Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
107. Dia Bukan Yang Terbaik


__ADS_3

Winsi Dan Erlan Musim Kedua. Dia Bukan Yang Terbaik 1


 


Hai Readers, selamat datang di cerita DIA BUKAN YANG TERBAIK season kedua! Ceritanya sengaja langsung masuk ke sesi ini karena semua masalah di sesi awal sudah selesai.


 


Happy reading ❤️


 


 


“Selamat ya, Lan. Kamu sudah lulus, sekarang kamu punya gelar baru,” kata Winsi pada Erlan yang sedang duduk di teras samping dekat dengan kolam renang yang tidak ada airnya. Kolam renang keluarga itu sengaja di kosongkan karena masih di bersihkan. Dari tadi pria itu melihat para pekerja sambil sibuk memainkan ponselnya.


“Eh, kamu, Win. Kapan datang?” kata Erlan seraya menoleh sambil mengatasi rasa gugupnya.


“Baru saja.” Winsi menjawab dengan tenang tanpa menatap Erlan lalu, duduk di kursi sebelahnya.


Winsi baru saja tiba di rumah besar, dia sengaja pulang setelah mendapat kabar bahwa Runa, Arkan dan adik kecilnya pulang dari Amsterdam guna menghadiri wisuda Erlan.


“Jadi, aku harus memanggilmu apa?” tanya Winsi sambil tersenyum kecil.


“Memangnya ada yang berubah gitu dengan namaku?”


“Nama sih tetap Erlan, tapi, siapa tahu kamu mau di panggil Pak B.BA!”


“Apa, itu? Ada-ada saja!”


“Pak Bachelor Business Administration!”


“Dih, aneh! Kamu pikir aku ngambil jurusan itu?”


“Ya, mana aku tahu, kamu nggak pernah ngomong, kan, ke aku soal jurusan yang kamu ambil?”


Mendengar ucapan Winsi, bibir Erlan berkedut, ingin dia mengumpat pada gadis yang sudah sok menyalahkannya, padahal dia juga tidak pernah bertanya apa pun tentang dirinya.


“Buat apa juga aku ngomong sama kamu?”


Winsi memalingkan muka sambil tersenyum miring, ternyata dari dulu Erlan tidak berubah padanya, di satu sisi dia selalu saja tidak perduli dan di sisi lain dia akan menjadi orang yang begitu perhatian, bahkan sangat menyebalkan.


“Ya, ya. Memang nggak ada gunanya, makanya, aku nggak salah ngomong begitu?”


“Ck! Tapi nggak perlu juga manggil aku begitulah!”


“Ya terserah akulah!”


“Wiwin!”


“Apa!’


“Ck! Kamu ini,” kata Erlan sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum lagi. Miris, kesal. Dia menganggap tidak ada gunanya gadis itu pulang kalau hanya ingin berdebat. Bahkan, dia baru saja sampai dan langsung menemuinya hanya untuk mengolok-olok gelar barunya.


Ck!

__ADS_1


Sebenarnya kepulangan Winsi adalah karena dia ingin melihat langsung keadaan keluarganya, yang baru saja tiba dari luar negeri. Apalagi dia penasaran dengan adik kecilnya yang masih bayi, menurutnya akan riskan bila harus naik pesawat dalam waktu yang cukup lama. Namun, dia bersyukur ketika tadi begitu tiba di rumah dia melihat ayah, ibu dan Jiddan—adiknya, baik-baik saja. Akan tetapi, dia tidak penasaran dengan orang yang bernama Erlan, bahkan dia tidak mencari atau menanyakannya pada Arkan dan Runa.


Dia tidak ingin tahu bagaimana keadaan Erlan dan bagaimana acara perhelatan wisudanya, yang kemungkinan sangat meriah dan jauh berbeda dengan wisuda di universitas dalam negeri lainnya.


Namun, bukan berarti dia tidak tahu karena dia sudah melihat di beberapa situs resmi ataupun universitas lain di luar negeri yang mengadakan wisuda termasuk universitas tempat Erlan melanjutkan studinya. Dia melihat sekilas hanya saja, beberapa video singkat yang menggambarkan secara jelas acara wisuda mereka. Walaupun, singkat saja tetapi, dengan melihat itu semua sudah menjadi gambaran bagaimana wisuda Erlan di langsungkan.


Winsi tahu dari ibunya bahwa, setelah wisuda berakhir, ada pesta kecil yang diadakan oleh Erlan bersama teman-temannya di apartemennya. Namun, sekali lagi dia tidak penasaran karena beberapa foto sudah Runa kirimkan kepadanya.


Jadi, gadis itu tahu bagaimana pesta kecil itu diadakan karena ibunya pun terlibat di dalamnya. Runa pun mengirimkan foto-foto Zidan yang dipakaikan topi toga milik Erlan. Anak kecil itu terlihat sangat lucu hingga Winsi menjadikan gambar itu sebagai wallpaper di ponselnya.


Saat sore menjelang, Winsi melihat para pekerja yang membersihkan kolam renang belum juga selesai, hingga dia tergerak untuk melihatnya. Dia tidak menduga kalau ternyata Erlan sedang duduk di sana. Dia sedikit terkejut karena dia pikir pria itu tidak ada di rumah sebab dia tidak melihatnya sejak tiba di rumah.


“Kenapa kamu pulang nggak ngasih tahu aku, kamu masih libur semester, kan?” Erlan berkata sambil menatap Winsi sejurus lalu, menegakkan punggung pertanda dia tengah serius.


Winsi memiringkan kepalanya, melihat Erlan sekilas lalu mengangguk.


“Ya, aku masih libur semester, kalo soal ngasih tahu aku sudah bilang sama Ibuk kalau aku mau pulang. Aku kira kamu nggak ikut pulang!”


“Kamu mau berapa hari di sini, sebulan?”


‘’Sebulan, kepalamu!” batin Winsi.


“Nggak, kalau aku di rumah lama-lama, gimana tokoku ditinggalin terus!”


“Kamu sudah buka toko?”


“Sudah!”


Winsy pun akhirnya menceritakan kepada Erlan tentang bisnis barunya dengan penuh semangat, barang dagangannya sudah bertambah banyak, bahkan dia bekerja sama dengan Anas. Bukan hanya itu, kemudian dia juga menceritakan bagaimana kegiatan sehari-harinya bersama Nia, seorang temannya yang dulu pernah berada di satu sekolah yang sama dengan ddirinya


Winsi begitu bersyukur dengan semua yang sudah dia capai setelah berjuang selama kurang lebih dua tahun lamanya. Usaha serta kemandiriannya mulai memperlihatkan geliat walaupun, belum menghasilkan keuntungan yang banyak, maklum saja omzetnya saja tidak seberapa.


“Lan, terima kasih, ya?” kata Winsi setelah ceritanya selesai.


“Untuk apa?”


“Hasil tes DNA!”


“Apa kamu bertemu Bapakmu lagi, Win?”


“Ya. Aku ketemu sama Bapak, jadi aku jelasin saat itu juga sama Bapak. Kebetulan juga ada Om Anas!”


“Wah, yang bener? Om Anas temannya Mas Adi, dia masih pacaran sama Waila?”


“Masih.”


“Gomana reaksi Om Anas sama Pak Basri?”


“Bapak ... dia nangis, Lan!”


“Bapak! Bapak siapa maksud kamu, Win?” tiba-tiba Runa datang menyela ucapan dua anak itu.


Tanpa mereka sadari, para pekerja sudah selesai dan mereka sudah pergi dari tempat itu satu persatu, dan kolam renang sudah mulai terisi.


Runa berjalan ke arah teras samping sambil membawa camilan yang sengaja dia beli dari Amsterdam, untuk dinikmati dua anak itu sambil berbincang. Dia tidak menduga saat dia tiba di sana, bertepatan dengan Winsi dan Erlan yang menyebutkan nama Basri dengan jelas.

__ADS_1


Winsi seketika berdiri dan gugup, dia khawatir jika kabar yang dibawanya, tentang tes DNA atau caranya menolak Basri akan melukai hati Runa, yang tidak menyukai caranya bertindak atas dasar keinginannya sendiri, tanpa pemberitahuan sebelumnya.


“Ibu ... maaf.” Hanya itu yang keluar dari bibir Luna ia meremas tangannya sendiri sedang bibirnya bergetar dan air matanya mulai menetes, saat melihat ibunya itu, sedangkan ingatannya melayang pada pertemuannya dengan Basri membuat hatinya kembali bersedih.


“Ibu, duduk saja dulu di sini. Kami akan menjelaskannya.” Erlan berkata sambil merengkuh bahu Runa dan mendudukkannya di kursi yang ada di hadapannya sedangkan dia duduk kembali di tempat semula, begitu pula dengan Winsi, walaupun, kecemasan masih terlihat jelas di wajahnya.


“Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian dan Basri?” kata Ryna yang langsung mengatakan rasa penasarannya secara terus terang.


Erlan melihat Winsi yang sudah menitikkan air mata dan terlihat cemas di wajahnya yang pucat hingga dia pun menjelaskan secara perlahan duduk permasalahan yang dipertanyakan oleh Runa. Dia tahu bahwa Winsi tidak mengatakan apa pun pada ibunya tentang semua yang dialaminya, dari sejak Winsi bertemu dengan Basri saat menjadi sopir taksi onlinenya.


Itulah awal mula mereka berjumpa dan kemudian kejadian selanjutnya adalah pertemuan Winsi dengan Anas. Kejadian demi kejadian berlangsung hingga gadis itu mulai penasaran.


Erlan pun membantu meredakan rasa penasaran itu dengan inisiatifnya sendiri, dia melakukan tes DNA atas Winsi  dan Anas karena hanya itu yang bisa dia pergunakan untuk menyanggah tuduhan Basri. Kedua anak itu yakin jika ayah kandung Winsi tidak bisa menerima penjelasan tentang kebenaran apabila tanpa bukti.


Setelah Erlan menjelaskan permasalahan dengan hati-hati, Winsi mulai menarik nafas dalam dan dia pun duduk berlutut di depan Runa untuk meminta maaf padanya.


Saat itu, Arkan datang dan melihat serta mendengar semua yang terjadi tanpa bicara sepatah kata pun, walau dalam hatinya ingin menginterogasi putranya dengan caranya sendiri.


“Maafkan Wiwin, Bu ....”


“Ya, kalian memang salah, terutama kamu, Win. Kenapa nggak pernah cerita sama Ibumu ini, Nak?”


“Buk, kan Wiwin sudah minta maaf ...”


“Ya, sudah. Toh semua sudah terjadi, tapi, Bapakmu bilang apa sama kamu, Win?”


Winsi beranjak dari berlutut dan kembali duduk setelah melihat ke arah Arkan dan ibunya. Ayahnya itu tidak beraksi, dia tetap tenang seperti biasa seolah tidak ada siapa pun di sekitarnya.


Setelah menarik napas dalam, Winsi pun menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Basri di tempatnya tinggal saat ini. Di tengah-tengah ceritanya dia menangis dan sebentar-sebentar menyusut air matanya dengan punggung tangan.


 


“Apa? Bapakmu sampai berlutut meminta maaf padamu?” tanya Runa sambil menatap Arkan dan sinar matanya sedikit ceria.


“Ya.” Sahut Winsi singkat.


“Lalu, apa kamu memaafkan Bapakmu, Nak?”


Winsi diam sebentar, lalu kembali berkata, “Apa aku boleh membencinya seumur hidup, Bu?”


“Tidak!” kata Runa, Arkan dan Erlan secara bersamaan. Tentu saja mereka tidak akan menyetujui hadirnya rasa benci antara ayah dan anak, apalagi untuk seumur hidup.


Winsi tersenyum miring, sambil memiringkan wajahnya. Sebenarnya kebencian dalam hatinya sudah hilang. Hanya ada kehampaan di satu sisi lain benaknya, yang tidak akan pernah terisi satu rasa pelengkap sebagai seorang anak perempuan yang dicintai dan diterima sejak dia lahir ke dunia.


“Ya, Bu. Aku memaafkan Bapak. Biar bagaimanapun, aku tetap anak Bapak, kan?” kata Winsi sambil tersenyum.


Setelah itu, semua yang ada di sana mengucapkan syukur, dengan keadaan yang kini baik-baik saja.


Saat Winsi mengatakan bahwa dia menolak pemberian warisan rumah dari Basri bahkan justru meminta untuk menikahi seorang wanita yang bisa mengurusnya, Runa dan Arkan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin anak kecil yang baru saja beranjak dewasa itu bisa berpikir demikian.


Basri bukanlah pria terbaik bagi keluarganya, karena memang setiap manusia tidak ada yang sempurna, tapi, Winsi adalah anak terbaik yang menjadi keturunannya. Sayangnya, laki-laki itu tidak pernah ada untuk mendapatkan kebaikannya.


Dia anak kecil yang dulu begitu polos menerima semua kekerasan dari bapaknya, dengan suka rela tanpa mengetahui alasannya. Setelah tahu alasan mengapa sang bapak memukul dan bersikap kasar padanya, dia masih bisa menerima juga. Walaupun alasan Basri hanyalah anggapan yang sangat konyol dan tidak berdasar bahkan menuduhnya dengan sesuatu yang salah tapi, ia tetap memaafkannya.


Erlan mengusap wajahnya lalu melirik Winsi, peri kecil yang dulu pernah merengek ingin naik sepeda bersamanya itu kini sudah dewasa. Dia benar-benar memiliki hati seorang peri. Namun, apakah gadis itu, suatu saat nanti bisa menerima dirinya apa adanya?

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2