
Pernikahan Ruja Antara Dugaan dan Kenyataan
Winsi menoleh kebelakang dan pada salah satu temannya yang saat itu duduk di sebelah Nia, secara bergantian. Saat itu mereka tengah beristirahat di bawah pohon setelah melakukan olah raga, yang menjadi jadwal rutin setiap pagi hari Jum’at dan hari Ahad.
“Ada apa?” Kata Winsi sambil berdiri menatap temannya yang mendekat sambil berlari dan napas yang terengah-engah. Suara gadis itu terlihat tidak sabar karena ingin mendengar kabar tentang Hanifa dari temannya yang lain.
“Ada telepon, buat kamu. Di tunggu sama Ustaz Fina!”
Mendengar kabar bahwa, dia mendapatkan telepon, Winsi segera berlari ke arah asrama karena ustazah yang di maksud menunggunya di sana. Begitu dia sampai di depan asrama, seorang ustazah memberikan telepon genggam yang dijadikan alat komunikasi umum oleh semua anak perempuan yang ada di sana.
“Assalamu’alaikum ...?” kata Winsi begitu ponsel dia terima dari seorang guru yang bertugas piket, jaga asrama hari itu, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
Orang yang menghubungi Winsi, adalah Runa--ibunya. Sesaat setelah menyapa, dia diam mendengarkan wanita itu bicara. Wajahnya begitu semringah dan bibinya tersenyum mendengar penuturan ibu yang mengabarkan bahwa dia akan segera mempunyai seorang adik. Sebuah jawaban setelah menunggu sekian tahun lamanya menikah dengan Arkan. Sebenarnya dia memiliki resiko tinggi jika hamil, mengingat usiaya sudah di atas 35 tahun. Namun, dia tetap mempertahankan keberadaan janin di rahimnya.
Runa sengaja menelepon anaknya untuk memberitahukan kabar itu agar dia merasa senang. Memiliki seorang adik saat dia sudah menginjak dewasa, ini adalah hal yang luar biasa. Ternyata sesenang ini memiliki saudara kecil yang bisa menjadi kesenangan tersendiri baginya.
Dia ingat dahulu pernah punya adik saat dia masih kecil, dia tidak sempat bermain lama-lama dengan adiknya karena bayi itu kemudian meninggal. Saat itu Winsi masih lugu dan belum tahu mengapa adiknya di bawa ke rumah sakit, tapi, setelah dibawa pulang, justru dimasukkan ke dalam tanah. Dia begitu sedih karena merasa kasihan pada adik bayinya yang sendirian dan kedinginan di bawah sana.
Saat dia kelas lima SD, ada seorang temannya yang juga memiliki seorang adik bayi kecil yang lucu dan Winsi senang sekali ikut menggendongnya, saat dia bermain ke sana. Setiap kali dia pulang latihan karate waktu itu, dia mampir dan akan berlama lama di rumah teman, hanya untuk bermain dengan adik bayi. Akan tetapi, dia akan kecewa bila singgah dan adik bayi kawannya sedang tidur.
Namun, kini dia akan mempunyai adik barunya sendiri, hingga dia tidak sabar untuk segera lulus, dan bisa pulang melihat adik bayi yang pasti lucu sekali. Winsi menutup telepon genggam itu sambil tersenyum simpul dan hati yang berbunga-bunga.
“Ya, itu saja kabar gembiranya, kamu senang, kan? Doakan Ibumu ini biar tetap sehat sampai melahirkan adikmu dengan selamat.” Runa bicara dari balik telepon dengan antusias.
“Iya, Buk. Pasti Wiwin doakan buat kebaikan Ibu, juga Ayah.”
“Jangan lupa, buat Erlan juga.”
“Memangnya dia kenapa?”
“Tadi, Ayah baru saja terima kabar, kalau Erlan kecelakaan. Ibu nggak tahu kabarnya dia sekarang gimana, Ayah pergi ke rumah sakit dan sampai sekarang belum pulang.”
“Oh, ya, mudah-mudahan dia baik-baik saja.”
“Aamiin.”
Winsi mengakhiri panggilan telepon, setelah mengucapkan salam. Perasaannya begitu ambigu dalam satu waktu. Tatapan matanya masih menerawang sambil memberikan telepon genggam pada gurunya dan mengucapkan terima kasih, dalam bahasa Arab sebagaimana kebiasaan di sana.
“Jazakillah, Ustaz.” Winsi berkata sambil mengangguk hormat.
Sang guru mengangguk. Sementara Winsi berjalan menjauh, tapi baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik lalu, mendekat pada guru yang tadi memberinya pinjaman ponsel.
__ADS_1
“Ustazah!”
“Ya, ada apa, Win?”
“Mau tanya, Ustadzah Hanifah ke mana ya, kok sudah lama gak ada di asrama?”
“Oh, sakit, tapi nggak tahu lagi deh kabarnya sekarang gimana?”
“Sakit apa ya, kalau saya boleh tahu?”
“Wah, maaf ... nggak tahu deh kalau soal itu, sebelum minta izin libur waktu sakit, dia pernah telepon, habis jatuh gitu. Kalau mau lebih jelasnya lagi, kamu bisa tanya sama Ustaz Faruq.”
Mendengar penjelasan dari ustazahnya, Winsi mengangguk, berarti dia harus menemui Ustaz Faruq, Mudir pesantren, kalau ingin tahu lebih banyak tentang Hanifa.
Kedekatan dengan sang guru, membuatnya penasaran sekigus rindu karena lama tidak bertemu. Dia ibarat kakak bagi Winsi, selain pembimbing sekaligus teman yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman. Dia tidak heran jika Erlan menyukai gadis seperti Hanifa. Bahkan dia rela jika kedua orang itu kelak akan menikah menjadi suami istri seperti ibu dan ayah.
*****
Sementara itu, setelah Runa menyimpan telepon genggam di meja, dia duduk di sofa sambil mengusap perutnya yang masih rata, menghubungi Winsi dan mengobrol sebentar, membuatnya sedikit lega setelah rasa jenuh menghampiri. Dia benar-benar kuatir terhadap Erlan, walaupun, dia bukan anak kandungnya, tapi tetap saja dia tidak bisa acuh begitu saja.
Kebetulan anak itu pulang di akhir tahun setelah hampir dua belas bulan tinggal di luar negeri karena menjalani pendidikan dan juga bisnis keluarga. Dari pagi dia pamit untuk jalan-jalan dengan menggunakan motor besarnya.
Sampai saat ini pun Runa belum menerima kabar dari suaminya lagi.
“Ahk ....” Runa mendesah perlahan sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi.
Tiba-tiba ingatan Runa melayang pada tiga tahun yang lalu. Saat dia sudah resmi bercerai dari Basri dan mendapatkan suratnya secara sah menurut hukum, dia benar-benar menikah dengan Arkan. Pria mapan yang dulu pernah singgah di hatinya lalu, banyak menolong dan menawarkan hubungan spesial menjadi nyonya di rumah besar. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Dia berpikir dahulu akan bertahan seumur hidup dengan Basri, pria yang juga berjasa dalam kehidupannya walaupun, kasar dan menyakiti hatinya begitu dalam karena menolak anaknya sendiri. Akan tetapi, siapa yang menduga bila ternyata pria itu bahkan membiarkan orang lain berbuat kejam hingga membuatnya masuk penjara. Oleh karena itu, dia merasa tidak sepantasnya kembali berjuang serta bertahan dengan suami seperti dirinya.
Sudah beberapa kali mereka pernah bertemu dan Basri mengajaknya kembali bersama, akan tetapi Runa menolaknya karena mantan suaminya itu tetap tidak mau menerima Winsi.
Sesaat kemudian Wanita itu tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana pernikahannya dengan Arkan, terasa baru saja kemarin dia mendengar pria itu melakukan ijab kabul dan menyebut namanya, dengan begitu merdu seolah dirinya hanya satu-satunya wanita di dunia yang bahagia.
Kebahagiaan itu karena dia kembali memiliki status sebagai seorang istri bagi suami yang mau menyayangi sepenuh hati, bahkan menerima Winsi meskipun, gadis itu bukan anaknya sendiri.
Masih jelas dalam ingatan saat Runa berjalan dengan anggun, dari kamar tamu yang selama ini ditempatinya mendekati Arkan. Dia memakai kebaya warna putih berenda menuju aula tengah rumah, yang sudah dihias dan di rancang sedemikian rupa hingga terlihat luas dan menarik. Semua kursi dikeluarkan dari sana, seluruh lantai ruangan hanya terhampar karpet beludru membuat tempat itu terkasan sangat luas. Semua hadirin ada di dalamnya. Sementara hidangan makanan terdapat di halaman dengan kursi-kursi yang disusun berjajar di sekitarnya.
Itu adalah hari perikannya dengan pria yang sudah berulang kali menjadi pahlawan dan memintanya untuk menjadi istri yang ikut mengisi rumah besar.
Saat itu semua mata tertuju padanya, dialah pusat utama sebuah pesta sederhana, yang diadakan Arkan di rumahnya sendiri dengan mengundang beberapa kerabat, relasi dan tetangga. Tidak banyak, memang. Akan tetapi sudah cukup ramai bagi orang yang menikah untuk kedua kalinya.
__ADS_1
“Apa kau sudah siap?” tanya Arkan saat mereka duduk berdampingan di depan meja yang sudah di siapkan sebelumnya untuk tempat ijab kabul dan penandatanganan surat nikah.
“Ya,” jawab Runa, sambil menatap Arkan dengan tersenyum malu-malu sebab seharusnya dirinyalah yang bertanya seperti itu.
Setelah prosesi selesai dengan lancar, Runa masih saja menyunggingkan senyum bahagia, tidak sama seperti saat dia menikah dengan Basri, dulu. Setelah ijab kabul, dia menangis terharu karena saat itulah dia melepas masa lajangnya menuju hidup baru selanjutnya. Apalagi, dia mendapatkan seorang yang akan menjadi teman hidup setelah kedua orang tuanya tiada. Akan tetapi, saat ini tidak ada yang perlu di tangisi meskipun itu kebahagiaannya sendiri. Dia tersenyum menyambut masa depan, dengan orang yang sudah siap menanggung beban hidup bersama lahir dan batinnya.
“Apa kamu sudah gila?” tanya sebuah suara tak jauh dari sofa, mengagetkan Runa dari lamunannya.
Wanita itu menegakkan punggungnya kembali, lalu tersenyum lembut seraya menghampiri Badri yang menatap sinis ke arah Runa.
Ayah ... ini sudah sore, ayo! Kita jalan-jalan,” kata Runa sambil melangkah ke belakang kursi rodan dan mulai mendorongnya perlahan menuju halaman, mereka terus diam, hingga sampai keluar rumah.
“Sudah aku bilang, jangan panggil aku Ayah. Aku bukan ayahmu!” kata Basri terkesan acuh tak acuh. Pria itu tidak menyetujui Arkan menikahi seorang janda seperti Runa karena baginya wanita seperti dirinya tidak bisa memberikan anaknya apa-apa.
Akan tetapi yang dia takutkan berbeda dengan kenyataan bahwa, Runa tidak tampak sama sekali ingin menguasai Arkan, juga harta atau warisan darinya. Terbukti setelah hampir tiga tahun ini dia menempati rumah itu, tidak ada sesuatu perubahan yang berarti, seperti perabotan yang diganti sesuai selera Runa atau aturan rumah yang dirubah semaunya. Tidak ada.
Rumah itu tidak bertambah dengan adanya barang-barang mewah, bahkan perhiasan yang dipakai oleh Runa sehari-harinya, hanyalah perhiasan yang menjadi mas kawin dari Arkan.
Badri jarang melihat Runa berbelanja berbagai macam barang mahal, kecuali ke pasar untuk membeli bahan makanan kebutuhan keluarga, itu pun bersama dengan Bi Neni dan Hasnu. Dia juga tidak pernah terlihat bergaul atau berkumpul dengan kaum sosialita seperti Saina atau almarhum istri Arkan sebelumnya. Anehnya dia selalu saja membuatkan makanan khas Nusantara yang selalu enak dan disukainya.
Cuma Runa yang mau menyempatkan waktu setiap sore untuk menjaga dan membawanya berjalan-jalan di sekitar kompleks. Selama ini tidak ada yang bisa melakukan untuknya. Arkan selalu sibuk, Erlan mana mungkin mau mendorong kursi roda dengan hati-hati dan penuh kesabaran. Akan tetapi, sejak Runa tinggal bersama dan secara resmi menjadi istri anaknya, wanita itulah yang pertama kali menawarkan hal menyenangkan itu padanya.
Ada satu hal lagi yang disukainya dari menantunya ini, saat mereka jalan-jalan, Runa banyak cerita tentang kisah perjuangan para Rosul dan sahabat Nabi yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
“Ayah, aku hanya menganggap Ayahku sendiri. Aku tidak punya orang tua lagi. Apa ayah tahu ada anak yang begitu sakit hati saat orang tuanya tidak mau menganggap, padahal dia anaknya sendiri? Rosul pernah mengangkat seorang anak yang terpisah dari keluarganya, bahkan hampir dijadikan budak ....”
“Rosul sangat menyayanginya, walau, anak itu tidak tampan atau sempurna seperti anak-anak lain pada umumnya, karena tubuhnya kecil dan kurus, tapi, karena kasih sayang beliau begitu besar, sampai-sampai beliau ingin mengganti nama anak itu seolah keturunannya, tapi, agama melarang karena nasab, keturunan juga, aliran darah tetap tidak bisa digantikan.”
“Memangnya ada orang tua bodoh yang tidak mau mengakui anaknya sendiri seperti itu?”
“Ada.”
“Siapa?”
“Bapak Winsi.”
Tiba-tiba pria tua itu terbatuk-batuk dengan keras.
“Ayah, kenapa? Ayah!” tanya Runa sambil menepuk-nepuk punggung Badri-mertuanya, dengan pelan. Akan tetapi, dia wajahnya terlihat panik. Sementara Badri terus terbatuk-batuk.
Bersambung
__ADS_1