Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
147. Sebuah Pilihan


__ADS_3

Sebuah Pilihan


 


Wajah keduanya tampak serius ketika keluar dari restoran sambil bergandengan tangan. Tanpa bicara mereka masuk ke mobil lewat pintu tempat duduknya masing-masing. Tidak ada keromantisan seperti Erlan yang membukakan pintu untuk istrinya. Wajah laki-laki itu mulai tegang, ketenangan yang biasanya tampak begitu mendominasi seolah-olah mulai terusik badai.


Erlan menjalankan mobilnya hingga ke suatu tempat, melewati jalan yang sama menuju tempat tinggal keduanya. Lalu, mobilnya berhenti di sebuah rumah sederhana, milik seorang pemuka agama yang tinggal di lingkungan mereka.


Winsi dan Erlan masuk ke rumah itu secara beriringan setelah di persilahkan, mereka menemui seorang ustaz yang saat kematian Badri dan juga Arkan, beliau hadir memandikan jenazah.


Tamu sepasang suami istri itu di persilahkan duduk, lalu, setelah berbasa-basi dan menanyakan kabar, Erlan langsung menanyakan pada pokok permasalahannya.


Masalah yang membawanya datang ke rumah Ustad Ja’far, demikian dia biasa di panggil, untuk menanyakan tentang kegelisahan hatinya dan juga, konflik yang ditemukan antara Winsi dan juga Hanifah.


“Wah! Jadi, Nak Erlan punya dua istri?” kata Ustaz Jafar tidak percaya.


Menurutnya Erlan masih sangat muda, merupakan hal yang luar biasa kalau mau melakukan poligami padahal, belum memiliki pengalaman yang cukup lama dalam membina rumah tangga. Dirinya sebagai ustadz saja belum bisa melakukannya karena khawatir, tidak bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Jika dia nekat hanya akan mendatangkan murka dari Allah semata karena sudah melanggar larangannya.


Komentar awal yang datang dari Ustaz itu tentu saja membuat Winsi tersenyum miring dan juga memalingkan mukanya karena dia, tidak bisa menahan geli, ustaz itu seperti menohok Erlan tepat di ulu hati.


Ustad Jafar mendengarkan penjelasan dari Erlan dengan saksama dia bersikap bijak dan juga menyimak secara hati-hati. Tidak sepatah kata pun dia memotong pembicaraan tamunya, sampai pria itu selesai mengutarakan masalahnya dan tampak ketenangan kembali di wajahnya.


“Sebenarnya kalau menurut hukum syarat sahnya pernikahan, maka, pernikahan kamu itu sah karena sudah sesuai, yaitu ada saksi dan ada yang dinikahkan, yaitu laki-laki dan perempuannya, ada mahar dan ada ijab qobul.”


Saat Ustad Ja'far pembicaraan seperti itu Erlan menoleh kepada Winsi, dan tersenyum lalu dia berkata, “Tuh, kan, pernikahannya sah!”


Sebenarnya Erlan sempat gamang ketika Winsi mengatakan jika pernikahannya tidak sah sebab dia selama ini menganggap Hanifah sebagai istrinya, bahkan ada juga surat nikahnya. Seandainya memang tidak sah, berarti begitu banyak dosa yang sudah dia lakukan.


Bagaimana tidak gamang, sebab mereka sudah sering bersama berpelukan, tidur dalam satu tempat tidur dan juga melakukan banyak sekali kontak fisik, seperti berciuman karena Hanifah menganggapnya sebagai ayah dan dia meminta, untuk dicium saat Erlan hendak pergi ataupun datang.


“Nah, kan, masalahnya perempuannya gila, ustaz?” kata Winsi.

__ADS_1


“Jadi, kalau menurut Wiwin tadi, ibadah harus dilakukan oleh orang-orang yang sehat baik akal dan fisiknya itu benar, dan menikah adalah ibadah juga.” Ustadz Ja’far kembali bicara.


“Tuh, kan, aku juga benar!” kata Winsi.


“Tunggu, kalian jangan bertengkar di sini, saya hanya heran, kenapa Nak Erlan tidak membawa Hanifah rumah Sakit jiwa saja?”


“Nah, saya juga bertanya seperti itu Ustad!” kata Winsi dan Erlan diam, lalu pria itu menceritakan akar masalahnya dengan pihak keluarga Hanifa.


“Kalau memang Nak Erlan menganggap Hanifah benar-benar sebagai istri, harusnya berusaha untuk menyembuhkannya ... justru karena menjadi tanggung jawab, makannya, harus membawanya ke rumah sakit jiwa.”


Ustadz Ja’far kembali diam sekedar menarik napas dalam-dalam.


“Jadi, jangan membiarkan berlarut-larut hanya karena khawatir dengan penilaian keluarganya, kasihan dia! Katakan saja pada keluarganya bahwa, ini semua hanyalah untuk kebaikan Hanifah.”


“Kalau kamu membawanya berobat ke tempat yang tepat, bukan berarti tidak sanggup untuk mengurusnya. Kalau tidak salah, justru dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa akan membutuhkan biaya yang lebih besar dari sekarang ... Nah, itu menunjukkan kesungguhan, kalau Nak Erwan benar-benar menyayanginya!”


Winsi termenung sedangkan tatapan matanya tidak lepas dari Erlan yang duduk di sampingnya. Dalam hatinya kembali berkecamuk berbagai macam perasaan. Seandainya Erlan benar-benar membawa Hanifah pergi ke rumah sakit, kemudian dia suatu saat akan sembuh sedangkan, mereka sah dalam ikatan pernikahan sebagai suami istri ... Lalu bagaimana dengan dirinya?


Ustad Ja’far dan Winsi tersenyum kecut.


“Jadi, sebenarnya seorang muslim yang baik itu adalah seorang yang bisa meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya dan, sekarang apakah gunanya seorang istri yang tidak waras bagi suaminya? Nah, itu tidak ada gunanya, kan? Justru akan menambah beban saja baik di dunia maupun di akhirat kelak. Apalagi kalau dibiarkan terlalu lama gilanya.”


“Nah, aku setuju sama Pak Ustadz, Lan. Besok kita bawa Hanifa ke sana, ya?” kata Winsi penuh semangat, walaupun ada riak-riak kecil kebimbangan mendera hatinya.


Dia takut kehilangan pria itu. Dia sudah kehilangan ayah,  kehilangan cita-citanya, kehilangan teman dan rumah yang dibangunnya sendiri, kehilangan teman seperjuangan seperti Anas dan Ina.


Apakah dia harus memperebutkan Erlan sebagai suami dengan Hanifa, hanya agar tidak kehilangan lagi? Sedangkan untuk menjalani hidup penuh persaingan cinta dalam berpoligami, dia sungguh tidak bisa. Semua hanya akan sia-sia kalau tidak ada keikhlasan di dalamnya.


CK!


“Erlan, Wiwin, kalian harus bekerja sama dalam mewujudkan tujuan menikah yang mulia dan suci, pernikahan itu adalah ibadah antara dua orang bukan ibadah sendiri-sendiri seperti salat Sunah atau mengaji. Tidak akan tercipta sebuah pernikahan dengan cita-cita suci yang sering disebut sakinah mawadah Warohmah, kalau suami istri egois berjalan dengan keinginannya sendiri-sendiri.”

__ADS_1


“Ya. Pak Ustadz.” Erlan dan Winsi berkata secara bersamaan.


“Jadi, bagus kalau kalian mau bekerja sama seperti ini bahkan kalian jadi contoh buat saya.”


“Oh, Pak, saya yang berterima kasih sudah di beri nasihat,” kata Erlan.


“Saya hanya memberi pandangan sesuai kemampuan saya saja sedangkan, untuk keputusan semuanya tergantung pada, Nak Erlan sendiri ... saya tidak bisa memutuskannya, harus seperti ini atau seperti itu, karena kamu bisa memikirkan sendiri mana yang terbaik untuk dirimu dan mana yang tidak ...”


Ustad Jafar kembali diam, baik Winsi dan Erlan juga diam menyimak dengan baik.


“Termasuk, mana yang akan memberatkanmu dan mana yang ringan. Nak Erlan, hidup ini sudah berat, tanggung jawab diri sendiri saja sudah rumit, jangan ditambah-tambahi lagi dengan sesuatu yang kalian tidak mampu untuk memikulnya, seperti mengurus orang gila ... Maaf, bukannya saya menilai sikap kamu ini salah, Nak Erlan, tapi, kamu memang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tentang mengurus orang seperti itu.”


“Ya. Pak, saya memang tidak punya pengetahuan tentang itu!” sahut Erlan rendah hati.


“Ya. Jadi, jangan paksakan diri ... karena kalau memaksa terus ... sama saja engkau menzalimi dan menganiaya diri sendiri, itu juga termasuk larangan Allah.”


Ketakwaan adalah meninggalkan larangan Allah seluruhnya tapi laksanakanlah perintah Allah semampunya.


“Nah! Jadi, sekali lagi Jangan memaksakan diri kalau tidak bisa, jangan terus-menerus menzalimi diri kita sendiri, kalau berbuat zalim pada diri sendiri, bagaimana Allah mau sayang dengan kita?”


Winsi dan Erlin tertegun demi mendengar jawaban demi jawaban yang diberikan oleh Ustadz Zafar.


Setelah semua masalah dirasa sudah disampaikan semuanya hingga kemudian mereka berpamitan untuk pulang.


 


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2