasa jijik melihat mereka tanpa menimbang kesalahan dan kebenarannya.


“Meri!” cetus Winsi begitu tak berdaya dari bibirnya. Ya, memang dia pernah ada di penjara, tapi mereka tidak bersalah.


“Tapi aku nggak salah, kok Mer!” kata Winsi tegas.


“Kalo nggak salah, kenapa kamu lama banget di penjara? Kata Ibuku karena kamu mwncuri. Rumahmu kotor, Bapakmu juga nggak pernah pulang, cuman ada Tante itu yang di rumahmu aku nggak kenal sama dia. Benar kamu di penjara, kan?” kata merry dengan kepolosannya. Mungkin dia belum tahu apa itu aib yang harus ditutupi atau kesalahan orang lain yang memalukan dan tidak boleh sembarangan diungkapkan.


Winsi juga tidak mungkin mengatakan keberadaannya selama ini atau apa yang menyebabkan dia tidak pulang karena Ibunya sudah bercerai dan sekarang tinggal di rumah terpisah. Sementara selama hampir dua bulan ini dia pernah tinggal bersama Erlan dan di rumah terapi. Bagaimana menjelaskan semua itu pada Merry, belum tentu temannya ini akan mengerti.


“Aku sama Ibuku nggak salah, Mer. Buktinya aku bisa bebas!”


“Kamu tau nggak Mer, sebulan yang lalu di sekolah ini ada kabar soal anak yang sempat diperkosa di penjara loh!” kata kenalan Meri, sambil menoleh ke arah Winsi ketus. “Aku nggak tahu kabar itu bener apa nggak katanya sih begitu. Anak kelas satu lagi. Jangan-jangan kamu ya anak itu?”


Winsi menoleh secara bergantian kepada Merry dan juga orang yang ada di hadapannya, setelah itu dia mendengus kesal dan berlalu pergi, membalikkan badan meninggalkan kedua teman itu di sana, tidak peduli apa yang mereka bicarakan selanjutnya.


Seandainya bukan karena masa depan dia tidak ingin sekolah lagi. Seandainya bukan karena ingin memperbaiki kehidupan maka, dia tidak sudi untuk menuntut ilmu lagi.

__ADS_1


Para terapis itu yang terus-menerus secara lemah lembut memberikan semangat dan sugesti, mereka makhluk berharga. Mereka menanamkan pemikiran bahwa Tuhan sang pencipta sangat menghargai ciptaan-Nya, bahwa pendidikan dan sekolah sangat penting sehingga dia harus melanjutkannya, bahkan sampai ke jenjang yang lebih tinggi, meraih cita-cita dan membuat hidupnya lebih baik dari saat ini. Dia harus lebih semangat dan lebih kuat, abaikan semua cobaan dan cemoohan orang sebab, sebenarnya ucapan mereka itu hanyalah melemahkan.


Orang lain hanya membutuhkan satu mulut untuk menjatuhkan seseorang dan merusak namanya hingga tercemar di mana-mana tetapi, orang yang sudah dibuat tak berdaya, membutuhkan banyak energi untuk memulihkan keadaan dan mengatakan yang sebenarnya.


Tiba-tiba hujan deras mengguyur bumi, saat airnya menyentuh tanah yang kering, menimbulkan aroma khas yang menyeruak seperti mengurai keluhan panas oleh tanah dan bebatuan yang meranggas.


Winsi menengadah ke langit seperti menikmati jatuhnya air hujan ke wajah dan tubuh hingga seluruh pakaiannya basah. Dia tidak peduli pada sepatu, tas dan buku-buku yang di bawahnya, bahkan seolah sengaja mengharapkan hujan itu turun membasahi segalanya.


Sementara teman-teman yang lainnya menepi, sayang dengan pakaian mereka yang esok harus dipakai kembali atau sayang dengan sepatu dan buku yang mereka bawa, bagaimana jika basah nanti.


Hujan begitu lebatnya seolah sengaja menumpahkan airnya untuk menghapus darah yang keluar dari luka, serta tetesan air mata agar orang lain tidak mengetahuinya.


Winsi terus berjalan dengan air mata yang terus berlinang namun tidak terlihat hingga lama kelamaan hujan berhenti, sementara Winsi sudah berjalan begitu jauh dari pintu gerbang sekolah.


Tiba-tiba dia dikejutkan oleh bunyi berdecit roda kendaraan yang berhenti secara mendadak, tak jauh dari tempatnya berada. Dia segera menghentikan langkah dan menoleh lalu, melihat angkutan umum yang dipenuhi teman-teman satu sekolahnya di sana.


Beberapa anak turun, sementara Winsi merasa tidak enak. Beberapa anak di antara mereka tidak dikenalnya, link sedang berjalan mendekat dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. Gadis itu mundur dengan perlahan, dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi bahwa anak-anak itu melihatnya penuh permusuhan.


Sekilas Winsi melihat seseorang duduk tenang dalam angkutan umum yang berhenti.


“Kamu, Winsi, kan?” tanya salah satu anak yang tadi bersama dirinya dan Meri.


Winsi tidak menjawab. Hanya matanya yang waspada melihat secara bergantian ke arah beberapa anak yang mengelilinginya.


“Mau apa, kalian?” pekik Winsi dengan suara sedikit tertahan.


Dia menahan emosi untuk tidak melawan dan berbuat gegabah. Dia sudah mendapatkan pelajaran dan terapi tentang ini. Bisa saja dia melumpuhkan temannya ini satu persatu, tapi itu kesalahan dan dia kemungkinan bisa masuk penjara lagi. Huh!


“Kami mau apa? Katamu? Hah!” kata anak itu lagi sambil memalingkan wajah sombong dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Kami mau kamu ngaku, kalau ternyata kamu yang sudah mencemari nama baik sekolah, ha? Kamu kan yang sudah dinodai di penjara? Ngaku!”


“Apa? Siapa yang bilang?” tanya Winsi dia tak percaya dengan ucapan yang mengisyaratkan bahwa kejadian di penjara sudah menjadi sebuah kabar besar di sekolah dan fitnah ini begitu nyata.


Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya apakah benar dia ternoda atau bukan, dia hanya merasakan sakit di bagian inti tubuhnya, itu saja.

__ADS_1


‘Jadi, apakah seperti itu yang dinamakan ternoda? Jadi, aku ini sudah menjadi aib bagi sekolah mereka? Begitu? Aku tidak bersalah! Aku bukan penzina!’ batin Winsi, ingin rasanya dia menangis saat ini tapi, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.


“Memangnya apa yang harus aku akui aku nggak salah!” Winsi berkata untuk membela diri.


“Enak saja kamu ngaku gak salah, itu memalukan, tahu?” kata anak yang lain.


“Kamu itu, sudah mencoreng nama baik sekolah, mana ada narapidana sekolah di Sekolah terkenal kayak sekolah kita ya nggak?” kata yang lainnya lagi.


“Iya kamu itu jangan sok suci bilang nggak bersalah padahal kamu jelas-jelas mempermalukan kami semua.”


Suara-suara anak lain saling bersahutan.


“Ya, sekolah kita dianggap sekolah yang jelek, anak-anaknya tidak baik, tahu nggak?”


“Memangnya, kamu bisa apa buat mulihin lagi nama kami, ha?”


“Masa sih, aku dibilangin rugi kamu sekolah di situ sekolah rusak. Kamu, kan, yang bikin rusak?”


Tiba-tiba salah seorang anak mendorong Winsi dari samping, sambil berteriak.


“Dasar!”


Lalu,


Byur!


Winsi terjatuh dikubangan bekas hujan yang kotor, berlumpur dan berbau tidak sedap. Semua yang dikenakannya kotor termasuk rambutnya.


“Kurang ajar kalian!” Winsi berkata sambil berdiri, “sudah kubilang aku tidak bersalah! Kenapa kalian mendorongku, ha?”


Lalu, Winsi mendorong anak yang tadi menjatuhkannya tapi, anak lain membantu temannya. Dia kalah jumlah hingga tidak bisa berbuat apa-apa, saat tangannya di pegang ke belakang oleh dua orang yang lebih kuat.


Setelah itu, setiap anak menghadiahi masing-masing satu tamparan di wajahnya. Setelah semua selesai menampar, Winsi melorot jatuh sendiri ke tanah, tak dalam keadaan yang mengenaskan.

__ADS_1


“Aaakkhh ...!” Winsi berteriak sambil mengepalkan tangan, memukul ke tanah yang becek di pinggir jalan yang sepi. Dia menangis dan terus menangis, Sampai merasa sangat lelah dan putus asa ... lalu, gelap.


Bersambung


__ADS_2