
Aku Bukan Yang Terbaik
Winsi merasa tidak sanggup menjawab pertanyaan Erlan. Bagaimana mungkin dia akan berkata jujur kali ini? Dia bukanlah anak-anak polos lagi, dan menganggap Erlan adalah satu-satunya orang yang bisa menolongnya. Jika tidak bisa jujur, maka, lebih baik diam.
Dia sudah memiliki rasa malu yang lebih besar dibandingkan dulu. Sekarang dia sudah bisa berpikir jernih dan, semua yang dia lakukan di masa lalu adalah sebuah kesalahan besar, dengan menjadikan Erlan sebagai tempat bersandar.
“Kamu nggak punya salah, Lan. Aku yang punya banyak salah sama kamu!” Winsi berkata dengan susah payah, suara di tenggorokan tercekat akibat menahan tangis dengan sekuat tenaga.
Ya, dia tidak harus jujur, tentang semua sikapnya yang muncul karena ingin menjaga jarak dengannya. Tidak!
Dia hanya ingin menjaga hatinya sendiri agar tidak terjerumus pada perasaan yang biasa muncul antara laki-laki dan perempuan dewasa. Itu tidak perlu, kalau tidak ingin kecewa.
Pengalaman pahit yang dia rasakan serta perjalanan hidupnya membuat Winsi lebih cepat dewasa, tentu dia mengerti apabila hati tidak mungkin akan selalu seperti ini.
Hati akan selalu berubah-rubah sesuai dengan keadaan dan apa yang dirasakannya, tidak pernah menenetap dari itu ke itu saja, kadang cinta bisa berubah menjadi benci, sayang berubah menjadi muak dan bosan, bahkan kekaguman bisa berubah menjadi kehinaan dalam sekejap mata, bukankah semua itu berasal dari hati?
“Kamu juga nggak punya salah sama aku,” kata Erlan sambil tersenyum simpul.
“Kalau memang aku nggak punya salah sama kamu, kenapa tadi ngebut-ngebut? Apa maksudnya coba? Kamu nguji aku atau kamu pengen kita mati berdua?”
Winsi berkata seperti itu bukan tanpa alasan ia tahu bila Erlan kesal padanya lalu menghukum dengan cara seperti itu. Akan tetapi, dia mengatakan bila Winsi tidak mempunyai salah, seandainya apa yang dikatakannya benar, tentu dia tidak akan begitu kesal.
“Maaf,” kata Erlan sambil terkekeh sementara Winsi menganggapnya permintaan maafnya palsu.
“Kenapa kamu nggak pernah jawab telepon, terus ... jarang bales pesan aku, kamu nggak benci sama aku, kan?”
“Nggak!” Winsi menjawab singkat sambil melambaikan tangannya.
Kemudian dia menceritakan bagaimana perasaan dan sikapnya saat kematian Badri, dia sengaja menghubunginya waktu itu karena memang ingin mengabarkan berita kematian Kakek mereka. Akan tetapi, Arkan melarangnya.
Lalu, tentang dia yang tidak menjawab pesan serta panggilan dari Erlan, Winsi mengaku jika dirinya sibuk serta lelah karena seharian menerima banyak tamu dan pelayat.
“Apa semua itu lebih penting dari aku?” tanya Erlan kemudian sambil mengusap hidung dengan punggung telapak tangannya.
“Apa maksudmu? Tidak ada hubungannya kematian kakek dengan masalah penting atau tidak penting. Orang merasa dirinya penting itu karena dia merasa berarti bagi orang lain, iya, kan? Memangnya aku harus menganggap kamu penting gitu? Ah, yang benar saja, Lan! Aku menganggap Ayah lebih penting dari kamu!”
Erlan menatap Winsi tepat di bola matanya, dia mengharapkan Gadis itu bohong ataupun berpura-pura tetapi, dia sama sekali tidak menemukan kebohongan itu dari apa yang dilihatnya.
“Baiklah, kita selesai. Sekarang, cepat keluar!”
“Apa? Kenapa keluar?” Winsi bertanya dengan heran sambil mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
“Bukannya kamu tadi mau keluar? Ya, sudah. Keluar sekarang!” Erlan menjawab dengan bersungut-sungut, sepertinya pria itu kesal.
Winsi akhirnya meraih tasnya setelah bunyi ‘klik’ dari kunci pintu otomatis yang sudah teterbuka.
“Baiklah,” kata Gadis itu sambil membuka sabuk pengamannya lalu, dia keluar begitu saja tanpa melihat kembali pada Erlan.
Winsi tidak tahu posisinya saat ini tapi, dia tetap saja berjalan. Namun, baru saja beberapa langkah Eerlan sudah kembali mencekal lengannya dan menariknya masuk ke sebuah cafe yang ada di samping mereka.
“Buat apa ke sini aku tidak mau!” elak Winsi sambil kembali mencoba melepaskan cakalan tangan pria di sampingnya.
“Kamu harus mau atau aku menciummu di tempat ini sekarang!”
“Erlan! Kamu gila ya?”
“Biarin, aku gila karena kamu, tahu?”
“Ck! Mana mungkin aku bikin kamu gila ... kalau perempuan seperti Saina itu baru bisa bikin kamu gila.” Winsi berkata sambil terkekeh pelan, dengan satu tangan menutup mulut menahan tawanya agar tidak terlalu keras.
“Oh, iya. Kamu mau tahu seperti apa Saina sekarang?” Erlan bertanya setelah mereka duduk saling berhadap-hadapan di salah satu meja kosong yang ada di dekat jendela.
“Nggak! Buat apa aku harus tahu orang seperti dia?”
Tak lama seorang pelayan mendatangi dan menyodorkan menu serta menanyakan pesanan mereka. Winsi menyerahkan pesanannya pada Erlan, orang yang mengajaknya datang ke sana karena dia sendiri tidak tahu minuman enak di tempat itu. Lagi pula, Pria itu juga yang nanti akan membayar minuman mereka.
Erlan mengikuti semester cepat sehingga dia bisa lulus lebih dahulu dari pada teman-teman seangkatannya. Mungin tahun ini juga dia sudah akan mendapatkan gelar sarjana.
Winsi tidak bersemangat mendengar kisah tentang Saina karena memang dia tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Apalagi gadis itu pernah menyakitinya, bahkan mencoba menyakiti ayahnya waktu itu.
Dia pikir keluarga Arkan terlalu baik dalam memperlakukan orang yang sudah mencoba mencelakai salah satu anggota keluarga mereka. Akan tetapi, dia maklum setelah mengetahui ternyata keluarga Saina mempunyai hubungan yang baik di masa lalu dengan Badri.
Sementara Erlan bercerita, pesanan pun tiba dan mereka berbincang sambil menikmati hidangan.
“Terus, gimana kuliahmu, apa di sana bolos sebulan atau dua bulan juga nggak masalah? Apa nggak dapat hukuman gitu? Enak juga ya kuliah di sana.”
“Heh. Memangnya sekolah? Kalo nggak masuk terus ke skors. Yok, pindah kuliah di sana.”
“Nggak mau. Aku nggak pintar bahasa Inggris.”
Pernyataan Winsi yang terdengar asal, membuat Erlan tertawa keras sebab, gadis itu masih saja polos bahkan terkesan bodoh.
Kalau mau menuntut ilmu di negeri seberang, tentu saja ada jalan untuk mengatasi masalah bahasa, yaitu dengan berlatih, kursus bahasa Inggris terlebih dahulu. Jadi, tidak lantas menggunakan alasan itu untuk membatasi pengembangan diri. Dia terkesan putus asa, jika menjadikan kompetensi bahasa Inggris sebagai tolok ukur sebuah kepandaian.
__ADS_1
Winsi sebenarnya hanya bercanda saja karena dia tidak berniat sama sekali untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Dia hanya ingin membuat Erlan tertawa dan itu berhasil, tertawa yang sungguh membuat gadis itu terpanah.
Dia melihat Erlan tampak lebih manis, membuatnya buru-buru memalingkan pandangan ke arah lain.
Dari suara tawanya, terdengar jika Erlan sangat bahagia. Mungkin bahagianya laki-laki itu karena menyadari betapa lugunya Winsi sehingga orang lain bisa menilainya lemah, padahal sebenarnya dia hanya menutupi kelebihan yang dimiliki.
Kalau saja dia bisa pergi ke luar negeri pun, satu hal yang ingin Winsi lakukan, yaitu menjalankan ibadah haji ke tanah suci Kota Mekkah atau pergi ke makam Rosul di Madinah. Kedua tempat itu merupakan tempat ziarah terbaik bagi umat muslim di seluruh dunia.
Ada juga tempat pariwisata lain yang dia pilih, yaitu ingin pergi ke Cambridge Eropa, di mana terdapat sebuah masjid yang dibangun oleh kaum muslimin, setelah melakukan perjuangan lebih dari belasan tahun untuk mewujudkannya. Itu perjuangan yang luar biasa sulitnya.
Memang ada tempat-tempat lain yang begitu megah dan mewah di dunia yang bisa dijadikan tempat wisata seperti Burj Khalifa di Dubai, menara Eiffel di Prancis, Patung Liberti di Amerika juga Masjid yang fenomenal di Cordoba tetapi, dia tidak tertarik untuk pergi ke sana.
Untuk saat ini dia hanya fokus ingin mengurusi kehidupannya sendiri, hingga di kemudian hari dia tidak akan merepotkan banyak orang.
“Kamu, kapan pulang ke rumah lagi, kasih kabar ya kalau mau pulang?” Erlan berkata sambil beranjak dari duduknya.
“Kenapa harus ngasih tahu kamu? Memang kita liburnya barengan gitu?” Winsi berkata sambil mengikuti Erlan.
“Ya. Siapa tahu aku bisa pulang juga karena udah selesai.”
“Oh.”
Setelah membayar pesanan, mereka kembali ke mobil dan di saat yang sama, sebuah mobil lain berhenti tepat di belakang mobil mereka, dengan suara klakson yang ditekan terus-menerus sehingga memekakkan telinga dan, menjadi perhatian banyak orang.
Winsi dan Erlan menoleh secara bersamaan untuk melihat siapa yang ingin mencari masalah kali ini.
“Kak Erlan!” teriak Waila begitu dia membuka kaca jendela mobilnya. Anehnya, dia keluar dari pintu penumpang, padahal biasanya dia mengemudikan mobil itu sendiri.
Tak lama setelah itu, Waila pun turun. Diikuti oleh seorang pria yang tampak jauh lebih dewasa darinya. Bahkan pria itu sudah pantas jika memiliki satu atau dua orang anak.
“Kapan Kakak datang? Hum ... habis makan di cafe, ya? Kok, nggak ngajakin Waila, sih?” tanya gadis itu manja sambil bergelayut mesra di lengan Erlan tapi, laki-laki itu segera melepaskan rangkulan Waila di tangannya.
“Aku baru saja nyampe.” Erlan menjawab ketus sambil melirik pria di dekat Waila, dengan tatapan sinis.
Sementara pria itu terus menatap Winsi tak berkedip. Lalu, dia melihat layar ponsel secara bergantian dengan wajah penuh keseriusan.
“Apa kamu anaknya, Mbak Runa?”
__ADS_1
Bersambung