Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
119. Mau Sampai Kapan


__ADS_3

Mau Sampai Kapan Kamu Di Sini


Erlan segera berdiri dari berlutut di lantai, tubuhnya terasa begitu lemah kali ini seolah raganya tanpa daging dan tulang. Langkahnya goyah menuju kamar Hanifa dan, saat dia sudah ke dalam, terlihat gadis itu tengah menumpahkan semua peralatan kecantikan sendiri hingga berantakan.


“Kamu kenapa, sih, Han!” Tanya Erlan penuh emosi, sambil memunguti beberapa benda yang berserakan di lantai dan menyimpannya di tempat semula.


“Papah! Papah galak!” kata Hanifa merajuk sambil pergi ke tempat tidur, sambil membawa beberapa mainannya, lalu, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Aku bukan Papamu, aku suamimu, dan aku tidak mau kamu seperti ini, Han! Ayo cepat sembuh, dong!”


Erlan mencoba membujuk gadis itu dengan lemah lembut dan sebisanya, tapi Hanifa sulit di ajak bekerja sama hingga dia terus memainkan benda yang membuat kotor selimut dan tempat tidurnya.


Erlan menjambak rambutnya sendiri, dia tidak berdaya. Dia bukannya tidak mau membawa Hanifa ke rumah sakit jiwa, tapi, semua keluarga dan saudara Hanifa menyalahkannya atas kondisi keponakan mereka saat ini. Para sepupunya juga menilai jika Erlan membawa Hanifa ke rumah sakit itu, tandanya dia tidak tulus untuk menikahi dan hanya memanfaatkan kekayaan Hanifa saja.


Untuk sementara ini, Erlan masih mencoba bersabar, walau dia ingin menganggap telinganya tuli dan menganggap hatinya mati rasa tapi, beberapa orang bahkan berani datang padanya untuk bersekongkol.


Ada dua orang sepupu Hanifa yang pernah sengaja mendatangi Erlan saat tengah bersantai karena Hanifa sedang tidur, waktu itu. Mereka meminta sebagian atau persenan komisi dari harta peninggalan orang tua Hanifa kalau gadis itu benar-benar gila, mereka memberi usul agar Hanifa dibiarkan saja tinggal di rumah sakit jiwa untuk selamanya. Maka, kedua pria itu akan mendukung apa pun yang akan dikatakan Erlan sebagai alasan, pada keluarga besarnya. Setelah itu mereka bisa menjual semua aset orang tua Nadia dan membagi hasilnya sama rata.


Tentu saja Erlan tidak setuju dengan rencana mereka itu dan dia mempertahankan keadaannya. Walaupun, lelah dan terkadang bosan, dia tetap menjalaninya. Dia merasa kuat dan mampu memikul beban itu setelah menyetujui saran dari ayahnya, dengan berbagai pertimbangan. Namun, setelah mendengar kabar kematian ayahnya membuat sisi lemah dari manusianya terlihat, hingga dia tersedu seperti sekarang.


“Apa yang bisa aku lakukan dengan mengambil alih semua tanggung jawabku, Ayah? Apa kau pikir aku sekuat dirimu dan semampu kepribadianmu? Aku bukan dirimu Ayah, aku berbeda. Apa maksudnya menyarankan agar aku menikahi Hanifa dari pada hanya membayari biayanya rumah sakitnya? Lihat sekarang, aku justru mendapatkan masalah tambahan dari keluarganya. Ya Allah” keluh Erlan dalam hatinya.


Akhirnya, Erlan memutuskan untuk menyewa perawat khusus yang bisa dia hubungi dengan susah payah, dia memberi Hanifa obat tidur agar gadis itu bisa tidur dengan nyenyak lebih lama. Setelah perawat yang ia sewa datang, Erlan pun bisa pergi dengan tenang meninggalkan rumah itu dan juga istrinya yang masih tertidur pulas, serta menganggap Erlan adalah orang tuanya.


*****


Winsi masih berdiri terpaku di atas gundukan tanah yang masih merah serta dipenuhi taburan beberapa macam bunga. Pandangan matanya tidak lepas dari papan kayu nisan yang terukir nama ayah angkatnya di sana, Arkan Hidayah Wijaya, cat yang mengukir nama itu pun mungkin masih basah.

__ADS_1


Jenazah ayahnya itu baru saja di makamkan setelah beberapa orang memberi Winsi dan Erlan kesempatan untuk terakhir kalinya melihat wajah teduh yang terpejam dengan tenang.


“Tidurlah Ayah, amal baikmu yang akan menemanimu di sana.” Kata Winsi saat dia memberanikan diri mencium lembut pipi jenazah Arkan untuk pertama dan terakhir kalinya.


Sekarang di sinilah pria itu berada, terkubur tepat di bawah kakinya berdiri memandangi tulisan namanya dengan berlinang air mata.


“Mau sampai kapan kamu di sini?” tanya Erlan sambil melirik Winsi yang tegak seperti kayu tak berarti, tidak mendengar dan tidak menjawab.


“Sudah mau gelap. Ayo! Kita pulang!” Kata pria itu lagi.


Semua orang sudah pergi, semua teman karib, kerabat dan sanak saudara yang tadi ikut serta mengantar jenazah dengan berduyun-duyun, beriringan bagai helombang, kini telah pulang ke rumah masing-masing.


Termasuk Anas, Nafadi, dan Waila. Mereka akan menginap di hotel setelah itu bertolak kembali ke Jogjakarta keesokan harinya. Di pemakaman umum itu kini hanya ada Erlan dan Winsi. Walaupun, Erlan ingin pergi, dia tidak mungkin meninggalkan Winsi sendiri. Sementara hari sudah mulai gelap.


Hari sudah hampir senja tapi angin yang bertiup masih hangat, tanah itu juga masih hangat sama seperti air mata Winsi yang terus menetes pun terasa hangat. Kakinya seperti menempel pada tanah yang basah, enggan pergi meninggalkan, seolah ingin ikut terkubur di sana bersama semua harapan yang ada. Bersama semua kehangatan pelukan dan kasih sayangnya yang tidak akan dia dapatkan dari orang yang sama.


Mendengar ucapan Winsi, Erlan mengerutkan alisnya, pria itu berlutut, lalu menoleh pada Winsi, dan berkata, “Win, kamu sadar nggak sih, Ayah itu udah nggak ada. Alam kita udah berbeda, dia nggak bakal dengerin kamu ngomong seperti itu!”


“Ayah tahu, nggak. Aku sudah nabung mau buat beli motor Scoopy. Jadi, kemana mana nggak naik bus kota lagi.”


Winsi kembali bicara, lagi-lagi dia mengabaikan Erlan, menganggapnya tidak ada. Saat gadis itu baru datang dari bandara, Erlan muncul di saat yang sama entah dari mana. Winsi melihat pria itu sekilas kemudian mengabaikannya sampai detik ini. Dia kecewa karena anak laki-laki itu baru datang di saat jenazah ayahnya hendak dikebumikan. Dari mana saja dia? Pikirnya.


“Ayah, baik-baik saja ya di sana, pasti dingin. Aku nggak bisa kasih Ayah selimut, yang bisa kasih ayah cahaya di sana cuma doa anak yang Sholeh,” Winsi mulai menangis lagi lebih keras. “Hubungan kita sudah putus Ayah, kecuali anak Ayah yang Sholeh, aku cuma bisa berdoa semoga dosa Ayah di ampuni dan Ayah bahagia di sana.”


“Win, sudah, lah ... ayo pulang, sudah sore!”


Hanya hembusan angin yang menjawab ajakan Erlan.

__ADS_1


Winsi menghapus air matanya, mengusap kayu nisan dengan telapak tangannya seraya berkata, “Ayah, pasti aku kangen banget sama Ayah. Pokonya Ayah harus dateng di mimpi kalo nanti aku kangen, ya!”


Gadis itu berdiri lalu, melangkah melewati Erlan begitu saja, seolah pria itu hantu yang tidak ada rupa dan bentuknya. Dia mulai menyusuri jalanan keluar area pemakaman.


Erlan mengikuti Winsi dari belakang, dengan kedua tangannya di selipkan pada saku celana sedangkan tatapan matanya entah ke mana, searah jalan pikirannya yang juga kocar-kacir tak tentu arah.


Tiba-tiba Winsi berhenti dan berbalik badan menghadap Erlan, membuat pria itu terkejut.


“Erlan!” kata Winsi setengah berteriak, tapi orang yang dipanggil diam saja.


“Kamu nggak sayang, ya, sama Ayah? Ngaku!”


Erlan menatap Winsi tepat di bola matanya. Apa maksudnya dia bilang seperti itu? Batinnya.


“Buktinya kamu datang terlambat, kemana aja kamu? Kasian, kan, Ayah diurus sama orang lain, seharusnya jenazah itu lebih baik di urus oleh keluarga terdekatnya!”


Erlan pun sebenarnya ingin marah dengan situasi yang terjadi saat ini, tapi logikanya masih jauh lebih besar dari pada emosinya hingga dia mengabaikan tuduhan Winsi tentang perasaannya pada Arkan—ayahnya.


“Aku sedih, tapi aku nggak teriak-teriak kayak kamu. Aku kehilangan tapi aku nggak nangis kayak kamu, aku juga sayang tapi nggak perlu juga ngomong sendiri di kuburan kayak kamu!”


Winsi cemberut, mendengar Erlan mengatakan hal itu, dia pikir emosi mereka berbeda sehingga caranya mengungkapkan kehilangan sekaligus kasih sayangnya pada Arkan adalah spontanitas saja. Tidak dibuat-buat.


“Makanya, jadi orang itu jangan sok paling sedih sedunia, memangnya Arkan itu Ayahnya siapa?” tanya Erlan sambil berjalan melewati Winsi begitu saja.


Tiba-tiba terjadi absurditas suasana yang tercipta saat itu juga, antara emosi dua jenis manusia yang berbeda, antara kesedihan dan keanehan serta antara kehidupan dan kematian menjadi satu.


Dua insan yang mulai beranjak dewasa itu memilih menunaikan sholat magrib berjamaah di masjid yang terdekat dengan pemakaman. Mereka tadi mengikuti rombongan jenazah dengan cara berjalan kaki, hingga saat pulang pun, mereka memutuskan untuk berjalan kaki lagi saat pulang nanti.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2