
Hamparan bunga yang bermekaran dengan harumnya, yang membentang dalam kegelapan malam. Diantara mereka ada bunga melati, sedap malam, gardenia,
ngengat bulan dengan sayap hijau, daun kumbang scrub berwarna warni seperti opal.
Bulan yang bersinar terang pada malam hari meminjam cahayanya dari matahari.
Cahayanya yang pucat akan dipantulkan kembali. Taman indah di malam hari membangkitkan renungan bagi penghuninya.
Perjalanan hidup yang sudah terlalu banyak ia lewati hingga menemukan titik jenuh bersama dengan usianya dengan tubuh renta dan rambut yang sudah berganti putih membuatnya bijak dalam berpikir. Kadang usia tua membuat mereka melihat kehidupan ini dengan mata batinnya yang tidak lagi mengutamakan emosi yang meletup saat masih berusia muda. Setiap orang akan berpikir, berkata dan bertindak bijak seiring usia senjanya.
Wajah cemas pasangan ini menunggu dengan sabar atas penjelasan kakek Abdullah yang sedang termenung sesaat untuk mencari jawaban yang tepat atas permintaan sang cucu menantu yang sangat istimewa dimatanya.
Ia sangat yakin bahkan lebih percaya kepada Nabilla dari pada cucu kandungnya sendiri. Walaupun Amran sudah berubah karena cinta Nabilla yang merubah rimba mafia ini yang dulu angkuh dengan ucapan sinisnya, kini berubah lembut oleh seorang Nabilla.
"Duduklah..!" pinta kakek Abdullah sedikit lirih.
"Baik kakek." Keduanya kembali menghenyakkan bokong mereka di sofa itu dan siap mendengarkan kakek.
Kakek Abdullah mulai menceritakan tentang benda yang sebenarnya tidak ada nilainya sama sekali untuk dibanggakan olehnya namun bisa menyelamatkan dunia karena menyembunyikannya.
"Sebenarnya ada satu rahasia yang sampai saat ini kakek menyimpannya namun kakek tidak ingin diketahui oleh siapapun karena dahsyatnya benda ini," ungkap kakek Abdullah yang terlihat berat, namun ia harus mengatakannya.
Apa lagi dihadapannya adalah seorang agen rahasia yang mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan dunia.
"Dulu, kakek pernah memiliki hasrat saat mendapati barang itu dari seorang penjual barang tersebut. Entah ia dapat dari mana benda itu, kakek tidak peduli, yang jelas ia mengatakan jika benda itu menjadi incaran para negara berkuasa yang ingin memilikinya," ungkap kakek yang memulai ceritanya.
__ADS_1
"Apakah itu semacam senjata kimia atau senjata pemusnah massal tanpa harus berperang kakek?" tebak Nabilla.
"Benar sekali Nabilla. Senjata kimia yang sampai saat ini belum pernah kakek lihat karena tidak ada kuncinya. Walaupun ada kuncinya, tetap saja ada kode sandinya. Namun sayang, yang menjual itu tidak memiliki kunci dan sandi itu karena tidak tahu siapa orang yang telah menciptakan senjata pemusnah itu," ucap kakek Amran.
"Bagaimana kakek bisa ingin memilikinya, padahal itu sangat berbahaya?" tanya Amran.
"Saat itu kakek hanya ingin menghasilkan uang yang banyak. Tapi, kakek memikirkan lagi kata-kata penjual itu jika satu negara menguasainya maka dia akan menghancurkan negara itu dengan senjata kimia itu. Kakek merenung setiap saat karena hati kecil kakek mencegah untuk menjualnya lagi karena nilai kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada uang itu sendiri. Karena itu adalah senjata kimia yang nilainya fantastis dan dijual diantara kalangan mafia saja. Hanya aku yang bisa menawarkan harga yang tinggi saat melakukan pelelangan secara rahasia. Bukan di ruang publik.
"Jadi, kakek lebih memikirkan kehidupan setelah mati dari pada kehidupan dunia yang sementara ini?" tanya Nabilla.
"Benar Nabilla. Kakek berpikir,
jika seorang pelacur saja bisa masuk ke surga karena memberikan air pada seekor anjing yang kehausan, kenapa saya tidak bisa mendapatkan kesempatan itu, di saat dosa yang saya lakukan seumur hidup saya yang belum tentu bisa terhapus dengan amal ibadah saya selama ini. Jadi, kakek mulai pertimbangan lagi bahwa cinta Allah yang ingin kakek raih bukan lagi nafsu duniawi yang ingin kakek dapatkan," ujar kakek sambil menahan tangisnya. Antara merasa lega maupun sesak saat ini. Lega karena dirinya sendiri yang mengetahui senjata kimia itu. Sesak jika ada orang yang mengetahui jika dia yang menyimpannya dan keturunannya akan menjadi incaran para penjahat.
"Membunuh satu orang saja dalam aksi brutal seorang mafia demi suatu tujuan, apa lagi membunuh banyak orang yang tidak bersalah, apakah akan membuat hidup kita akan tenang? bagaimana jika negara lain yang membeli barang itu malah menghancurkan negaraku sendiri? bukankah aku dan keluargaku juga akan menerima imbasnya? itulah sebabnya kakek ingin menyimpannya sendiri di tempat yang sangat rahasia dan akan kakek bawa rahasia ini sampai kakek mati," lanjut kakek Abdullah dengan wajah sendu.
"Kakek, apakah kakek sudah mengetahui siapa Dito sebelum dia menjadi pengacara kakek?" selidik Nabilla.
"Kakeknya Dito adalah sahabatnya kakek sekaligus asisten kakek seperti Arland dan Amran dulu. Setelah kakeknya meninggal, di susul ayahnya Dito. Kehidupan mereka mulai morat marit saat itu dan ia datang menemui kakek untuk meminta pekerjaan pada kakek. Dan kakek menjadikan dia sebagai pengacara perusahaan milik kakek setelah menamatkan pendidikan pengacara di Amerika," ungkap kakek Abdullah.
"Apakah kakeknya Dito meninggal saat usia Dito sudah remaja atau dewasa?" tanya Nabilla.
"Sekitar 19 tahun, dan dia baru kuliah tingkat ketiga saat itu. Itu yang kakek tahu," ujar kakek.
"Sekarang aku sudah paham kakek. Saat seorang penjual barang yang berisi senjata kimia itu menghubungi kakek yang pastinya tidak secara langsung. Penjual itu pasti menghubungi kakeknya Dito lebih dulu dan kakeknya Dito baru mengatur pertemuan dengan kakek bukan?" tanya Nabilla.
__ADS_1
"Maksud kamu, kunci itu sudah dipegang oleh kakeknya Dito?" tanya Amran.
"Bukan seperti itu sayang. Saat penjual itu menyerahkan barangnya pada kakek, tidak lama kemudian ia telah menemukan kuncinya namun bukan kunci untuk membuka koper yang berisi senjata kimia itu tapi kunci loket itu yang saat ini kita temukan pada kalung Alif.
Makanya Dito sibuk mencari seluruh negara untuk menemukan kunci koper itu bersama dengan nomor sandinya untuk bisa mengeluarkan senjata kimia itu dari cangkangnya," ucap Nabilla dengan analisanya.
"Jadi, maksud kamu Dito menjalin hubungan dengan para mafia dunia demi mencari kunci koper itu di mana orang itu menyimpannya di loker itu? dan Dito sudah mendapatkan pembelinya dan saat ini mengincar kunci yang ada di putranya Alif?" tanya Amran..
"Iya sayang. Setelah mendapatkan kunci yang ada di Alif mereka akan mencari sendiri kunci sebenarnya. Kemudian mereka akan mendatangi kakek karena kakek yang memegang koper itu," imbuh Nabilla.
"Walaupun mereka sudah mendapatkan koper dari kakek, bukankah mereka harus mendapatkan sandi untuk mengeluarkan senjata kimia itu dari cangkangnya?" tebak Amran.
"Mereka tidak akan bisa menggunakan senjata kimia itu mas karena senjata kimia itu juga bisa di ledakkan jika mengetahui kata sandinya itu dan aku tahu kata sandinya," batin Nabilla.
Nabila sudah membaca sejarah senjata kimia pemusnah massal itu saat ia bergabung di CIA. Saat itu dia masih terlalu muda dan belum berpikir kalau pekerjaannya itu adalah mencari tahu kata sandi untuk senjata kimia itu dan ternyata senjata itu ada pada kakek Abdullah.
Nabilla keluar dari CIA karena ada oknum bos dari agen rahasia itu menekannya agar membuat eksperimen untuk memasukkan kata sandi pada senjata kimia itu dan Nabilla diam-diam berhasil melakukannya. Dan Nabila tiba-tiba keluar dari CIA dan memilih bergabung dengan FBI.
Walaupun Nabilla mengetahui kata sandinya namun ia juga harus menemukan kunci loker itu dulu untuk mendapatkan kunci sebenarnya agar bisa membuka koper itu. Jika dia bisa membuka koper itu dan melihat seperti apa senjata kimia itu, baru ia bisa memasukkan kode sandinya.
"Kenapa semuanya bisa terhubung seperti ini? seakan pernikahan aku dan mas Amran seakan sudah di atur oleh Allah. Dan aku telah menemukan apa yang saat ini dunia sedang incar," batin Nabilla.
Mereka sama-sama merenung sesaat. Hingga akhirnya Nabilla tidak ingin menanyakan lagi di mana kakek menyimpan senjata kimia itu. Biarlah menjadi misteri.
"Kakek. kami mau kembali ke kamar kami dulu," pamit Nabilla dan Amran.
__ADS_1
"Silahkan nak..!" ujar kakek Abdullah lalu mengunci pintu kamarnya.