Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
96. Anas


__ADS_3

Anas


Winsi menoleh dengan perasaan heran menatap pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia merasa tidak mengenalnya sama sekali, bahkan baru pertama kali ini melihatnya. Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa karena dia pikir nama Runa bukan Cuma ibunya.


“Runa siapa ya? Maaf ... mungkin saja saya salah.” Winsi menjawab pertanyaan pria itu dengan sopan.


Pria itu tertegun sejenak karena tidak bisa menjawab pertanyaan, dia memang tidak tahu nama lengkap Runa, tetapi, tatapan matanya tidak lepas dari Winsi. Lalu, dia mengulurkan tangan untuk menunjukkan ponselnya.


“Om Anas!” Tiba-tiba Waila berteriak sambil menarik tangan pria itu dan menggenggamnya.


 Anas mengurungkan niat untuk menunjukkan sesuatu dari ponselnya pada Winsi, itu adalah sebuah foto Runa yang dia simpan sekitar 19 tahun lalu. Dia bertemu dengan Runa secara tidak sengaja, saat dia tengah mencari alamat rumah seorang temannya.


Pria itu tengah memfoto lokasi di mana dia berada, untuk di kirim kepada temannya yang kebetulan berada di lokasi yang sama. Saat itulah secara tidak sengaja Runa terfoto olehnya.


Bukan hanya itu, dia juga sempat merekam sebuah video dan Runa masih ada di sana, dia memperhatikannya dengan penuh keheranan karena perempuan itu terlihat lemah, jalan pun terhuyung-huyung. Lalu, dia segera menghampiri dan saat itulah Runa jatuh pingsan dalam pelukannya.


Mendengar Waila memanggil pria itu dengan sebutan Anas, membuat Winsi seketika tercengang, sebab Anas adalah nama yang masih menjadi misteri baginya. Orang itulah yang di sebut Basri sebagai ayah kandung dan pernah menolong ibunya.


Akan tetapi, ibunya belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Bukan berarti wanita itu tidak tahu terima kasih, tapi, pria itu terlanjur pergi sebelum dia sempat mengatakannya.


Orang yang bernama Anas itu dengan cepat menoleh pada Waila lalu, tersenyum.


“Apa sayang?” tanya Anas lembut membalas genggaman tangan Waila.


Tiba-tiba Winsi merasa heran dan geli dengan hubungan kedua orang berbeda jenis yang terlihat mesra.


“Waila, siapa dia?” tanya Erlan sambil menghadap pada Waila dan menatap Anas tajam. Maksud dari pertanyaan Erlan adalah siapa Anas bagi Waila.


“Oh, iya nih. Kenalin dia Om Anas, Om angkat aku, Kak!”


Mendengar jawaban Waila, Erlan hampir tertawa karena tidak mungkin ada Om angkat, yang biasanya terjadi di masyarakat adalah anak angkat atau orang tua angkat. Bukan Om angkat? Ah yang benar saja!


Sementara Winsi ingin segera pergi dari tempat itu karena kesal melihat semua orang yang ada di sekitarnya seolah sedang memainkan drama Korea, masing-masing memerankan peran kepalsuan.


Dia lupa tadi untuk menanyakan apa yang terjadi antara Erlan pada Waila, bagaimana perasaan mereka selama ini, mengapa Erlan terlihat begitu cemburu pada pria yang bersama Waila?

__ADS_1


Tiba-tiba dia merasa dirinya hanya ibarat angin yang diabaikan saat bertiup.


Rupanya benar jika sebuah rasa cinta janganlah terlalu berlebih-lebihan. Oleh karena itu dia tidak akan membiarkan perasaannya pada laki-laki memunculkan tunas dalam hati, walaupun, itu kecil. Tidak! Sungguh dia tidak ingin kecewa, seperti kecewanya ibu dan dirinya pada Bapak.


Oleh karena itu, sebelum hatinya memiliki rasa lebih pada Erlan, maka, dia mundur, bahkan, sebelum dia sempat memulai. Apalagi dia melihat Erlan seperti menyukai Waila, membuatnya semakin yakin untuk menjaga jarak darinya.


Pasti saja dua orang anak itu memiliki hubungan, mengingat bila Erlan pernah menghubungi Waila dan mengobrol di telepon genggam dalam waktu lama seperti orang yang layaknya melakukan LDR saja.


Lalu, apabila Waila menyukai Erlan, tapi mengapa dia bersikap demikian hangat pada laki-laki yang dipanggilnya Om Anas itu, hal ini semakin membuat Winsi terheran-heran.


“Jangan mengada ngada, mana ada namanya Om angkat?” Erlan menyanggah dengan kesal.


Waila hanya menatap Erlan sekilas tapi, tidak menjawab pertanyaannya.


“Om, memangnya Om kenal sama anak ini, dia Winsi, selama ini dia numpang di rumahku,” kata Waila sambil menunjuk Winsi dengan menggerakkan dagunya.


Anas kembali melihat Winsi dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia memang tidak mengenal perempuan itu. Akan tetapi, dia hanya ingin memastikan karena mereka sangat mirip. Dia bertemu dengan Runa saat masih hamil dan apabila anaknya masih hidup, mungkin akan sebesar Winsi.


Anas pernah melihat Winsi  beberapa bulan yang lalu saat dia sedang makan di sebuah restoran. Waktu itu dia ingin sekali menyapanya tapi, belum sempat dia melakukan keinginannya winsi sudah pergi bersama seorang pria.


“Saya, Winsi Om.,” jawab Winsi.


“Benar kamu punya Ibu namanya Runa?” tanya Anas.


“Sudah, Om. Kenapa sih jadi bahas ibunya?” kata Waila.


“Hei! Kalian belum menjawab pertanyaanku, ada hubungan apa di antara kalian berdua? Waila, dia laki-laki yang sudah cukup tua untuk kamu jadikan pacar, tahu?” kata Erlan.


“Bukan, dia bukan pacar, tapi Om kesayangan!” tandas Waila seraya mengabaikan Erlan.


Ck!


Erlan bercecah pelan, bibirnya mencebik. Lagi-lagi dia tidak percaya dengan sebutan Om kesayangan bagi Waila. Nafadi adalah anak satu-satunya sehingga wajar apabila, Waila  tidak memiliki paman atau bibi, tetapi, menganggap orang lain sebagai Om kesayangan itu terlalu berlebihan.


Waila bertemu dengan Anas baru beberapa pekan lalu di sebuah Cafe yang tidak terlalu jauh dari kampus, tempat yang biasa digunakannya berkumpul bersama teman-teman, menikmati waktu luang sesudah jam kuliah habis.

__ADS_1


Anas adalah pemilik Cafe, dia senang sifat manja Waila, yang baginya sangat menggemaskan. Gadis itu mengingatkan dirinya pada sang kekasih yang sudah lama tiada. Oleh karena itu dia selalu memberi perhatian lebih karena kasih sayang yang muncul begitu saja.


Seperti hari ini Anas sengaja mengantarkan Waila pulang karena mengaku kepalanya pusing hingga dia kuatir bila terjadi sesuatu. Akhirnya dia bersedia menjadi sopir bagi Gadis itu.


Akan tetapi sampai di tengah jalan Waila memintanya singgah di sebuah Cafe dan, tiba-tiba gadis itu menekan klakson mobilnya kuat-kuat, membuat Anas heran. Namun setelah dia turun dari mobil dan bertemu dengan orang-orang di sekitar Waila, akhirnya dia mengerti jika kemungkinan perempuan manjanya menyukai pria yang ada di hadapannya itu.


“Sudah, sudah, ayo cepat pulang, katanya kamu pusing?” Anas berkata sambil menepuk-nepuk tangan Waila yang merangkul lengannya, berusaha untuk menenangkan.


Waila terlihat cemberut dan mengangguk.


“Kamu pusing? Kamu sakit?” kata Erlan seraya mendekat sambil memegang kening Waila dengan punggung tangannya.


“Jangan pegang-pegang!” kata Waila sambil menepiskan tangan Erlan.


“Apa salahnya sih?” tanya Erlan.


“Salah!” bentak Waila.


“Aku Cuma mau tahu kamu baik-baik saja.” Erlan menyanggah.


“Sudah cukup, ayo kita pulang,” kata Anas.


Waila dan Anas kembali ke mobil dengan menyisakan banyak sekali tanda tanya di benak Erlan dan Winsi. Mereka terlihat begitu hangat ketika memasuki mobil sebelum akhirnya pergi.


Erlan berbalik dan mendapati Winsi masih bengong sambil menatap arah ke mana mobil yang dinaiki Waila dan Anas pergi.


“Apa yang kamu pikirkan tentang mereka berdua?” tanya Erlan ketika mereka sudah berada di dalam mobil, sambil memasang sabuk pengamannya.


“Apa kamu cemburu?” Winsi balik bertanya.


“Cemburu sama siapa?” tanya Erlan.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2