
Tatapan Seseorang
Winsi menyeruput teh tawar pesanannya, baru kemudian mengambil ponsel dari dalam tas. Dia melihat pada layar dan menarik nafas dalam. Gadis itu memilih menolak panggilan dari pada meladeninya.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Nafadi.
“Biarkan saja lebih baik teruskan makan dulu baru nanti telepon lagi.”
“Memangnya dari siapa?”
“Erlan.” jawab Winsi datar dia sendiri tidak tahu kenapa laki-laki itu meneleponnya. Bagi nya ini akan sangat merepotkan.
Saat dulu ponselnya dimatikan pun ada puluhan kali pria itu menghubunginya, entah sebenarnya apa yang mau dibicarakan, sebab mereka sama sekali tidak memiliki topik menarik untuk obrolan.
“Erlan? Hmm ... dia lucu, ganteng lagi, memangnya kamu nggak suka?”
‘Sebenarnya apa sih yang dijadikan ukuran untuk rasa suka atau tidak suka antara laki-laki dan perempuan? Apakah hanya seputar ketampanan, kecantikan atau kelebihan lainnya seperti harta atau kepandaian? Lalu, bagaimana kalau seorang wanita tidak memiliki semua itu, apa kata suka menjadi tidak berhak pada dirinya?’ pikir Winsi.
Gadis itu tidak menjawab Nafadi dan meneruskan menikmati makanannya. Begitu juga pria itu pun melakukan hal yang sama, mereka menghabiskan makanan di piring juga minuman di gelas hingga tandas, agar tidak ada yang terbuang sia-sia.
Setelah mengusap bibir dengan beberapa lembar tisu, Winsi segera meraih tasnya dan mengambil ponsel lalu, menempelkan benda pipih yang terus berbunyi itu ke telinganya.
“Halo!” kata Winsi nada suaranya terdengar kesal.
Dari seberang sana Erlan menyahut dengan sukacita, laki-laki itu tidak menyangka jika Winsi akan menerima panggilannya.
“Apa kabarmu?” tanya Erlan dari ujung telepon.
“Baik, Alhamdulillah. Katakan! Ada perlu apa kamu meneleponku?”
“Kenapa kamu jutek gitu sih?”
Winsi diam, tidak mengomentari ataupun menjawab ucapan Erlan karena baginya itu pertanyaan yang tidak penting.
“Katakan! Atau aku tutup teleponnya?”
Sementara itu Nafadi melihat interaksi dua orang anak berlawanan jenis, dengan perasaan geli. Dia pikir banyak wanita yang menyukai Erlan, dia tergolong tampan dan pintar.
Akan tetapi, yang dilihatnya pada Winsi, sama sekali hal yang berbeda sehingga dia hanya mampu menggelengkan kepala. Gadis itu sama sekali tidak memandang Erlan sebagai seorang laki-laki mapan yang memang bisa dicintai. Dia heran mengapa Gadis itu bisa begitu ketus padahal, hanya berbicara melalui telepon.
Sementara menunggu Winsi selesai berbicara di telepon, Nafadi membayar tagihan pesanan mereka di kasir lalu, duduk kembali.
“Baik, baik, aku Cuma mau ngomong kalau kamu nggak perlu minta maaf,” kata Erlan lagi dengan suara pelan.
__ADS_1
Winsi diam.
“Halo, Win, kamu masih di situ?”
“Hmm ....”
“Ya, aku minta maaf, aku yang salah sama kamu?”
“Memangnya apa kesalahanmu?”
“Aku sering memanggilmu anak Buluk! Maaf ....!”
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Benarkah?”
“Ya, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi aku tutup teleponnya.”
“Tunggu!”
“Apa lagi?”
“Gimana kabar Ibu sekarang?” Pertanyaan Erlan langsung membuat Winsi memutar bola matanya, wajahnya terlihat lebih serius lalu, bertanya lagi.
“Memangnya ada apa dengan Ibu?”
“Ya udah ngomong saja sekarang!”
“Ibu sakit, di rawat juga, kamarnya sebelahan sama Kakek!”
Sementara itu, seorang pria yang dari tadi memperhatikan Winsi beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat.
Namun di saat yang sama, Winsi berdiri dan berkata, sambil menutup ponselnya. “Mas Adi! Ayo pulang. Aku mau ke Jakarta sekarang juga!”
“Ada apa gitu? Baru saja datang kemarin.” Nafadi bertanya sambil beranjak dari duduk dan mengambil kunci mobilnya lalu, berjalan keluar menyusul Winsi, yang sudah lebih dahulu melangkah ke luar restoran sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
Seseorang menatap kepergian kedua manusia itu dengan tatapan kosong.
*****
Sesampainya di rumah Nafadi, Winsi langsung masuk kamar dan mengambil tas pakaian yang baru saja kemarin dia kosongkan tapi, kali ini dia hanya membawa dua helai baju, karena masih banyak pakaian lainnya di rumah Arkan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan tadi Winsi dan Nafadi sama sekali tidak melakukan perbincangan, mereka diam dengan pikiran masing-masing hingga tiba di rumah. Gadis itu sama sekali enggan mengatakan apa yang terjadi.
Nafadi bersandar di sisi pintu memperhatikan tingkah Winsi yang terburu-buru sambil melipat kedua tangannya di depan dada, sebentar-sebentar pria itu menghela nafas dalam. Dia tidak melihat ekspresi kelebihan yang menunjukkan kesedihan atau khawatir di wajah gadis itu.
Riak wajah Winsi memang begitu datar seolah-olah apa pun yang terjadi di hadapannya bukanlah apa-apa, semua biasa saja. Meskipun demikian, sinar matanya tidak bisa menutupi jika ada luka yang begitu dalam, yang tidak bisa dia ungkapkan pada sembarang orang.
Nafadi mendengar dari Arkan bahwa gadis ini tidak boleh diperlakukan dengan kasar, sahabatnya itu pun berpesan agar dia tidak mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan verbal pada seorang qanita. Juga mengingatkannya pada segala hal yang bersifat memaksa pada diri pribadi secara intim.
Arkan Juga berperan agar dia tidak menutup pintu kamar Winsi, yang akan selalu terbuka meskipun dia tidur di malam hari.
“Jangan kau mematikan lampu kamar walaupun, dia tertidur dan lampunya masih menyala!” Itu adalah pesan Arkan yang lainnya.
Semalam saat Gadis itu tidur, Nafadi sempat terbangun dan melihat pintu kamar Winsi tidak tertutup rapat, sehingga orang lain bisa memasukinya dengan leluasa. Dia bukan laki-laki munafik yang tidak penasaran dengan apa yang terjadi di dalamnya. Apalagi lampu kamar masih menyala padahal, malam sudah selarut itu.
Dia pun mencoba mendorong sedikit pintu kamar itu dan melihat gadis itu tertidur dengan masih mengenakan pakaian lengkap, bahkan tidak melepas kerudungnya.
Nafadi juga penasaran dan menanyakan penyebabnya berulang kali pada Arkan, tapi, laki-laki itu tetap teguh dengan pendiriannya dan tidak memberitahukan apa pun, yang terjadi pada Winsi di masa lalu sehingga membuat Gadis itu bersikap demikian.
Pria itu tidak menyangka jika Winsi benar-benar memiliki trauma sebab, pertama kali mereka bertemu di bandara, Gadis itu terlihat biasa saja, bahkan ketika berbicara pun mereka langsung akrab. Dia tidak menolak ketika Nafadi memintanya untuk memanggil dengan sebutan Mas Adi dan bukannya Om, seperti pertama kali dia memanggilnya. Itu adalah panggilan keakraban semua teman-temannya.
Gadis itu sebenarnya bertipe pendiam dan rendah hati. Namun, jika sudah kenal maka, dia akan menjadi pribadi yang hangat dan menyenangkan. Memang di saat-saat tertentu saja dia akan memiliki wajah abai yang seolah-olah di sekitarnya tidak penting.
Keputusan Nafadi untuk memisahkan kamar dengan Waila—anaknya dan Winsi, sudah tepat karena kepribadian dua anak ini benar-benar berbeda seperti bumi dan langit saja.
Semula memang Waila ingin agar Winsi bisa tinggal satu kamar dengannya. Akan tetapi Nafadi mengurungkan Niat untuk menuruti keinginan anaknya itu, setelah mendapatkan beberapa pesan dari Arkan, yang tidak memungkinkan bila kedua anak itu berada dalam satu kamar.
Waila begitu bersemangat saat tahu bahwa, akan ada seorang wanita sebayanya yang tinggal bersama.
Dia berharap anak itu bisa tidur dengannya karena sangat menyenangkan, bila ada seseorang yang bisa disuruhnya untuk sekedar mengambilkan air minum, ketika dia bangun di malam hari sehingga tidak perlu repot-repot mengambilnya di atas meja. Jarak meja dengan tempat tidur memang dekat, tapi, dia sering sekali malas melakukannya sendiri kalau dia haus.
Saat pertama kali melihat Winsi, dia cukup senang demi melihat wajahnya yang tergolong cantik dan enak di pandang, dia terlihat tidak memalukan bila diperkenalkan kepada teman-temannya yang lain. Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata Winsi mempunyai kepribadian di luar dugaannya.
Waila anak yang sedikit manja, dia berpikir bila Winsi bisa seperti temannya lainnya, yang bisa diperintah ataupun menuruti semua yang dia inginkan.
“Apa yang terjadi di rumah, kenapa kamu diam saja?” tanya Nafadi, membuat Winsi menghentikan aktivitasnya dan melihat pria itu sambil menghela napas panjang. Dia belum sempat menjawab, ketika tiba-tiba Waila datang entah dari mana, langsung menerobos masuk.
Gadis itu melihat Winsi yang sedang berkemas-kemas di kamar lalu, dia bertanya, "Kamu mau ke mana?"
"Pulang." Winsi menyebut acuh tak acuh.
"Apa Kak Erlan juga ada di rumah?"
Bersambung
__ADS_1