Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
76. Bukan Kebetulan


__ADS_3

Bukan Kebetulan Erlan Bisa Ada Di Sana


“Ya ... nggak mau aja.”


“Apa Erlan punya salah sama kamu?”


“Nggak juga ... cuman aku nggak suka aja.”


Ucapan Winsi membuat Arkan mengerutkan alisnya.


“Kalau nggak suka sama Erlan, sama saja kamu nggak suka dengan Ayah juga.”


“Bukan begitu Ayah ... tapi aku masih capek masih pengen tidur.” Winsi berkata dengan gaya mengantuk.


Arkan tahu jika ucapan Winsi hanya alasan saja tapi, dia sedikit bisa memaklumi perasaan gadis itu yang tidak menyukai Erlan--anaknya dikarenakan, sikapnya yang selalu menyebalkan. Bahkan mungkin Winsi pernah sakit hati.


Sebenarnya Arkan menduga bila mungkin Winsi sudah tidak membenci anaknya lagi. Namun, ternyata tidak demikian sepertinya anak itu masih menyimpan dendam.


Setelah kepergian Arkan yang akan mengunjungi restoran, Winsi menghabiskan waktu untuk memanjakan diri berendam dalam bak mandi kamar hotel. Setelah itu dia berjalan-jalan di sekitar tempatnya menginap. Itu adalah bangunan megah khas Negara Belanda yang berada di dekat kanal air, cukup bersih dan indah.


Hotel itu begitu cantik bercat orange di kelilingi pohon Pinus yang rindang. Dia menikmati pemandangan dan melakukan swafoto lalu, menguploadnya di media sosial. Kapan lagi bisa ada di kota besar yang terletak di Holland Bagian barat ini, pikirnya.


Sebenarnya Winsi sedikit kecewa karena tiba di sana saat bukan musim salju, melainkan masih musim semi, banyak bunga bermekaran di mana-mana. Meskipun demikian, tetap dia nikmai yang sebagai rasa syukur atas ciptaan yang luar biasa.


Sudah lama dia tidak mengaktifkan ponsel, karena enggan mendapati pesan dan juga menghindari panggilan dari Erlan. Akan tetapi, kali ini dia tiba-tiba saja ingin mengaktifkan ponsel untuk mengabadikan kegiatannya seharian ini dalam bentuk video. Dia hanya seorang diri dan membuat video itu, sambil menunggu ayahnya pulang, lalu, akan dia kirimkan hasilnya kepada sang ibu.


Winsi punya satu akun media sosial yang pernah dia buat saat baru pertama kali memiliki ponsel. Akan tetapi, dia jarang menggunakannya.


Jadi, saat ini adalah untuk pertama kalinya dia membuat sebuah gambar melalui swa foto dan menayangkan di satu-satunya akun miliknya.


Baru sebentar dia menayangkan foto, ada sebuah akun yang mengomentari gambarnya dengan komentar yang aneh.


“Di mana kamu sekarang?”

__ADS_1


Winsi heran dengan komentar dari orang yang tidak dikenalnya ‘siapa ini?’ tanyanya dalam hati.


Akun media yang mengomentarinya itu memiliki nama yang aneh pula, Er Er Kim, sebuah akun yang tidak dikenal sehingga dia mengabaikannya.


Setelah puas melihat hasilnya, Winsi kembali mematikan ponsel untuk menghindari seseorang yang ingin menghubunginya. Ya, dia menghindari Erlan. Dia khawatir jika pria itu marah karena ulahnya.


Saat pertama kali menyalakan benda pipih itu dia melihat banyak sekali pesan dari beberapa teman dan yang terbanyak adalah, pesan dari Erlan. Namun, tidak ada satu pun yang dibalasnya.


Tidak terasa hari sudah menjelang sore dan Winsi kembali ke kamar hotel. Dia hanya berani berada di area yang tidak jauh dari kawasan itu karena ini adalah pengalaman pertamanya.


Winsi melangkah meninggalkan tempat yang tadi, dia gunaka untuk menikmati suasana sambil menunggu Arkan pulang. Tidak terasa sudah lebih dari dua jam dia berada di sekitar tempat itu.


Langkah kakinya belum sampai di depan hotel, saat seseorang yang memakai jaket merah dan memakai penutup kepala serta kaca mata hitam berjalan ke arahnya.


“Di sini kamu rupanya!” orang itu berteriak.


Winsi merasa tidak mengenali orang itu hingga dia hanya meliriknya sekilas, lalu, melewatinya begitu saja, Akan tetapi dia merasa tidak enak karena pria itu berbicara dengan bahasa Indonesia.


“Wiwin!” teriak pria itu seraya menarik tangan Winsi. Gadis itu terkejut dan menoleh heran, ada seseorang yang tidak dikenal tapi tahu namanya.


“How are you? How do you know my name?” tanya Winsi.


“Hais!” Erlan memalingkan wajah sambil membuka kaca mata hitamnya.


“Kamu?” pertanyaan Winsi begitu melihat wajah Erlan yang tersenyum miring.


Pertanyaannya terdengar menyebalkan di telinga Erlan.


Winsi tidak menyangka jika Erlan bisa tiba di tempat itu dalam waktu singkat seorang diri tanpa ayahnya, dia semakin heran dari mana dia tahu keberadaannya padahal, dia yakin bahwa Arkan tidak akan mengatakan apa pun tentang dirinya.


Sementara bagi Erlan, hal yang mudah mengetahui di mana Winsi saat itu berada, hanya melalui foto yang diunggah di media sosialnya.


Tempat itu sudah sangat dikenal dan dia terbiasa dengan kawasan di sana.

__ADS_1


Begitu melihat foto Winsi, dengan segera dia menuju ke tempat itu. Bahkan dia tidak mengatakan sesuatu pada Arkan yang masih beristirahat setelah menghitung keuangan.


Ketika tiba di sana, dia melihat Winsi yang begitu sibuk dengan dirinya sendiri, menikmati pemandangan dan berswa foto. Membuat Erlan tidak tega untuk mengganggu.


Di tempat itu, keberadaan Winsi yang memakai pakaian muslimah, membuatnya berbeda, bahkan Erlan sangat mudah mengenalinya.


“Iya, aku.” Kata Erlan seraya menunjuk dirinya sendiri dan mengangkat dagu.


“Kenapa? Kok, kamu tahu aku ada di sini?”


Mendengar ucapan Winsi, Erlan tersenyum. Dia memberi senyuman pada dirinya sendiri karena menyadari betapa dia tidak diharapkan padahal, saat ini dia merasakan debaran jantung yang tidak terkendali dan, tangannya sudah gemetar ingin sekali meraih wanita itu dalam pelukan.


“Itu mudah, aku lihat fotomu di ef be.” Erlan berkata sambil menahan geram, bagaimana tidak, dia melihat reaksi Winsi yang biasa saja, terkesan abai serta acuh tak acuh kepadanya.


“Oh. Jadi itu kamu yang komen?” tanya Winsi masih sama datarnya. "Pantas, namanya aneh, orangnya aja aneh."


Erlan merasa heran dengan hati nurani Winsi yang seolah-olah tidak merasakan apa pun seperti yang dirinya rasakan. Sikap wanita itu menyiratkan bahwa semua yang pernah terjadi pada mereka yang tidak pernah bertemu selama tiga tahun, bukanlah apa-apa.


‘Apa benar kamu nggak merasakan apa pun padaku, padahal aku rindu setengah mati padamu, Win?’ Batin Erlan dalam diam.


‘Apa kamu sudah lupa padahal dulu kita sering bersama. Apa benar-benar kamu nggak merasakan apa-apa? Ah, yang benar saja!’ Batin Erlan lagi.


“Haha ....!” Winsi tiba-tiba tertawa kecil menertawakan Erlan dan nama akun media sosialnya yang lucu. “Kamu keturunan Korea, atau Cina. Kenapa ada nama Kim?”


“Ngasih nama di medsos itu, tidak ada aturannya, bisa apa aja, di dunia Maya itu tempat semua orang bebas, kok!”


Erlan membelalakkan matanya demi mendengar ucapan Winsi yang ternyata ingat siapa namanya di FB. Ini sedikit melegakan, mengingat selama ini dia begitu mengabaikannya.


“Ayo! Masuk! Di mana kamar kamu?” kata Erlan berjalan mendahului Winsi.


“Eh, eh, mau ngapain kamu tanya-tanya soal kamar segala, pergi kamu!” kata Winsi sambil berlari menuju lift, meninggalkan Erlan begitu saja.


“Wiwin!” teriak Erlan, tapi Winsi tidak menghiraukan dan memasuki lift sambil mencebik kepadanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2