Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
27. Sebuah Tuduhan


__ADS_3

“Ya. Dengar tuh kata Ibumu. Kamu mencuri uangku, kan?”


Winsi tercengang mendengar ucapan ibunya juga Nira karena merasa tidak melakukan apa yang dituduhkan perempuan itu kepadanya. Dia menatap nanar pada Runa yang masih bersimpuh di hadapan Basri dan juga wanita yang menuduhnya.


Dalam hati, Winsi sama sekali tidak percaya ... heran, mengapa Nira bisa menuduhnya demikian. Namun, dia hanya bisa menggelengkan kepala. Apakah hanya karena mencuri uang orang bisa masuk ke penjara? Dia masih terlalu kecil untuk tahu tentang hukum seperti itu.


“Nggak! Aku nggak pernah mencuri uang siapa pun! Tente bohong, kan?” sanggahnya tegas.


“Hah! Mana ada maling mau ngaku!” kata Nira bersungguh-sungguh, sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sementara Basri terlihat geram dengan mengeretakan rahangnya. Pandangan pria itu begitu tajam bagai sebilah pisau yang siap dihunjamkan. Seandainya tatapan mata bisa membunuh maka mungkin saat ini Winsi hanya tinggal nama.


Nira hendak pergi bekerja, saat merasa kehilangan uang yang semula disimpannya dalam dompet. Cukup lama dia mencari, hingga Runa pulang dari berjualan dan gadis itu mengatakan perihal kehilangannya. Kedua wanita itu pun mencari ke segala penjuru rumah, khawatir uang itu terjatuh atau terselip di beberapa tempat.


Akhirnya, Runa curiga dengan tas gandong lama milik Winsi, yang tersimpan rapi di gundang, tempat di mana anak itu tidur, bila Basri ada di rumah.


Anak itu tidak pernah menggunakannya, karena mirip tas yang dipakai laki-laki. Walaupun, ibunya sering menasihati bila, model seperti itu sudah menjadi trand dan dipakai oleh laki-laki maupun perempuan tidak masalah. Akan tetapi Winsi lebih senang menggunakan tas selempang, yang baginya terlihat lebih manis serta lebih mudah dibawa.


Setelah membuka tas, Runa pun terkejut karena menemukan uang sejumlah lima ratus ribu rupiah di dalamnya. Dia pun menanyakan perihal apa yang sudah ditemukan kepada Nira. Gadis itu pun mengakui jika uang yang ada dalam tas itu adalah gaji hasil kerjanya selama sepekan, yang hilang dari dompetnya. Saat itu Nira tampak begitu bersyukur karena uang itu ditemukan dalam keadaan utuh.


Kedua wanita itu pun bersitegang karena Nira menyangka bahwa Winsi adalah pencurinya! Sebab bagaimana mungkin, uang kertas yang tidak bernyawa, bisa ada dalam gudang padahal pintunya selalu terkunci, saat kedua wanita penghuninya pergi. Jadi, tidak mungkin uang itu ada di sana kecuali, sudah di curi oleh salah salah satu dari Winsi atau Runa.


Runa dan Nira masih belum menyelesaikan pertengkaran tentang siapa pelaku sebenarnya, saat Basri tiba, di luar perkiraan mereka. Tentu saja Nira dengan cepat mengadukan semua yang dialami sekaligus berniat mengadukan Winsi ke polisi agar tidak lagi mengulangi perbuatannya dan jera.


“Aku jujur, Bu! Nggak pernah aku mencuri uang orang!” tandas Winsi lagi.


“Tapi, Nak. Ibu sendiri yang menemukan uang itu dari tas yang kamu simpan di gudang.”


“Bisa Jadi, Tente Nira sendiri yang memindahkan uang ke tas lama itu, kan, Bu?” Winsi berkata sambil memalingkan pandangan dari ibunya.


“Jadi, kamu menuduhku berbuat licik dan curam untuk memfitnahmu begitu?” kata Nira sambil mencengkram bahu Winsi.

__ADS_1


“Nggak, Aku nggak ngomong kalau Tante sudah fitnah aku, berbuat licik dan curang ... Tante sendiri yang ngomong barusan!”


“Kamu! Dasar anak gak tahu diri, kamu ya! Sudah jelas-jelas mencuri tapi malah menuduh orang lain!” Hampir saja Nira mencoba menampar Winsi namun gagal karena tiba-tiba saja Runa berdiri dari bersimpuh dan menahan tangan Nira secepatnya.


“Jangan coba-coba menyakiti anakku!” kata Runa sambil menepis kasar tangan Nira dari cekalan tangannya.


“Sudah, Cukup!” kata Basri seraya memisahkan antara Runa dan Nira lalu melanjutkan bicara, “untuk sekarang, aku mau kamu maafkan mereka.” Katanya sambil menghadap badannya pada Nira, menatapnya dengan lembut agar agar gadis itu mau memaafkan istri dan anaknya.


“Baiklah, Mas. Aku tahu kamu baik banget orangnya, ya ... nggak masalah maafin orang kayak mereka, yang penting uangku masih ada,” Kata Nira sambil bergelayut manja di lengan Basri, tapi menunjukkan wajah yang cemberut sambil menatap Winsi dan Runa.


“Memangnya kami ini orang seperti apa? Kamu tinggal baru seminggu di sini, sudah berlagak menilai orang lain, hah!” sahut Runa kesal.


“Runa! Sudah cukup! Jangan buat aku marah, aku baru pulang, capek!” seru Basri sambil berlalu pergi ke kamar mandi.


Winsi mengambil tas yang tadi dia lemparkan di sofa lalu membawanya ke kamar gudang diikuti Runa yang tampak letih, dia baru saja pulang dan belum sempat membuat makan siang. Akan tetapi justru di suguhi kejadian yang menjengkelkan.


“Bu, kira-kira gimana uang itu bisa ada di sana, aku benar-benar enggak mencuri uang itu.”


“Ya. Ibu sendiri tidak tahu nak tapi Ibu percaya kok sama kamu Kamu nggak mungkin mencuri.”


Selama ini dalam waktu yang cukup lama Winsi tahu tempat di mana Runa menyimpan uang untuk biaya masa depan mereka. Seandainya anak gadis itu memang berniat untuk mencurinya, dia tentu sudah melakukannya sejak lama. Kepercayaan memang terjalin kuat di antara ibu dan anak itu karena dari waktu ke waktu uang itu tidak pernah berkurang sedikitpun bahkan bertambah hingga sekarang.


“Seharusnya tante Nira itu tidak berbuat sombong dan berniat melaporkan aku ke penjara apa-apaan itu?”


“Ya, Nak ... Ibu tahu, bahkan uangnya tidak berkurang sedikit pun, justru aneh kalau dia melaporkan ke pplisi kecuali, uangnya habis dipakai oleh kita berfoya-foya.”


“Tapi, kira-kira dari mana dia bisa membuka pintu kamar gudang kita, Bu?”


“Ibu juga tidak tahu, kemungkinan waktu kita lengah saat sibuk dan membiarkan pintu kamar terbuka.”

__ADS_1


Dugaan mereka benar karena untuk memasukkan uang atau menyelipkannya begitu saja di sebuah tas yang tergantung tidak membutuhkan waktu yang lama.


Iya. Bisa saja ... tapi, uang tabungan kita aman kan, Bu?”


“Ya. Alhamdulillah kalau uang itu aman.”


Sejak saat itu winsi dan Runa lebih waspada pengingat kejadian yang sangat tidak mengenakkan bisa jadi suatu saat nanti wanita itu akan berulah lagi hanya karena berniat buruk dan ingin agar Winsi serta Runa pergi.


Setelah Nira mendapatkan perlakuan tegas dan acuh dari Runa saat Basri sedang tidak ada, Gadis itu menjadi tidak betah tinggal di sana. Akan tetapi, dia membutuhkan Basri juga tempat tinggal sehingga dia berani berbuat nekad dan melakukan berbagai cara agar Runa dan anaknya pergi dari sisi, pria yang sudah mengangkatnya dari keterpurukan.


Hampir saja Nira putus asa waktu itu, ketika kedua orang tuanya pergi dan meninggalkannya dalam keadaan tidak memiliki apa-apa.


Saat itulah Basri datang menolong, menganggapnya sebagai adik dan tidak akan memperistri Nira karena perbedaan usia yang terlaku jauh. Apalagi secara kebetulan mereka sama-sama tidak memiliki saudara sehingga Nira menyetujui keinginan Basri yang terdengar tulus. Baginya, tawaran itu lebih baik daripada tidak memiliki siapa pun lagi untuk saat ini.


Nira berjanji akan menyayangi Basri seperti kakak sendiri tapi, dia tidak menyangka apabila istri dan anak pria itu ternyata tidak cocok serta membuatnya kesal karena tidak bisa dimanfaatkan dan tidak mau menganggap dirinya sebagai adik, sebagaimana Basri yang begitu memanjakannya.


Dia khawatir apabila dia berbuat baik kepada Runa atau Winsi maka, dia akan diperlakukan sebagai pembantu di sana dan dia tidak mau itu terjadi. Sebenarnya dia masih ingin melakukan sesuatu dengan berkata kasar kepada pasangan ibu dan anak itu agar mereka lebih tidak betah lagi, tinggal bersama Basri.


Dia berniat seperti itu, setelah mendengar bila, kedua ibu dan anak itu memang berniat untuk pergi. Akan tetapi Basri memaafkan dan justru memintanya untuk mengampuni Runa dan Winsi hingga tidak ada yang bisa dia lakukan selain menurutinya.


*****


Hari itu Winsi mulai belajar serius, tidak seperti hari kemarin yang lebih santai. Ini hari kedua dan dia berharap tidak ada hal buruk terjadi seperti yang pernah dialaminya. Dia masih memakai bajunya kemarin yang sudah berhasil dikeringkan hampir semalaman.


Winsi duduk tenang sambil menyimak pelajaran, dengan Vika berada di sampingnya, juga diam memperhatikan guru yang tengah mengajar. Saat itulah seorang guru lain masuk dan memberitahukan bahwa seorang anak yang bernama Winsi dipanggil untuk menghadap guru pembimbing ke ruangannya.


Meskipun heran, Winsi tetap beranjak dari duduk dan pergi mengikuti ke mana arah guru yang memanggil tadi, membawanya pergi. Sementara ruang kelasnya berubah menjadi sedikit ramai karena membicarakan berbagai macam dugaan, tentang apa yang telah menyebabkan seorang siswa baru, harus menghadap guru pembimbing di hari pertama sekolah. Itu ... mengherankan sekali!


Fika beserta beberapa teman lain yang mengetahui kejadian kemarin, saling bertanya-tanya apakah karena itu Winsi harus menghadap guru pembimbing mereka? Baginya, Winsi sama sekali tidak bersalah, sebab pemukulan yang dilakukannya adalah bentuk pembelaan diri, dipicu oleh kelakuan Hansya yang berlebihan.

__ADS_1


Bersambung.


“Jangan lupa like, komen, give, fav dan Vote ya ... Terima kasih atas dukungannya”


__ADS_2