Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
53. Putus Asa


__ADS_3

Putus Asa


Winsi melihat gerak-gerik mencurigakan dari Saina. Perempuan itu sedang membuat secangkir kopi tetapi, wajahnya terlihat begitu pucat dan selalu menengok ke kanan kiri serta sekitarnya. Sementara gadis kecil itu bersembunyi di balik sebuah bufet yang menjadi tempat peralatan dapur, dari balik tempat itu dia bisa melihat apa yang dilakukan Saina dengan sangat jelas.


Kecurigaan Winsi muncul pada Saina, bahwa wanita itu akan berbuat sesuatu yang buruk pada Ayahnya, karena di halaman tadi, terlihat mobil Arkan sudah terparkir dengan rapi, menandakan laki-laki itu sudah ada di rumah.


Gadis itu memang tidak melihat keberadaan Ayah angkatnya di ruang tamu dan tengah, kemungkinan Arkan sedang berada di ruang kerjanya. Tidak biasanya laki-laki itu sudah pulang di sore hari karena biasanya  dia akan pulang ketika menjelang magrib.


Winsy memusatkan pada apa yang dilakukan Saina tapi, ujung matanya melihat gerakan lain di seberang tembok. Rupanya Erlan yang berjalan dari arah pintu belakang, laki-laki itu juga sedang mengintip dan melihat apa yang dilakukan Saina di meja dapur.


Winsi semakin heran dengan ke mana perginya Bi Neni yang selama ini selalu siap sedia apabila tuannya ada di rumah. Wanita paruh baya itu akan selalu berada tidak jauh dari ruang tengah ataupun dapur.  Akan tetapi, saat dia melewati ruangan itu dia pun tidak melihat Bi Neni ada di sana.


Sebelum Saina melancarkan aksinya, dia meminta Bi Neni untuk mematik beberapa tangkai bunga di halaman. Dia ingin menghias dan meletakkan bunga di kamarnya. Ah, pantas saja wanita setengah baya itu tidak ada, karena wanita itu sedang sibuk mencari bunga hias yang diminta oleh Saina.


Saina mengambil sebuah serbuk yang sudah dia siapkan dari saku bajunya, sementara dia berpikir bahwa, sudah sangat lama berada di rumah besar dan segala trik sudah dia lakukan untuk menarik Arkan berada dalam kehangatannya tetapi, dia tidak pernah beberhasil


Sebenarnya kekuatan macam apa yang dimiliki Arkan untuk tidak tergoda oleh wanita seperti dirinya? Dia begitu sempurna, canti,  pintar, memiliki uang dan tubuhnya juga tergolong aduhai.


Saiina putus asa, dia ingin melibatkan tubuhnya saat ini, dia rela apabila Arkan melakukan sesuatu padanya sampai dia hamil karena pengaruh obat yang akan dia berikan. Dia sudah siap menanggung segala resikonya apabila laki-laki itu menyalahkannya. Tentu saja dia akan menggunakan cara itu.


 Bahkan dia rela hingga menggunakan cara keji seperti itu dan, rela mengandung anak Arkan nantinya, walaupun, pria itu tidak mencintainya. Dia tidak peduli karena yang penting keinginannya untuk menjadi istrinya dan menjadi Nyonya di rumah besar itu sudah terwujud.


Saina menaburkan bubuk mencurigakan berwarna putih ke dalam secangkir kopi yang dia berikan untuk Arkan. Semua yang dilakukan wanita itu, terlihat dengan jelas oleh Winsi. Akan tetapi, tidak terlihat dengan jelas oleh Erlan sebab, anak laki-laki itu melihatnya dari arah belakang.


Setelah selesai membuat kopi, Saina berjalan ke ruang kerja Arkan, dengan santai dan tenang, di bibirnya tersungging senyuman tipis. Dia mempunyai niat buruk.


Pada saat yang sama, Erlan keluar dari persembunyiannya. dia tanpa sengaja menyenggol sebuah benda hingga terjatuh hingga menimbulkan suara gaduh dan, mengagetkan Winsi. Gadis itu khawatir bila aksi mereka ketahuan oleh Saian. Maka, dia segera menaruh jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat pada Erlan untuk diam dan tenang.


Dua anak remaja itu saling bertatapan penuh arti mereka berdua sama-sama menangkap sesuatu yang mencurigakan!


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Erlan sambil berbisik.


“Seharusnya, aku yang tanya begitu, buat apa kamu di sini lewat pintu belakang?” Winsi pun berkata sambil berbisik.


 Lalu, tanpa meminta persetujuan pada Erlan, Winsi mengikuti ke mana Sania pergi.

__ADS_1


Saat Sania hendak menghidangkan minuman itu di meja Arkan, dengan cepat Winsi berlari mendekat ke arah perempuan itu sambil memanggil ayahnya.


“Ayaaah ...!” teriak Winsi sambil merentangkan kedua tangannya dan dengan sengaja dia menabrak Saina hingga minuman yang berada di tangan wanita itu pun tumpah ke lantai.


Bukan hanya isinya tapi juga beserta gelasnya ikut terjatuh, membuat suara dentingan keras di atas lantai ruang kerja kitu kotor. Saat minuman itu menyentuh lantai marmer, terlihat ada sedikit busa yang mengambang di atas cairan hitam itu. Membuat Winsi beepikir tidak salah lagi berarti memang minuman itu sudah tercampur sesuatu yang membahayakan. Winsi merasa lega karena misinya menggagalkan keinginan Shaina sudah terwujud,


Winsi tersenyum menyeringai sambil berkata. “Maaf, Tante, aku nggak sengaja.” Kata Winsi penuh dengan permohonan dia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Kamu? Nggak sopan kamu, ya?” tanya Sania.


Sementara Arkan terkejut, dia melihat hal yang sama, jika kopi yang tertumpah itu mengandung zat berbahaya, karena terdapat buih bisa di atasnya.


Erlan pun melihat semuanya dari dekat pintu kamar kerja. Pria remaja itu tersenyum penuh arti. Dia juga melihat hal yang mencurigakan sejak dia melihat Bi Neni memetik bunga di halaman dengan alasan disuruh Sania. Hal ini menunjukkan keanehan sebab selama ini Bi Neni tidak pernah melakukan pekerjaan ini karena itu adalah tugas Anas, untuk memetik bunga yang tumbuh subur di halaman rumah lalu, menyimpannya di beberapa vas.


Oleh sebab itu dia berjalan ke dapur serta melihat gelagat Saina yang mencurigakan, dia tidak menyangka jika Winsi melakukan hal yang sama dan mengagalkan niat buruk Saina dengan caranya sendiri tanpa kompromi.


“Maaf, Tante. Saya nggak sengaja!”


“Apanya yang nggak sengaja, dasar sial!” Sania mengeluh penuh penyesalan sekaligus amarah karena niatnya gagal lagi.


Dia kali ini ingin menguasai Arkan sepenuhnya dengan menggunakan cara menaburkan obat perangsang karena dia pikir inilah satu-satunya. Sayangnya dia hanya memiliki serbuk itu satu bungkus saja. Dia berpikir tidak akan ada yang mencegahnya usahanya pasti sukses. Bahkan Winsi, gadis yang membawa sial baginya sudah pergi dari rumah. Dia benar-benar tidak tahu kalau anak itu ada di sini hari ini oleh karena itu dia menatap tajam gadis di hadapannya yang sedang meminta maaf penuh permohonan. Tatapan Saina begitu tajam seperti ribuan pedang terhunus dan bisa membuat Winsi terbunuh saat itu juga.


Mendengar ucapan Arkan Qinsi langsung melihat ke arah laki-laki itu dengan tatapan heran begitu juga Sania.


Erlan pun tiba-tiba masuk dan kini berada di antara Saina dan Winsi. Pria remaja itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya lalu berkata. “Ayah tahu apa yang dilakukan tante Saina?” katanya sambil menatap bergantian antara Saina dan ayahnya.


Arkan mengangguk, tetap dalam posisinya, dia masih sama duduk di kursi kerjanya sambil bersandar melihat ketiga orang yang berdiri secara berjajar di sampingnya.


“Ya, aku tahu barusan!” kata akar sambil melihat ke arah lantai di mana kopi yang akan dihidangkan untuknya tumpah berserakan.


“Memangnya apa yang kamu tahu aku tidak melakukan apa-apa!” kata Saina dengan wajah yang pucat dan terlihat panik.


“Memangnya siapa yang bilang kamu melakukan apa-apa?” kata Arkan dengan jebakan yang pas untuk Saina secara tidak sengaja mengakui perbuatannya bahwa dia melakukan sesuatu.


“Ayah, Maaf gara-gara aku minuman untuk Ayah jadi tumpah....” anak itu masih saja terlihat pura-pura polos padahal dia sudah tahu perbuatan Saina, membuat Erlan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Sementara Arkan berdiri lalu, menepuk kepalanya lembut.


“Tidak apa-apa, Ayah malah seneng kamu ada di sini numpahin minuman itu. Kamu sudah lama ada di sini ... mau menginap lagi atau cuma main aja?” Arkan terlihat tenang Bahkan dia mengabaikan Saina seolah-olah apa yang dilakukannya bukan apa-apa dan sangat mensyukuri kehadiran Winsi di sisinya.


Perkataan Arkan sudah menyiratkan semuanya bahwa, dia tahu apa yang dilakukan Saina adalah untuk meracuni hati dan pikirannya. Wanita itu tidak mungkin berniat membunuhnya karena dia tahu Wanita itu sangat mencintainya.


Arkan tidak menduga jika perempuan itu sudah bertekad begitu jauh hanya untuk meluluhkan hatinya, justru dia semakin tidak suka. Sebab Dia paling benci dengan orang-orang yang melakukan perbuatan keji hanya untuk memperturutkan keinginan sesaat saja.


“Aku cuma mau main saja, Ayah, sebentar lagi aku pulang,” kata Winsi.


“Kenapa pulang nginep saja di sini.” Akan berkata sambil berjalan, dia merangkum bahu Winsi dan menuntunnya keluar ruang kerja.


“Aku belum pamit pada ibu.” Winisi berkata dengan wajah yang ditekuk ia mengikuti langkah Arkan menuju ruang tengah. Diikuti Erlan di belakangnya sementara Saina masih tertegun di ruang yang sama.


“Kenapa repot-repot, telepon saja dia ... aku sudah memberimu hp, kan?”


Winsi tersenyum tipis dia tidak pernah membawa ponselnya saat ke sekolah, walaupun begitu, dia begitu bersyukur ketika mengetahui Ayah angkatnya memberinya sebuah telepon genggam.


Malam itu ketika Arkan berkunjung, dia mendengar semua yang dikatakannya dia sempat meleleh, dsn menitikan air mata, sangat terharu dengan apa yang dikatakan pria itu pada ibunya.


“Apa Ayah sudah memberikan anak buluk ini hp? Kenapa aku nggak pernah lihat, sih?” kata Erlan.


“Siapa anak buluk?” Tanya Arkan dengan alis berkerut.


“Wiwin!” tegas Erlan.


“Aku nggak pernah bawa hp ke sekolah!” sahut Winsi sambil memalingkan pandangan, dia duduk di samping Arkan.


‘Ah, senangnya duduk dekat Ayah!’ batinnya.


Tiba-tiba Saina muncul, dan dia menyela obrolan ketiga orang yang ada di ruang tengah dan sedang duduk secara berhadap-hadapan.


“Apa? Apa kamu bilang, Ar? Kamu belikan anak kecil ini hp? Untuk apa? Aku saja tidak pernah kamu beri apa-apa!” Kata Saina dengan gusar terlihat banyak emosi berkumpul pada ekspresi wajahnya.


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2