Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
44. Anak Buluk Dulu Dan Sekarang


__ADS_3

Anak Buluk. Dulu Dan Sekarang


“Apa Ibu nggak denger?” Tanya Winsi seraya menoleh pada ibunya yang seolah tidak mendengar ucapannya. “Iya, Ayah yang suruh aku pindah sekolah.”


“Maksud ibu ... Ayah siapa yang kamu maksud, Winsi?” tanya Runa.


“Aku ...” Sahut Arkan.


Runa menatap dua orang di hadapannya dengan alis berkerut dan tatapannya tajam ke arah Arkan dan anaknya. Memang dirinya tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada saat di rumah sakit dan juga sebelumnya lalu, sampai mereka pulang sehingga Winsi bisa memanggil Arkan dengan sebutan ayah, padahal jelas-jelas dia sudah memiliki seorang bapak.


“Apa maksud Anda, Pak?” tanya Runa penuh selidik. “anak saya sudah memiliki Bapak jadi dia tidak membutuhkan Ayah lagi.”


“Tapi aku mau Ayah, boleh kan, Yah?” tanya Winsi sambil merengek.


“Boleh.” Sahut Arkan sambil tersenyum.


“Pak, saya mohon, jangan menambah masalah.”


Runa, pada saat pertama kali bertemu kembali dengan Arkan, dia menyebut laki-laki itu dengan sebutan kamu dan aku tetapi, setelah kejadian di penjara dia menjadi lebih sopan dengan memanggilnya Bapak, Anda dan saya. Dia menggunakan bahasa formil untuk menghormati laki-laki itu.


Walaupun Arkan sudah memintanya untuk memanggilnya namanya saja tapi, dia tetap bersikukuh untuk menyebutnya demikian karena merasa tidak enak kalau harus memanggilnya dengan sebutan nama saja apalagi memang mereka berbeda usia.


“Memangnya, siapa yang mau menambah masalah?” Arkan balik bertanya.


“Tapi ....” Runa berkata penuh keraguan.


“Justru, kalau menurutku ini akan membantu menyelesaikan masalah Winisi. Memangnya kamu nggak tahu bagaimana suamimu pada anakmu, jadi biarkan aku menghiburnya, mudah-mudahan dia bisa menjadi lebih baik.” Arkan berkata sesuai argumennya sendiri, berharap Runa bisa mengerti.


Runa hanya kuatir bila dikemudian hari terjadi masalah karena panggilan ini. Termasuk dengan Basri, sebab dalam akta kelahiran sudah jelas tertulis di sana bahwa nama Basri sebagai bapak dari Winsi. Apalagi dia tidak enak dengan Erlan anak remaja itu begitu dekat dan menghormatinya hingga dia khawatir apabila Winsi memanggil ayahnya dengan dengan sebutan yang sama, padahal Winsi bukan saudaranya, akan muncul kecemburuan hingga Erlan marah dan membenci Winsi.


*****


Selama dua hari Winsi tidak masuk bersekolah dan hanya istirahat di rumah, walau begitu Gadis itu tidak begitu kuatir karena keesokan harinya dia akan segera pindah sekolah. Semua urusan kepindahan sekolahnya sudah diurus dengan baik oleh Arkan.

__ADS_1


Sekarang dia ada di rumah besar pun untuk menyelesaikan urusannya. Dia akan mengambil pakaian baru, pakaian seragamnya yang berbeda dari pakaian seragam sekolah sebelumnya.


Malam itu winsi duduk bersama di meja makan bersama Arkan dan Erlan. Dia diundang datang dan dijemput oleh Hasnu dari warung ibunya. Runa terpaksa dengan berat hati melepaskannya sendirian ke sana. Walau dia bilang tidak usah pindah karena kuatir merepotkan Arkan serta keluarganya, dia tetap tidak berdaya.


Gadis itu merasa gugup, ini pertama kalinya dia duduk bersama di meja makan, bahkan kakek tua Erlan pun ikut serta. Badri bergabung di sana, setelah Winsi menghabiskan makanan hampir setengahnya.


Apalagi gadis itu tidak terbiasa dengan peralatan makan yang bagus dan mewah seperti yang saat ini ada di depannya. Akan tetapi makanan yang disediakan terlalu enak sehingga dia mengabaikan rasa canggung dan tetap menikmatinya walau, dia hanya menggunakan sendok, tanpa garpu seperti Erlan dan juga ayahnya. Kalau bukan karena takut dikatakan anak kampungan dia pasti akan makan langsung memakai tangan.


“Win, sekarang kamu anakku ....” kata Arkan, memecah kesunyian, setelah ayahnya bergabung untuk makan malam. “Jadi, kamu boleh sering-sering datang ke rumah ini dan makan dengan kami. “ kata Arkan tanpa kekhawatiran sama sekali.


Setelah Arkan berkata demikian Winsi menatap dengan ragu dan takut ke arah Arkan dan Badru juga Erlan.


"Ya, Ayah!" kata Winsi kemudian.


Dia mengamati wajah ketiga laki-laki yang ada di hadapannya, mereka menunjukkan ekspresi yang berbeda. Arkan menunjukkan ekspresi wajahnya yang ramah dan lemah lembut sambil memberinya senyum yang manis.


Erlan menatapnya dengan wajah biasa saja, datar, padahal dia ingin sekali tahu apa yang dikatakan dalam hati laki-laki itu, begitu mengetahui bahwa ayah mengangkatnya menjadi saudara. Sementara Badri, laki-laki tua itu, menatapnya dengan ekspresi yang rumit, kerutan di wajahnya begitu dalam sehingga susah sekali mengartikan tatapannya, apakah menyukainya atau tidak ... atau hanya sebatas kasihan saja.


Namun yang penting baginya adalah, bahwa anggota keluarga yang lain tidak marah dan menyetujui apa yang diputuskan oleh Arkan bagi dirinya.


Badri menggerakkan kursinrodanya sendiri, saat melewati Arkan, dia berkata, “Dia bukan yatim piatu yang harus kamu kasihani, hanya karena kamu menyukai ibunya. Lihat saja selama di sini, wanita itu tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya padamu.”


“Ayah ....” kata Arkan lembut seraya menghampiri kursi roda ayahnya dan mendorongnya secara perlahan menuju ke kamarnya. “Memang sifat Runa seperti itu, tapi bukan berarti dia tidak menyukaiku, dia hanya menjaga diri karena masih resmi menjadi istri orang lain.”


“Justru kamu yang bodoh, karena kamu menyukai wanita bersuami! Apa untungnya seperti itu, hah? Saina lebih cantik, dia sebentar lagi pulang dari luar negeri aku rasa dia lebih cocok menjadi Ibu sambung Erlan daripada wanita kampung itu.” Badri berkata dengan suara yang keras seolah dia tidak peduli apabila Winsi atau orang lain mendengar ucapannya


“Ayah, Aku tidak akan menyukai Saina dan tidak akan menikahinya sampai kapan pun aku sudah tahu wanita seperti apa dia.”


“Memangnya wanita seperti apa dia? Kamu saja yang salah lihat. Selama ini dia baik ... kalau tidak, mana mungkin dia rela mengeluarkan uang begitu banyak untuk membantu restoranku di Amsterdam.”


“Ayah, kumohon jangan lagi mengungkit-ungkit hal itu aku sudah membayar semua uang yang dia keluarkan, lunas! Bahkan disertai dengan royalti dan ucapan terima kasih dengan jumlah yang tidak kalah banyak.”


“Berarti kamu yang tidak baik karena kamu selalu menghitung pemberianmu. Tidak seperti Saina, selama ini dia tidak pernah mengungkit-ungkit apa yang sudah dia berikan padaku. Kamu ini ngerti nggak soal ikhlas?”

__ADS_1


“Ya, aku tidak akan mengungkitnya lagi.”


“Bagus. Dan ingat soal anak kecil itu jangan sampai dia memperlakukanmu dengan tidak sopan hanya karena menganggapmu Ayahnya, kamu terlalu baik padanya! Arkan, jangan sampai pula dia merusak nama baikmu di luar lalu, dia berlari mencari perlindunganmu karena kamu Ayahnya!”


Arkan diam dan hanya membantu Badri untuk berbaring di tempat tidurnya, setelah memastikan bahwa ayahnya dalam keadaan yang nyaman, dia pun pergi meninggalkannya keluar kamar. Tidak ada niat untuk mendebat laki-laki itu karena hanya akan menambah emosi saja.


Perkataan Badru yang meminta agar Winsi berhati-hati dalam menjaga nama baik keluarga, memberikan ide untuk mengajak anak kecil itu pindah dan tinggal bersama mereka. Dia berpikir benar, apabila Winsi tiba-tiba memanggilnya Ayah di luar sana, padahal dia tinggal di tempat yang tidak layak bila dia sebagai anaknya. M Seandainya Winsi tinggal bersama mereka di rumah besar maka besar kemungkinan akan membuat Saina tidak akan betah tinggal lama-lama di sana.


Arkan tersenyum simpul sambil mengepalkan kedua tangannya, berharap rencananya berhasil untuk membuat Saina mengurungkan niat ingin menjadi pendamping hidup walau, sudah berulang kali Arkan menolaknya.


Dukungan Badri terhadap Saina sehingga dia bersikukuh dengan pendiriannya dan memaksakan diri untuk selalu mengambil hati Arkan, sang duda beranak satu. Kelak, pria itu akan mengajukan syarat apabila dia mau menjadi pendampingnya maka, dia pun harus mau menjadi Ibu angkat bagi Winsi.


Sementara itu di ruang makan, Winsi masih duduk berhadapan dengan Erlan, kedua anak remaja itu bercakap-cakap dengan suasana tegang.


“Ingat, kalau mau jadi anak ayahku jangan main hujan-hujanan lagi jangan main lumpur lagi.”


“Memangnya siapa yang suka main lumpur sama main hujan?”


“Ya, kamulah! Makanya kamu bulukan, kan?”


“Enggak, enggak, aku nggak bulukan!”


“Kata siapa kamu nggak bulukan?”


“Ya, akulah yang bilang ... orang aku yang punya badan, kok!”


“Heh! Dulu ibumu yang pernah cerita kamu sakit gatal-gatal, badanmu merah-merah gara-gara kamu main hujan, main lumpur sama Merry di depan rumah, apa namanya itu kalau bukan buluk?”


“Apa?”


Winsi ingat, peristiwa itu memang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu waktu dia masih kelas satu atau kelas dua SD. Dia pernah terserang penyakit gatal di seluruh tubuh, tapi itu sudah lewat dan, sekarang dia sudah sembuh tidak ada bekas gatal-gatal itu lagi di tubuhnya. Bagaimana Erlan bisa tahu, bahkan dia tidak ingat kalau pernah menceritakan semua itu padanya?


‘Apa ibu yang cerita dulu sama Bi Neni, ya? Lalu, gimana Erlan bisa tahu aku pernah sakit gatal-gatal itu? Ahk ... Yang benar saja!’ batin Winsi kesal.

__ADS_1


“Terus ... kalau memang aku masih punya sakit gatal-gatal, seperti yang kamu mau bilang aku bulukan, apa kamu mau mengusir aku dari sini, gitu?”


Bersambung


__ADS_2