
Mengetahui golongan darah Daffa yaitu B-, Bunga baru ingat kelurganya memiliki golongan darah itu. Pamannya Arland dan putranya Nathan memiliki golongan darah yang sama dengan Daffa. Kebetulan kelurga besar Amran
sudah mendatangi rumah sakit itu untuk mengetahui keadaan Daffa. Arland yang baru saja muncul dihadapan kelurga Amran, langsung di todong oleh Bunga.
"Om Arland...!" Bunga memeluk Arland sebentar dan dan Arland mengusap kepala keponakannya itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Arland yang masih belum jelas berita sebenarnya tentang Daffa.
"Daffa kehilangan banyak darah. Tolong bantu Daffa karena om memiliki golongan darah yang sama dengan Daffa!" cecar Bunga sambil menarik tangan omnya.
"Darahku juga sama dengan papa. Aku juga mau menyumbangkan darahku untuk kekasihmu Bunga," ucap Nathan.
"Baiklah. Ikutlah denganku menyumbangkan darah kalian untuk Daffa," Bunga membawa keduanya ke ruang khusus untuk mengambil darah keduanya yang dilakukan oleh suster setelah melakukan sejumlah tes pada Arland dan Nathan sebelum melakukan donor darah.
Sementara itu, nyonya Nayla menghubungi sahabatnya yaitu Dokter Aprilia yang membantunya saat proses persalinan. Dokter Aprilia yang baru saja mau pulang ke rumahnya, tiba-tiba mendapatkan telepon dari sang sahabat.
"Nayla. Ada apa dengannya?" gumam Aprilia lalu menggeser tombol hijau itu dan menjawab sapaan Nayla yang terdengar sedih.
"Nayla. Ada apa denganmu?" tanya Aprilia ikutan panik.
"Tolong datang ke rumah sakit sekarang, Noey!" pinta Nayla sambil menyebutkan nama rumah sakit milik dokter Mariska itu.
"Emang ada apa denganmu? mengapa kamu tidak datang ke rumah sakit aku?" cecar dokter Aprilia yang biasa disapa akrab dengan panggilan Noey oleh Nayla.
"Tolonglah ke sini. Aku butuh bantuanmu!" pinta Nayla tanpa ingin menyebutkan kepentingannya pada Noey agar dokter itu tidak punya alasan untuk menghindarinya.
"Baiklah. Aku akan ke sana. Di kamar berapa kamu dirawat?" tanya Noey dan Nayla menjawabnya dengan asal.
"Aku masih di ruang IGD. Aku menunggu kedatanganmu. Kamu tahukan aku sendirian jika putraku Daffa sedang bertugas," bohong Nayla.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan ke sana. Kebetulan aku sudah bebas tugas malam ini. Tunggu sebentar ya Nay!" ucap dokter Aprilia lalu meminta sopirnya untuk mengantarnya ke rumah sakit yang di tuju.
Beberapa menit kemudian, dokter Aprilia sudah berada di rumah sakit dokter Mariska. Ia langsung menuju ke ruang IGD untuk melihat keadaan Nayla, namun saat hendak membuka pintu IGD, Nayla memanggilnya.
"Noey!"
"Nayla....?" bukankah kamu bilang kamu ada di dalam sini?" tanya dokter Aprilia heran.
"Di dalam sana adalah putraku Daffa yang sedang kritis saat ini. Tolong ikut denganku...!" ucap Nayla menarik pergelangan tangan Aprilia untuk menyelidiki kebenaran tuduhan yang dilancarkan oleh dokter Suti padanya.
"Ada apa ini Nayla?" perasaan Noey mulai tidak enak.
"Katakan siapa Daffa sebenarnya!" kecam Nayla menatap tajam wajah Aprilia yang tersentak sambil mengusap dadanya.
"Katakan saja Aprilia! aku tidak punya tenaga untuk memarahimu saat ini. Aku ingin kejelasan status putraku dan di mana putra kandungku? apakah kamu menukar mereka demi sejumlah uang? apakah hatimu telah dipengaruhi oleh duniawi hingga mengabaikan rasa kemanusiaan dengan mengorbankan bayiku?" cecar Nayla menahan amarahnya yang harusnya sudah meledak saat ini.
Ia juga tidak mungkin membawa mati rahasia ini bersama tubuhnya yang tidak lagi seindah dulu. Usianya berangsur tua. Suka atau tidak, rahasia ini harus diungkapnya.
"Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan Nayla! putra kandungmu sudah meninggal satu menit saat kamu melahirkannya karena bayimu kekurangan oksigen.
Dan ada wanita putus asa serta ketakutan meminta aku menukar bayimu yang meninggal dan bayinya yang masih hidup yaitu Daffa. Aku saat itu hanya ingin melihat kamu bahagia karena Gavin ingin menceraikanmu jika kamu tidak memberinya keturunan. Aku hanya ingin menyelamatkan pernikahanmu, bukan karena uang," ungkap Aprilia sejujurnya karena semuanya sudah terungkap kini.
"Di mana ibu kandungnya Daffa? aku harus bertemu dengan ibunya. Berikan semua datanya wanita itu padaku. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin tahu alasannya memberikan anaknya itu padaku..!" desak nyonya Nayla begitu kecewa dengan sahabatnya ini.
"Namanya Cyra. Datanya ada di rumah sakit. Aku akan mengirimnya padamu!" ucap Dokter Aprilia.
Tanpa sepengetahuan kedua sahabat ini, Nabilla sudah mendengar percakapan keduanya. Tanpa perlu menunggu lama untuk mengetahui dari dokter Aprilia, Nabilla dengan cekatan membuka arsip rumah sakit di mana Daffa dilahirkan dengan ponsel canggih miliknya. Tanggal lahir Daffa dan nama ibunya sudah cukup bagi Nabilla untuk melacak ibu kandungnya Daffa.
Kembali lagi ke kamarnya Daffa di mana, pria tampan ini sudah melalui masa kritisnya setelah mendapatkan donor darah dari Arland dan Nathan sebanyak tiga kantong darah. Daffa sudah dipindahkan ke kamar inap dan semuanya serba ekslusif di mana sang eyang turut andil mengurus semua kebutuhan Daffa. Siapa lagi kalau bukan dokter Mariska yang sangat mendukung hubungan Daffa dan cucunya Bunga.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ingin menemuinya, sayang?" tanya dokter Mariska pada sang cucu yang nampak nanar tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Apakah Daffa akan sembuh eyang?" lirih Bunga.
"Jangan pesimis begitu. Gadis pemberani sepertimu kenapa menjadi cengeng seperti itu?" ledek eyang Mariska.
"Aku sangat takut kehilangannya eyang. Cinta kami terlalu lemah bahkan aku begitu takut jika tidak bisa hidup bersama dengannya. Aku tidak bisa memberikan hatiku kepada pria lain eyang. Aku sangat mencintai Daffa," suara itu terdengar parau.
Gadis pemberani dan tidak takut mati itu terlihat tak berdaya hanya karena kisah cinta yang tak berpihak padanya. Bunga melepaskan semua atributnya sebagai agen satu FBI dan sekarang hadir sebagai pribadinya yang lembut sebagai manusia yang sangat membutuhkan apa itu cinta.
"Temui dia dan semangati dirinya! Dia sanggup melakukan apapun hanya untuk mendapatkan dirimu. Kau telah mendapatkan tempat tertinggi di hatinya saat ini. Jarang pemuda yang melakukan kegilaan seperti Daffa. Eyang jadi pingin muda lagi jika ada pria tampan senekat Daffa rela memotong nadinya demi cintanya pada bidadarinya yang sangat cantik sepertimu," ledek eyang Mariska membuat dada Bunga dipenuhi kupu-kupu.
"Baik eyang. Bunga mau menemui Daffa dulu," ijin Bunga masuk ke kamar inap itu di mana Daffa sedang berbaring dalam keadaan terpejam..
"Assalamualaikum Daffa...!" desis Bunga tepat di kuping Daffa.
"Apakah kamu tidak ingin melihatku, hmm? aku berada di sini, di sampingmu. Bukalah matamu sayang..!" serak Bunga sambil menyeka air matanya yang akhirnya tumpah.
Bunga mengecup lembut pergelangan tangan Daffa yang terbalut kain kasa." Semoga tanganmu cepat sembuh. Bagaimana kamu nanti menggendongku saat membawa aku ke dalam kamar pengantin kita dengan tangan terluka seperti ini? kau ini bodoh sekali, baby. Padahal aku mengimpikan jika tubuhku berada dalam gendongan tangan kekar ini," lirih Bunga.
Gadis itu merebahkan kepalanya di atas dada bidangnya Daffa yang bisa mencium aroma harum dari jilbab yang dikenakan Bunga.
"Pengantin pria hanya membutuhkan senjatanya untuk melalui malam pertamanya, Baby. Bukan tangannya," lirih Daffa dengan ledekan nakalnya membuat Bunga mengangkat wajahnya.
Deggggg...
......
Vote dan likenya Cinta.
__ADS_1