Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
111. Kambuh


__ADS_3

Kambuh


 


Erlan dan Arkan segera berkemas untuk pergi ke rumah keluarga Hanifa setelah dokter mengizinkan gadis itu pulang dan memastikan kondisinya baik-baik saja. Pernyataan dokter sangat penting agar rencana pernikahan mereka bisa berjalan dengan lancar.


Hanifa di fonis mengalami depresiasi lokal yang artinya dia akan kambuh sewaktu-waktu bila ada sesuatu yang menjadi pemicu. Dia akan kambuh mana kala mendengar suara benturan keras atau kembali terjatuh, atau dikejutkan oleh sesuatu, maka, gangguan mentalnya itu terjadi tanpa di sadari.


Orang-orang yang ada di sekitarnya akan tahu jika gangguan mentalnya kambuh saat Hanifa bicara.


 Saat dalam keadaan normal, maka gadis itu akan ingat segalanya, tapi saat mentalnya terganggu dia akan melupakan segala sesuatunya bahkan dia akan sangat kesakitan di kepala.


Gadis itu mendapatkan semua penyakit itu saat di terjatuh dari lantai dua rumahnya, saat tanpa sengaja dia terpeleset tepat sebelum dia melangkah di atas tangga. Dia terpelanting langsung ke lantai satu, karena pegangan tangga yang terbuat dari kayu itu patah dan sepatu hak tinggi yang dikenakannya patah juga. Dia akan pergi ke pesta saat hal itu terjadi. Kejadian itu membuatnya mendapatkan 12 jahitan di kepala.


Sudah hampir dua tahun lamanya dia menderita gangguan mental, yaitu tepat di saat hari menjelang kelulusan Winsi dari pesantren waktu itu.


Erlan tanpa canggung merengkuh bahu Hanifa hingga masuk ke dalam mobil hingga semua sudah duduk dengan nyaman di jok belakang, kini Arkan yang mengemudikan kendaraannya melaju ke jalanan dengan kecepatan sedang. Tak lama setelah mereka berada di jalan raya, Hanifa tertidur di bahu Erlan dengan tenang.


Arkan menoleh ke belakang, sebentar lalu dia berkata, “Jadi, Ayah nggak salah, kan, nyuruh kamu nikahin dia saja?”


“Ayah, sudah kubilang, kan, kalau berniat untuk membantu tidak harus menikahi?”


“Apa, janji itu nggak usah nanggung, tidak jelas itu ... Kalo dinikahi, kan, jelas dan lebih mudah kamu mengurusnya, kalau dia seperti itu juga nggak masalah karena kalian sudah sah!”


Erlan menggerutu dalam hati saat mendengar ayahnya bicara seperti tadi, sebab dia hanya secara spontan membuat janji karena merasa bersalah. Ayah dan ibu Hanifa meninggal demi menghindar agar tidak menabraknya, tapi justru mereka yang meninggal dunia. Memang semua sudah takdir Allah, tapi menikahi wanita yang tidak dia cintai justru akan menyiksa dirinya sendiri.


Hanifa tetap tertidur di sepanjang perjalanan menuju rumah keluarganya, hingga sampai di halaman rumah sederhana tapi cukup besar itu, Erlan terpaksa membangunkan gadis itu karena dia tidak mungkin menggendongnya, sampai masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Tampak di dalam rumah itu beberapa kerabat, saudara dari Hanifa dan tetangga yang datang hendak menghadiri pernikahan mereka.


Erlan melihat semua pemandangan itu dengan raut wajah datar yang tidak kentara untuk menutupi dan keterpaksaannya, melaksanakan janji untuk mengurus Hanifa dan sekarang justru dia menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab selanjutnya. Dia berjanji akan menuruti perintah ayahnya kalau dia lulus kuliah sekaranglah saatnya.


Saat akad nikah dilangsungkan, Hanifa yang baru pulang dari rumah sakit, hanya di rias dengan dandanan ala kadarnya dan mengenakan pakaian kebaya putih sederhana. Sedangkan Erlan hanya memakai kemeja putih, peci dan celana panjang hitam yang sudah dia pakai sejak dari rumah.


Sebelum acara sederhana di mulai, tepat sebelum akad nikah dilangsungkan, seseorang menyalakan petasan, membuat kegaduhan. Bahkan ada seseorang yang latah dan terkejut hingga latahnya kambuh. Erlan dan Arkan melihat sekilas pada Hanifa yang kemudian tiba-tiba pingsan.


“Bagaimana, Pak, apa akad nikah mau tetap dilangsungkan, atau tidak?” kata seorang petugas catatan sipil agama yang hadir dalam acara.


“Tapi, mempelai wanitanya saja tidak sadar, gimana mau nikah?” kata Erlan.


“Ya, kalau cuma akad nikah, tidak ada mempelai wanita juga tidak masalah. Kecuali Nak Erlan sudah tidak sabar untuk segera tidur berdua sekamar, nah baru membutuhkan mempelai wanita yang sadar!”


Seketika suara gelak tawa dari para hadirin yang ada terdengar riuh memenuhi ruangan. Walaupun, mereka tidak banyak, hanya sekitar 30 orang saja yang hadir di sana, tapi, tetap saja candaan seperti itu membuat Erlan malu. Dia belum punya banyak pengalaman bergaul di masyarakat dan tidak biasa dengan gurauan beberapa orang yang terkadang begitu blak-blakan.


Erlan tidak menanggapi, dia hanya berdiri sambil menggendong Hanifa ke mobil menidurkannya di jok belakang agar nantinya mudah saat kembali ke rumah sakit. Begitulah biasanya jika penyakitnya kambuh, maka dia harus bertemu dengan dokter dan mendapatkan beberapa obat, kalau tidak, maka, dia akan pingsan terus menerus hingga di sebut dalam keadaan koma.


Saat dalam kondisi demikian, Hanifa kadang langsung tersadar tapi, kemudian dia meracau tidak karuan. Menganggap siapa pun yang ada di hadapannya sebagai ayah atau ibunya.


Eelan menyesal kenapa mereka harus membunyikan petasan sebagai sambutan sebelum akad nikah di mulai. Erlan tidak menyalahkan tradisi atau kebiasaan masyarakat, hanya saja dia kecewa pada pihak keluarga. Mereka seolah lupa  akan kondisi Hanifa yang akan kambuh bila dikejutkan.


Akhirnya, Erlan tetap melanjutkan akad nikah yang memang bisa halal dan sah walaupun tidak ada pihak perempuan di sana. Erlan hanya menggunakan uang yang ada di dompetnya untuk dijadikan mahar, yaitu uang senilai satu setengah juta saja.


Mahar yang disebutkan Erlan memang membuat para kerabat Hanifa itu mencibir, karena menilai Erlan sebelah mata. Mereka hanya melihat apa yang bisa mereka lihat, yaitu keluarga Badri yang kaya raya. Padahal warisan dari keluarga Hanifa juga sangat banyak, kalau Erlan ingin mendapatkannya, tapi pria itu hanya memberinya mahar yang sedikit juga.


Melihat mahar yang di berikan Erlan sebagai keluarga kaya, memang tidaklah besar tapi, sebagian orang menilai hal itu dalam batas kewajaran, mengingat biaya Hanifa di rumah sakit juga sangat besar sedangkan, Erlan atau Arkan tidak pernah meminta bantuan pada saudara, kerabat atau bahkan paman-pamannya.

__ADS_1


Setelah selesai akad, Arkan dan Erlan segera beranjak dari duduknya dan langsung menuju ke mobil mereka untuk membawa Hanifa kembali ke rumah sakit.


Dua pria tampan berpostur tubuh sama tinggi itu menolak secara halus, ketika pihak keluarga menawarkan mereka untuk mencicipi hidangan. Bagi mereka urusan Hanifa lebih penting sebab atas dasar itulah tujuan utama mereka menikah, yaitu untuk lebih mudah menjaga janji dan amanah.


Mungkin sudah kehendak Allah menjadikan kejadian kecelakaan itu sebagai jalan menitipkan Hanifa pada Erlan dan keluarganya.


“Pernikahan mereka seperti mainan saja, asal sah, ya sudah!”


“Mungkin anak itu sudah tidak sabar lagi mau melahap Hanifa yang cantik, makanya dia cepat-cepat di bawa ke rumah sakit lagi.”


“Bisa jadi seperti ini cara mereka untuk mendapatkan warisan dari ayahnya Hanifa!”


“Ya, siapa tahu Hanifa sakit lebih parah karena disengaja!”


“Wah, benar. Soalnya lihat saja ngasih mas kawinnya sedikit padahal mereka orang kaya!”


“Tapi memang sih, biaya rumah sakit juga besar, apa mungkin pengorbanan mereka sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan?”


“Bisa jadi sama saja!”


Suara-suara bisikan tetangga dan kerabat yang melihat pernikahan hanya dari sebelah mata saling berbisik-bisik mengusik ketenangan hati dan memicu pikiran buruk beberapa orang yang memiliki pikiran bersih.


Sungguh, satu mulut saja selalu cukup untuk membuat rusak sebuah nama dan reputasi seseorang, tapi butuh ribuan mulut yang lain untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi karenanya.


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2