Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
79. Kenapa


__ADS_3

Kenapa Tidak Bilang Dari Tadi?


Tanpa menunggu perintah dua kali dari ayahnya Erlan segera menuju ke tangga dengan senyum di bibirnya, tapi senyum itu segera menghilang, setelah dia mendengar Arkan berteriak kepadanya, “Jangan lama-lama bicara seperlunya saja!”


Wajahnya ditekuk saat dia membuka pintu ruang rapat, namun dia kembali tersenyum saat melihat Winsi yang tengah asyik menikmati makanan di atas meja. Tiba-tiba dia merasa geli dan hatinya seakan digelitiki.


Dia mendengar sendiri dari Saina, yang mengatakan bahwa makanan itu sudah diracuni oleh cinta dan rindu. Sebenarnya ucapan wanita itu cukup menggelikan tapi, apa yang dilihatnya sekarang, lebih menggelikan lagi. Bagaimana mungkin seseorang percaya bahwa makanan itu sudah diracuni tapi, tetap memakannya, bahkan terlihat sangat menikmati?


Mendengar suara pintu dibuka, Winsi segera mendongak dan dia terkejut melihat orang yang ada di hadapannya. Seketika dia berdiri dengan gugup, sambil mengusap bibir menggunakan punggung tangan, sedangkan matanya melihat Erlan dengan tatapan tak berdaya.


“Apa makanannya, enak?” tanya Erlan berusaha tetap tenang padahal, setengah mati dia berusaha menahan tawa. Dia duduk di depan Winsi yang masih berdiri lalu, mencabut dua lembar tisu dan memberikannya pada gadis itu.


Winsi tertegun sejenak setelah bisa mengatasi rasa gugupnya, dia duduk dengan tenang, sambil memutar pandangan, mengambil tisu dari tangan Erlan dan, mengelap bibirnya yang basah oleh kuah sup. Setelah itu melemparkan tisu bekas ke atas meja dengan kasar.


“Mengagetkan orang saja memang nggak bisa ya, salam dulu atau ketuk pintu?” katanya datar.


“Oh, iya. Maaf ... Assalamualaikum ...”


“Wa’alaikumussalam! Mau apa ke sini?”


“Jawab dulu pertanyaanku!”


“Apa?”


“Gimana makananny? Enak?”


“Lumayan.”


“Cuma itu?” Dalam hati Erlan kecewa dia berharap bahwa benci akan memuji makanannya karena itu adalah menu kreasinya.


“Ya.”


“Kalau begitu, cepat habiskan!” pinta Erlan datar.

__ADS_1


Winsi merasa bingung dan salah tingkah jika harus menghabiskan makanan, yang tinggal separuh lagi itu di hadapan Erlan. Dia tidak biasa makan di depan laki-laki. Apalagi orang yang ada di hadapannya duduk begitu tenang, sambil bersandar dan menyimpan dua tangannya di atas sandaran kursi. Apabila dia tetap makan maka, sama saja dirinya adalah satu-satunya pemandangan.


Winsi menatap ke arah Erlan dan makanannya secara bergantian, dia tidak mungkin meninggalkan makanannya karena akan mubazir.


“Ayo! Habiskan! Kalau nggak ....”


“Kalau nggak, kenapa?”


“Ada sesuatu yang harus aku omongin sama kamu.”


“Ya, ngomong saja sekarang!”


“Habisin dulu, lah!”


Akhirnya Gadis itu segera menghabiskan makanan, yang kali ini tidak terasa nikmat seperti sebelumnya.


Winsi sempat merasa ragu dengan memakan itu saat ingin menikmatinya. Akan tetapi, perutnya lapar hingga dia berpikir positif bahwa, tidak mungkin Saina yang sudah berubah akan meracuni makanannya, bahkan wanita itu mengatakannya secara jujur.


Perbuatan buruk yang dilakukan secara diam-diam dan takut jika ketahuan, itulah yang disebut sebagai dosa. Sementara perbuatan baik dan seseorang tidak malu bila melakukannya itulah yang disebut sebagai amal.


Winsi berhasil menghabiskan sub dengan gugup dan terburu-buru hingga belepotan di sekitar mulutnya. “Sudah, habis. Sekarang katakan!” Katanya sambil mengusap bibirnya dengan tisu.


Erlan melihat Winsi sambil tersenyum, meskipun dia makan dengan terburu-buru tapi, pemandangan itu baginya cukul lucu.


Erlan menarik nafas dalam dia merubah posisi duduk dengan menegakkan punggung. Dia tahu bahwa perbincangan akan segera berakhir, setelah dia mengatakan pesan dari Arkan.


“Ayah menunggu di bawah, kata Ayah, kalian harus cepat pulang ... tadi Ibu telepon katanya Kakek sakit!” Erlan berkata dengan santai, seolah-olah apa yang baru saja dia sampaikan bukanlah sesuatu yang penting.


“Kenapa nggak bilang dari tadi, sih?” Winsi menggerutu.


Dia menatap Erlan kesal. Seandainya bisa, ingin sekali dia menendang lalu, memukulnya berulang kali.


‘Bagaimana dia bisa mengatakan hal sepenting itu dengan begitu tenang? Dasar! Nggak punya perasaan!’ batin Winsi sambil beranjak dari duduk, lalu, pergi begitu saja tanpa menoleh kembali padanya.

__ADS_1


Setelah Winsi menemui Arkan dan mengambil tasnya, pria itu segera menggamit tangannya dan berjalan keluar restoran dengan cepat. Sementara itu Erlan hanya menatap kepergian mereka dari ruangan rapat dengan tatapan kosong. Jika tidak sedang ujian, mungkin dia akan memaksa untuk ikut pulang.


Selama ini Erlan tidak pernah terlibat dengan urusan Kakeknya walaupun, sedang sakit. Hanya sesekali saja dia melihat Badri di kamar karena ada ayah, perawat dan dua asisten yang mengurusnya.


Jadi, saat mendengar kabar bahwa Badri masuk rumah sakit seperti saat ini, dia hanya menanggapinya biasa saja karena pria tua itu, memang sudah sering masuk rumah sakit disebabkan kondisi dan usia.


*****


Selama di dalam pesawat, Winsi tidak bisa tenang dia gelisah memikirkan Badri dan juga ibunya. Dia khawatir apabila ibunya tidak bisa menangani dan kemudian disalahkan atas apa yang terjadi pada kakek.


Perjalanan panjang lintas benua, yang mereka lalui hingga belasan jam, tidak juga membuat Gadis itu bisa tertidur, kecuali, hanya dua atau tiga jam saja selain itu dia terus berdzikir dan berdoa memohon keselamatan dan kebaikan untuk semuanya.


Setibanya di rumah, dia tidak mendapati seorang pun di dalamnya karena baik binani ibunya dan juga hasnu tentu tengah menunggu Badri di rumah sakit.


Arkan segera menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelah itu dia mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Lalu, dia keluar sambil membawa kunci mobil. Saat dia melewati ruang tamu, dia heran melihat Winsi berjalan mondar-mandir di depan pintu.


Gadis itu pun sudah berganti pakaian dan tampak sedang menunggunya.


“Apa Ayah mau ke rumah sakit?” tanyanya begitu melihat Arkan.


“Ya.” jawab Arkan sambil terus berjalan menuju halaman tempat mobilnya terparkir.


“Ayah, aku ikut, ya?”


“Tidak usah. Kalau kamu ikut terlalu ramai, di sana sudah banyak orang yang menunggu Kakek. Jadi, kamu istirahat saja di rumah tidak usah khawatir.”


Winsi tertegun mendengar ucapan Erlan yang begitu tegas melarang karena memang kehadirannya tidak diperlukan. Sudah cukup banyak orang dewasa yang menunggu kakek dan dia hanya perlu berdoa serta berharap agar semua baik-baik saja.


Winsi melihat kepergian mobil Arkan sambil berpesan dalam hati supaya pria itu berhati-hati. Dia membenarkan permintaan Ayah angkatnya itu agar istirahat karena memang dia masih cukup lelah untuk melakukan segala aktivitas, apalagi kalau harus menunggu seseorang yang sakit.


Hari ini begitu cerah, rasanya sayang jika melewatkannya begitu saja, untuk tidur seharian hingga gadis itu berinisiatif melakukan olahraga, yang sudah lama tidak dia lakukan. Yaitu melatih kepandaiannya karate dan bisa sepuasnya menggunakan samsak tinju milik Erlan yang ada di halaman belakang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2