
Melihat Sebuah Kenyataan
“Benar apanya?” tanya Winsi, membuat Erlan mengerutkan alis.
“Memaafkan aku?”
“Maaf untuk kesalahan yang mana? Kesalahanmu itu banyak, Lan!” berkata sambil memundurkan langkahnya.
“Baik, kalau menurutmu banyak, katakan saja! Tapi, aku mau kamu tahu satu hal ...
“
“Hmm....”
“Aku tidak pernah berniat atau sengaja menyakitimu, kalau memang kamu sekarang merasa sakit hati karena perbuatanku yang, menurutmu bohong, maka aku minta maaf!”
“Kamu pikir memaafkan itu mudah? Memaafkan itu tidak semudah memintanya!”
“ya, ya, aku bisa memahami itu, kalau kamu belum bisa memaafkan aku sekarang .... baiklah, aku nggak akan menuntutmu.”
‘’Ya, sudah kalau begitu, keluar sana!” Winsi berkata seraya melepaskan diri dari pelukan suaminya.
“Win ...,” kaya Erlan tapi Winsi tak menyahut karena sibuk memilih pakaian yang akan dia kenakan.
“Wiwin!” panggil Erlan sambil memeluknya dari belakang
“Apa? Lepasin, ih!”
“Aku mencintaimu!”
Seketika Winsi berbalik badan, melepaskan tangan Erlan dari pinggangnya dan berkata, “Bohong! Kalau memang cinta, kamu nggak akan memeluk wanita lain selain aku, Lan!”
“Eh, tapi itu Cuma--”
“Cuma apa? Cuma alasan, kan? Terus kamu mau aku memaklumi semua yang kamu lakukan itu, tanpa balasan apa pun, gitu? Allah saja yang Maha pemaaf, menyiapkan neraka sebagai balasan untuk hambanya yang bersalah?”
“Win, jangan menggunakan Allah sebagai perbandingan dengan sikap manusia!”
“Nah, apalagi aku manusia biasa, aku memang bodoh karena nggak ngerti kamu ini orang seperti apa! Ya, aku memang lemah karena bisanya Cuma marah. Aku memang bukan orang yang sabar karena aku nggak kuat lihat kamu sama perempuan lain!”
Kini Winsi tahu bagaimana perasaan Runa saat dahulu melihat Basri—suaminya membawa wanita lain ke rumah mereka. Air matanya kembali mengalir. Gadis itu kembali berkata, “Lan, katanya sabar itu ada batasnya, tapi, aku nggak tahu batas sabar itu yang seperti apa, bagi aku ... aku ini sudah sabar banget waktu kecil nggak pernah di sayang sama Bapak!”
“Win ...!”
“Lan ... Cuman Ayah yang ngasih tahu aku seharusnya cinta seorang Ayah itu, seperti caranya menyayangiku, tapi, Ayah justru pergi secepat itu, aku pikir aku udah sabar banget menerima semuanya!”
__ADS_1
“Win ....!”
“Terus, kamu, Lan! Sekarang kamu selama ini udah sering bergaul satu rumah dengan perempuan lain, tapi masih berani nikahin aku?”
“Maaf ....!”
“Kamu tahu, Lan, perasaan aku waktu lihat kamu sama wanita itu, aku nggak nyangka kalau laki-laki yang diceritain Tania itu, kamu!”
“Maaf ....!”
“Terus, kenapa kamu nggak jujur waktu itu, sebelum kita nikah, biar aku bisa milih ... ya, paling tidak, aku masih merasa kalau kamu itu hargai aku, Lan!”
Winsi berhenti sejenak sekedar mengusap air matanya dan menarik napas dalam.
“Tapi, sekarang aku tahu, perempuan kayak aku, memang nggak pantes buat di sayang dan dicintai, nggak layak jadi perempuan satu-satunya buat seorang laki-laki. Nggak! Iya, kan?”
Winsi merasa jika dirinya adalah wanita yang tidak berarti suaminya sehingga sang suami tega menyakitinya sedemikian rupa.
“Besok ikut aku, ke rumah Hanifa dan lihat keadaannya. Setelah itu kamu bisa menilai apa yang aku lakukan salah atau tidak.”
“Nggak perlu!”
“Kalau begitu, pakai bajumu, nanti kita makan di luar! Aku mau cerita sedikit tentang aku dan dia.”
“Nggak mau!”
“Terserah!”
Erlan tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi istrinya, karena cobaan ini adalah untuk pertama kalinya bagi pria yang menikah di usia muda seperti dirinya.
Pria itu masuk ke kamarnya dalam keadaan gamang, walaupun ada Runa di ruang tengah, dia tidak mungkin mengganggu ibu mertuanya itu. Sebenarnya, dengan bantuan wanita itu, pasti masalahnya dengan Winsi akan bisa dengan mudah diatasi. Namun, jika dia melakukannya, istrinya akan semakin marah padanya.
“Ayah, seandainya kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan agar Wiwin tidak pergi? Apa aku harus menyerahkan Hanifa ke rumah sakit jiwa? Tapi, bagaimana dengan janjiku dan keluarganya?”
Erlan duduk di kursi dekat jendela kamarnya, dia melihat sekeliling tempat yang sudah dia rubah posisinya demi Winsi bisa betah tidur di sana, bahkan beberapa perlengkapan wanita itu masih ada di sana, namun, sekarang dia harus tidur sendiri lagi malam ini. Sampai kapan dia harus bersabar dalam menghadapi masalahnya kali ini?
Dia pernah menghadapi masalah yang cukup runyam saat mengawasi Sania belajar di Amsterdam waktu itu, sementara dia sendiri harus menghadapi ujian di universitas. Akan tetapi masalah itu tidak melibatkan hati, melainkan hanya soal ketekunan saja. Sementara saat ini, masalahnya justru soal hati.
Di kamar lain, ada seorang wanita yang tengah kecewa, dia melihat ke foto Arkan yang tengah berdiri bersamanya di depan sekolah, saat kelulusannya dari pesantren waktu itu. Dia meraba gambar itu sambil menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.
Tetasan air mata yang mungkin tidak akan berhenti kecuali bahagia yang menghapusnya. Bukankah kesedihan tidak akan bertahan terlalu lama, seperti halnya kebahagiaan tidak akan selamanya.
Terkadang kebahagiaan menghampiri seseorang karena memang sudah waktunya dia tertawa. Kesedihan pun akan tiba masanya mendatangi seseorang yang memang pantas merasakannya.
“Apa yang akan kau lakukan pada aku dan Erlan, kalau Ayah masih hidup? Apa yang akan kau katakan, Ayah? Kau pasti akan memeluk ku, kan, Ayah, lalu memarahi Erlan karena menduakan istrinya itu. Ya, apa Ayah tahu, Erlan sebenarnya sudah menikah dengan Hanifa!”
Winsi mengutarakan isi hatinya seorang diri, sebelum akhirnya dia terlelap.
__ADS_1
*****
Winsi sudah berniat pergi ke rumah Hanifa sepulang dari kuliah hari itu. Dia merasa harus segera membereskan urusannya dengan Erlan, setelah selesai sholat tadi malam dia mengutarakannya pada sang Maha pendengar. Selain karena penasaran karena jiwa kewanitaannya yang sudah sekian lama dia redam, tapi juga karena dia tidak boleh egois membiarkan hatinya sendiri terus terluka.
Erlan benar, setelah Winsi melihat sendiri dan mendengar ceritanya dari awal, maka dia baru bisa menentukan keputusan apa yang, akan dia ambil selanjutnya. Apakah akan tetap bertahan atau mengakhirinya hingga hubungan di antara mereka selesai.
Namun, setibanya dia dibelikan jalan menuju arah rumah Hanifa, dia melihat Mery baru saja melintas dia sisinya hingga Winsi menghentikan laju kendaraannya secara spontan.
“Wiwin, kamu di sini? Mau ke mana?” tanya Mery setelah menepikan motor di dekat Winsi dan membuka helmnya.
“Nggak ke mana-mana, lagi pengen jalan-jalan aja di sini,” jawab Winsi sambil melepas helmnya juga.
“Win, please, deh. Jangan ke arah rumah Hanifa!” Meri berkata sambil menunjukkan kepanikan di wajahnya.
“Kenapa memangnya?”
“Oh, nggak kenapa-kenapa sih, Cuma aku nggak mau kalau kamu ke arah sana, ada yang nggak enak dilihat di sana!”
“Karena ada Erlan, bukan?” kata Winsi sambil memalingkan muka dan tersenyum tipis.
Mery tampak tercengang dan berkata, “Win, kamu sudah tahu?”
Winsi mengangguk.
“Terus, kamu nggak marah? Kamu tahu sejak kapan? Apa waktu kamu nikah sama dia, kamu udah tahu? Terus kalau kamu udah tahu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Hai! Tanya itu satu-satu, dong! Ayo kita ke warung es itu, aku pengin tahu soal Erlan dari kamu!”
Kedua wanita itu menuntun motor ke arah warung es kelapa muda yang tidak jauh dari mereka. Di sana, Mery menceritakan jika dia tahu tentang siapa suami Hanifa, sejak kemarin. Dia secara kebetulan mengantarkan Tania pulang dan saat itu pula, dia melihat Erlan turun dari mobilnya dan, memasuki rumah itu dengan leluasa.
Tania pun mengatakan jika Erlan adalah, suami dari Hanifa yang dia maksudkan selama ini. Setelah Mery melihat laki-laki itu kemarin, barulah dia tahu jika suami tetangganya yang gila itu, adalah pria yang sama yang menjadi suami dari Winsi. Kemudian cerita-cerita tentang Hanifa dan keluarganya pun, mengalir begitu saja dari mulutnya tanpa diminta.
“Maaf, aku pikir kamu belum tahu, Win!” kata Meri sambil menyeruput es kelapa muda dari gelasnya menggunakan sedotan.
“Nggak apa, kamu nggak salah, kok!”
“Kamu udah lama tahu soal itu?”
“Ya. Bisa dibilang begitu.”
“Terus, kamu mau di poligami sama perempuan gila itu?”
Bersambung
Bersambung
__ADS_1