
Babas
Winsi malas meladeni pertanyaan Erlan hingga dia melengos sambil membawa kembali tas ransel yang semula diturunkan. Suara laki-laki itu meninggi saat bertanya, membuatnya malu bila di dengar oleh orang lain.
Gadis itu ingin pergi karena kangen ibunya dan akan tinggal di sana kalau bisa. Masa bodoh dengan sekolah dan hal lainnya karena yang penting saat ini adalah melihat apakah Runa baik-baik saja.
“Hai, Win! Kamu mau ke mana?”
“Bawel! Gak ke mana-mana!”
“Kalo nggak ke mana-mana kok bawa tas yang segede itu?”
Winsi menoleh sebentar dengan kesal dan membatin ‘kan aku sudah bilang tadi mau ke kantor polisi, bodoh!’
“Ya, ya, aku antar. Ayo Naik!” kata Erlan setelah melihat Winsi terus berjalan tanpa memedulikan dirinya.
Angin yang berembus kuat saat motor matic mulai melaju, membuat kerudung Winsi berkibar, dia sedikit canggung walau, tas besar jadi jarak antara badan mereka di atas kendaraan yang tengah berjalan.
Perjalanan selama beberapa waktu melenakan gadis kecil itu dengan pikirannya karena dia tidak tahu harus bagaimana jika tanpa ibunya.
‘Seperti inikah rasanya bila tidak memiliki seorang Ibu ... aku harus bagaimana?’
Winsi seperti kata pepatah ‘bagai anak ayam kehilangan induknya’ bingung! Dia tidak pernah sendiri, selalu ada ibunya dan tidak dekat dengan ayahnya, hingga dia seolah kehilangan pegangan saat terjatuh.
Erlan melihat Winsi yang menangis dari kaca spion motornya, membuatnya menghentikan kendaraan itu di sisi jalan lalu, mengajaknya duduk di trotoar.
“Sebentar lagi sampai, sekarang ceritakan dulu kenapa Ibumu bisa ada di sana?” tanyanya saat mereka sudah duduk berdampingan.
Winsi menoleh sebentar ke arah Erlan, melihat wajahnya dengan penuh harap, dia bisa menjadi tempat yang tepat baginya untuk bicara.
__ADS_1
Gadis itu mengatakan semua yang terjadi sejak awal, tentang kedatangan Nira, tuduhan yang dia terima bahkan secara gamblang dia mengatakan bahwa, dia pantas menerima semua penderitaan karena dia memang anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya di dunia oleh bapaknya. Jadi wajar bila Basri mendukung perempuan itu memasukkannya ke sel tahanan walaupun dia belum tentu terbukti bersalah.
“Jadi, Ibumu menggantikan posisimu, begitu?” tanya Erlan. “Kamu benar-benar nggak mencuri, kan?”
“Nggak, Lan!” kata Winsi sambil mengusap air mata. “Aku nggak tahu dia punya gelang seperti itu. Nggak tahu juga gimana bisa ada di tasku. Padahal aku bawa tas itu ke sekolah nggak ada apa-apanya. Aneh, kan?”
Setelah Winsi selesai bercerita, Erlan meraih ponsel di saku celananya, lalu menngusap layar untuk melakukan panggilan.
“Ayah!” katanya begitu telepon itu tersambung. “Kapan, Ayah pulang?”
Setelah mengatakan beberapa hal, Erlan berharap Arkan bisa segera pulang dari Yogyakarta secepatnya karena dia tengah memiliki masalah yang harus diselesaikan dengan segera.
Winsi tidak mengerti kenapa Erlan menghubungi ayahnya setelah mengetahui kejadian yang menimpanya. Akan tetapi dia tidak bertanya karena merasa dirinya tidak perlu tahu urusan laki-laki itu.
Mereka kembali berkendara dan sampai di depan kantor polisi itu tepat sebelum magrib tiba. Ruang tahanan berada di bagian belakang, tentu saja tidak ada waktu tertentu untuk mengunjungi mereka yang masih di tahan di sana.
Erlan mengantarkan gadis itu ke tempat ibunya berada, setelah melapor dan mengisi buku tamu serta prosedur lainnya.
“Ya!” sahut Winsi sambil mengangguk, lalu duduk di lantai dekat jeruji besi yang memisahkan antara dirinya dan ibunya.
Erlan sudah payah mendapatkan izin agar Winsi bisa bersama ibunya malam ini. Gadis itu terus merengek tak tahu malu di depan beberapa polisi yang bertugas malam itu.
Sebenarnya mereka membutuhkan seorang pengacara, untuk bisa mendapatkan izin tinggal sementara di ruang tahanan padahal, Winsi bukan terdakwa yang harus menanggung hukuman di pengadilan. Akan tetapi Erlan berjanji akan mendatangkan pengacara untuk Runa secepatnya, hingga para polisi itu memberikan pemakluman padanya.
Dengan berat hati, Erlan meninggalkan gadis itu dan ibunya di dalam sana karena dia pun mempunyai beberapa janji yang harus dia tepati bersama teman-temannya.
“Ibu, kapan bisa bebas dari sini?” tanya Winsi dalam pelukan ibunya, dia berada di sana bersama para tahanan lainnya yang bernasib sama, menunggu sidang keputusan hukuman atas kesalahan mereka, entah apa yang akan mereka terima.
Runa menghela napas panjang, dia tidak tahu akan sampai kapan dia menjadi seorang tahanan. Mengingat sekarang mereka terkurung, membuatnya memahami makna bebas yang sesungguhnya bagi seorang manusia di dunia.
__ADS_1
Sebebas-bebasnya manusia, tetap harus menaati aturan yang ada, baik dari pemerintah, dari kepala keluarga, bahkan dari Tunannya. Ini adalah satu-satunya peraturan yang mengekang dan tidak bisa dibantah dengan alasan apa pun juga. Sebab, melakukan sholat saja, bila tidak bisa berdiri maka harus dilakukan dengan duduk, kalau tidak bisa duduk dengan berbaring, kalau tidak bisa berbaring maka dengan gerakan mata.
Peraturan ini menandakan bahwa aturan Tuhan tidak bisa dibantah bagaimanapun caranya.
“Nak, tidak ada kebebasan mutlak di dunia ini, kecuali di surga,” kata Runa, membuat Winsi berpikir dengan mengerutkan alisnya. Lalu dia tersenyum dan lambat laun mulai tertidur.
Walau tinggal di ruang sempit, beralaskan tikar dan berdesakan dengan orang yang tidak mereka kenal, selama itu masih bersama ibunya maka, itulah tempat ternyaman baginya.
Malam semakin larut, kantor polisi itu semakin terasa sepi, hanya ada beberapa orang yang tinggal karena tugas jaga, piket atau mengerjakan laporan dan lembur karena kasus yang mendesak dan sulit di tangani.
Runa dijerat dalam pasal 372 KUHP- Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pencurian, yang berbunyi : siapa mengambil sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, yang dimaksudkan untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.
Unsur-unsur yang memenuhi pasal dan dilakukan oleh Runa dalam gugatan yang diajukan Nira adalah, mengambil sebagian atau seluruhnya dengan maksud menjadi milik pribadi dengan cara melawan hukum. Gelang dan tas sekolah milik Winsi menjadi barang bukti yang di bawa Nira saat melapor, sudah cukup membuat wanita itu tidak bisa berkutik.
Keesokan paginya, Winsi dan Runa terbangun saat mendengar suara adan subuh di masjid yang tidak jauh dari kantor polisi tempat mereka berada. Semua tahanan diberi kesempatan yang sama untuk melakukan ibadah sesuai kepercayaan dan agama yang mereka anut.
Hanya dua orang ibu dan anak itu yang pergi menunaikan salat subuh Setelah membersihkan diri di WC umum yang menyatu dengan ruangan mereka, tempat sementara bagi para narapidana sebelum menghuni rumah tahanan yang sebenarnya.
“Kenapa ada anak kecil di sini? Apa dia juga tahanan?” kata sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari luar jeruji besi, saat Runa dan Winsi baru saja selesai melaksanakan salat subuh. Kedua wanita itu segera menoleh dan melihat sebuah wajah yang tampak mengerikan dari seorang laki-laki bertubuh gemuk serta penuh tatto.
Winsi beringsut mendekatkan ke tubuhnya ke arah Runa dan mendekap erat lengan ibunya sambil menatap pria itu penuh waspada. Tiba-tiba dia teringat bapaknya! Wajah dan tubuh Basri memang tidak seseram orang ini, tapi suaranya yang menggelegar sama persis ketika marah. Sisa rasa sakit dan ngilu di tubuhnya seolah direka ulang, bahkan terakhir kali, laki-laki itu mencekik leher hampir membunuhnya.
Seseorang mendekat pada pria bertato dan menjelaskan keadaan sebenarnya. Dua orang yang tidak berpakaian seragam polisi ini melirik ke arah Winsi, sambil menyeringai aneh beberapa kali. Mereka adalah dua preman yang menjadi informan polisi dan biasanya datang bila ada keperluan atau menyampaikan informasi penting sesuai tugasnya.
“Heh, kamu tahu kalau anak di bawah umur tidak boleh berada di penjara seperti ini?” tanya pria bertato dengan Ekpresi wajah menakutkan. Winsi menggeleng, memang dia tidak tahu.
Runa mengerti ketakutan anaknya hingga dia mendekap Winsi dan menenangkannya. Laki-laki itu terus bertanya tentang Winsi pada Runa dan perempuan itu menjawab dengan sabar.
“Kalau begitu, biar dia keluar saja! Dia belum cukup umur!” kata laki-laki bertato, sambil melangkah mendekati penjaga dan mengambil kunci sel tahanan.
__ADS_1
Bersambung