
Dia Adikku
Erlan menarik nafas panjang ketika mendengar pertanyaan yang sedemikian menohok dari mulut Winsi, dia tahu tidak bisa berbuat apa-apa pada gadis kecil ini karena ayah tampak sangat menyayanginya dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan gadis ini begitu menarik.
Gadis ini biasa saja begitu juga dengan ibunya, mereka mempunyai tipe tubuh dan wajah nyaris sama, semua tidak ada yang istimewa tetapi inilah yang justru membuatnya heran karena ayahnya rela datang jauh-jauh dari Jogjakarta hanya untuk membebaskan kedua ibu dan anak itu, dari dalam penjara. Ya, waktu itu Erlan hanya mengadukan nasib derita Winsi dan ibunya, dia tidak berharap terlalu jauh tapi, tidak menduga tindakan yang dilakukan ayahnya begitu tiba-tiba.
“Aku nggak akan ngusir kamu tapi sekali anak buluk ya tetap buluk!”
“Awas, kalau kamu ngomong aku anak bulukan lagi, mau ketularan jadi bulukan juga kayak aku? Hah!”
“Eh, mana mungkin bisa nular penyakit kayak gitu cuman buat anak jorok kayak kamu!”
“Haiss! Kamu belum tahu ... Bisa tahu?”
Erlan hendak menyangkal, dia memang tidak ingin mengusir Winsi dari sana hanya karena gadis kecil itu pernah punya penyakit gatal. Ya, karena itulah dia memanggil Winsi ‘Anak Buluk', sebeb dulu ketika masih kecil. Dia pernah secara tidak sengaja mendengar Runa berbicara dengan Bi Neni, istri Hasnu, wanita yang mengurusnya. Saat itu Runa mengeluh bila Winsi sedang menderita sakit gatal-gatal di tubuhnya.
Terlepas dari semua itu, menyekolahkan Winsi adalah hak ayahnya. Dia belum sempat menjawab, ketika Arkan sudah berdiri di antara mereka sambil memberikan sebuah bungkusan pakaian kepada gadis di hadapannya.
“Ini baju, buat kamu pakai besok ... biar Pak Hasnu yang akan menjemputmu, sekalian mengantar Erlan ke sekolah tapi, aku belum membeli sepatu karena aku tidak tahu berapa ukuran kakimu.” Arkan berkata sambil melihat ke arah anaknya dan Winsi secara bergantian.
Erlan melihat ke arah bungkusan Itu sekilas kemudian dia menarik nafas dalam dan pergi meninggalkan ayahnya serta Winsi berdua di sana.
“Ayo! Sekarang pulanglah... Pak Hasnu akan mengantarmu sampai ke rumah dan bilang pada ibumu, minta izinnya, kamu akan tinggal di sini mulai Minggu depan. Apa kamu mau?” kata Erlan sambil berjalan dan merengkuh bahu Winsi.
“Baik, Ayah.”
Winsi seperti anak-anak pada umumnya, tergantung dengan keputusan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan kehendak Arkan yang ingin agar dirinya tinggal di sana, dia hanya berharap Runa pun ikut tinggal bersamanya sehingga dia tidak sendiri berada di rumah besar itu. Apalagi dia takut bila melihat kakek tua Erlan, lelaki itu memang menerima tapi, sepertinya tidak menyukainya.
Winsi membawa pulang pakaian barunya ke rumah, dengan senang hati dia memperlihatkannya kepada Runa—ibunya. Sebagai anak-anak, dia tentu senang dengan pakaian baru, apalagi seragam lamanya sudah dibuang oleh Arkan, tak lama setelah mereka keluar dari rumah sakit waktu itu.
Dia tidak mungkin kembali ke sekolah negeri tempatnya menuntut ilmu yang dulu, di mana teman-temannya sudah menganggapnya mencemarkan nama baik.
Dia sendiri tidak mengerti nama baik siapa yang sudah dicemarkan padahal, semua yang dia alami tidak ada hubungannya sama sekali dengan siapa pun di sekolah.
Berulang kali Runa meyakinkan anaknya tentang pindah ke sekolah, dengan dibiayai oleh orang yang asing baginya. Dia hanya tidak ingin berhutang budi terlalu banyak kepada Arkan dan keluarganya terlepas tentang balas budi, diri dan anaknya memang bukan siapa-siapa di mata mereka.
__ADS_1
“Tapi, Buk ... kalau Wiwin nggak sekolah di sana, terus masu sekolah di mana lagi? Cuma sekolah itu yang paling dekat dari rumah selain sekolah negeri.”
“Ya sudah kalau memang kamu mau sekolah di sana. Ingat, kamu harus jaga kehormatanmu, juga nama baik Pak Arkan dan keluarganya, jangan berbuat macam-macam bergaul dengan teman yang baik jangan buat masalah.”
“Ya, Buk, tapi, Ayah nyuruh aku tinggal di rumah besar minggu depan.”
“Apa? Nggak usah! Ibu malu, Nak ... Ibu masih mampu biayain kamu, masih mampu nyekolahin kamu, buat apa kamu tinggal di sana kita punya rumah sendiri, kan?”
“Iya, Buk ... tapi, itu kemauan Ayah, kalau Ibu nggak mau ya, sudah.”
“Ya, sudah apa?”
“Ibu aja tinggal sendirian di sini, Wiwin mau tinggal sama Ayah!”
“Wiwin!”
“Pokonya Wiwin mau tinggal sama Ayah!”
Pembicaraan berakhir ketika Winsi pergi dan mengurung diri di dalam kamar. Sampai akhirnya dia tertidur dengan memeluk guling, membiarkan Runa yang melamun dan sibuk dengan pikirannya sendiri, mencoba menebak ke mana jalan dan arah hidupnya mulai saat ini.
Sebenarnya Basri terlihat enggan dan dia ingin kembali rujuk dengan istrinya karena setelah kepergian Runa, kehidupannya semakin kacau. Akan tetapi, wanita itu bersikukuh untuk tidak kembali dengan alasan Nira masih menguasai rumah dan, dia tidak ingin bila wanita itu mencampuri urusannya, bahkan memfitnah diri dan anaknya yang jelas-jelas tidak bersalah. Tentu saja Basri keberatan dengan keinginan Runa, dan dia berjanji bahwa Nira tidak akan berbuat jahat untuk kedua kali. Akan tetapi, hati Runa sudah karam dan tidak percaya lagi.
Sungguh masa depan manusia selamanya tidak akan pernah diketahui bagaimana ujungnya. Sehebat-hebatnya seorang peramal menebak masa depan seseorang tidak akan pernah mencapai seratus persen kebenarannya.
Keesokan pagnya Winsi memulai hari dengan membersihkan diri dan memakai baju baru yang diberikan Arkan, hanya saja dia masih memakai sepatu dan tas lamanya yang usang. Dia tidak memikirkan hal itu, karena baginya itu tidak penting, yang penting dia bisa bersekolah dan menyongsong masa depannya yang lebih baik.
Dia tidak tahu seperti apa sekolah itu dan bagaimana bangunan, serta orang-orang yang akan ditemuinya. Dia hanya berpikir positif bahwa dia akan bertemu dengan Mary sahabatnya dan memulai lagi hubungan yang sudah lama terjeda.
Sebelum sampai di gerbang sekolah, Winsy meminta agar Hasnu menurunkan dirinya di jalan saja, karena dia tidak ingin terlihat dengan Erlan, turun dari mobil yang sama.
Dia khawatir bila Erlan malu, berada dalam satu mobil dengan orang seperti dirinya. Buktinya laki-laki remaja itu hanya diam selama perjalanan, bahkan ketika dia meminta untuk turun di jalan pun dia tidak merespon atau melarangnya.
Saat Winsi memasuki gerbang sekolah, dia tercengang karena hampir tidak ada anak-anak yang berjalan kaki bersama dirinya hanya beberapa orang saja, sebab rata-rata mereka diantar mobil atau menggunakan motornya sendiri.
Bangunan sekolah itu begitu megah, terdiri beberapa kelas yang berjajar dan semuanya bertingkat tiga. Semua siswa rata-rata terlihat dari kalangan berada, bahkan ada beberapa orang murid berwajah blasteran ataupun berambut pirang, kemungkinan mereka adalah para keturunan yang tinggal di kota dan bersekolah di sana.
__ADS_1
Walaupun Winsi turun sebelum gerbang sekolah tetapi, Hasnu tetap menunggu dan pria paruh baya itu mengantarkannya menuju kantor, menjelaskan dan memperkenalkan Winsi kepada salah seorang guru yang sudah dia kenal sebelumnya.
Saat bel sekolah tanda sisiwa harus masuk kelas, Winsi pun dibawa ke ruang tempatnya belajar. Dia diperkenalkan di depan semua teman, dan bisa melihat mereka hingga sempat membuatnya kecewa karena di kelas itu Meri tidak ada. Ya, kemungkinan dia tidak akan duduk sebangku pula dengan sahabatnya.
Jam pelajaran pun dimulai Winsi duduk di kursi paling belakang karena hanya kursi itu yang tersisa. Dia mengikuti pelajaran demi pelajaran dengan serius. Dia memang bukan tergolong anak yang pandai, akan tetapi mulai saat ini dia akan berusaha sebaik mungkin, ingin membuat ayahnya senang menjadi anak yang berprestasi.
Ketika waktunya istirahat dia berkeliling sendiri mencari sahabatnya Merry, dari kelas ke kelas ia kunjungi, bahkan saat menuju kantin juga beberapa tempat, tapi tidak dia temui.
Belum ada satu pun teman yang dia kenal, karena dia tidak berusaha mengenal mereka. Semua teman di kelasnya bersikap cuek dan seolah dirinya tidak ada.
Ternyata tanpa diduga justru mereka bertemu di gerbang sekolah, saat pelajaran sudah usai dan waktunya pulang.
“Merri!” Panggil Winsi dengan penuh sukacita, dia tersenyum lebar dan melangkah dengan cepat menuju ke arah Mary yang sepertinya sedang menunggu taksi.
“Wiwin?” siapa Merry dengan mata yang melebar sempurna. Dia begitu terkejut dan hampir tidak percaya melihat Winsi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mantan sahabatnya itu berpakaian yang sama dengan dirinya hingga dia bisa menebak bahwa Winsi sekarang berada dalam satu sekolah yang sama pula.
“Ya, ini aku, apa kabar?” Winsi berkata sambil berusaha memeluk Merry—sahabatnya. Akan tetapi, gadis itu menolak dan menahan tubuh Winsi agar tidak menyentuhnya. Winsi tercengang dan segera mundur satu langkah ke belakang, menganggap sahabatnya sedang bercanda lalu dia tertawa kecil.
“Hai! Kenapa, aku bau ya?” katanya sambil mengarahkan hidung ke kedua ketiaknya kanan dan kiri lalu, kembali tertawa.
“Iya, kamu bau! Itu kamu sadar ... kenapa deket-deket sama aku? Pergi sana!” sahut Meri sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya seolah mengusir seperti dia lalat yang sedang terbang di atas makanan.
Merry berkata dengan sangat keras sehingga teman-teman lain yang dekat dengan Meri dan kebetulan ada di sekitarnya, datang mendekat. Saat tadi Meri bicara, mereka sedang memakai helm atau menaiki motor mereka masing-masing dan ada juga yang tengah mencari taxi seperti dirinya.
“Siapa dia Mer, teman barumu?” tanya salah satu dari teman Merry yang mendekat tadi. Kini ada beberapa orang yang berdiri di antara Winsi dan Merri.
“Ya, aku pernah kenal sih sama dia tapi, sekarang nggak temenan lagi, lihat aja sendiri orangnya kayak apa?” Merry berkata sambil menelisikkan pandangannya pada Winsi, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bibirnya mencebik sedangkan kedua tangannya terlipat di depan dada.
Semua melihat ke arah yang sama lalu, tersenyum miring, memang pakaian Winsi terlihat baru tetapi, sepatu dan tasnya sangat lusuh dan murahan. Tidak ada yang berpakaian seperti itu di sekolah ini, mungkin bagi mereka sepatu dan tas yang dipakai oleh Winsi, akan berada di tempat sampah dan bukan dipakai ke sekolah.
“Heh! Siapa kamu?” tanya salah seorang anak lainnya sambil mendorong bahu Winsi dan menarik jilbabnya.
“Dia Adikku!”
Bersambung
__ADS_1