
Maksudku Bukan Begitu
Erlan tercengang dengan sikap Winsi yang mirip anak SD kalau sedang marah. Dia melihat raut wajah Winsi yang cemberut bahkan meliriknya dengan sinis.
Pria itu tidak tahu harus bagaimana menenangkannya atau membuat gadis itu mengerti? Dia hanya mau mengingatkan sekarang sudah waktunya Maghrib, dan dia harus segera pergi ke kamarnya. Itu saja. Dia cukup senang dengan memastikan bila Winsi baik-baik saja.
Ingin sekali bibirnya berteriak memanggil lagi namanya, saat Erlan berjalan dengan cepat menyusulnya hingga melewati loby hotel tapi, dia mengurungkan niatnya karena bayangan Winsi sudah hilang di balik lift yang kebetulan terbuka.
Setelah melihat Winsi menghilang, Erlan menghubungi ayahnya dan menanyakan di mana kamarnya tapi, begitu ponselnya tersambung, Arkan justru memarahinya.
“Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Arkan dengan suara keras dari balik ponsel.
“Tidak ada apa-apa cuma mau ketemu aja emangnya salah?”
“Salah, apa kamu mau menunjukkan kalau kamu tidak mempunyai etika, sopan santun dan kamu sama saja dengan Saina?”
“Bukan begitu Ayah, aku ....”
“Cepat ke sini sekarang! Aku sudah berjanji padanya, tidak akan memberitahumu kalau dia ikut!”
“Ayah! Kau curang!”
“Jangan membantah, sekarang sudah dekat waktu makan malam restoran, akan ramai sebentar lagi. Jadi, cepat ke sini.”
“Tidak mau, aku harus belajar sekarang saatnya aku ujian!”
“Jangan banyak alasan aku tahu jadwal kuliahmu. Jadi, jangan coba-coba menipu Ayah.”
“Tapi, Ayah ... aku cuman mau ngobrol sebentar... besok ayah sudah pulang lagi, kan?”
“Jangan jadi lelaki cengeng hanya karena perempuan, untuk apa juga ketemu? Nggak ada yang perlu kalian bicarakan?”
“Banyak, banyak yang mau aku ngomongin sama dia, gimana keadaannya, Giman ....” ucapan Erlan terhenti oleh suara ayahnya yang lebih keras dari telepon.
“Emangnya kamu belum lihat? Dia baik-baik aja, kan? Ya sudah, Ayah rasa itu cukup.”
Erlan kesal karena menganggap ayahnya tidak pengertian. Baginya Winsi bukan hanya anak angkat Arkan seorang, tapi dia juga adalah teman masa kecil, orang yang selalu bersama waktu dia masih remaja, selain itu, dia juga adik dan saudara. Apakah salah kalau hanya sekedar mengobrol saja?
Setelah menutup ponsel, akhirnya Erlan kembali ke restoran dengan sadar bila tidak mungkin bertemu dengan Winsi, apalagi ingin berbicara banyak dengannya karena anak itu terlihat marah. Dari dulu sampai sekarang mereka sering sekali salah faham.
Malam itu Arkan kembali ke hotel sudah sangat larut malam, dia sengaja tidak membangunkan anak angkatnya itu karena dia pikir, bila Winsi pasti sudah tidur.
Selama bekerja di restoran, dia mengirimkan makanan untuk Winsi melalui jasa layanan antar yang memang dimiliki oleh restoran. Arkan sengaja mendirikan usaha layanan antar itu sebagai sampingan karena restoran membutuhkan jasa untuk mengantarkan pesanan. Akhirnya dia berpikir untuk mengembangkannya, meskipun kecil, tapi tetap saja menguntungkan, selain itu, lebih memudahkan juga menambah lapangan kerja, bagi orang yang membutuhkan pekerjaan sampingan. Tentu saja masih banyak orang-orang yang membutuhkan pekerjaan seperti itu walaupun di negara maju.
__ADS_1
*****
“Beneran, kamu nggak mau tengok restoran Kakek?” tanya Arkan di pagi harinya saat dia kembali menengok Winsi di kamarnya. Anak itu sudah siap dengan pakaian rapi dan beberapa barang pun sudah dia kemas tapi dalam koper kecil miliknya.
Winsi mengangguk dengan tegas kalau dia tidak mau melihat restoran yang sudah di bangun kakek Erlan bersama seorang temannya dengan susah payah hingga bisa besar seperti sekarang.
“Kamu yakin?”
“Ya, Ayah, kita pulang saja.”
“Tapi jam keberangkatan kita masih lama, nanti sore kita baru terbang.”
“Iya, Win tahu, Ayah.”
“Gimana masakan yang dari kemarin kamu makan, apa enak?”
“Enak. Tapi bukan nasi sama sayur kayak buatan Ibu.”
“Kamu nggak mau tahu gimana makanan itu dibuat?”
Mendengar ucapan Arkan, Winsi berpikir sejenak, dia merasa lebih baik melihat sebentar, toh tidak ada salahnya belajar dan menambah wawasan. Rasanya sayang sudah menempuh perjalanan selama 14 jam dari Indonesia sampai di sini tapi, hanya berkeliling sekitar hotel.
Sesampainya di restoran nyang di maksud Arkan, Winisi di buat kagum oleh tempat yang terlihat sederhana tapi menarik dan elegan. Restoran itu berdiri di jalan yang strategis dan terkesan nyaman. Semua kalangan bisa menikmati makanan enak di sana, bahkan bila kaum jet set hendak memesan tempat pun ada area khusus bagi mereka.
Di restoran, Winis duduk di tempat yang biasa digunakan Arkan istirahat serta membaca laporan harian, pekanan, atau jika mengadakan rapat dengan para karyawan.
Dari tempat itu dia bisa menyaksikan bagaimana aktivitas restoran berlangsung, bagaimana karyawan bekerja, para pelanggan keluar masuk serta bagaimana makanan diolah. Ruang yang dia tempati terdiri dari dinding kaca di lantai dua sehingga dia bisa melihat semuanya dengan leluasa. Mungkin itulah maksudnya, mengapa tempat itu dirancang demikian karena berfungsi sebagai ruang kontrol.
Winsi ingin mengabadikan semua dengan ponselnya, tapi dia lupa jika tas kecilnya ada di meja kasir, di mana dia tadi diperkenalkan oleh Arkan kepada Mark, asistennya, dan karyawan lainnya termasuk Saina.
Gadis itu melihat sesuatu yang berubah dari Saina bahwa, wanita itu tidak lagi terlihat arogan dan sombong seperti sebelumnya. Ya, mungkin dikarenakan, latihan yang diberikan Mark atau Arkan juga karena kejadian buruk yang sudah dialaminya, membuatnya berubah. Dia bersikap lembut dan ramah pada Winsi saat menemuinya pagi ini.
Wanita itu terlihat terus tersenyum manis pada semua pelanggan, dia jujur dan bekerja giat. Gadis itu tengah menunjukkan sebuah dedikasi yang tinggi, dia ingin dinilai layak oleh Arkan dan juga Badri untuk mengelola restoran ini seorang diri, tanpa Mark Jo.
Dia benar-benar berusaha untuk kembali mendapatkan kehidupan sebelumnya yang kaya dan memiliki harta yang bisa dia nikmati sesuka hati. Oleh karena itu dia memulainya dari kesempatan yang ditawarkan oleh Keluarga Badri.
Saat itu Winsi ingin turun untuk mengambil tasnya di meja kasir, tapi, di saat yang sama Erlan datang dengan masih memakai pakaian kuliahnya, bahkan tas dan juga buku-bukunya. Gadis itu mengurungkan niatnya dan memilih melihat apa yang dilakukan lelaki itu jika direstoran.
Dari atas, Winsi bisa melihat Erlan segera menyimpan semua buku dan tas, di loker yang disediakan untuk para karyawan. Kemudian dia mengambil celemek dan bekerja seperti pelayan, sebentar-sebentar dia mengobrol dengan Arkan dan Marak yang duduk berdua di dekat meja kasir.
Ketiga orang itu sibuk membicarakan sesuatu begitu juga Saina. Lalu, kembali bekerja setelah pembicaraan selesai.
Winsi merasa lega, sebab dia melihat bahwa Arkan sama sekali tidak mengatakan keberadaan dirinya pada Erlan.
__ADS_1
Gadis itu cukup lama berdiri dan lama-kelamaan dia mulai mengantuk dan mulai tertidur di sofa yang ada di sana.
Sementara itu di depan kasir, saat Erlan tengah menyimpan nampan, sambil meneguk segelas air, dia melirik tas kecil berwarna merah yang tidak biasanya ada di sana.
‘Tas siapa itu, bukannya semua karyawan punya loker masing-masing, sembarangan saja menyimpan barang, nanti kalau hilang jadi tanggung jawab restoran, kan, repot?’ pikirnya, seraya mengambil tas dan melangkah ke dapur.
Namun, di saat yang bersamaan, Arkan memanggilnya.
“Mau kamu bawa kemana, tas itu?” tanyanya.
“Ayah, ini tidak disiplin, menyimpan barang sembarangan padahal sudah disediakan tempat.”
“Bawa ke sini!”
“Memangnya, punya siapa?”
Arkan tidak menjawab, dia hanya diam seraya mengambil tas kecil itu dari tangan anaknya dan menyimpan kembali di meja.
“Sudah, lah. Jangan terlalu keras soal kedisiplinan pada anakmu.” Kata Mark yang ada di sampingnya.
“Aku harus melatihnya, seperti Ayah melatih kita berdua, kan?”
“Ya. Kamu benar, tapi ....”
Sementara itu Erlan berpikir jika selama ini, hanya Saina pegawai perempuan di restorannya sedangkan dia tidak pernah membawa tas seperti itu, karena terkesan seperti anak kecil. Seketika Erlan menyadari sesuatu dan mendongak ke atas tempat ruang kaca berada lalu, segera melangkah ke sana.
“Mau ke mana, kamu! Ayo kerjakan tugasmu, sekarang banyak pekerjaan!” Arkan berkata dengan tegas.
“Ayah!”
“Apa? Apa kamu mau melawanku lagi? Cepat kerja, atau aku potong gaji bulananmu kali ini!” Arkan menunjukkan ekspresi wajah yang serius.
Erlan kembali berbalik badan dan berkata, “Apa Ayah membawa Wiwin kensini, dan sengaja tidak bilang padaku?”
“Ya. Jangan ganggu dia masih istirahat!”
“Silakan, potong saja gajiku Ayah! Memangnya dia kerja apa sampai harus istirahat segala?”
“Erlan!”
Bersambung
__ADS_1