Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
16. Terikat Sebuah Janji


__ADS_3

Terikat Sebuah Janji


Basri melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki Winsi, dengan tatapan membara, anak yang selama ini terlihat lemah, sekarang berani membantahnya. Harga dirinya sebagai kepala keluarga pun terluka. Dia lelaki kuat yang tidak dianggap remeh oleh teman seprofesinya, karena dia sopir truk yang sudah berpengalaman. Di sisi lain, para tetangga dan saudara-saudara, mengenalnya sebagai lelaki yang baik dan ramah.


Kekecewaan dan prasangka buruk dalam hatinyalah yang membuat sikapnya begitu buruk pada istri dan anaknya. Tidak ada sebab lain yang menutupi kebaikannya selain karena merasa dikhianati oleh istrinya.


“Apa kamu, bilang? Beraninya kamu sekarang melawanku? Hah!” tanya Basri penuh emosi mengalir lewat nada suaranya yang menggeram sambil menggertakkan gigi.


“Aku tidak melawan, Pak. Tapi Cuma nanya!” jawab Winsi membuat Basri semakin emosi.


Kemarahannya yang meluap, selalu ingin dia lampiaskan pada Winsi, akibat dari rasa kecewanya. Dia tidak mungkin menceraikan istrinya, walaupun sudah tidak lagi percaya, semua karena dia terikat dengan janji yang dia ucapkan sendiri. Apalagi sekarang dia melihat anak gadis itu bersikap begitu berani, seperti menyiramkan bensin dalam kobaran api.


Winsi pun merasakan kekecewaan pada bapaknya itu saat dirinya selalu disebut anak haram, ditambah dengan, apa yang dia lihat beberapa hari yang lalu, Basri tampak bahagia dengan wanita lain dan bukan ibunya. Kini, dia merasa sudah besar dan bukan anak sekolah dasar lagi, walaupun belum mendapatkan menstruasi, tapi kata ibunya dia sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa.


Ya, menurutnya kata dewasa adalah orang yang sudah mampu melakukan tanggung jawab dengan baik. Dia akan bertanggung jawab kali ini walaupun akan sakit, atau berdosa melawan orang tua.


“Heh, Cuma tanya? Dasar anak kecil, itu sama saja kamu mau lawan Bapakmu ini?”


“Nggak. Aku gak mau lawan, dan Bapak bukan Bapakku!”


“Kamu ....” ucapan Basri belum selesai ketika Winsi menyelanya.


“Ya, kan, Bapak sering bilang aku anak haram! Berarti Aku bukan anak Bapak!”


Begitu mendengar ucapan Winsi, Basri semakin meradang dan hendak menampar, namun tiba-tiba tangannya tergantung diudara, ada tangan lain yang menahannya.

__ADS_1


“Cukup, Pak!” jangan tampar atau sakiti dia lagi, kamu nggak pernah mau ngaku kalau Winsi anakmu, kan? Jadi jangan siksa anak orang!” kata Runa, raut wajahnya serius dan mencengkeram kuat tangan Basri lalu, memhempaskannya begitu saja, dengan kasar..


Basri melipat kedua tangannya di depan dada lalu, menganggukkan kepalanya, dia mencebik sambil berkata, “Oh. Jadi, kalian berdua sudah berani sekarang melawanku, ya? Sudah dikasih makan apa kalian di tempat pengajian tadi? Ikut ngaji bukannya tambah Sholeh tapi malah jadi pembangkang!”


“Pak! Kami bukan pembangkang, justru sekarang aku ingin kamu jadi lebih baik, tidak menyiksa Winsi lagi, dia anak kandungmu sendiri!”


Saat berkata demikian, Runa menarik Winsi dalam pelukannya. Memandang suaminya dengan wajah memelas. Hatinya sangat sakti setiap kali mendengar Basri mengatakan anaknya adalah anak haram.


Sungguh tidak pentas menggunakan kata haram untuk sesuatu yang jelas-jelas mulia. Allah sebagai Tuhan yang menciptakan manusia, mengatakan dalam kitab-Nya bahwa manusia adalah mahkluk yang mulia dan istimewa. Jadi, bagaimana mungkin seorang manusia mengatakan haram pada manusia lainnya?


Meskipun begitu sakit setiap kali suaminya berkata dan bersikap kasar pada diri dan anaknya, dia memilih tetap bertahan ... bukan ... dia bukan lemah, tapi menunggu hingga tabungannya cukup untuk pergi. Dia bersabar karena mengharap bahwa Tuhan akan mengasihaninya dan mengampuni dosanya.


Tiba-tiba Basri terkekeh, menertawakan dirinya sendiri, baru saja timbul rasa penyesalan akan sikap kasarnya sert iba hati pada kedua wanita ini secara bersamaan. Akan tetapi sekarang, dia justru dilawan bahkan belum selesai bicara, istri dan anaknya sudah berani menyela. Saat ini, yang dia sesali bukan lagi soal perbuatan kasarnya, melainkan janjinya saat menikahi Runa.


Dahulu Basri mengetahui informasi bahwa Runa dibawa ke rumah itu sebagai anak, tapi lebih memilih menjadi pekerja karena tidak ingin di anggap memanfaatkan kebaikan orang lain. Namun, siapa yang menyangka, setelah kedua orang tua itu tiada, anak kandung mereka mengusir Runa dan menjual seluruh harta kekayaan orang tua mereka.


Kembali Runa terlunta-lunta dan hanya memiliki sedikit tabungan saja. Akan tetapi kemudian dia bertemu dengan Basri, seorang sopir mobil truk yang baik dan ramah, dia lah yang disewa oleh penghuni rumah untuk memindahkan barang-barang mereka.


Saat pertemuan mereka, Basri menawarkan pertolongan dan berniat akan menjadikannyal istri, memberinya tempat tinggal yang layak, dan berjanji selama hidup dia akan menyayangi, serta tidak menyia-nyiakan dirinya yang hidup sebatang kara.


Tentu saja Runa menyambut baik tawaran Basri. Sebab setelah bertemu beberapa kali, membuatnya menilai bahwa lelaki itu bisa dia andalkan.


Akhirnya mereka pun menikah ... ya, pernikahan mereka sangat sederhana karena berlangsung di kantor agama dan hanya disaksikan oleh para saksi dan keluarga Basri saja. Betapa manisnya kenangan itu, menjadikan Basri sebagai suami, dan satu-satunya tempat yang bisa dijadikan sandaran dan perlindungan, membuatnya sangat bahagia, hingga dia hamil dua tahun kemudian. Runa benar-benar menjalani pernikahannya yang sempurna.


Kemudian, hari ini pun tiba, di mana mereka berseteru dalam masalah yang sudah lama membebani rumah tangganya.

__ADS_1


“Apa kamu mengira sudah menang dengan berbuat seperti ini padaku? Kamu berdosa pada suamimu, Runa!” Basri kembali berteriak.


“Apanya yang dosa, Pak? Aku Cuma nahan tanganmu biar gak mukul anakmu. Itu bukan dosa.” Runa berkata sambil memalingkan pandangan, lalu mendengus kesal, sambil kembali berkata, “Jangan salahkan pengajian, yang salah itu orang yang tidak mau menerapkan ilmu. Kamu tahu, kan bersikap kasar pada istri dan anak sendiri itu juga dilarang?”


“Heh! Jadi, kamu mau ngajari aku, begitu? Nggak usah ... aku sudah cukup baik selama ini, aku menepati janji, nggak pernah ngusir kamu. Harusnya kamu bersyukur bisa punya rumah, gak harus numpang! Ingat, kamu gak punya siapa-siapa di sini selain aku. Jadi kamu harus hormat padaku, tahu?”


“Pak, justru kalau kamu tahu aku nggak punya siapa-siapa, jangan kasar seperti ini.”


“Aku juga gak kasar kalau kamu sama anak ini nggak bikin masalah.”


“Memangnya masalah seperti apa yang kamu pikir pantas memukul kami? Nggak ada, Pak. Nggak ada! Kamu memang yang nggak ngerti!”


Basri terdiam sejenak, untuk berpikir bahwa, kedua wanita ini memang lemah dan hanya mengandalkan dirinya. Walau, sikapnya selama ini sangat tidak manusiawi, tapi Runa masih saja betah dan tidak meminta bercerai. Setelah itu dia menyeringai, menyadari bila Runa memang tidak akan meninggalkannya karena dia tidak memiliki apa-apa, serta hidup sendiri tanpa sanak famili.


Dia bisa terus menikmati kehidupannya tanpa harus repot memikirkan bagaimana mengurus dan memenuhi kebutuhan keluarga. Runa memang tidak pernah mengatakan padanya, tapi dia tahu selama ini istrinya punya usaha berdagang makanan kalau dirinya tidak ada. Oleh karena itu, dia masih bisa tinggal dengan nyaman di rumah, walau dia jarang memberi istrinya biaya hidup sehari-hari.


Basri merasa sudah memberi istrinya tempat tinggal dan kehidupan yang nyaman sebelumnya, sehingga wajar bila sekarang Runa membalas kebaikannya, dengan bekerja untuk membiayai rumah tangga mereka. Sebagai istri Runa juga tetap harus taat padanya, karena bila bersabar, maka pahala yang didapatkan bukan untuk orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri juga.


“Dengaf, ya, Runa. Walau kamu nggak suka aku marah, atau kamu benci kalau aku memukuli Winsi, aku nggak akan pernah menghentikan perbuatanku karena itu hakku untuk mendidik kalian! Dan ingat, jangan pernah mencoba pergi dari rumah ini!”


“Kenapa?”


Bersambung


“Jangan lupa like, komen, give dan vote, terima kasih atas dukungannya”

__ADS_1


__ADS_2