Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
78. Batas Kewajaran


__ADS_3

Batas Kewajaran Dalam Pergaulan


Saat bicara, Erlan melangkah meninggalkan Arkan dan, tidak menghiraukan panggilan ayahnya. Dia berjalan menuju lantai atas, untuk memastikan apakah benar perempuan itu ada di sana. Sementara itu, Arkan segera bangkit dari duduk dan menyusul guna mencegah agar Erlan tidak mengganggunya.


“Dengar,” kata Arkan ketika berhasil menyusul Erlan dan memegang tangannya. “Apa Aku tidak pernah mengajarimu cara menghargai orang lain, apa seperti ini caramu untuk menarik perhatian anak itu?”


Mendengar ucapan ayahnya, Erlan terdiam dan hanya menatap Arkan dengan nanar, sorot matanya seolah-olah mengatakan, ‘semua itu adalah urusanku dan sang ayah tidak perlu ikut campur!’


Dikarenakan Erlan hanya diam Arkan kembali melanjutkan bicara.


“Seharusnya kamu tahu, kalau memang dia mau ngobrol atau ketemu sama kamu ... dia pasti menunggu kamu di sini, iya, kan? Tapi lihat—dia memilih sembunyi di ruang rapat. Itu artinya, dia sama sekali nggak mau, dia udah pesan sama Ayah, apa kamu ngerti sekarang?”


“Terus, Ayah janji mau nurutin keinginan dia, gitu?”


“Ya.”


Setelah mendapatkan jawaban yang begitu tegas dari ayahnya, Erlan tidak berani membantah. Dia tahu bila Arkan adalah seorang pria yang selalu memegang teguh janji karena seperti itulah prinsip yang ditanamkan kakeknya.


Semua pria dewasa dalam keluarga yang secara turun menjadi seorang pebisnis atau pengusaha, harus bisa memegang teguh janji yang telah mereka buat karena memegang  janji, sama saja dengan memegang harga diri.


Sekali lagi Erlan menoleh ke atas sebelum dia kembali melakukan aktivitas seperti biasa dan menganggap bahwa Winsi tidak ada di sana.


Arkan menghela nafas berat saat melihat kepergian anaknya yang melangkah ke dapur. Lalu, dia kembali duduk di depan meja kasir.


Dia sebenarnya tidak melarang kedua anak itu bergaul. Akan tetapi, dia hanya berusaha untuk menjaga hubungan antara Erlan dan Winsi, tetap pada jalur yang aman dan baik-baik saja.


Pada dasarnya mereka bukan mahram, tapi menjadi  saudara karena sebuah pernikahan kedua orang tua  dan, Arkan ingin agar mereka tetap dalam koridor kepantasan yang wajar, serta terhormat.


 Arkan tahu bahwa kedua orang itu bisa saja saling menyukai ataupun menikah suatu saat nanti tapi, dia juga tahu bahwa semua itu belum waktunya sehingga dia berusaha menjaga agar perasaan mereka tidak rusak oleh sesuatu yang bersifat naluri kotor dan selera yang tidak bertanggung jawab.


Saat di dapur, Erlan bertemu dengan Saina dan wanita itu menegurnya sambil tersenyum manis.


“Kenapa kamu cemberut apa kamu tidak berhasil bertemu dengan wanita itu?”


Erlan hanya meliriknya sekilas tidak menanggapi dan ikut menyusun beberapa gelas dan piring di tempatnya.


Melihat sikap acuh tak acuh Erlanz Sania mengerti jika sepertinya anak itu tengah kecewa pada ayahnya lalu, dia menyenggol siku Erlan sambil berkata, “Bilang padaku ... apa kamu menyukai anak itu?”


Mendengar pertanyaan yang begitu blak-blakan dari Saina, tiba-tiba Eren menghentikan gerakan tangannya berdiri tegak lalu, menoleh sambil mengerutkan alisnya.


“Suka sama siapa maksud tante?”


“Winsi, perempuan yang dibawa Ayahmu.”

__ADS_1


Erlan mencibir lalu berkata, “Aku suka atau tidak pada perempuan itu, tidak akan berpengaruh pada Tante, iya, kan?”


“Ya ... tapi,  mungkin saja kamu mau bilang sesuatu sama dia, aku akan ke sana tadi Ayah mu memintaku mengantarkan makan siangnya.”


Mendengar ucapan Saina sinar mata Erlan sedikit berbinar tapi, kemudian dia kembali menyusun beberapa gelas dan berkata, “Tidak ada, pergi saja Tante ke sana.”


“Yang bener, kamu nggak mau ngomong apa-apa? kalau ada pesan aku bisa menyampaikannya.”


Karena Erlan hanya diam, akhirnya Saina pun berjalan membawa nampan yang berisi beberapa makanan, sambil mengedikkan bahu dan meninggalkan pria itu.


Sesampainya di ruang rapat, Saina melihat Winsi yang tertidur di sofa, membuatnya tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. Seandainya dia masih seorang di masa lalu mungkin dia akan melakukan hal yang buruk padanya tapi, melihat remaja yang sudah cukup dewasa itu sekarang, mendadak hatinya hangat. Dia memperkirakan bila tinggi badannya hampir sama dengan dirinya.


 Dia mengamati wajah Winsi yang ternyata lebih cantik dari ibunya lalu,  mengganggap wajar jika Erlan menyukainya, bahkan mungkin laki-laki itu sudah menyimpan perasaan suka sejak dulu.


Tiba-tiba dia teringat dengan masa remajanya yang penuh dengan hura-hura tidak berguna. Rasa sesal Itu pasti ada tapi, untuk apa sekarang menunjukkan penyesalan? Toh dia bisa berbuat kebaikan, setelah kehancuran yang terjadi.


Dia benar-benar berusaha untuk menjadi lebih baik. Bahkan apa yang terjadi padanya masih ringan, dibandingkan apa yang terjadi pada Winsi. Ya, dia masih ingat semua yang dialami Gadis itu saat mereka masih tinggal bersama di Rumah Arkan.


“Hai! Apa kamu nggak lapar?” tanya Saina sambil menggoyangkan kaki Winsi agar dia terbangun. Setahu Saina Gadis itu tidak makan apapun sejak datang.


Winsi menggeliat perlahan lalu membuka mata dia terbangun dengan penuh waspada demi melihat Saina yang ada di dekatnya.


Melihat sikap Winsi yang seolah-olah apriori, Saina tersenyum, pada dirinya sendiri dan menyadari rupanya garis itu masih saja terlihat benci.


“Aku cuma bawain makan siang.” Saina berkata sambil melirik makanan yang ada di atas meja.


“Tante nggak naruh apa-apa kan di makanan ini?”


“Ya. Ada yang membubuhi racun kalau kau tidak percaya makan saja!”


Mendengar ucapan Saina, Winsi mengurutkan alis lalu beringsut menjauh, sambil menggelengkan kepalanya.


“Aku nggak mau makan bawa aja lagi!”


Tiba-tiba Saina tertawa keras, lalu mengusap kepala bensi dengan lembut seraya berdiri, dia menatap Winsi tepat di bola matanya dan berkata, “Kau tahu siapa yang bubuhi racun itu?”


“Siapa?” Winsi bertanya dengan wajah polos dan penuh tanda tanya menatap Saina.


Melihat ekspresi Winsi yang begitu murni, justru terasa lucu di hadapan Saina, bagaimana mungkin gadis ini benar-benar berpikir bahwa, dia telah meracuni dan mengatakan dengan jujur apa yang sudah dilakukannya. Seorang yang benar-benar berniat membunuh, tidak akan mungkin mengatakannya!


“Erlan!” Saina menjawab sambil tertawa.


“Kenapa dia meracuni makananku?” Winsi berkata masih dengan gaya polosnya dia heran mengapa laki-laki itu ingin menginginkan kematiannya

__ADS_1


“Kamu nggak tahu, ya? Dia itu suka sama kamu, terus ... dia sudah menaburi makanan itu dengan bubuk rindu, aku pikir enak sekali rasanya, coba saja!” Setelah berkata demikian Saina pun keluar dan menutup pintu sambil tertawa keras.


Arkan menegurnya ketika dia sudah berada di dapur, “Kenapa kamu tertawa seperti itu?”


Erlan yang melihat tingkah Saina itu pun menatapnya lekat, sorot matanya menuntut jawaban.


“Oh, tanyakan saja sama anak itu lucu sekali dia,” tanpa rasa bersalah. Ini untuk pertama kalinya dia melihat gadis polos itu, bahkan terkesan bodoh. Dia kembali tertawa membayangkan ekspresi Winsi yang mirip seperti bayi tidak berdosa.


“Tante nggak macem-macem, kan, sama dia?” tanya Erlan, dia tidak menghiraukan tatapan para pegawai lain yang memperhatikan percakapan mereka bertiga.


“Hei!” Saina berjalan mendekati Erlan dan menepuk bahunya lembut, “Aku nggak tega mau jahilin dia. Tahu nggak? Dia tadi percaya kalau kamu yang ngasih racun ke makanannya!”


“Apa Tante gila?” Erlan berkata dengan suara keras, dia kesal karena Saina sudah mengatakan hal yang begitu menakutkan pada gadis polos yang kurang pergaulan itu.


Arkan melirik Saina sekilas dan, hendak menghampiri Winsi ke ruangan rapat, ketika tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Dia menghentikan langkah sambil mengambil ponselnya.


“Halo ....” sapa Arkan lembut ketika benda pipih itu sudah menempel di telinga. Runa—istrinya yang menghubunginya. Lalu, dia diam sambil mendengarkan sementara keningnya berkerut dalam lalu menghela nafas panjang, dan berkata, “Baiklah, lakukan saja, Hasnu dan Neni sudah biasa melakukannya, aku akan segera pulang.”


Cukup lama Arkan mendengarkan Runa yang berbicara dari balik telepon, menjelaskan keadaan yang sedang dihadapi di rumah.


“Ada apa Ayah?” tanya Erlan karena melihat reaksi tidak biasa pada raut wajah ayahnya.


Arkan menjawab pertanyaan anaknya setelah mengucapkan salam dan menutup telepon.


“Kakekmu harus dibawa ke rumah sakit ... tadi ibu bilang Kakek batuk darah. Dia hanya membutuhkan persetujuanku saja.”


Arkan berpikir sejenak, menghadapi kondisi Badri yang memang semakin parah. Akan tetapi, dia  harus tetap tenang sebab, tidak mungkin melakukan perjalanan pulang secepatnya. Dia hanya berdoa dan berharap semua akan baik-baik saja.


Seandainya dia mengambil penerbangan tercepat pun, tetap tidak akan bisa tiba di sana tepat waktu. Mereka harus menempuh perjalanan lintas benua dan, membutuhkan belasan jam untuk sampai ke Jakarta.


Sementara itu Erlan justru menatap ayahnya dengan heran, bagaimana mungkin pria itu terlihat begitu tenang padahal, menurutnya kakek dalam kondisi yang kritis.


“Apa aku kelak bisa setenang Ayah kalau menghadapi sesuatu, apa Ayah benar-benar tidak punya rasa khawatir lagi setelah melihat kematian ibu? Kira-kira apa yang benar-benar membuat Ayah takut atau panik?” gumam Erlan dalam hati.


“Erlan! Jangan diam saja, cepat panggil adikmu, suruh dia turun. Ayah mau ke Bandara sekarang.”


“Apa, Ayah?”


‘'Aku tidak salah dengar, kan? Ayah menyuruhku menemui anak itu?' batin Erlan.


 


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2