
Beratnya Rasa Kehilanganmu
Setelah selesai melakukan sholat magrib, Winsi memilih tidak langsung pulang ke rumah. Dia duduk di teras masjid, sambil memeluk lututnya sendiri dengan dagu bertumpu di atasnya. Erlan duduk tak jauh dari sisinya setelah tahu gadis itu diam dia sana.
“Lan,” kata Winsi tiba-tiba tanpa menoleh ke arahnya, seolah sudah tahu jika yang duduk di sebelahnya adalah Erlan.
“Hmm,” sahut Erlan sambil memakai sepatunya.
“Sekarang kita bukan siapa-siapa lagi, ya? Kayak dulu lagi.”
Erlan menghentikan gerakannya sambil menoleh, secara bersamaan dengan Winsi yang juga melihat ke arahnya.
“Apa maksudmu? Kita kan punya Zidan, dia itu, adik kita berdua, Win!”
“Ah!” Winsi mendesah pelan sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. “Tetap saja kita bukan siapa-siapa, Lan. Walaupun, Ayah pernah bilang agar aku tetap menjaga diri dan keutuhan keluarga, tapi aku nggak tahu, keluarga yang mana sih, yang Ayah maksud?”
“Ya, keluarga kitalah, memangnya kamu punya keluarga yang lain selain Ibu Jiddan sama aku?”
“Ada, aku kan, punya Bapak. Tapi aku nggak mau jaga keutuhan keluarga Bapak yang itu!”
“Terus, kamu mau ke mana habis ini?”
“Jadi mahasiswi lagi, dong. Pulang ke Jogja. Aku benar-benar bebas sekarang.” Winsi berkata dengan satu atau dua tetes air mata.
“Kamu ini, Win. Memangnya kenapa sih pikiranmu itu selalu mau bebas, apa sih arti bebas sebenarnya bagi manusia itu?”
Winsi menoleh kesal dia tidak tahu apa yang menyebabkan Erlan berkata begitu, apa dia merasa terkurung sekarang karena harus menjalankan bisnis ayahnya secara terpaksa? Aneh. Batin Winsi.
“Eh, kenapa kamu marah, Lan? Bebas versiku mungkin beda beri sama kamu. Kamu harus lebih sabar dari aku Lan, kamu harus jalani semua amanah Ayah mulai dari sekarang.”
__ADS_1
“Kamu nggak punya niat buat bantu aku di sini?”
“Bantu apa? Aku belum punya ijazah sarjana, apa aku pantas?”
Sebenarnya mempelajari bisnis seperti itu bisa secara mandiri asal mau bekerja keras dan berdedikasi tinggi. Tidak perlu ijazah untuk sementara waktu karena bagi perusahaan keluarga, hal formalitas memang diperlukan tapi, bukanlah keharusan.
“Ya, sudah. Selesaikan dulu kuliahmu.”
Memangnya dia bisa apa, pikir Winsi, dirinya belum memiliki keahlian apa-apa agar dinilai sepadan berdiri di sisi Erlan untuk membantunya menjalankan bisnis keluarga.
Setelah itu mereka pulang dengan berjalan kaki, tanpa bicara seperti sebelumnya hingga sampai di rumah, hari sudah menjelang malam.
Bukankah setiap takdir punya jalannya sendiri, jalan apa yang akan mereka lalui setelah kepergian Arkan? Antara Winsi dan Erlan tidak lagi memiliki rasa ketertarikan karena mereka lebih memilih jalan yang mereka inginkan dari pada keinginan dari Runa sebelumnya yang ingin menjodohkan mereka.
Sebelum pulang ke tanah air, Arkan terus menanamkan dalam diri anaknya, agar mampu dan bertekad untuk menikahi Hanifah secepat mungkin, begitu dia lulus dari kuliahnya. Sebenarnya maksud pria itu baik. Dia hanya ingin menjaga harga diri Erlan sekaligus menjaga harga diri wanita itu juga. Apalagi Hanifah adalah anak yatim piatu yang apabila dinikahi dengan penuh tanggung jawab dan keadilan, maka, pahala yang besar akan didapatkan oleh sang suami di akhirat nanti.
Keputusan Arkan, disambut dengan baik oleh Erlan setelah melihat gejala yang ditunjukkan oleh Hanifah akhir-akhir ini. Dia akan kembali trauma jika menemui atau mendengar segala sesuatu yang mengejutkan.
Keluarga dan saudaranya menolak menerima tanggung jawab itu karena tahu beratnya resiko yang harus mereka tanggung. Oleh karena itu dengan segenap hati dan tulus Erlan pun menikahinya.
Sejak saat itu dia sedikit demi sedikit mencoba mengikis rasa di hatinya, yang pernah ada pada Winsi.
Ketika mereka sudah tiba di rumah, Winsi langsung mencari ibunya dan hanya melihat pada keadaan sekitar yang sudah mulai sepi. Walaupun masih ada beberapa sanak famili yang menginap, tapi mereka tidak begitu peduli dengan Runa atau pun Winsi. Tiba-tiba hatinya menjadi asing berada di rumah itu tanpa ayahnya lagi.
Winsi menghampiri ibunya yang sudah tertidur sambil memeluk Jiddan, masih ada sisa air di sudut mata yang terpejam. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa, seolah dalam sehari wajah manis itu sudah tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
Seberat itukah mengikhlaskan orang yang kita cintai itu pergi? Winsi tidak tahu sedalam apa rasa cinta ibunya pada ayahnya yang telah tiada. Namun, dia tahu bila Arkan adalah pengobat luka, penawar derita dari pernikahan sebelumnya.
Kasih sayang yang Arkan berikan pada diri dan ibunya sulit untuk dibandingkan dengan kasih sayang manusia lainnya yang pernah baik pada mereka. Jadi, wajar bila kehilangan Arkan seperti kehilangan separuh dunia bagi ibunya, apalagi suami merupakan belahan nyawa dalam hidup seorang istri.
__ADS_1
“Ibu ... Ayah orang baik, makanya Allah memanggilnya lebih dulu dari kita, Ibu tidak heran, kan, kalau orang baik lebih disayang Tuhan?” Winsi berbisik lembut sambil mengusap lembut wajah Runa yang tampak sedikit pucat, lalu dia pun pergi untuk tidur menyusul ke alam mimpi dan berharap bertemu dengan Arkan di sana.
*****
Keesokan harinya, Winsi dan Runa bangun dari tidur secara bersamaan, dua wanita itu tidak bisa tidur nyenyak karena hati masih bimbang dan keadaan dan pikiran mereka masih dipenuhi rasa kehilangan dan kesediaan yang begitu dalam.
Tanpa saling bicara, mereka melakukan sholat subuh bersama dan setelah itu sama-sama menengadahkan tangan dan berdoa, mendoakan orang yang sama dengan doa dan amin yang sama.
Selesai berdoa, Winsi memeluk ibunya dengan erat dan mencium pipinya.
“Ibu, Sabari semua kenyataan perginya Ayah, ya? Jangan banyak nangis sama sedih lagi. Yakin Ayah baik-baik saja tanpa kita.” Winsi berkata sambil melipat mukena, tapi, Runa tidak merespons dia masih duduk bersimpuh menghadap kiblat.
“Ibu....!”
“Hmm ....” Sahut Runa pelan dan enggan.
Seorang istri yang kehilangan suaminya meninggal dunia itu, ibarat orang yang hidup enggan mati tak mau.
“Maaf, aku kemarin datangnya telat, masih untung bisa lihat wajah Ayah.”
“Iya ... nggak apa-apa ... Doakan saja Ayahmu. Kita sama-sama kehilangan Ayahmu, tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengikhlaskan.”
“Ingat, ibu harus jaga diri di sini, Wiwin nggak bisa lama-lama, soalnya besok sudah mulai ujian. Jadi, hari ini mau balik lagi ke Yogyakarta!”
“Ibu, ikut kamu saja, ya Nak!”
“Apa?”
“Iya, Ibu mau ikut Sama kamu saja, nggak enak Ibu di sini sama saudara-saudara Ayahmu. Mereka melihat Ibu sebelah mata, apalagi kita baru sebentar jadi bagian dari keluarga.”
__ADS_1
Winsi pun merasakan hal yang sama, tapi logikanya masih waras hingga dia tidak serta merta mengiyakan permintaan ibunya. Walaupun, dia sangat senang kalau Runa ikut bersamanya sebab itu artinya, dia tidak harus dijodohkan dengan pria yang dulu selalu memanggilnya Anak Buluk!
Bersambung