
Waila Bilang Dia Jutek
“Apa maksud Mas Adi? Kita hanya tinggal berdua di sini?” Winsi mengulangi pertanyaannya sebelum turun dari mobil. “Saya nggak mau, Mas!”
Nafadi tersenyum sambil turun dari mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Winsi karena dia tidak mau turun dari sana. Pria itu menangkap wajah beku tapi menggemaskan milik perempuan di hadapannya.
“Ayo! Turun dulu dan masuklah, rumah ini memang cukup besar kalau kami hanya berdua.”
‘Apa maksudnya, sih?’ batin Winsi.
Dia menoleh sambil mengerutkan alisnya melihat Nafadi tak percaya, tatapannya penuh selidik. Gadis itu selalu waspada seperti waspadanya seekor rusa dari serangan atau intaian buaya, macan kumbang, singa dan binatang pemburu lainnya, di saat ia hendak minum di satu-satunya sumber air yang terbentang di Afrika.
Nafadi kembali tertawa kecil melihat tingkah Winsi, lalu kembali berkata setelah menghentikan tawanya.
“Ada Waila di rumah ... apa Ayahmu nggak bilang apa-apa soal dia?” tanya Nafadi kemudian.
Winsi menggelengkan kepalanya.
“Ya, sudah ... Ayo, turun!”
Winsi memang belum tahu siapa Waila yang baru saja disebutkan oleh Nafadi. Akan tetapi, dia bisa menyimpulkan bahwa di rumah besar itu ada seorang anak lagi dan bisa menjadi temannya. Gadis itu beristighfar karena sudah berprasangka buruk, bila pria itu akan memanfaatkan atau berbuat sesuatu padanya.
Winsi akhirnya mengikuti Nafadi berjalan masuk ke rumah, setelah dia mengeluarkan koper besar yang dibawa dari bagasi mobil.
Sesampainya di depan pintu, ada seorang anak perempuan yang sebaya dengan Winsi, menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah. Serta menghambur dalam pelukan Nafadi.
Anak itu pun berkata, “Ayah, kenapa lama sekali!”
“Ah, nggak lama kok, itu Cuma perasaanmu saja.” Nafadi menyahut sambil mengacak rambut anaknya.
Melihat interaksi yang terjadi antara dua orang di depannya, Winsi akhirnya mengerti maksud ucapan pria yang menjemputnya tadi.
Anak perempuan berwajah bulat dengan rambut lurus sebahu dan berkulit coklat itu, menatap Winsi dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu, menyalaminya dan memperkenalkan diri bahwa wanita itulah yang bernama Waila Arasyi.
__ADS_1
Setelah anak perempuan sebaya itu menyebutkan namanya, Winsi tersenyum ramah dan menyebutkan namanya sendiri. Dia berpikir bila Arkan memang tidak pernah menceritakan apa pun soal perempuan ini.
Nama anak itu mengingatkan Nadia pada salah satu kota kecil yang ada di timur tengah sedangkan Arasyi adalah nama tempat bersemayamnya Allah Sang penguasa seluruh alam, seperti yang disebutkan dalam ayat kursi.
Sebuah nama adalah harapan orang tua kepada anaknya saat dilahirkan, fungsi nama selain untuk memudahkan orang mengenal, juga untuk keindahan dan kelayakan seseorang untuk disebut. Oleh karena itu, sebaiknya setiap orang tua memberikan nama yang baik untuk anak-anaknya.
Nama pemberian untuk bayi yang baru lahir juga merupakan doa, terlepas dari kehendak Allah juga dikarenakan, apa yang tertulis pada anak itu sebelumnya juga sudah menjadi kehendak Allah yang tertulis pula, bahkan bagaimana kehidupannya kelak sudah Allah haruskan untuk dirinya.
Nafadi mengajak Winsi masuk dan menunjukkan di mana kamar yang sudah disiapkan sebelumnya. Gadis itu melihat sebuah kamar berukuran sedang yang cukup baik. Di dalamnya sudah tersedia tempat tidur yang cukup untuk dia orang, sebuah lemari pakaian dia pintu meja belajar, juga meja rias kecil. Semua perlengkapan itu bergaya netral yang cocok untuk laki-laki dan perempuan.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan Waila, Winsi membawa tas dan kopernya, ke atas tempat tidur. Dia membuka lemari yang kosong dan, berniat menyusun pakaiannya di sana walaupun, hanya akan tinggal di sana untuk sementara saja.
Ternyata Waila mengikuti Winsi ke kamar tamu itu, sementara Nafadi pergi ke kamarnya sendiri.
Saat ayahnya tidak ada di antara mereka Waila berkata, “Jadi, kamu yang kemarin dibilang Ayah mau jadi temanku?”
Winsi menoleh sejenak pada Waila yang duduk di sisi tempat tidur, lalu, membuka kopernya tanpa menjawab ucapan Waila karena dia tidak tahu apa yang dibicarakan Nafadi pada anaknya itu.
“Kalau memang mau jadi teman, kenapa kamu nggak tidur di kamar aku aja, sih?”
Di sisi lain Winsi merasa bahwa Waila adalah orang yang sangat berbeda dengan dirinya sehingga apabila mereka berada dalam satu kamar yang sama, kemungkinan mereka akan menjadi teman yang tidak akur.
“Kalau menurutku lebih baik kita punya kamar sendiri-sendiri, deh. Jadi, kita sama-sama bebas, kita ini punya privasi, kan? Lagian aku nggak lama-lama kok tinggal di sini. Nanti, kalau aku udah dapat kontrakan sendiri aku pasti pindah!"
“Kenapa? Apa kamu nggak suka, tinggal di sini sama aku? Mendingan kamu nggak usah ke sini sekalian kalau cuman sebentar, tanggung! Aku nggak suka dipermainkan kayak gitu.”
Mendengar ucapan Waila, Winsi pun merasa heran karena dia sama sekali tidak berniat mempermainkan seseorang, bagaimana mau mempermainkan sedangkan mereka baru saja saling mengenal.
Lalu, tidak masalah bagi Winsi jika kamar mereka terpisah, sebab, untuk menjaga privasi masing-masing, apalagi mereka orang lain yang tidak mempunyai hubungan apa-apa. Jadi, di antara mereka, tidak berhak untuk melarang ataupun memaksakan kehendak diri kepada yang lainnya.
Belum sempat Winsi menjawab pertanyaan anak itu, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel dari saku celana Waila yang membuat perhatiannya beralih.
Gadis itu segera meraih ponselnya, mengusap layar sambil tersenyum lebar lalu, menempelkan benda pipih itu di telinganya seraya berkata dengan suara yang penuh keceriaan.
__ADS_1
“Kak Erlan! Apa kabar?” kata Waila sambil beranjak pergi meninggalkan Winsi seorang diri.
Winsy menatap punggung Waila yang menjauh dengan tatapan kosong, sambil mengerutkan kening karena memastikan jika dia tidak salah mendengar saat nama Erlan disebutkan dengan jelas. Dalam benaknya berpikir apakah nama itu untuk pria yang sama yang dikenalnya selama ini atau bukan.
‘Jadi, apa itu Erlan anaknya Ayah? Punya hubungan apa sebenarnya mereka berdua? Bisa saja mereka saling kenal karena Mas Adi juga teman Ayah, kan?’ batin Winsi penuh tanya.
Sesekali Winsi masih mendengar suara Waila terkekeh kecil dengan HP di telinganya. Sementara dia melanjutkan pekerjaannya menyusun pakaian dalam lemari. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta ke Yogyakarta memang tidak selama penerbangan ke Amsterdam yang memakan waktu belasan jam, dan kali ini, Winsi hanya menempuh waktu perjalanan kurang dari dua jam saja hingga tiba di bandara, dan sekarang dia masih punya waktu untuk melakukan ibadah sholat duha.
Sementara Waila Masih sibuk dengan ponselnya sambil berjalan masuk kembali ke kamar Winsi yang pintunya terbuka. Dia ingin menunjukkan seorang teman pada pria yang ada di seberang telepon.
Winsi keluar dari kamar mandi dengan kerudung yang asal-asalan, tentu saja sebagian rambutnya terlihat.
Begitu menutup pintu kamar mandi, dia dibuat terkejut oleh Waila yang secara tiba-tiba mengarahkan ponsel pada dirinya. Apalagi setelah melihat siapa yang ada di layar ponsel Waila.
'Astaghfirullah' batin Winsi.
“Erlan?” tanya Winsi seperti bergumam, matanya melotot pada Waila yang dianggapnya tidak sopan. Dia mencebik, sambil memalingkan wajah lalu, merapikan kerudungnya.
“Lihat, dia mau jadi teman aku sekarang, Kak Erlan!” Pekik Waila masih menyorot kamera pada mereka berdua.
“Hentikan, aku mau sholat.” Winsi berkata sambil melangkah meninggalkan Waila menuju lemari ingin mengambil mukena.
“Kak, dia jutek banget, kamu kenal sama dia nggak? Padahal kata Ayah, dia anak Om Arkan! Memangnya sejak kapan kamu punya adik kayak dia?" kata Waila, dia masih melihat pada layar ponsel dan mengarahkannya pada Winsi.
Mendengar ucapan Waila, seketika Winsi mendekat dan kembali melihat layar ponsel dengan saksama, sambil mengerutkan keningnya.
Bersambung
__ADS_1