
Gelang Yang Hilang
“Nggak jadi,” jawab Erlan ketus, sambil melirik Winsi acuh tak acuh.
Winsi dan Erlan yang duduk di kursi belakang, mulai bercakap-cakap.
“Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu kalau Hansya yang gangguin aku kemarin?” tanya Winsi penasaran.
“Ada temanku yang bilang, dia sekolah juga di sana.”
“Oh.”
“Oh, doang?”
“Terus maunya gimana?”
“Bilang terima kasih, kek, apa kek, gitu ....”
“Oh ya, terima kasih, sudah bantuin aku.”
“Nah, gitu dong!” Erlan berkata sambil menepuk lembut kepala Winsi, yang duduk berjarak dari dirinya, tapi tangannya masih bisa menjangkau.
Tanpa mereka sadari Meri mendengar dan melihat semua yang dilakukan Erlan pada teman semasa SD-nya itu. Dia tampak tidak suka, tapi hanya bisa melihatnya dengan sinis. Hati kekanakannya belum bisa bersikap wajar, hingga tampak jelas pada raut wajahnya yang cemberut.
“Eh, jangan pegang-pegang!” kata Winsi saat merasakan kepalanya disentuh.
“Kenapa, sakit?” Tanya Erlan dan Winsi menggeleng. Pria itu kembali berkata, “Kamu pakai jilbab juga, gak kena langsung, kan?”
“Ya, nggak.”
“Kenapa kamu sekarang pakai jilbab? Nggak panas apa?”
Ditanya Erlan seperti itu Winsi terdiam, dia tidak mungkin mengatakan sejujurnya bila pakaian yang dia pakai adalah pakaian bekas milik anak dari ustazah Aisy yang kebetulan merupakan busana Muslimah. Akan tetapi, dia juga menyukainya. Memang dia selama sekolah dasar tidak pernah memakai baju yang menutupi aurat kecuali saat mengaji.
“Nggak. Aku memang mau pakai jilbab kalau sudah SMP. Kata ustazah, panas di bumi tidak seberapa dibandingkan panasnya api neraka.”
“Hmm. Tapi kamu lebih bagus kok pake baju itu, jadi nggak kelihatan kurus.”
Mendengar ucapan Erlan, Winsi kembali terdiam dan tidak berkomentar apa pun, tapi hatinya menjadi senang.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan Winsi, dan Meri memilih ikut turun bersama dengannya.
“Makasih, ya, Lan!” kata Winsi sambil tersenyum saat dia turun. Ini pertama kalinya gadis itu tersenyum pada Erlan, senyum malu-malu gadis polos yang tidak memiliki rasa apa pun selain gembira.
Sementara Meri, sejak naik ke mobil sampai turun, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya menatap kepergian mobil sedan hitam itu menjauh, dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Kalau bukan karena Winsi, dia tidak akan duduk di sana mobil itu dan berada begitu dekat dengan Erlan. Namun, sekarang dia tahu sedekat apa pria itu dan temannya. Dia tidak menyukainya.
Dari penampilan, Meri terlihat lebih dewasa dan pengalaman dari Winsi, karena dia memiliki beberapa orang kakak yang lebih dewasa tentu saja dia lebih banyak tahu beberapa hal dibandingkan dengan Winsi—sahabatnya.
“Kamu, sudah berapa kali naik mobil Erlan?” tanya Meri ketus. Winsi melihat gelagat itu dan mengerutkan keningnya, mencoba menerka tentang maksud pertanyaan dari sahabatnya.
“Berapa kali, ya ...? Kayaknya baru kemarin, sama hari ini.” Winsi berkata sesuai ingatannya saat dia mulai aktif sekolah.
“Kemarin kamu di jemput juga?”
“Nggak di jemput! Ngapain juga dia jemput aku. Katanya dia kebetulan lewat sana.”
“Oh.”
“Kamu kenapa, sih, Mer?”
“Kayaknya dia suka deh, sama kamu.”
Mendengar Meri, Winsi tertawa karena ucapan itu terdengar mustahil baginya. Apalagi dia memang tidak menyukai Erlan yang senang sekali memanggilnya Buluk.
“Kamu ini aneh, deh, Mer. Itu nggak mungkirlah.”
“Ya, memang sih, nggak mungkin. Kalau kamu ketemu Erlan, bilang ya, kalau aku suka sama dia.”
Winsi tertegun, menyadari kalau dia dulu pernah bercanda dengan Meri tentang perasaan saling menyukai antara pria dan wanita lalu, tentang pacaran dan Meri mengatakan hal yang sama, ah ... bagaimana dia bisa lupa kalau Meri diam-diam menyukai Erlan.
Winsi melihat mobil truk bapaknya masih ada di halaman hingga dia masuk rumah dengan perlahan-lahan bahkan tidak mengucapkan salam. Berharap Basri tengah tertidur dan mereka tidak harus bertemu. Semakin besar, Winsi sudah pandai menyembunyikan diri dari saat bapaknya ada di rumah.
Dia sudah kapok bila mengingat dahulu, tidak bisa sembunyi saat pulang sekolah bajunya basah kuyup, karena hujan deras dan sepatunya pun kotor, dia masuk ke teras sambil melepas sepatu. Saat itulah Basri melihatnya lalu segera menghampirinya dengan umpatan kasar.
Basri sangat suka kebersihan, hingga melihat penampilannya serta keadaan kotor, langsung saja menimpakan beberapa sabetan ikat pinggang di tubuh Winsi, membuat anak itu benar-benar trauma karena sering kali mendapat sikap kasar akibat kemarahan Basri.
Ketika sampai di dalam rumah ia melihat ke kamar Ibunya dengan mengendap-endap dan melihat Basri sedang tertidur. Dengan begitu, dia segera menghenyakkan tubuhnya di sofa ruang tamu dan melemparkan tasnya begitu saja di samping.
Baru sebentar duduk bersandar, Winsi sudah memejamkan mata sambil menarik napas dalam, mereka ulang semua kejadian yang dia alami seharian tadi di sekolah. Sungguh seperti drama yang tidak harus terjadi pada anak usia belasan tahun seperti dirinya. Cobaan demi cobaan dia lalui, entah akan seperti apa masa depannya nanti.
Runa selalu menasihati setiap kali dia hendak tidur, agar dia punya pendidikan yang lebih tinggi dan punya kehidupan Lebih baik pula.
“Nak, dunia akan semakin dipenuhi oleh persaingan antara orang-orang yang pandai. Jadi, pendidikan itu penting! Sekolah yang tinggi walau kamu hanya berbekal uang seadanya, jadilah anak yang rajin.”
Ibunya bilang, rajin adalah modal utama selain kepandaian, dua hal ini akan saling dibutuhkan dalam kehidupan. Sebagaimana otak tidak akan ada artinya tanpa raga, sedang raga tanpa otak tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Jadi, antara dua hal ini tidak bisa di putuskan, mereka akan saling membutuhkan.
Winsi terbangun dari tidurnya saat terdengar suara tangis, yang cukup keras dari arah kamar yang dulu merupakan kamarnya. Rupanya dia tertidur beberapa saat setelah pulang sekolah, bahkan belum sempat mengganti pakaian.
Saat dia membuka mata, dilihatnya Basri tengah bergegas masuk ke kamar itu dengan wajah panik, sementara Runa mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
“Gelangku hilang, Mas ... hilang!” kata sebuah suara, yang bisa dipastikan bahwa itu adalah Nira.
“Kok, biasa. Kamu simpan di mana?” kata Basri terdengar panik.
“Di sini, Mas. Biasanya aku lepas kalau mau mandi.” Nira menyahut sambil membolak-balik beberapa barang yang ada di dalam kamar dan tempat tidur, diikuti Basri, ikut mencari gelang milik Nira yang hilang di sekitar ruangan.
Winsi melihat apa yang terjadi di sana dengan wajah berkerut dan mata yang masih mengantuk. Dia melirik Runa, wajah dan gelagat wanita itu jauh lebih panik dari Nira dan Basri. Mungkin karena pikiran buruk yang menggelayut di benak dan pikirannya, atas kejadian yang kali ini tengah berlangsung di hadapan mereka.
“Kamu mungkin lupa, gelangnya sudah kamu jual.” Runa tiba-tiba menyela karena sudah sekian lama mencari, gelang yang di maksud tidak ada. Runa dan Winsi pun merasa bahwa, Nira tidak pernah menggunakan perhiasan gelang selama dia berada di rumah mereka.
Perseteruan kembali terjadi, saling tuduh dan menyalahkan akan barang berharga yang hilang. Baru kemarin mereka berdamai tentang sejumlah uang yang sebenarnya tidak pernah hilang.
Namun sekarang, mereka kembali meributkan tentang perhiasan yang hilang. Semua penghuni rumah mulai mencari-cari di kamar mandi dan ruangan lainnya, atau mungkin tersapu dan terbuang di tempat sampah. Hal yang paling mustahil, bukan?
Akhirnya, Basri berinisiatif membuka dan memeriksa tas Winsi yang tergeletak di sofa.
“Nira! Apa seperti ini gelang kamu yang hilang?” tanya laki-laki itu dengan tatapan serius memanggil adik angkatnya.
Nira menghampiri, melihat gelang emas berbentuk biji mentimun di tangan Basri, dengan mata berbinar.
“Benar, ini gelangku!” katanya sambil menerima gelang itu dan mendekapnya di dada dengan kedua telapak tangannya. “Kamu Nemu di mana gelang ini, Mas?” tanya Nira sambil mengerutkan keningnya.
“Di sini!” kata Basri sambil mengacungkan tas milik Winsi di tangannya.
“Apa? Kok, bisa ada di sini?” tanya Winsi sambil meraih tas dari tangan Basri.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Winsi membuat gadis itu sedikit terhuyung ke samping. Runa menahan tubuh anaknya. Posisinya saat itu terlalu jauh dari Winsi hingga tidak bisa menahan tamparan yang datang tiba-tiba dari suaminya.
“Kurang ajar kamu, ya! Berani-beraninya kamu mencuri lagi? Hah!” kata Basri, kini dia menarik rambut anaknya yang sudah tidak memakai jilbab itu sekuatnya lalu kembali memukul tangannya berulang kali.
“Mana tangan yang kamu pakai mencuri! Mana ....!” katanya lagi sambil terus memukuli tangan kecil itu dengan tangannya sendiri.
“Pak! Cukup!” kata Runa berusaha membantu menahan pukulan suami pada anaknya.
“Diam, kamu!” Basri kembali berteriak sambil mendorong tubuh kurus Runa ke samping hingga dia terjerembab ke lantai.
Sementara Nira hanya diam menyaksikan semua itu dengan tenang dan mengelus-elus gelang di tangannya.
Winsi melirik ibunya sambil memegangi pipinya yang bengkak dan merah, entah sudah berapa kali pipinya di tampar.
Seketika dia bangkit, lalu berteriak sambil menatap Basri penuh kebencian. “Aku bukan pencuri! Aku nggak tahu gimana gelang itu bisa ada di tasku, Pak!”
“Bohong! Sudah jelas-jelas aku menemukannya di sana, masih bilang tidak tahu? Hah!” kata Basri sambil kembali menjambak rambut Winsi dan sekaligus memukul tangan kanannya .
__ADS_1
“Bukan! Kalau aku bilang bukan, ya bukan! Terserah Bapak mau percaya atau tidak! Kalau memang Bapak nggak percaya, dan Bapak malu punya anak haram seperti aku ... Bunuh aku sekarang juga, Pak!”
Bersambung