
Cemburu Buta
Wanita yang muncul secara tiba-tiba dan baru saja keluar dari mobilnya itu adalah Waila, pandangan matanya nanar melihat ke arah Winsi, sepertinya wanita itu sedang tersulut emosi.
Bagaimana dia tidak emosi, ketika dia melihat sebuah tayangan live streaming dari salah satu aplikasi media sosialnya, Anas sedang memeluk wanita itu di depan tokonya. Dia tidak tahu jika sebenarnya yang dilakukan Anas hanyalah untuk menenangkan pegawainya. Namun Winsi pun mendapatkan pelukan juga tanpa bisa ditolak.
Pemandangan itulah yang membuat Waila cemburu buta, dia tidak hadir di sana sehingga tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Dia hanya melihat sekilas dari seseorang yang menayangkan video pelukan itu tanpa tanggung jawab.
“Kenapa kamu peluk-peluk Om, Anas? Hah!” kata Waila, setelah berada di dekat Winsi yang hendak masuk ke dalam mobil polisi, bersama teman-temannya.
“Aku tahu siapa kamu, Win?”
Belum sempat Winsi menjawab para polisi sudah kembali mempersilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam mobil, yang sudah disediakan untuk membawa para saksi yang akan memberikan keterangan pada saat kejadian.
Anas pun tidak menduga jika Waila akan datang dalam keadaan marah, apalagi cemburu pada winsi dan teman-temannya. Sebenarnya dia merasa geli hingga kemudian pria itu segera merengkuh bahunya dan menenangkannya. Dia mengajak Waila ikut bersama ke kantor polisi untuk menemani para pegawainya yang hendak memberikan keterangan di sana.
Di sepanjang perjalanan Anas memberi penjelasan kepada Waila tentang apa yang terjadi. Gadis itu mendengarkan jangan saksama dan Anas pun menjelaskan bahwa pelukan yang diberikan kepada para pegawainya itu bukanlah bentuk dari rasa cinta, melainkan hanya untuk menenangkan mereka.
“Bukannya kamu tahu dari dulu kalau aku memang seperti itu, makanya kamu jatuh cinta padaku karena aku dulu hangat dan baik sama kamu,” kata Anas sambil mencolek lembut ujung hidung Waila yang duduk cemberut di sampingnya sementara dia fokus mengemudi mengikuti mobil polisi yang ada di depannya.
“Tapi, kenapa harus peluk Wiwin juga, sih, Om?”
“Memangnya kenapa? Justru Wiwin yang aku anggap seperti anak sendiri,” sanggah Anas tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
__ADS_1
Anas tidak tahu justru itu yang menjadikan Waila cemburu, dia baru mengetahui jika di masa lalu pernah ada sesuatu atau sebuah cerita yang terjadi antara Anas, Winsi dan ibunya.
Waila mengetahui cerita itu dari mulut Anas sendiri, padahal sebenarnya Anas bercerita hanya sebagai bentuk rasa syukur bahwa, masalah yang dulu pernah dia pendam selama bertahun-tahun kini akhirnya mencair juga.
Ternyata pemikiran Waila ternyata berbeda, dia merasa jika Anas tidak harus memeluk Winsi karena dia adalah seorang wanita yang gampang membuat siapa pun jatuh cinta.
Dia sudah sangat cemburu ketika dulu Erlan mengaku begitu dekat dengan Winsi. Bahkan dia melihat sendiri bagaimana interaksi antara Erlan dan Winsi serta, tatapan pria itu yang berbeda apabila menatap kepadanya.
Lalu, begitu mengetahui sekarang Anas memeluknya penuh kasih sayang seperti itu, dia tidak tahan lagi hingga kemarahan pun muncul serta ingin segera melampiaskannya.
Selama perjalanan itu berulang kali Anas menghiburnya dan menenangkan Waila agar kembali percaya padanya bahwa dia hanya mencintai dirinya seorang saja. Hubungan yang selama ini bermula dari kedekatan, menganggapnya sebagai seorang Paman, ternyata berlanjut begitu dalam hingga akhirnya Anas pun tidak bisa melepaskan Waila begitu saja.
Anas berniat akan menikahinya tetapi, keinginannya belum mendapatkan restu dari Nafadi, sahabatnya sendiri. Laki-laki itu sepertinya belum rela jika anak perempuan satu-satunya, harus menikah dengan seorang duda seperti dirinya.
Semula Nafadi merasa sangat cocok dan mendukung jika Waila menjalin hubungan dengan Erlan, tapi, setelah mengetahui jika putra dari Arkan itu justru menyukai Winsi, dia tidak berharap lagi. Sungguh manusia tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap satu manusia lainnya, demikian pula yang dipikirkan Nafadi jika manusia lainnya pun tidak bisa memaksakan kehendak kepadanya.
Setelah interogasi selesai, Anas mengangkut kembali para pegawainya itu dan mengantarkan mereka ke kediamannya masing-masing. Mereka semua merasa lega karena sudah menyampaikan apa yang menjadi kewajiban mereka hingga selanjutnya menjadi urusan pihak yang berwajib.
Urusan mereka sekarang hanyalah membereskan halaman depan toko dan kembali memutuskan apakah akan melanjutkan usaha yang sama atau tidak.
Sesampai di depan rumah Winshi dan Nia, Waila pun turun untuk berganti kendaraan pribadinya. Pada saat itu menjadi kesempatan bagi Winsi untuk menjelaskan kesalahpahaman, yang tadi dilihat Waila. Gadis itu sengaja menjelaskannya sekarang ketika tidak terlalu banyak orang di dalam kendaraan.
“Om Anas, mulai sekarang jangan peluk-peluk Wiwin sembarangan lagi ya, nanti ada yang cemburu padahal, Wiwin nggak minta loh, didipelu! Kita semua tetap baik-baik saja tanpa pelukan dari Om!”
__ADS_1
Mendengar ucapan Winsi itu, Anas pun terkekeh geli, gadis itu terlalu terbuka dan jujur apa adanya. Dia tidak peduli apa yang akan dipikirkan orang lain tentang dirinya, terlepas dari kebenaran ucapkannya. Terkadang orang lain justru lebih kuat ketika mendapatkan sebuah musibah tidak seperti anggapan dan penilaian orang lainnya.
“Baiklah, baiklah, aku tidak akan memelukmu sembarangan lagi.” Kata Anas setelah berhenti tertawa.
“Janji ya, Om, kapan pun di mana pun, oke?” sahut Winsi datar.
“Kau dengar sendiri, kan, Waila ... kalau aku dan Winsi itu tidak ada apa-apa, lihat dia tidak mau aku peluk. Jadi, jangan marah lagi sama dia, ya?” kata Anas sambil merengkuh bahu Waila dan, membukakan pintu mobil untuknya. Sementara dia pun masuk ke mobilnya sendiri, mereka pergi setelah melambaikan tangan pada Winsi juga Nia.
*****
Malam itu ketika Winsi baru saja hendak tidur mengistirahatkan diri ketika terdengar dering teleponnya di atas meja. Dia dan Nia merasa begitu lelah setelah selesai membereskan sisa-sisa kekacauan di depan toko.
Mereka tidak ingin menunda untuk membersihkannya, selain karena tidak enak dipandang mereka juga menyukai kebersihan, apalagi esok hari waktunya mereka kembali melanjutkan perkuliahan hingga tidak ada waktu untuk membereskan kecuali hari ini.
Winsi mengangkat telepon dengan malas namun Dia segera menegakkan punggung dengan serius, ketika melihat nama yang tertera di telepon genggam itu. Ibunya yang sudah menghubunginya. Dia menyapa dan mengucapkan salam, setelah menempelkan benda pipih itu ke telinga.
Dari seberang sana terdengar suara Runa yang terlihat begitu mengkhawatirkan anaknya, berbagai pertanyaan dia lontarkan secara beruntun hingga Winsi pun kebingungan untuk memulai menjawabnya.
Runa mengetahui apa yang terjadi pada Winsi dari berita malam di televisi yang kebetulan sedang dilihatnya. Dalam berita itu dengan jelas menunjukkan kejadian di mana anaknya, ada di antara kerusuhan yang terjadi tepat di depan tokonya berdiri.
Di berita yang dilihatnya, mengirim beberapa video amatir yang ditayangkan begitu mengerikan tentu saja Ibu dari dua anak itu langsung menghubunginya saat itu juga.
“Ibu tenanglah, aku tidak apa-apa ... semua sudah selesai sekarang itu beritanya aja yang telat, aku udah ada di rumah, aku baik-baik aja kok,” kata Winsi mencoba menenangkan hati ibunya.
__ADS_1
“Tapi, Nak. Ibu kuatir sama kamu ... dulu Ibu pernah mengalami hal buruk juga, sekarang kamu! Waktu waktu itu, kan, Ibu juga punya toko seperti kamu sekarang ... Jadi, apa salahnya Nurtin keinginan ibu? Kamu pulang ke sini, nggak perlu susah-susah buka toko dan cari uang, nggak perlu!”
Bersambug