
Kecemburuan 2
Mery akhirnya menceritakan kepada Winsi tentang semua yang dia dengar belum lama ini, jika dia pernah mengalami musibah terjatuh dari lantai dua rumahnya yang, mengakibatkan tempurung kepalanya retak. Walaupun sekarang sudah sembuh tapi, mengakibatkan otaknya cedera dan beberapa syarafnya rusak. Dia pernah koma dan selama beberapa bulan setelah sadar dia jadi gila. Sampai saat ini dia masih dalam perawatan di rumah pribadinya.
“Terus ngapain juga sih, kamu cerita soal ini?” tanya Winsi .
“Kan, kamu juga penasaran, mau tahu juga kan, tadi?” sahut Mery kesal.
“Iya, ya! Eh, kamu tahu cerita itu dari mana?”
“Dari tetangganya, kebetulan dia temanku satu kampus.”
“Oh, kirain kamu yang jadi perawatnya?”
“Mana aku bisa?”
“Bisa, pake cinta!”
“Hidih, lesbi kali aku?”
Setelah itu mereka tertawa dan saat mulai aktif kuliah nanti, Mery mengajak Winsi untuk berangkat barsama dengan motor kesayangannya, walau mereka beda universitas tapi, Mery tetap mau mengantarnya. Namun, dengan halus Winsi menolak, sebab dia sudah memiliki motornya sendiri.
“Oh, iya. Aku lupa kalau kamu sudah jadi Nyonya rumah keluarga Pak Badri.” Mery kembali tertawa.
“Eh, bukan karena itu, motor ini dari hasil tabunganku sendiri!”
“Wah, keren dong, bisa nabung banyak, dapet uang dari mana kamu, Win?”
“Tabunganku dari kecil!”
“Masa?”
Mery gantian menjadi seorang yang penasaran hingga Winsi menceritakan bagaimana pengalaman hidupnya hingga dia punya kekuatan, untuk mengumpulkan uang dalam jumlah banyak. Mery tahu tentang Winsi yang ikut ibunya ke penjara dan bercerai dari Bapaknya. Namun, dia tidak tahu bagaimana sikap Basri dahulu pada anaknya. Dia baru tahu betapa pahit pengalaman sahabatnya itu sekarang, saat Winsi menceritakan.
__ADS_1
Winsi juga bercerita bagaimana caranya bebas dari penjara karena pertolongan Arkan, tapi, dia tidak menceritakan tentang traumanya dan juga pengalaman ibunya, saat hampir dirudapaksa oleh tiga orang pria hingga akhirnya mau menikah, dengan pria yang sudah menolongnya.
Gadis itu mengatakan semua dengan perasaan rindu yang bertambah kepada sang ayah, karena secara tidak langsung mengingatkan pada kebaikan-kebaikannya.
Lalu, dia tak lupa mengatakan bagaimana dia menemukan rumah ibunya, serta bisa mendirikan bangunan sederhana di atas tanah warisan kakeknya, dengan rasa yakin dan bangga jika suatu saat dia akan jadi pengusaha. Namun, nyatanya masih membawanya kembali ke tanah kelahirannya dan, sekarang justru menikah dengan pria yang dulu pernah disukai Mery.
Mery mengaku kalau dia dulu memang sempat menyukai Erlan, tapi dia tahu kalau pria itu justru menyukai Winsi, hingga dia cemburu dan mengerjainya karena kesal. Namun, sahabatnya itu sama sekali tidak menaruh dendam hingga dia akhirnya meminta maaf dan melupakan Erlan, serta mencari pria lain untuk dijadikan kekasih.
“Sekarang, Win ... aku Cuma bisa berdoa biar aku cepat dapat ponakan, kamu cepat punya anak!”
“Haish! Ngomong apa sih, kamu? Aku mau beresin kuliah dulu!”
“Eh, mana ada orang punya suami tapi nggak mau hamil?”
“Bukan begitu, tapi ....”
“Iya, iya, aku tahu. Dia nikahin kamu itu setengah maksa, biar kamu nggak pergi dari rumah, kan?”
“Tante Runa yang bilang. Duh, cinta hidup tuh, si Erlan?”
“Eh, cinta hidup apaan?”
“Ya, dari pada cinta mati?”
Mereka kembali tertawa sebelum sambungan telepon mereka sudahi.
Sepanjang hari di rumah Winsi menghabiskan waktunya dengan bercanda dengan bermain bersama Jiddan, membuat makanan dan melakukan panggilan video dengan Nia dan dua pegawai lain yang bekerja di tokonya. Dia cukup senang, sebab selama beberapa pekan tinggal di Jakarta, bisnisnya tetap berjalan dengan lancar walau Nia merasa kesepian. Mereka begitu kecewa dikarenakan, Winsi menikah tanpa mengabari pada mereka, termasuk Anas dan juga Nafadi dan Waila.
Setelah mengetahui jika Winsi menikah dengan Erlan, Anas pun menghubunginya ketika malam tiba, laki-laki itu kecewa sebab dia merasa belum sempat mengatakan apa-apa pada Runa, setelah sekian tahun dan kebenaran akhirnya terkuak juga.
Mereka bertemu hanya sesaat di rumah besar saat Anas melayat kematian Arkan. Dia masih ingin mengobrol atau menyapa wanita itu, dalam keadaan yang berbeda, bukan pada saat tengah berduka cita.
Saat Erlan pulang, dia melihat Winsi baru saja mengakhiri panggilan dengan teman-temannya. Pria itu tersenyum saat melihat istrinya terlihat begitu ceria karena bahagia bisa mengobrol dengan teman-teman lama dan juga mendoakan kebaikan padanya.
__ADS_1
“Apa kamu senang menelepon terus sampai suami pulang nggak di sambut?” kata Erlan sambil merengkuh bahu Winsi dan mencium pipinya.
Saat itu, Winsi tengah duduk di ruang tamu seorang diri saat berbicara dengan Anas, Runa sedang di kamarnya untuk menidurkan Jiddan.
“Jangan cium-cium di sini, malu, akh!”
“Malu sama siapa, nggak ada orang di sini!”
“Ya, takutnya kamu nanti kebiasaan mencium orang di mana aja!”
“Ya, di mana aja nggak masalah, kan, kamu istriku, bukan perempuan lain ini yang aku cium, terus, di sini juga rumahku.”
“Ini rumah Ayah, dis yang bangun rumah ini buat kita!”
“Ya, ya, semua punya Ayah, aku memang nggak punya apa-apa.”
“Ya, semua kekayaan yang kamu punya dari kecil pun Ayah yang kasih, seharusnya kamu bersyukur memiliki Ayah seperti dia, luar biasa, kan? Aku saja kagum sama Ayah, tapi Allah lebih sayang, makanya, Ayah lebih cepat pergi.” Winsi bicara, sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes setiap kali mengingat Arkan. Lalu, dia menarik tangan Erlan ke atas kepalanya, melakukan gerakan agar Erlan menepuk kepalanya dengan lembut.
Erlan menatap Winsi dengan tatapan rumit, dalam hati dia menilai jika ayahnya memiliki posisi penting di hati Istrinya. Selama ini dia hanya tahu kalau kedekatan antara mereka berdua adalah karena gadis itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Namun, setelah ucapan Winsi kali ini, Erlan tersadar, jika ayahnya merupakan sosok yang sepesial bagi wanita di sampingnya.
Dia mengingat dulu Winsi pernah menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman padanya, tapi ternyata, mungkin tatapan itu bukan murni dia mencintainya melainkan, karena sosok Arkan ada dalam dirinya. Ya, disaat-saat tertentu dia memang memakai pakaian yang sama dengan ayahnya.
Erlan pun menganggap bahwa tepukan kepala dari Arkan, yang sering dilihatnya, adalah salah satu bentuk interaksi penting, bahkan seperti sebuah sentuhan cinta yang berarti bagi gadis itu. Seolah terjawab sudah, mengapa Winsi begitu kehilangan Arkan, bahkan enggan meninggalkan makamnya waktu itu dan juga menangisi kepergiannya seolah pria itu adalah ayahnya sendiri.
“Apa Ayahku sangat berarti bagimu?” tanya Erlan, meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Tentu saja!” Winsi menjawab jujur tanpa rasa bersalah, sambil menurunkan tangan Erlan dari kepalanya.
“Lalu, apa artinya aku bagimu, apa selama ini tak ada cinta sedikit pun darimu untukku walaupun, kita sudah hidup bersama, dan cintamu sebenarnya hanya untuk Ayahku?” Ucapan Erlan terdengar seperti sebuah kecemburuan yang sama sekali tidak beralasan, sebab sekarang sudah tidak ada gunanya lagi untuk marah. Arkan bahkan sudah tiada.
“Apa maksudmu, Lan?”
Bersambung
__ADS_1