
Pindah Sekolah
“Kenapa kamu tanya hal seperti itu, kalian ini masih kecil tidak perlu tahu orang pacaran atau tidak, yang perlu kamu tahu pelajaran, kamu bisa ataupun aaa tidak?” Sahut Arkan. Pada dasarnya, pertanyaan Winsi itu membangkitkan kesadaran bahwa selama ini dia memang kurang memperhatikan apakah anak laki-lakinya itu memiliki kekasih atau tidak di sekolahnya.
Saat itu juga Arkan pun berpikir bahwa kemungkinan kejadian perundungan yang dialami oleh Winsi adalah karena memperebutkan laki-laki. Akan tetapi, sejenak kemudian pikirannya berubah kembali bahwa, kemungkinan kejadian itu ada hubungannya dengan masuknya kembali Winsi ke sekolah pagi ini.
“Apa ada teman-temanmu di sekolah yang mengejek atau menghinamu?”
“Soal apa, Ayah?”
“Ya ... Soal kejadian yang kamu alami di penjara?” tanya Arkan kemudian membuat Winsi mendongak menatap pria itu lalu, menggelengkan kepala.
“Tidak.” Winsi berbohong. “Bagaimana mereka bisa tahu aku pernah mengalami kejadian aneh di penjara? Itu bukan salahku, kan, Yah?”
“Bisa saja, karena guru pembimbing konseling tahu soal terapimu, lagi pula kamu membutuhkan izin guru agar kamu bisa tidak sekolah tanpa harus dikeluarkan karena itu, aku memberikan surat keterangan dokter kepada gurumu.”
Mendengar penuturan Arkan itu, Winsi sedikit menyesal dan kecewa, sebab ternyata semua orang bisa tahu tentang kabar mengenai dirinya dari surat keterangan dokter yang diberikan Arkan pada gurunya.
Akan tetapi, dia tidak bisa apa-apa, toh semua sedah terjadi. Dia hanya perlu menyiapkan mental lebih kuat untuk menghadapi perundungan atau Bulian dari teman-temannya, yang kemungkinan akan lebih parah lagi dari hari ini.
“Bilang sama Ayah kalau memang ada yang menghina atau menyakitimu, Ayah akan melakukan tindakan pada mereka.” kata Arkan bersungguh-sungguh sambil mengepalkan tinjunya ke depan wajahnya.
“Memangnya apa yang bisa Ayah lakukan kalau memang ada yang menghinaku.” Winsi berkata sambil tersenyum-senyum malu.
__ADS_1
“lebih baik kamu pindah sekolah saja, gimana kalau kamu sekolah di tempat Erlan?”
“Aku nggak mau kalau di sekolah Erlan harus bisa bahasa Inggris, aku tidak bisa bahasa Inggris.”
“Siapa yang bilang?”
“Teman-teman.”
“Haiss ... Jangan terlalu percaya omongan mereka, belum tentu yang dikatakan mereka itu bener kok. Yang sekolah di sana, kan, kita orang Indonesia bukan orang Inggris.”
“Tapi ....”
Di saat yang bersamaan ketika Winsi bicara ponsel Arkan berdering sehingga laki-laki itu pergi keluar kamar untuk menerima panggilan dari ponselnya.
Kembali ke sekolah lamanya seakan kembali ke lubang yang sama, semua yang dilakukan teman-temannya hari ini sudah cukup membuatnya begitu malu dan sengsara. Bukan soal rasa sakit tapi penghinaan dan fitnah mereka bahwa dia telah mempermalukan sekolah itu tidak bisa dia terima. Dia tidak mempermalukan dan tidak membuat nama sekolah itu buruk karena apa yang dialaminya. Dia tidak bersalah! Sudah cukup bapak saja yang selalu menyalahkan kehadiran dan kelahirannya, bahkan menganggapnya manusia haram.
Setelah Arkan selesai melakukan panggilan, dia kembali memastikan perasaan Winsi baik-baik saja. Dia meminta perawat untuk memastikan keadaan dan kondisinya hingga beberapa dokter yang bertanggung jawab akhirnya mengizinkannya pulang. Dia menuruti, tentu saja atas dorongan dan semangat dari Arkan.
Winsi menempatkan tas dan buku-bukunya dalam sebuah kantong kresek agar tidak mengotori benda dan karpet dalam mobil Arkan. Sementara hari sudah larut malam. Dia meminta Ayah palsunya itu untuk langsung membawanya pulang ke rumah sewa di mana ibunya saat ini menetap.
Perjalanan yang cukup jauh jaraknya antara rumah sakit sampai di rumah sewa ibunya, membuat winsi kemudian tertidur dengan nyenyak. Dia dibangunkan oleh Arkan ketika sudah sampai di halaman yang berbentuk seperti warung dengan rolling door di bagian depannya.
Hari sudah cukup larut malam ketika Winsi dan Arkan turun dan berdiri di depan pintu rumah sekaligus warung milik Runa. Arkan merengkuh bahu Winsi agar anak itu tetap bisa berdiri, sebab dia masih ngantuk dan juga lelah.
__ADS_1
Runa membukakan pintu setelah Arkan mengetuk pintu rolling berulang kali, sementara Winsi ada di sampingnya bersandar ke tubuh laki-laki itu dengan bergelut manja.
“Winsi?” teriaknya setengah terkejut melihat keadaan anaknya. “Kenapa kamu bisa seperti ini, Nak?” Runa berkata panik.
Dia sudah mendapatkan informasi apa yang terjadi pada anaknya dari Arkan begitu laki-laki Itu mendapatkan nomor ponselnya.
Arkan memang segera menghubungi Runa dengan mengirim banyak pesan kepadanya. Bahkan pria itu memintanya agar dia tidak kuatir karena dia sudah mengurusnya.
Akan tetapi, wanita itu tidak menyangka apabila anaknya dalam keadaan rambutnya yang terbuka tanpa tutup kepala, bahkan pakaian yang dia kenakan pun milik rumah sakit.
Melihat hal itu betapa miris hati Runa membayangkan apa yang dialami buah hatinya setelah mendapatkan kekerasan dan juga hal buruk lainnya. Begitu menerima kabar tentang perundungan anaknya, dia memasrahkan sepenuhnya kepada Arkan mempercayai laki-laki itu lalu, mensyukuri kehadirannya di tengah-tengah keluarga kecilnya.
Runa mempersilakan Arkan masuk, begitu pula dengan anak perempuannya.
“Sekarang, duduklah dan biarkan alam bekerja, sekarang kamu sudah di rumah dan kaku aman. Semua akan baik-baik saja.” Kata Arkan pada Winsi dan mendudukkan tubuhnya di kursi kayu di ruangan kosong yang ada di sebelah warung Makan Runa.
“Ibu!” panggil Winsi pada Runa, setelah duduk bersandar disakping ibunya. “Ayah mau aku pindah sekolah.”
“Ayah?”
Bersambung
__ADS_1