Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
61. Jawaban Runa


__ADS_3

Jawaban Runa


Arkan berkata sambil mendekatkan wajahnya, tapi Runa secara spontan memundurkan kepalanya.


“Arkan, aku ....” Ucapan Runa menyiratkan bahwa perempuan itu masih ragu.


Seketika Arkan membalikkan badan menghadap ke dinding di belakangnya dan memukulkan tinju sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya berdarah.


“Sudah ada kejadian seperti ini, Runa ... tapi, kamu masih menolakku?” Arkan berkata seolah bicara pada dinding.


“Bukan begitu, Arkan ... aku tahu perasaanmu mengapa sudah selama ini kamu tetap bertahan hidup tanpa seorang pendamping, itu karena kamu sama seperti aku, belum bisa melupakan pasangan yang dulu, iya, kan?” kata Runa sambil menyimpan tas yang sedari tadi dipegangnya ke tempat tidur.


Mendengar perkataan Runa, Arkan mengepalkan jari-jemarinya lebih kuat hingga darah yang keluar pun semakin banyak.


“Ar! Tanganmu berdarah!” kata Runa sambil mencabut dua lembar tisu dari atas meja kecil dekat lemari dan, memberikan pada Arkan.


“Jangan pedulikan aku!”


Arkan berbalik dan kembali menghadap Runa lalu, berkata, “ Kalau kamu sudah tahu, tentang aku dan ingatanku? Kenapa kita tidak berusaha saling menyembuhkan?”


Runa tidak bisa menjawab, tatapan mata Arkan yang tertuju padanya, tepat menghunjam ke arah jantung hingga membuatnya seakan berhenti berdetak.


Pria itu tidak memedulikan tangannya yang terluka bahkan seolah tidak terasa sakit.


“Cepat, ganti bajumu!” kata Arkan lagi sambil melirik ke arah tiga pria yang mulai bergerak karena salah satu di antara mereka ada yang sudah sadar.


Runa menyambar salah satu gamis terbaik dari lemari pakaian dan, berlari menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya di sana, dia tidak mungkin melakukan di kamar karena tempat itu sudah tidak lagi berpintu.


Sementara itu, ada seorang pembeli berdiri kaku di depan warung demi melihat tiga orang pria kekar terikat kencang dan tergeletak di lantai. Arkan mendekat dengan perlahan, memanfaatkan keadaan.


Orang itu menanyakan Runa tapi, Arkan justru bertanya tentang kantor polisi, membuat pelanggan itu sedikit curiga.


“Kalau kantor polisi, kan, dekat dari sini, Pak,” kata pelanggan itu.


“Kalau rumah Pak RT, jauh dekat dari sini?”


“Saya, RT, di sini.” Orang itu menjawab dengan tegas.


“Oh, kebetulan sekali,” kata Erlan seraya tersenyum lalu, menceritakan tentang semua hal yang terjadi pada ketiga orang yang terikat di lantai, kecuali soal usaha menganiaya Runa. Pria itu hanya mengatakan bahwa, mereka akan merampok warung dan uang. Dia berpikir lebih baik mengakuinya begitu karena memikirkan kehormatan wanita yang dicintainya.

__ADS_1


Setelah mendengar cerita Arkan, Pak RT menghubungi seseorang dan juga polisi. Semua orang yang ditelepon tadi, berdatangan beberapa lama setelah panggilan berakhir sehingga suasana warung menjadi lebih ramai. Kebetulan saat itu Runa telah selesai mandi dan mengganti pakaian.


Runa tidak menyangka bila kejadian yang dialaminya, akan ditangani secepat itu dan ketika seorang polisi mewawancarainya, Arkan membisikkan sesuatu agar dia tidak perlu menceritakan tentang usaha pemaksaan kehendak pada, demi memudahkan penyelidikan, menjaga nama baik serta kehormatannya.


Wanita itumpun setuju dan ceritakan hal yang bsama persis dengan penuturan Arkan. Dengan demikian, semua proses wawancara singkat itu selesai dengan cepat lalu, ketiga orang perampok pun di gelandang ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


“Lalu, Anda ini siapanya Mbak Runa?” tanya Pak RT pada Arkan setelah wawancara selesai.


“Dia calon suami saya, Pak!” Runa menjawab dengan cepat sebelum Arkan sempat menjawab, membuat ujung bibir pria itu berkedut hingga menyunggingkan senyum samar di sana.


“Oh, Mbak Runa sudah punya calon rupanya.” Pak RT menyahut sambil tersenyum dan mengangguk ramah pada Arkan. Dia kagum pada pria, yang menurutnya luar biasa, bisa melumpuhkan tiga perampok itu sendirian.


“Ya.” Runa kembali menyahut dengan tenang.


Sebenarnya Arkan ingin membiarkan ketiga pria mengenaskan itu begitu saja, di dalam rumah dan membawa Runa pergi. Akan tetapi, tidak menyangka bahwa yang datang memergokinya adalah seorang pembeli yang ternyata salah satu aparat desa setempat, membuatnya harus berkata terus terang.


Setelah para aparat dan perampok pergi, masih ada beberapa orang yang berkumpul di sana, termasuk di antara mereka, ada ibu-ibu yang sibuk menggosipkan kejadiannya.


“Jadi, Mbak Runa mau tetap tinggal di sini, atau mau ikut calon suami?” tanya salah satu dari para ibu.


“Ikut saya, Bu!” Arkan menjawab dengan cepat sebelum Runa sempat menjawab, membuat wanita itu menghela napas berat.


“Ya, Bu. Doakan saya, ya?”


“Ya, Mbak! Selamat ya sudah dapat jodoh!”


“Ya. Alhamdulillah tapi, belum tentu, kan, masih calon.”


“Sudah Mbak Runa, cepat nikah saja, keburu di ambil orang!”


“Ibu-ibu bisa bantu saya?” Arkan mencoba memutuskan obrolan tak berguna itu dengan lembut dia meminta Runa mengikutinya dan berdiskusi soal semua barang dagangan, serta isi rumahnya.


Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya mereka menemukan kesepakatan, bahwa Runa akan meninggalkan rumah sewa, mengembalikannya pada pemiliknya, membagikan semua barang termasuk dagangannya dan ikut tinggal di rumah besar. Arkan yang memaksanya pindah ke sana demi keamanan.


Kemudian Runa meminta bantuan pada ibu-ibu yang masih betah, untuk membagikan semua isi warung termasuk, pakaian bekasnya, juga beberapa benda lain yang tidak mungkin dia bawa ke rumah besar.


Beberapa orang yang ada di sana pun dengan senang hati membantu, bahkan menerima semua baju bekas Runa dan Winsi yang walaupun pudar warnanya tapi, tetap layak pakai.


“Silahkan di pilih saja ya Bu Ibu, mana yang masih baik, kalau tidak ya, buang saja atau jadikan keset!” kata Runa.

__ADS_1


“Mbak Runa, terima kasih, nanti akan kami pilah-pilih lagi.” Bu RT yang menyahut.


“Maaf, ini sudah jelek.”


“Gitu, ya, Mbak ... kadang ya Mbak, kita menganggap apa yang kita miliki sudah tidak berguna lagi tapi, belum tentu buat orang lain. Kadang juga, kita menganggap buruk sesuatu tapi, belum tentu buruk pula bagi orang lain.”


Runa tersenyum menanggapi ucapan Bu RT itu, dia kembali menarik sebuah pelajaran hidup, yaitu sebuah pelajaran yang tidak hanya di dapat dari para guru, ustad, dosen atau siapa pun kecuali dengan hikmah yang di ambil dari pengalaman berharga setiap insan dan itu tidak pernah sama.


Lebih dari lima jam sudah mereka mengemas semua barang, dan membagikannya, dengan berat hati Runa melepas semua benda termasuk televisi, lemari es dan tempat tidur, serta lemari pakaian. Semula dia ingin melelangnya, tapi, kemudian dia berpikir kalau lebih baik memberikannya saja pada orang yang lebih membutuhkan. Dalam hati kecilnya masih sayang, walau semua barang itu tidak bisa disebut bagus, tetap saja masih bisa digunakan dan sangat layak pakai.


“Apa itu?” tanya Arkan saat Runa mengemas beberapa barang terakhir ke dalam sebuah kardus.


“Makanan.” Sahut Runa singkat.


Itu adalah beberapa bungkus camilan yang besok akan dia bawa menjenguk anaknya di pesantren. Mereka sudah berjanji sebelumnya, akan bertemu di akhir pekan, melalui telepon seorang pembimbing asrama. Semua yang Runa bungkus itu adalah makanan kesukaan Winsi, keripik singkong, kentang goreng, makaroni pedas dan abon ayam. Semua terdiri dari beberapa kantong ukuran sedang, siap di bagikan ke semua penghuni kamar asrama yang berjumlah sepuluh orang.


“Kalau begitu biar aku besok yang nganter kamu ke sana. Aku juga mau ketemu sama anakku lagi.”


“Nggak usah, aku mau bareng sama ibunya Nia.”


“Siapa Nia?”


“Teman Wiwin.”


“Oh. Ya, sudah, ajak bareng saja sekalian.”


“Nggak perlu, nanti merepotkan.”


“Memangnya ada yang lebih repot dari hari ini?”


Hari ini adalah hari yang lebih repot serta berat dari sebelumnya, Arkan sudah dalam perjalanan ke tempat usahanya, tapi akhirnya dia justru berkutat dengan urusan Runa sampai hari ini. Bukan hanya keringat dan tenaga, tapi juga otak dan hatinya semua dia berikan untuk Runa.


Runa mengalihkan pandangannya dari kardus besar ke wajah Arkan, lalu, dengan lembut dia berkata, “Maaf ... dan terima kasih.”


“Tidak perlu. Ayo!” Arkan menyahut sambil meraih kardus yang sudah diikat rapi dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Di dalam sana sudah penuh barang-barang Runa dan Winsi yang masih bagus dan berharga.


Arkan mampu mengganti semua barang-barang juga pakaian itu dengan yang lebih bagus dan mahal, tetapi dia tidak melakukannya karena tidak mungkin memaksakan kehendaknya terus menerus pada Runa. Ketika sampai di rumah nanti pun pria itu akan membiarkannya memilih dan tinggal di kamar mana pun yang dia sukai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2