Dia Bukan Yang Terbaik

Dia Bukan Yang Terbaik
24. Murid Baru


__ADS_3

Murid Baru


Secara serentak kedua wanita yang masih manikmati sarapan pagi itu pun menoleh, ke sumber suara, sambil mengerutkan alisnya masing-masing. Melihat ke arah Nira.


Gadis muda itu berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya melihat Winsi dan Runa penuh dengan permusuhan.


“Apa kalian bilang, mau pergi dari sini? Jangan harap bisa!” katanya ketus kemudian, mencebik.


“Kenapa tidak bisa, mau pergi atau nggak itu bukan urusanmu, ya!”


“Kata Mas Basri kamu sangat bermanfaat, kamu baik, selalu menerima walau cuma dikasih uang sedikit tapi, bisa menanggung biaya, keluarga. Apalagi kalau ada kamu dan anak ini, kan aku nggak harus kerja sendiri. Jadi Mas Basri nggak harus repot!”


Mendengar ucapan Nira tiba-tiba jantung Runa berdegup begitu kencang, tidak percaya Basri menganggap dan menilainya seperti itu rupanya, bahkan rasa sesak dan sakit semakin menjadi-jadi di dada, seolah-olah hatinya sedang diiris-iris dengan pisau yang sangat tajam. Napasnya seperti tercekat di tenggorokan.


“Siapa yang bilang begitu, jangan mengada-ada ... Ingat! kamu cuma adik angkat, Cuma numpang di sini!” bentak Runa sambil berdiri dan menarik kursinya ke samping dengan kasar.


“Hah! Numpang? Bukannya kamu juga Cuma numpang di sini?” Nira balik bertanya.


“Tapi aku istrinya! Kamu siapa? Masih bocah juga belagu!” Runa berkata dengan suara keras karena berang.


“Aku memang cuma adik angkat, tapi mas Basri lebih sayang aku dari pada sama kamu. Aku lebih cantik, suatu saat nanti aku juga bakal bisa gantiin kamu! Tahu?” kata Nira sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Runa.


“Apa?” tanya Runa tak percaya dan ia mencoba membantah ucapan Nira yang sangat menyakiti hatinya. Sebenarnya wanita ini dididik di tempat seperti apa walau, dia masih muda tapi, sudah memiliki pikiran yang buruk begitu rupa. Bagaimana anak yang baru lulus sekolahnya, sudah berencana merebut seorang suami dari istri sahnya?


“Iya, aku bisa jadi istri kedua Mas Bas—“ ucapan Nira terjeda karena yang terdengar kemudian adalah suara tamparan keras di pipinya.


“Kurang ajar sekali kamu? Hah!” kata Runa setelah berhasil menampar Nira. Dia menatap gadis muda di hadapannya dengan tatapan membara, lalu, kembali berkata. “Sudah syukur kamu ditampung di sini, harusnya memperlakukan aku sebagai kakakmu sendiri, sama seperti kamu memperlakukan Basri.” Lalu, dia terkekeh, “ orang yang pikirannya buruk seperti ini ... gimana bisa diangkat sebagai adik, hah! Adik apanya!”


Nira tercengan dengan sikap Runa yang terkesan kuat dan mendominasi, tidak seperti ucapan Basri bahwa istrinya, wanita yang mudah dikendalikan. Dia penurut, senang memasak makanan enak, tapi lemah gak bisa apa-apa, sedikit cerewet tapi, tidak galak.


Begitulah awalnya Nira memutuskan untuk memenuhi tawaran Basri dan, tinggal di rumahnya. Jadi setelah memastikan tentang bagaimana sifat Runa, dia pun siap memulai kuliah dan tinggal di sana sebab, akan banyak sekali manfaat yang bisa diambilnya.


Namun yang terjadi saat ini sungguh di luar dugaan. Bahkan dia ditampar sebelum sempat melakukan aksinya untuk menindas wanita kurus yang terkesan lemah, naif dan tidak berdaya.


“Awas kamu, ya! Aku bilang sama Mas Basri kalau kamu jahat!” kata Nira sambil berlalu pergi menuju ke kamarnya dan mengambil ponselnya.


“Sana, kalau Mas Basri percaya. Sudah lebih dari lima belas tahun kami menikah, aku belum pernah sekalipun berteriak padanya. Aku pikir dia tidak akan percaya!” teriak Runa sambil menyeringai.


Sementara Winsi menatap dua wanita yang berseteru dengan banyak emosi yang mencuat dalam benaknya. Apa yang dia lihat dari ibunya sangat luar biasa. Dia tersenyum kecil dan menyadari satu hal bahwa setiap manusia bisa berubah bila tertekan oleh keadaan.


Runa tidak ingin dirinya ditindas secara sembarangan olah orang yang bukan siapa-siapa. Kalaupun suaminya percaya pun, dia hanya perlu diam dan tidak membantah kata-katanya, sebab bila dia cerewet, hanya akan menambah amarah dan percuma saja.

__ADS_1


Akan tetapi, dia harus kuat di depan wanita tak tahu malu ini, demi Winsi. Mereka tidak boleh mengalah di depan Nira, terutama jika Basri tidak ada!


Benar saja ketika Nira mengadu pada Basri tentang apa yang dilakukan Runa, melalui telepon genggamnya. Laki-laki itu hampir tidak percaya. Dia tahu betul bagaimana sikap Runa selama ini kepadanya, wanita lembut dan selalu mengalah itu tidak bisa melakukan kekerasan apalagi menampar orang yang dianggap adik olehnya.


Basri berpikir bahwa Nira adalah gadis manis, lemah lembut dan menggemaskan sehingga, tidak mungkin orang lain akan bersikap kasar padanya.


Semula dia beranggapan bahwa dua wanita itu akan sangat akur dan, yakin bila Runa pastilah tidak akan berbuat macam-macam karena dia tidak memiliki apa-apa selain mengandalkan suaminya, serta takut bila Basri marah.


*****


Begitulah hari-hari berlalu dalam rumah itu, yang kini menjadi lebih ramai. Setiap hari ketiga orang itu berselisih, ada saja yang mereka perselisihkan baik dalam hal mencuci pakaian, memasak makanan ataupun perbuatan dan perkataan mereka yang sama-sama tidak sejalan.


Kegiatan sehari-hari Nira selain bepergian bersama teman-temannya, dia menghabiskan waktunya di dalam kamar ataupun melihat televisi sambil menikmati makanan yang dibelinya sendiri. Basri memberinya uang jajan yang cukup, sedangkan untuk makan nasi dia sering ikut menikmati makanan yang di buat oleh Runa dan Winsi.


Sementara Runa dan anak gadisnya, melakukan aktifitas seperti biasa. Mereka bangun di pagi buta untuk bekerja mempersiapkan makanan dagangan mereka, berangkat berjualan di perempatan jalan dan, pulang ketika menjelang siang. Kini mereka lebih waspada karena ada orang lain di dalam rumahnya. Winsi dan Runa menggabungkan tabungan mereka menjadi satu dan menyimpannya di kamar gudang diantara barang-barang yang tidak terpakai.


Tidak jarang Runa menaruh curiga terhadap gerak-gerik Nira yang mencurigakan. Sebab, Nira tahu bahwa pasangan ibu dan anak itu memiliki tabungan yang akan mereka gunakan untuk biaya pindah dari rumah suaminya. Ya, dia tahu karena tidak sengaja mencuri dengar dari pembicaraan antara Runa dan Winsi waktu itu.


Semula Nira menganggap kepergian Runa akan menjadi sebuah kerugian baginya karena tidak bisa memiliki seorang pembantu, akan tetapi melihat kenyataan yang sekarang ini ada, Nira berubah pikiran dan dia ingin agar dua wanita menyebalkan itu pergi dari rumah secepatnya.


*****


Winsi dan ibunya tidak melarang Nira ikut memakan masakan mereka, sebab dua wanita itu tahu betul bahwa, berbagi makanan sangat dianjurkan dalam agama. Apalagi dengan orang yang dekat dengan mereka. Walaupun sikap dan perbuatan Nira sangat tidak sopan dan menyebalkan tetapi, dalam hal makanan dia tidak pernah kekurangan.


“Hati-hati di jalan, ya! Cepat pulang, soalnya Bapakmu juga pulang hari ini!” kata Nira tanpa melihat ke arah Winsi, sementara bibirnya menyeringai aneh.


Winsi melirik Nira sekilas sambil mengikat tali sepatu baru yang dia beli bersama Runa kemarin. Setelah selesai, dia merapikan kembali jilbab, baju dan tas yang dia slempangkan di pundak kiri lalu, pergi setelah mengucapkan salam.


Seragam Winsi masih rapi saat tiba disekolah, dia menggunakan jasa angkutan umum agar lebih cepat, ini hari pertama sekolah dan dia ingin tampil sempurna. Saat memasuki gedung, dia melihat sebagian murid memakai busana muslimah seperti dirinya, sebagian lagi tidak. Tentu saja anak-anak yang memilih untuk mendapatkan ilmu di sana berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Mereka juga tergolong murid yang pandai karena terbukti mereka bisa lulus seleksi masuk ke sekolah ini.


Hiruk pikuk anak-anak berseliweran di jalan, lapangan dan beberapa tempat di sekitar sekolah. Ratusan anak berkumpul dihari pertama itu dengan wajah-wajah ceria mereka. Seceria akan harapan dan masa depan yang lebih baik dengan bertambahnya ilmu.


“Hai, Win!” sapa Fika, dia salah satu teman Sekolah dasarnya. Walaupun, mereka tidak begitu akrab, Winsi sangat bersyukur karena ada yang dikenal dan bisa berteman kembali dengannya. Tidak seperti Meri yang memilih sekolah di SMP swasta Bunga Bangsa, tempat di mana Erlan melanjutkan SMA-nya.


Winsi menoleh dan tersenyum, melihat Fika yang berlari kecil menuju ke arahnya. Namun, belum juga sampai di sisinya, gadis kecil itu jatuh terjerembab ke tanah.


Melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri, membuat Winsi gerah. Ya, ada salah seorang anak perempuan yang sengaja menjulurkan kakinya ke depan, sehingga mengenai kaki Fika saat tengah berlari dan menyebabkannya terjatuh.


Pemandangan seperti ini membuat Winsi bergerak, hati nurani dan pikirannya terusik dan segera menolong Vika bangkit dari tempatnya terjatuh. Dalam sekejap mereka sudah menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, anak yang tadi menjulurkan kakinya tertawa terbahak-bahak, diikuti beberapa temannya yang lain. Mereka adalah sekumpulan geng.


Winsi teringat akan ibu dan dirinya sendiri, terlalu lemah didepan orang yang mereka sayangi, tapi justru orang itulah yang menyakiti. Bapaknya sendiri, menganiaya sehingga, dia tumbuh menjadi anak yang minder, tidak percaya diri dan pendiam. Semua dipicu oleh perasaan terabaikan, tidak diharapkan, bahkan dibenci juga terlalu sering mendapatkan kekerasan.

__ADS_1


Saat ini, melihat seseorang diperlakukan seperti itu dia merasa sangat geram dan tidak ingin hal yang sama terjadi pada orang lain.


“Fika! Ayo bangun!” kata Winsi sambil terus menatap anak perempuan yang masih tertawa, sementara satu tangannya memegangi pangkal lengan Fika.


“Hah! Lihat ... dia punya penolong rupanya, Cih!” kata anak perempuan itu setelah selesai dengan tawanya.


“Oh, ya harus ditolong, dong. Masa ada temennya jatuh dibiarin saja. Dasar gak punya perasaan!” sahut Winsi sambil mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. Dia tidak sabar ingin mencoba jurus karatenya. Mengikuti banyak pelatihan dan tantangan tidak akan pernah sama dengan berduel di tempat nyata.


“Hai. Kamu bilang aku nggak punya perasaan begitu?” kata anak itu lagi, sementara temannya yang lain ikut menyemangati dibelakangnya nya dengan mengangguk-anggukkan kepala.


“Aku nggak bilang kamu kok. Jadi, maksudku kalau ada orang lain jatuh nggak ditolongin, itu namanya nggak punya perasaan, tahu?”


“Sombong banget sih, kamu belum tahu ya, siapa aku?” tanya anak itu.


“Ya. Aku anak baru, jadi belum tahu siapa kamu, tapi gak penting juga kali.” sahut Winsi acuh tak acuh.


“Heh! Dia ini kakak kelas kamu, tahu?” kata anak yang di sampingnya.


“Oh, jadi seperti ini orangnya kakak kelasku? Bukannya, kalau jadi kakak kelas itu harus jadi contoh yang lebih baik bagi adik kelasnya, ya?” kata Winsi dengan senyum mengejek.


“Ayo, Fika. Kita ke sana saja, ada yang sakit, nggak?” tanya Winsi sambil menoleh pada temannya.


Fika menggeleng dan berkata, “Sudah, orang seperti mereka nggak usah diladenin kamu nggak tahu siapa dia kan?”


“Memangnya kenapa?” Winsi penasaran.


Winsi dan Fika masih bercakap-cakap ketika tiba-tiba anak perempuan dan temannya tadi mengelilingi mereka. Winsi melihat ke sekelilingnya untuk waspada lalu, salah satu di antara mereka berkata, “Kamu jangan ngelunjak ya, sama kakak kelas, kami ini belum selesai bicara! Jadi, jangan sok-sokan kamu bisa pergi begitu aja.”


“Memangnya Kalian mau apa lagi?” tanya Winsi tenang sambil memutar bola matanya malas.


“Kamu! kamu ini harusnya dikasih pelajaran sopan santun ya, sama kakak kelas nggak sopan.” Kata salah satu anak lainnya. Winsi tidak menyangka bila di sekolah itu ada sekumpulan anak yang memiliki geng seperti di dunia sinetron saja.


“Sebenarnya Siapa yang mulai lebih dulu sih? Kan kalian, buat apa ngejegel kaki orang yang lagi jalan? Kalian itu yang nggak sopan, kurang kerjaan!” Winsi menyahut lebih keras. Sudah cukup rasanya selama ini menjadi anak yang tertindas, hingga, sekarang dia tidak ingin tertindas lagi.


“Apa? Jadi, kamu ngatain aku kurang kerjaan?” kata anak yang tadi menjegal kaki Fika.


“Oh. Jadi kamu ngaku kalau kamu kurang kerjaan?” Winsi maju satu langkah lebih dekat pada anak itu, lalu ....


Bersambung


“Jangan lupa like, komen, gife, fav dan vote. Terima kasih atas dukungannya”

__ADS_1


__ADS_2