
“Tidak ada maksud apa-apa, kamu kan memang begitu? Orang tanya apa kamu jawabnya apa? Sebenarnya sih, mengalihkan pembicaraan orang itu, nggak boleh ... nggak sopan, tahu?” Erlan menjawab melepaskan pegangannya dari lengan Winsi.
“Memang aku begitu? Ah, itu cuma perasaanmu saja!”
“Ya, sudah ... Ayo! aku antar kamu pulang!”
“Nggak perlu, aku bisa jalan sendiri naik taksi, banyak mobil lain di sini!” Winsi menolak dengan tegas sambil mengusap pangkal lengannya yang sakit. Erlan bisa menyakiti tangannya di tempat umum, apalagi kalau mereka hanya berdua di dalam mobil. Oleh karena itu yang sub menolaknya.
Winsi melihat ke arah mobil Erlan sekilas, sambil mendengus kesal. Dia menduga jika laki-laki itu pergi ke Jogjakarta dengan menggunakan mobil itu.
Hal paling aneh yang pernah dia pikirkan karena hanya orang yang kurang kerjaan saja yang mau menempuh perjalanan sejauh itu dengan menggunakan mobil. Itu akan memakan waktu lama dan juga melelahkan, bukan? Lalu, untuk semua yang dilakukan hanya karena ingin bergaya di hadapan manusia. Ah, naif sekali.
‘Apa dia bawa mobil dari rumah sampai ke sini, apa mungkin ada orang yang berkendara melewati jarak sejauh itu atau jangan-jangan dia memang sudah nggak waras, hiii’ batin Winsi.
“Kamu beneran nggak mau ikut? Kenapa, sih?”
Erlan yang semula sudah berdiri di dekat mobil dan membuka pintunya kembali melangkah mendekati Winsi. Melihat pria itu berjalan ke arahnya lagi gadis itu buru-buru mengangguk sambil tercengang.
“Iya, iya! Stop! Berhenti di sana!” kata Winsi sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada, memohon agar Erlan tidak melakukan apa-apa lagi padanya membuat pria itu tersenyum miring di sudut bibirnya.
Akhirnya Winsi pun ikut masuk ke dalam mobil sport yang dikendarai oleh Erlan. Dia hanya memejamkan mata selama di perjalanan karena sudah menduga jika pria itu akan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Ini untuk pertama kalinya Winsi berada di mobil yang dikemudikan sendiri oleh Erlan. Sebelum-sebelumnya memang dia sering bersama tetapi ada hasnu yang selalu menjadi sopirnya.
Tiba-tiba mobil yang berjalan cukup cepat itu, berhenti secara mendadak membuat Winsi terkejut hingga tubuhnya melengkung ke depan. Untung saja dia sudah memasangkan sabuk pengaman dengan cukup kuat.
Winsi menoleh ke arah Erlan dan menatapnya tajam, seolah-olah dia ingin sekali menerkam pria itu dan ********** menjadi serpihan-serpihan kecil. Bagaimana tidak, sebab, Erlan terlihat sedang menyeringai, dia sengaja melakukannya!
Walaupun, pria itu menjaga kepala Winsi dengan tangannya, agar tidak terantuk dasbor mobil tetapi, sikap heroiknya itu tidak berarti apa-apa karena gadis itu tetap saja kesal.
“Erlan! Kamu gila, ya?” kata Winsi, sambil memukulkan tas miliknya ke bahu Erlan berulang kali. Pria itu menangkis serangan dengan menggunakan lengannya yang diangkat sebatas kepala, sambil tertawa keras.
Beberapa detik kemudian serangan pun berhenti yang tersisa hanyalah nafas puisi yang terengah-engah tapi matanya masih melotot ke arah Erlan.
Erlan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menghela nafas dia menoleh lalu berkata, “Sudah? Sudah puas belum? Ayo! Pukul lagi kalau masih belum puas!”
Winsi diam dan berusaha membuka pintu namun tidak bisa hingga dia berbalik badan kembali dengan tatapan yang sama tajamnya ke arah Erlan.
“Turunkan aku di sini! Erlan, cepat buka pintunya, turunkan Aku di sini, kubilang!”
__ADS_1
“Kalau tidak kenapa? Kamu mau ngancam aku lagi?”
Winsi diam, kini di mengangkat sedikit kakinya, lalu ...
Duk!
“Aw sakit, tahu?” Erlan berteriak sambil meringis kesakitan karena Winsi menendang kakinya.
“Heh! Itu pelan kok, udah kesakitan, gayamu selangit Lan, Lan, tapi ditendang gitu aja sakit?” Winsi berkata sambil terkekeh.
“Ayo! Tendang lagi kalau memang kamu senang,” kata Erlan mengejutkan Winsi, ucapan pria itu menunjukkan bahwa dirinya bersedia menjadi pelampiasan asalkan Gadis itu bisa tertawa bahagia.
Gadis itu takjub dengan reaksi Erlan yang di luar dugaannya, kini mereka sama-sama diam sambil bersandar.
“Maaf,” kata Winsi tanpa melihat ke arah Erlan.
“Tidak apa-apa, nggak sakit, kok.” Erlan pun berkata tanpa melihat Winsi, ia justru memejamkan mata.
Dahulu Winsi pernah menjadikan Erlan sebagai tempatnya bersandar, sebagai tempatnya mengutarakan semua yang dialami dan kesedihannya dengan leluasa. Pria itulah yang sangat mengerti tentang masa lalunya. Beberapa kali pula Erlan membantunya, bahkan pernah juga dia mengharapkannya.
Akan tetapi, dia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang perempuan yang tidak berarti, serta tidak pantas berada di dekat laki-laki ini atau meminta bantuannya lagi. Bahkan, jangankan mengharapkan perasaannya seperti yang dikatakan Waila, memikirkannya saja dia tidak berani.
Jadi, mana mungkin bila laki-laki itu menyukainya, dia tidak pantas untuk berharap lebih karena dia perempuan kotor yang tidak berharga.
Kejadian masa lalu yang dialami, membuatnya menjauhi Erlan, dia hanya menjaga hatinya agar tidak jatuh setelah melayang terlalu tinggi.
Ibarat hujan, ia rela jatuh dari ketinggian dengan begitu dalam dan menyakitkan ke tanah. Sebelum jatuh, ia bersyukur sudah mengenal dan bisa memeluk awan. Apalah arti dirinya yang kemudian bercampur dengan segala kotoran yang ada di atas tanah, sedangkan awan tetap di singgasananya di atas sana. Hujan tidak akan bisa bertemu dengan awan atau kembali memeluknya kecuali, setelah ia berubah menjadi uap.
Winsi sengaja membuat jarak antara dirinya dan Erlan, dengan menggunakan segala cara bahkan termasuk bersikap ketus padanya, padahal, Erlan tidak memiliki salah apa-apa. Akan tetapi, pria itu juga berulang kali membuatnya kesal dengan tingkahnya yang berlebihan.
Sementara itu, Erlan sengaja singgah ke Yogyakarta, tanpa sepengetahuan Arkan—ayahnya. Seandainya saja dia tahu jika anaknya pergi ke Jogjakarta mungkin tidak akan pernah mengizinkannya. Erlan sengaja membolos padahal dia baru saja masuk kuliah, setelah ujiannya berakhir beberapa bulan yang lalu.
Saat tiba di rumah waktu itu, Erlan langsung mendatangi makam Badri dan berdoa di sisi kuburan cukup lama. Walaupun, hubungan mereka dahulu tidak terlalu dekat tapi, jenazah yang ada di dalam tanah itu tetaplah kakeknya.
Setelah itu Erlan menyelesaikan urusan pribadi yang harus dia urus bila ada di rumah. Dia tidak menyangka jika hal itu akan menyita waktu hingga dia harus menunda keinginan untuk menyusul Winsi ke Yogyakarta.
Sebenarnya dia ingin secepat mungkin tiba di sana tapi, Arkan tidak mengizinkannya. Ayahnya terus saja membuat Erlan sibuk hingga tidak terasa liburannya berakhir. Oleh karena itu, setelah beberapa bulan dia memulai kuliahnya lagi, dia nekat untuk pergi menyusul Winsi.
Tiba-tiba melintas dalam ingatannya bayangan masa kanak-kanak di mana Winsi yang masih kecil, pipinya kemerahan karena tersengat matahari. Mereka sering bertemu saat dia ikut ibunya berkeliling jualan nasi. Dia seperti peri kecil yang sengaja dikirim Tuhan ke atas telapak tangannya saat sayapnya patah dan dialah yang harus memperbaikinya.
__ADS_1
Tapi bayangan wajah menggemaskan itu lenyap begitu saja, saat mengingat kejadian-kejadian yang memperlihatkan betapa ketusnya Winsi kepadanya.
“Aku sengaja datang ke sini Cuma mau ketemu sama kamu, aku sanang kamu baik-baik saja.” Erlan berkata sambil menoleh, dia memulai obrolan setelah mereka sibuk dengan pikiran masing-masing masing-masing.
“Buat apa kamu khawatirkan aku? Aku baik-baik saja ... Apa ayah tahu kamu datang ke sini?” Winsi berkata sambil membalas tatapan tatapan Erlan.
“Jangan coba-coba bilang sama Ayah, ya?”
“Jadi bener kamu bolos?” Winsi berkata sambil menegakkan kembali punggungnya.
“ Ya.”
“Buat apa ...? Sayang, kan? Kamu habisin berapa juta buat ke sini jangan bilang kamu bawa mobil ke sini!”
“Nggak, ini mobil Om Adi.”
“Oh ... Eh, kamu, tuh ya, jangan mentang-mentang punya orang tua kaya, kamu pakai uangnya sembarangan bolak-balik ke sana itu tidak sedikit, Lan, kamu pikir cari uang itu gampang apa?”
Winsi berpikir meremehkan Erlan karena dia tahu beberapa orang kaya memang sering menggunakan dan membanggakan harta orang tua, dengan cara yang tidak realistis. Kebanyakan mereka yang kaya karena keturunan akan lebih mudah untuk menghambur-hamburkan uang, menikmati kekayaan orang tuanya dengan sesuka hati.
“Tidak. Aku pakai uang sendiri.”
‘Ck! Sombong’ batin Winsi, sambil melirik Erlan sekilas lalu kembali menyandarkan tubuhnya.
“Terus, mau sampai kapan kamu ngurung aku di sini?”
“Sampai kamu mau ngomong!”
“Ngomong, apa?”
Setelah itu Erlan mengatakan maksudnya menemui Winsi, karena dia pikir memang harus membicarakannya secara langsung. Apabila Erlan menghubungi melalui pesan ataupun telepon, pasti perempuan itu tidak akan meladeninya lagi.
Erlan hanya ingin bertanya dengan semua sikap Winsi yang tidak pernah membalas pesan atau tidak menjawab telepon darinya. Apakah semua itu disebabkan oleh sebuah kesalahan? Apabila dia memang salah maka, bukankah jika lebih baik Gadis itu mengatakan langsung padanya hingga dia bisa segera memperbaikinya?
Dia hanya ingin hubungan mereka baik-baik saja dan tidak seperti ini, dia merasa Winsi seolah-olah membencinya.
“Jadi, maafkan Aku kalau memang aku punya salah sama kamu.”
__ADS_1
Bersambung