
Lepaskan Aku Atau
Winsi sudah memulai kuliah secara rutin dengan penuh semangat dan, bahagia karena keinginannya untuk menuntut ilmu di universitas yang dia inginkan tercapai, serta rencana untuk memiliki usaha sendiri sedang dalam proses.
Dia selama ini masih tinggal di rumah Nafadi atas permintaan pria yang menjadi ayah dari Waila, walau dalam hati kecilnya menolak karena tidak ingin tergantung pada orang lain. Apalagi dia masih harus berhemat hingga dia terpaksa menerima bantuan sahabat Arkan itu sampai beberapa kali.
Dia mengerti bahwa sekeras apa pun dia ingin bebes dan menolak bantuan dari orang lain, tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, dia selalu saja butuh bantuan orang lain.
Manusia tidak bisa hidup seorang diri meskipun besar keinginannya untuk bebas dari ketergantungan karena pada dasarnya, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang saling tergantung satu sama, saling membutuhkan dan juga saling sayang menyayangi satu dan lainnya.
Sudah satu selama satu bulan terakhir Winsi selalu menumpang di mobil Wila, saat berangkat maupun pulang karena secara kebetulan letak kampus mereka di berdekatan, walau beda jurusan.
Winsi memilih jurusan manajemen sedangkan Waila memilih administrasi perkantoran.
Winsi memilih jurusan itu karena dia ingin lebih mapan dalam manajemen dan juga mengelola sebuah usaha, yang akan digelutinya suatu saat nanti. Usaha apa pun itu tentu membutuhkan ilmu dan jurusan itulah yang dia pikir akan sangat membantu.
Biasanya Winsi selalu pergi sendiri dengan menggunakan taksi, ojek online ataupun bis kota yang melewati kampusnya. Akan tetapi, kesibukan Winsi kesibukannya semakin padat hingga dia berangkat lebih pagi dan pulang lebih sore dari biasanya.
Seperti hari ini, dia sudah berpakaian rapi, saat sarapan. Sementara Waila dan Nafadi, baru saja memulainya. Tanpa menunggu kedua orang itu selesai makan, Winsi segera berpamitan dan bergegas ke teras rumah untuk memakai sepatu.
Dia masih terbiasa melepas alas kakinya di teras rumah saat masuk hingga hanya sepatu Winsi saja yang disimpan di sana.
“Berangkat saja kalian sama-sama!” kata Nafadi sebelum Winsi sampai di pintu keluar. “Ya ... daripada kamu harus bayar taksi atau naik bus, mendingan ikut sama Waila. Mobil kamu juga kosong, kan?” Nafadi berkata saat Winsi sedang memakai sepatunya di depan rumah.
Saat mendengar ayahnya berbicara demikian, Wila diam seraya meletakkan sendok dan menatap Nafadi sekilas. Dia berjalan ke depan dengan wajah yang cemberut. Lalu, menghampiri Winsi dan berkata sambil memberikan kunci mobil padanya.
“Nih, gantian kamu yang bawa mobil sana?” kata Waila pada Winsi.
“Kenapa harus aku? Aku, nggak bisa bawa mobil,” kata Winsi sambil mendongak dan menyelesaikan mengikat sepatu.
“Papa! Dia nggak bisa bawa mobil sendiri!” teriak Waila dengan wajah menghadap ke dalam rumah.
__ADS_1
Sejenak tidak terdengar jawaban hingga Nafadi tiba-tiba muncul di depan pintu lalu berkata, “Ya, siapa yang suruh dia bawa mobil sendiri? Kan kalian bisa berangkat sama-sama. Nanti pulangnya juga, enakkan kalau begitu.”
‘Ya, dia yang enak bukan aku' batin Waila.
“Besok saja, Mas. Sekarang Waila belum siap, saya duluan, ya!” Winsi berkata sambil bergegas berdiri dan berjalan keluar menuju pintu gerbang.
Jadi seperti itulah kejadiannya hingga Winsi dan Waila selalu berangkat dan pergi bersama kecuali, apabila salah satu dari mereka mempunyai kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan.
Berulang kali Waila selalu meminta Winsi untuk belajar membawa mobil sendiri tapi, Gadis itu merasa enggan, untuk apa dia mempelajari hal seperti itu, tidak ada gunanya, karena dia tidak memiliki mobil yang bisa dia bawa.
Namun, saat hari itu Waila menjawab dengan tegas pada Winsi yang duduk tenang di sisinya, ketika mereka baru pulang dari kampus.
“Minta saja sama Ayah Arkan! Apa susahnya, sih? Percaya deh, pasti kamu di kasih walaupun itu cuman mobil , gitu aja kok repot, nyusahin orang aja ... susah tahu, harus berangkat pagi-pagi!” kata Waila.
“Ya, maaf ....” hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Winsi.
“Maaf itu nggak ngerubah keadaan, tahu?”
“Iya, aku tahu.”
“Waila, dengar, ya ... aku nggak minta kamu berangkat pagi-pagi bareng aku. Nggak! Terserah kamu mau berangkat kapan aja sesuai jadwal, aku nggak pernah Maksa!”
“Iya, emang kamu nggak maksa, tapi, nanti gimana kalau Papa marahin aku, kamu mau nanggung risikonya? Biar kamu saja yang dimarahi sama Papa, gitu? Oke! Besok lagi ... nggak usah berisik kalo mau berangkat pagi, biar Papa nggak bangun!”
“Ya.”
Winsi bisa memahami posisi Wila yang terpaksa menuruti perintah Nafadi demi dirinya. Dia sebenarnya merasa tidak enak karena terkadang Waila menunjukkan dengan jelas keterpaksaannya.
Akan tetapi, Winsi mengakui jika bantuan Waila berupa tumpangan mobil, sangat berguna sekali, selain bisa menghemat uang dia juga bisa lebih cepat sampai dan tidak terus-menerus terlambat sampai tujuan.
Semakin lama Winsi semakin menyadari apabila Waila sebenarnya mempunyai kepribadian yang baik, hanya saja memang dia sangat manja dan glamour serta senang berfoya-foya, inilah hal yang tidak disukai Winsi dan membuat mereka tidak cocok satu sama lain.
Mereka hanya terlihat akrab ketika pergi dan pulang naik mobil bersama tetapi, sebenarnya saat di perjalanan mereka sering sekali berselisih pendapat.
__ADS_1
Misalnya saja, saat Waila ingin mampir ke suatu tempat, seperti mall, ke kedai Es hanya untuk menikmati es krim atau menikmati jajanan-jajanan lain yang aneh bagi Winsi.
Tentu saja selera mereka tidak sama hingga sering kali Winsi membiarkan Waila memuaskan keinginannya, sementara gadis itu hanya menunggu di mobil saja sampai teman serumahnya kembali.
Hal ini juga yang membuat Waila menjadi begitu heran, dengan Winsi yang semakin lama semakin aneh menurutnya.
Bagaimana bisa di jaman sekarang masih ada orang yang memang benar-benar terbiasa untuk hemat dan tidak suka menghambur-hamburkan uang padahal, menurutnya tidak ada salahnya bila mencicipi makanan yang mahal sekali-sekali. Atau berbelanja sekali-sekali, sekedar memilih beberapa pakaian dengan model terbaru agar tidak ketinggalan zaman.
Sore itu, untuk ke sekian kalinya Winsi pulang tanpa menumpang mobil milik Waila dan ini tanpa sepengetahuan Nafadi. Seandainya pria itu tahu mungkin saja dia bisa marah tapi, sejak pertengkaran hari itu, dia selalu berangkat lebih pagi dengan cara sembunyi-sembunyi dan pulang pun dengan cara yang sama. Hal ini dilakukan apabila Nafadi ada di rumah, dia tidak ingin pria itu marah pada anaknya hanya karena dirinya.
“Hai! Tunggu!” teriak Winsi sambil melambaikan tangan ketika bus yang dia tunggu justru meninggalkannya. Dia tidak sadar bus itu lewat saat sedang asyik melihat-lihat layar ponselnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang meraih dan menarik tangan Winsi, agar mengikutinya berjalan menuju mobil sport yang terparkir di sisi jalan tak jauh dari tempat berlari mengejar bis kota.
“Lepaskan aku!” kata Winsi sambil menatap pria yang menggandeng tangannya kuat-kuat.
Pria itu memegang bagian lengan atas hingga Winsi sulit menepis kecuali, dia menggunakan tangannya yang lain untuk melepaskannya tapi, itu artinya tangan mereka harus bersentuhan.
Winsi tidak akan melakukannya, sebab hal itu akan lebih menambah masalah saja, dia tahu siapa pria di depannya walau, melihat dari belakang, jika laki-laki itu adalah Erlan.
“Erlan! Lepas tidak, atau ...?” kata Winsi berusaha mengancam agar tangannya segera dilepaskan.
“Atau apa?” Erlan berkata sambil berbalik badan dan menggerak-gerakkan alisnya.
‘Dih, menyebalkan sekali gayanya!’ batin Winsi.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” Tanya Winsi masih berusaha melepaskan diri.
“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan. Kebiasaan!”
“Apa maksudmu, kebiasaan?”
__ADS_1
Bersambung